Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 42. Jadi Kau menipuku?


__ADS_3

Dengan tangan gemetar Isyana meraih kertas yang di ulurkan Zidane.


"Tidak mungkin, Nathan kenapa kalian melakukan ini di belakangku?"


"Bukan Ma itu bukan Nathan yang melakukan tapi papa Zidane yang mencuri rambut Nathan," bantah Nathan sambil melihat kertas yang dipegang Isyana.


"Tapi hasilnya kok beda ya? Bukankah yang kemarin Papa pegang tidak cocok ya?"


"Tidak cocok?" Isyana malah bingung kalau hasilnya tidak cocok.


"Nathan!" Zidane mendelik ke arah Nathan.


Mati aku kenapa aku tidak bilang rencana ini sama mereka. Gagal deh yang mau membuat Isyana buka mulut tentang semuanya.


"Jadi kamu mau menipuku ya?" ucap Isyana tersenyum mengejek ke arah Zidane yang rencananya ketahuan. Hampir saja dia terpancing dengan kebohongan Zidane tadi. Untung dirinya belum keceplosan.


"Ck." Isyana berdecak.


"Bodoh, bodoh, bodoh!" Isyana merutuki dirinya sendiri yang hampir ketahuan.


"Mengapa kamu terkejut? Jadi apa benar mereka adalah anak-anakku?"


"Mengapa masih bertanya bukankah kau sudah membuktikan?" ledek Isyana.


"Aku perlu pengakuan darimu."


"Bukankah pengakuanku tidak penting kalau kamu sudah melakukan tes DNA?"


"Hasil tes itu palsu. Saya menggunakannya agar kamu mau jujur padaku." Akhirnya Zidane mengakuinya.


"Tapi kami punya sesuatu buat Mama dan Papa. Kalau ini no tipu-tipu," ucap Tristan sambil mengulurkan kertas hasil tes DNA mereka.


Isyana dan Zidane merebut mengambil kertas tersebut saking penasarannya namun kertas tersebut berhasil diraih Zidane terlebih dahulu.


"Apa! Nathan dan Tristan cocok denganku?" Zidane malah kaget melihat hasil tes DNA itu namun kemudian tersenyum.


Isyana merebut kertas tersebut dari tangan Zidane untuk memastikan walaupun dia tahu bahwa hasil tes tersebut benar adanya karena mereka memang anak-anak Zidane.


"Kalian...,"


"Jangan salahkan mereka kalau saja kamu mau terbuka dari awal ini semua tidak akan sampai terjadi, mereka tidak akan sampai mencari tahu sendiri," ucap Zidane memotong perkataan Isyana.


"Jadi ini semua salahku? Apa kabarnya dirimu yang tidak menginginkan dirinya dahulu?" ucap Isyana geram berani-beraninya Zidane menyalahkan dirinya.


"Sya sudah ku bilang jangan ungkit yang sudah lalu apalagi di depan anak-anak. Aku benar-benar menyesal."


"Kenapa? Kamu takut mereka tahu bahwa kamu dulu tidak mengharapkan kehadiran mereka dan menyuruhku untuk menggu...," Zidane cepat menutup mulut Isyana agar tidak berkata macam-macam di depan Nathan dan Tristan.


"Sudahlah Mama sama Papa tidak perlu bertengkar lebih baik mama siapkan makan saja karena kami sudah lapar!" ucap Tristan menengahi pertengkaran keduanya.


"Cih jadi Papa kalian ini tidak mampu membelikan kalian makan sampai kalian kelaparan?"


"Bukan begitu Sya kami buru-buru tadi agar cepat sampai ke sini jadi tidak sempat mampir di restoran."


"Cih alasan."


"Alasan? Kamu pikir aku sudah miskin? Bahkan hartaku tidak akan habis dimakan tujuh turunan."

__ADS_1


"Masih aja sombong," ucap Isyana lirih namun masih terdengar di telinga Zidane.


"Terpaksa habisnya kamu meremehkan aku."


"Mama!" Tristan merajuk.


"Iya-iya sayang bentar!" Akhirnya Isyana beranjak ke dapur mempersiapkan makan untuk mereka semua.


Setelah makanan siap Isyana menyuruh mereka berkumpul di ruang makan. Mereka menyantap makan siang bersama-sama.


Selagi menyantap makanan Isyana mencuri pandang ke arah Zidane dan tersenyum.


"Kenapa memandangku seperti itu? Apakah wajahku terlihat lebih tampan?"


'Uhuk-uhuk'. Isyana terbatuk-batuk mendengar ucapan Zidane.


