
23 tahun yang lalu Tasya mendapat beasiswa untuk berkuliah di Paris dan dia mengambilnya. Sampai di sana ia menemukan banyak sahabat-sahabat yang dekat dengannya termasuk Johan dan Laurens. hari demi hari hubungan Tasya dan Johan semakin dekat bahkan mereka memutuskan menjalin hubungan yang serius menjadi sepasang kekasih. Di saat bersamaan Laurens dan Johan dijodohkan oleh kedua orang tuanya mereka sama-sama menolak tapi kedua orang tua mereka mendesak mereka agar menyetujuinya terutama orang tua Johan yang perusahaannya saat itu benar-benar tergantung pada perusahaan orang tua Laurens.
Akhirnya dengan terpaksa Johan dan Laurens menerima pertunangan yang dirancang orang tua mereka, Johan menerima perjodohan tersebut tapi tidak bermaksud serius sedangkan Laurens justru sebaliknya dia mulai belajar untuk mencintai Johan dia pun tidak tahu bahwa di belakang dirinya Johan memiliki hubungan dengan Tasya.
Sampai pada suatu hari orang tua mereka memutuskan untuk menikahkan keduanya. Orang tua Johan benar-benar tidak mau menerima penolakan apapun alasan yang dibeberkan Johan sama sekali mereka tidak mau mempertimbangkannya.
Akhirnya hari itu Johan menemui Tasya untuk menyampaikan rencana pernikahannya sekaligus memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Tasya aku mau bicara," ucap Johan. Tasya hanya mengangguk.
"Kita ketemu nanti di kantin usai mata kuliah berakhir."
"Baiklah."
Setelah pelajaran usai Tasya buru-buru menghampiri Johan ke kantin. Setelah menemukan posisi Johan duduk ia lalu menghampirinya dan ikut duduk di hadapannya.
"Ada apa Hans sepertinya ada yang serius?"
"Hufft," Johan menarik nafas panjang mengapa begitu berat menyampaikan semuanya.
"Tasya maafkan aku."
"Memaafkan, atas?"
"Aku harus mengakhiri hubungan kita."
Dahi Tasya berkerut. "Hans kamu bercanda kan?"
"Tidak aku tidak bercanda Tasya. Ternyata orang tuaku tetap ngotot untuk menikahkan aku dengan Laurens."
"Dan kamu menerimanya?"
"Terpaksa," ucap Johan seraya menunduk.
"Ini tidak bisa dibiarkan Hans kamu anggap apa hubungan kita selama ini?" ucap Tasya sambil terisak.
"Aku tidak bisa berpisah darimu," lanjutnya.
"Maafkan aku Tasya mungkin kita memang tidak berjodoh."
"Tidak, itu tidak boleh terjadi. Kita harus menceritakan hubungan kita pada Laurens agar dia tahu semuanya. Agar dia bisa menghentikan perjodohan kalian."
"Jangan Tasya, percuma kami berdua sama-sama tidak bisa mengendalikan keinginan orang tua kami. Jadi mau tidak mau kita harus berpisah."
__ADS_1
Prangg. Tasya memecahkan gelas yang ada di meja. "Baiklah kalau itu mau kamu!" ucapnya ketus sambil berlari meninggalkan kampus. Air matanya meleleh mengiringi perjalanannya ke asrama.
Hari pernikahan Johan dan Laurens pun diadakan di sebuah hotel yang mewah. Laurens tersenyum bahagia setelah sah menjadi istri Johan sedangkan Johan sendiri pikirannya masih kacau balau dalam hati masih memikirkan bagaimana perasaan Tasya apalagi saat ijab tadi Tasya sepertinya tidak mau melepaskan pandangannya pada wajah Johan. Rasa bersalah dan cinta masih menggebu-gebu di hati Johan untuk Tasya.
Setelah acara resepsi selesai mereka berfoto-foto bersama teman-temannya. Johan yang sudah kelelahan pamit duluan untuk pergi ke kamar pengantin mereka. Sampai di sana dia malah melihat Tasya mengejarnya dari belakang dan ikut masuk ke kamar Johan.
"Tasya ngapain kamu ke sini?" protes Johan.
Tasya tidak menggubris pertanyaan Johan malah memeluk Johan dengan erat.
"Tasya lepaskan nanti Laurens melihat kita." Mendengar Johan menyebut nama Laurens tiba-tiba saja Tasya menangis sesenggukan.
"Hei kenapa menangis? Maafkan aku."
"Aku kangen sama kamu Hans mengapa kau tega menyakiti hatiku hiks..hiks .. hiks...." Tasya menangis dalam pelukan Johan. Sungguh terasa berat melepaskan orang yang dicintainya untuk orang lain. Begitupun Johan merasa sakit melihat keadaan Tasya saat ini.
Dengan lembut Johan mengelus-elus rambut Tasya yang masih berada dalam pelukannya membuat Tasya terbuai dengan keadaan itu, ia malah semakin erat memeluk Johan.
Memang benar setan akan selalu menggoda manusia yang hanya berdua saja dengan lawan jenisnya. Pelukan sayang dan cinta akhirnya berubah menjadi hasrat yang menggebu untuk dapat saling memiliki seutuhnya. Dan akhirnya malam itu menjadi malam panas yang terlarang untuk keduanya.
