
Mama tolong jujur sama kami sebenarnya kami anak siapa?" pinta Nathan.
" Sebenarnya kalian adalah anak...."
Nathan dan Tristan menunggu jawaban Isyana dengan harap-harap cemas.
"Sebenarnya kalian adalah anak kandung mama Syasa." Lepas sudah satu kerisauan di hati.
Mendengar mereka adalah anak mamanya mereka berhamburan ke dalam pelukan Isyana sambil menangis karena terharu.
"Aku sudah menyangka bahwa kami memang anak mama Syasa karena kasih sayang yang mama berikan begitu tulus sama kami," ucap Nathan.
"Tapi Tristan sedikit kecewa sama mama. Mengapa Mama merahasiakan semua ini dari kami?" tanya Tristan.
"Maafkan mama, mama tidak bermaksud menyembunyikan semua ini. Mama hanya tidak ingin kalian kecewa kalau tahu bahwa kalian terlahir tanpa seorang ayah."
"Memangnya ayah kami kemana Ma?" Nathan.
"Memangnya benar Ma kami anak haram?" Tristan.
Isyana menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Rasanya berat untuk menceritakan semuanya.
"Itu tidak benar sayang kalian terlahir suci bagaimana bisa dikatakan anak haram? Ya walaupun kalian terlahir dari sebuah kesalahan tapi mama tidak pernah menyesalkan kehadiran kalian ke dunia ini. Mama malah bersyukur punya anak-anak yang baik seperti kalian."
"Maksud mama apa mengatakan kami terlahir dari sebuah kesalahan?"
"Mama... mama diperkosa sayang dan kemudian mama hamil kalian." Walaupun berat akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Isyana meski air mata turut menyertai kalimat itu.
"A...pa diperkosa?" Tristan.
"Siapa laki-laki yang telah kurang ajar melakukan itu sama mama. Apakah dia seorang preman?" Nathan.
Isyana menggeleng.
"Tapi kenapa laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab Ma? Kalau dia orang baik-baik dia pasti akan mempertanggung jawabkan perbuatannya."
"Atan, Itan dengarkan! Mama akan menceritakan semuanya tapi sebelumnya mama minta kamu jangan membenci ayah kamu ya! Bagaimanapun bejatnya dia, dia tetaplah ayah kalian."
"Iya Ma."
Isyana pun menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya di masa lalu dari mulai paksaan Zidane yang menyebabkan dirinya hamil dan hidupnya waktu itu yang harus berpindah-pindah karena ulah ibu dan kakak tirinya sampai ia memutusakan untuk tinggal di kota Paris hingga perjuangannya untuk melahirkan dan membesarkan kedua putranya tersebut.
"Apakah mama membenci ayah kami?" tanya Nathan setelah Isyana menyudahi ceritanya.
"Apakah mama menyukai ayah kami?" tanya Tristan berbanding terbalik dengan Nathan.
"Entahlah."
Isyana tidak tahu harus berkata apa apakah dia menyukai ayah mereka atau malah membencinya. Ketika dia mengingat bagaimana cara dia merenggut mahkotanya dan betapa sombongnya dia Isyana membencinya tapi ketika melihat wajah kedua putranya yang mirip dengannya seakan Isyana merindukan lelaki yang dianggapnya bejat itu.
"Kenapa kalian berpikir seperti itu?"
"Sebab mama pasti sakit hati karena dia tidak mau mengakui kami," jawab Nathan.
__ADS_1
"Sebab mama tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain bahkan mama menolak uncle Lexi untuk jadi kekasih mama."
"Itu semua tidak benar sayang bagaimana mama bisa membencinya kalau karena dialah mama memiliki anak-anak yang hebat dan lucu-lucu. Dan kenapa mama menolak uncle Lexi itu semata-mata hati mama tidak ingin pecah jadi dua. Mama hanya ingin fokus mencintai anak mama saja."
"Mama kalau boleh tahu siapa ayah kami?" tanya Tristan.
"Kalau itu maaf mama belum bisa mengatakannya sekarang. Lagipula dia berada jauh di luar negeri. Apakah kalian akan mencarinya dan meninggalkan mama?"
"Itu tidak benar Ma, kami berjanji apapun yang terjadi kami tidak akan meninggalkan mama," ujar Nathan disertai anggukan Tristan.
"Tapi kami berhak tahu Ma. Kita harus menemuinya." Nathan ngotot.
"Mengapa kamu harus tahu dia? Bukankah dia tidak pernah mau tahu dengan urusan kalian? Apa kasih sayang yang mama berikan tidak cukup untuk kalian hingga kalian harus mencarinya? Bukankah kita sudah terbiasa hidup bertiga?" protes Isyana dengan setengah membentak. Entah kenapa tiba-tiba moodnya berubah mendengar Tristan ingin menemui ayahnya.
Mendengar mamanya yang marah Tristan dan Nathan hanya bisa tertunduk. Mereka benar-benar takut karena selama ini dia tidak pernah melihat Isyana semarah itu pada mereka. Biasanya kalaupun menegur mereka Isyana menegurnya dengan cara yang lembut.