"Mama hati-hati dong makannya!" ucap Nathan sambil menyodorkan segelas air.


Isyana menerima dan meneguknya. "Abis Papa kalian kepedean banget sih. Padahal Mama kan senyum-senyum karena ternyata dia kalah sama kalian. Masa tes DNA aja nggak becus."


Zidane hanya cuek aja dengan perkataan Isyana. Dia seakan menulikan telinganya.


"Mama, Papa boleh menginap di sini kan Ma?"


"Tidak boleh." jawab Isyana cepat.


Bersamaan dengan itu Lusy dan Edward beserta Darren datang.


"Hei kalian kapan datang?" tanya Lusy pada kedua ponakannya.


"Baru aja Mommy," jawab Tristan.


"Ayo Kak kita makan bareng!" ajak Isyana.


"Nggak usah Dek kita baru aja selesai makan."


Sementara yang lain sedang mengobrol Zidane malah cuek menyantap makanannya.


"Kamu. Ngapain kamu di sini?"


"Ya mengantar anak-anak lah ngapain lagi!"


"Kamu mau mati ya merahasiakan keberadaan mereka dariku?" lanjutnya.


"Sorry Bro itu bukan keinginanku tapi keinginan dia." Tunjuk Edward ke arah Isyana.


"Takut ada yang nyulik anaknya katanya," ucap Edward sambil terkekeh.


.


"Eh gimana tadi Ma. Apakah papa boleh menginap?"


"Tidak boleh." Isyana tetap bersikukuh dengan pendapatnya.


"Kenapa tidak boleh? Aku kan berhak tinggal dengan anak-anakku," protes Zidane.


"Tapi kamu tidak berhak tinggal di sini karena ini rumah mas Edward."

__ADS_1


Edward hanya mengangguk tanda setuju dengan ucapan Isyana.


"Kalau kau tidak memperbolehkan aku tinggal di sini sudah aku pastikan besok perusahaan kita tidak akan bekerja sama lagi," ujar Zidane mengancam Edward.


"Cih, memangnya seorang Zidane Alberto tidak punya uang untuk menyewa hotel hingga harus mengancam orang lain untuk dapat diterima di rumahnya." Edward meledek.


"Ini bukan masalah uang tapi masalah kebersamaan dengan anak-anak. Aku bisa membeli semua rumahmu kalau kamu mau."


"Terserah deh, terserah Isyana saja mau menampung kamu atau tidak."


"Kalau tidak pun tidak apa-apa biar nanti saya dan anak-anak tinggal di hotel aja."


"Emangnya Nathan dan Tristan mau tinggal di hotel sama Zidane?"


"Kenapa tidak Dad, selama sama papa kamu mau."


"Papa?"


"Iya Dad dia ini papa kami."


"Sya?"


"Iya Mas mereka udah tahu."


"Oh jadi kalian lebih milih tinggal sama papa kalian ketimbang mama kalian?"


"Sekali-kali kan tidak apa-apa Dad."


"Iya sudah kamu boleh tinggal di sini." Isyana akhirnya mengalah takut kedua anaknya benar-benar ikut Zidane tinggal di hotel.


"Makasih Mama," ucap keduanya sambil memeluk Isyana.


"Eits tapi ada syaratnya."


"Apa syaratnya? Aku pasti melakukannya agar bisa tinggal di sini bersama kalian semua."


"Kamu harus melakukan pekerjaan rumah di sini."


"Maksudnya?"


"Ya kamu harus memasak makanan buat kami dan harus mau membersihkan rumah selama tinggal di sini."


"Maksudnya aku jadi pembantu gitu?"


"Ya itu sih kalau mau kalau tidak ya silahkan keluar dari rumah ini, dan ingat jangan bawa anak-anak!"


"Dan Nathan, Tristan kalau kalian memilih ikut dengannya tinggal di hotel maka kalian tidak akan bisa melihat mama lagi."


"Mama kok gitu sih? Ini bukan mama yang aku kenal," kesal Tristan.


"Mau ya Pa!" pinta Nathan. "Nanti Nathan bantuin Papa," bisik Nathan di telinga Zidane."


"Baiklah aku terima tawaran kamu."


"Hahaha...." Edward tertawa mendengar Zidane menerima permintaan Isyana.


"Aku mau tahu bagaimana seorang Zidane Alberto menjadi babu," ledek Edward.

__ADS_1


"Kamu...." kesal Zidane karena Edward tidak berhenti meledeknya.


__ADS_2