Sedangkan di luar Laurens yang sudah lelah meminta izin pada teman-temannya untuk masuk ke kamar.
"Friends, aku masuk dulu ya , udah lelah ini dari tadi pegal berdiri terus."
"Eh beneran kok aku sudah capek pengen cepat-cepat rebahan. Udah kebayang nih di otak bagaimana rasanya nih kepala nempel di bantal."
"Iya deh tapi aku kok dari tadi tidak ngelihat Tasya, kemana ya tuh orang?"
"Enggak tahu tadi sore ada kok, mungkin berbaur sama teman yang lainnya. Cari sendiri aja yah soalnya aku benar-benar sudah lelah."
"Iya iya, sana pergi!"
Laurens berjalan ke kamarnya dengan pelan karena sepertinya tenaganya sudah habis menghadapi acara pernikahannya sedari pagi bahkan dia sempat mengeluh karena orang tuanya terlalu banyak mengundang tamu sehingga acara salaman dengan para tamu sewaktu resepsi pun memakan waktu yang lama. Apalagi ditambah sesi foto bersama teman-temannya yang seakan tidak pernah habis.
Hal itu membuat tubuh Laurens serasa pegal-pegal dan matanya pun sudah mengantuk berat.
Sampai di depan pintu dia membuka pintu kamar dengan pelan. Matanya yang sudah mengantuk menjadi segar kembali setelah apa yang dia lihat di atas ranjang pengantinnya.
"Johan!" Suara Laurens keras tapi tercekat. Dia mencoba mendekati ranjang barangkali apa yang dia lihat itu salah, mungkin saja efek dari matanya yang sudah teramat mengantuk membuatnya salah lihat.
Dia menghampiri ranjang dengan perasaan jedag-jedug tapi setelah sampai dipinggir ranjang semua jelas terlihat. Johan melakukan hubungan dengan Tasya bahkan di atas ranjang yang seharusnya menjadi tempat dirinya dan Johan melabuhkan malam pengantinnya.
"Johan!" Tiba-tiba saja Laurens berteriak histeris membuat keduanya menjadi gusar lalu segera memakai bajunya kembali. Bahkan orang-orang yang berada di luar kamar sampai mendengar teriakannya dan segera menghampiri kamar pengantin mereka.
__ADS_1
"Ada apa Rens?" tanya sang ayah.
"Johan Dad, dia melakukan hubungan intim dengan Tasya," ucapnya sambil menuding ke arah mereka.
"Johan apa yang kamu lakukan?" bentak Ronald ayah Laurens dengan api amarah yang berkobar di matanya.
Johan tidak tahu harus berbuat apa ia langsung berlutut di depan kaki Ronald "Maafkan aku Dad aku khilaf."
"Kurang ajar kamu ya! Kamu bahkan mengkhianati anak saya di malam pertama kalian!" ujar Ronald sambil menendang tubuh Johan hingga terpental. Sedangkan Tasya hanya meringkuk di ranjang sambil menangis.
"Ada apa ini?" tanya Ayah Johan yang langsung berlari ke arah kamar tersebut karena mendengar keributan.
"Lihat apa yang anak kamu lakukan!"
"Johan apa yang telah kamu lakukan?" Beralih bertanya pada sang anak.
"Maafkan aku Yah aku..."
"Kurang ajar kamu ya!" Ayahnya malah ikut menendangnya.
"Johan ceraikan anakku sekarang!" perintah Ronald.
"Tapi Dad..."
"Ceraikan kataku, aku tidak Sudi memiliki menantu sepertimu. Sekarang!" tegasnya.
Akhirnya Johan melakukan apa yang diperintahkan oleh Ronald.
Laurens menangis, hatinya begitu sakit, rasanya seperti tertusuk ribuan duri. Mungkin hanya dialah orang yang tidak beruntung karena malam pertamanya bahkan menjadi malam perceraiannya. Laurens menekan dadanya lalu berlari pergi dari tempat itu. Dia tidak ingin melihat lagi adegan apa yang akan terjadi di tempat itu.
"Jack cepat kamu urus pembatalan perjanjian kerjasama kita dengan perusahaan ayahnya Johan dan pastikan saham yang kita tanam di sana secepatnya ditarik."
"Baik Tuan," ujar Jack lalu meninggalkan ruangan.
Sekarang giliran ayah Johan yang bersujud di kaki Ronald. "Tuan aku mohon jangan hentikan hubungan perusahaan kita. Apapun akan saya lakukan untuk menebus kesalahan anakku, Johan."
"Tidak perlu memohon seperti itu karena aku pun tidak akan pernah mengubah keputusanku karena Johan telah mempermalukan keluargaku. Lebih baik kau urusi anakmu yang menjijikkan ini," ujar Ronald sambil berlalu pergi.
Setelah Ronald pergi ayah Johan menatap tajam ke arah Tasya dan Johan.
"Johan!" ucap sang ayah geram sambil mengepalkan kedua tangannya.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote, rate bintang 5, komentar, favorit dan hadiahnya. Terima Kasih🙏.