Dalam hati mereka berkata bukankah mamanya tadi yang meminta mereka untuk tidak membenci ayah mereka tapi mengapa sekarang marah hanya karena mereka menanyakan ayah mereka.
"Kalian sayang sama mama?"
Mereka berdua kompak mengangguk, "Iya Ma."
"Kalau begitu mama mohon kalian jangan pernah menanyakan tentang ayah kalian lagi ya! Mama takut akan kehilangan kalian."
Aku tidak mau laki-laki itu bertemu anak-anak dan mengambil anak- anak ini dariku. Aku harus memastikan dulu apa yang akan dilakukan laki-laki itu kalau dia tahu sudah mempunyai anak dariku.
Mengapa mama mengatakan takut kehilangan kami? Apakah benar ayah kami akan memisahkan kami dari mama Syasa? Apakah ayah kami benar-benar seorang yang tidak mempunyai hati?
Isyana mengelus kepala kedua putranya. "Kalian memang anak yang baik. Maafkan mama ya tadi mama tidak bermaksud berkata kasar sama kalian mama hanya terbawa emosi saja. Yuk kita makan dulu mama sudah menyiapkan nasi goreng sosis kesukaan kalian!"
Melihat mamanya yang mulai melembut kedua anak itu akhirnya berani menatap wajah Isyana.
" Nggak apa-apa Ma kami mengerti. Mama yang masak?"
"Iyalah khusus buat anak-anak Mama yang ganteng dan keren."
Mereka berjalan beriringan menuju meja makan. Sambil berjalan Tristan menegur Nathan, "Atan kenapa kamu bilang kami tidak akan menanyakan tentang siapa ayah kita? Apakah kamu tidak ingin tahu siapa ayah kita?" berucap dengan suara berbisik.
"Kita harus bisa menjaga perasaan mama Itan, kalau sudah waktunya nanti pasti mama akan kasih tahu kita. Atau kita cari tahu saja sendiri tanpa sepengetahuan mama. Gimana oke?"
Mereka berdua saling menautkan jari telunjuk.
"Oke, emangnya kamu tahu caranya?"
"Nanti kita pikirkan, sekarang makan aja dulu."
"Apa kalian bisik-bisik?" tanya Isyana yang melihat keduanya berbicara lirih.
"Hehe... nggak Ma kita cuma bilang masakan mama jauh lebih enak dari buatan aunty Annnete," jawab Tristan berbohong walaupun masakan mamanya memang paling enak bagi mereka."
"Pokoknya masakan mama the best deh," lanjut Nathan.
"Awas lho kedengaran aunty Annete nanti dia nggak akan mau lagi masak buat kalian," kelakar Isyana.
__ADS_1
Tiba-tiba Annete datang menghampiri mereka. "Kayaknya ada yang ngomongin aunty deh, pantesan telinga aunty cenat-cenut dari tadi."
"Ih kegeeran. Siapa juga yang ngomongin aunty? Lagian emang kepala tuh telinga cenat-cenut?" kilah Tristan.
"Kayaknya aunty belum budeg deh."
"Hahaha ...." Mereka tertawa bersama.
"Sudah, sudah ayo kita makan! Annete ayo bergabung!"
"Oke mbak."
Ketika mereka selesai makan tiba-tiba bel di pintu berbunyi. Annete berdiri. "Biar saya yang buka pintunya."
Annete berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Maaf perlu dengan siapa ya?"
"Kami ada perlu dengan Nathan dan Tristan juga walinya. Apakah ada?"
"Ada. Silahkan masuk!"
Annete pun menyuruh tamu tersebut untuk duduk di ruang tamu.
"Sebentar saya panggil mereka dulu."
Annete berjalan ke ruang makan dan memberitahukan kepada mereka bertiga.
"Mbak ada tamu katanya nyari baby twins sama mbak."
"Siapa tamunya?"
"Nggak tahu Mbak yang saya tahu mereka cuma dua orang," jawab Annete sambil terkekeh.
"Kalian udah selesai makannya? Ayo temui tamunya dan kamu Annete jangan lupa buatkan minuman!"
"Siap Mbak."
Mereka berjalan ke arah ruang tamu.
"Maaf Mr. ada perlu apa ya mencari kami?"
"Langsung saja Nyonya kedatangan kami kemari ingin mengundang Tristan dan Nathan menjadi bintang tamu di acara televisi kami. Apakah kalian bersedia?"
"Apa undangan menjadi bintang tamu di televisi? Emangnya anak-anak ngapain kok bisa di undang televisi segala?"
"Apakah Nyonya belum tahu kalau anak nyonya sekarang lagi viral di media sosial?"
"Apa?"
"Kejutan!" ucap si kembar sambil bersedekap dada.
TBC....
Nggak ada yang punya Vote ya? Ngelunjak nih Autornya!🤣🤣
__ADS_1