
Melihat orang yang dipanggil pak oleh security itu adalah Zidane segera Tristan berhambur ke dalam pelukannya.
"Huaa... Paman bapak-bapak ini jahat kenapa mereka menganggap kami mata-mata padahal kamu bukanlah orang jahat bagaimana kami jadi mata-mata kalau arti mata-mata saja kami tidak mengerti, hiks-hiks-hiks...."
Melihat anak kecil berlari ke pangkuannya Zidane pun kaget. Zidane sebelumnya tidak pernah menyukai anak kecil. Baginya anak kecil itu sungguh merepotkan namun mengapa ketika Tristan yang ada di pangkuannya hatinya jadi menghangat. Dia mengulurkan tangan mengusap kepala Tristan.
"Tenanglah paman tidak akan menghukum kalian."
"Pak satpam apakah perusahaan kita sangat tidak kondusif sehingga sampai harus mencurigai anak-anak?"
"Kan memang tidak kondusif," ucap pak satpam dalam hati mana mungkin dia berani bicara langsung.
"Bu...kan begitu Pak tapi kami harus selalu waspada."
"Iya saya tahu tapi haruskah sampai mencurigai anak kecil?"
Kedua satpam hanya menunduk.
"Yasudah kalian boleh pergi."
"Baik Pak."
Kedua satpam meninggalkan ruangan.
"Apakah kalian bisa menjelaskan mengapa kalian bisa ke sini?" Zidane mulai mengintrogasi kedua anak itu.
"Kami tidak sengaja tadi lihat kantor ini. Karena sangat besar dan megah jadi kami tertarik untuk melihatnya dari jarak dekat tapi ternyata pak satpam tadi malah salah paham menganggap kami orang jahat," ucap Tristan tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Zidane. Rupanya anak ini sungguh-sungguh merindukan sosok ayah kandungnya.
"Hanya karena besar dan megah tidak ada alasan lain? Bukankah di sini banyak gedung yang besar kenapa kalian malah tertarik ke sini bukan ke gedung yang lain?"
"Karena... karena...,"
"Karena ini adalah kantornya om Dion," ucap Nathan memotong perkataan Tristan. Ia takut Tristan akan keceplosan bicara.
"Kamu sini!" perintah Zidane pada Nathan namun Nathan hanya menggeleng.
"Sini," ulang Zidane karena melihat Nathan masih setia berdiri di depannya namun masih menjaga jarak.
Nathan masih setia menggeleng.
Anak ini sungguh keras kepala mengingatkan ku pada masa kecilku. Tapi tunggu! Bukankah wajahnya juga mirip denganku?
Zidan lalu dengan lembut menyentuh dagu Tristan dan mendongakkan kepala anak tersebut ke wajahnya.
Anak ini ternyata wajahnya juga mirip denganku. Jadi mereka kembar?
Zidane terbelalak melihat kedua wajah anak kembar tersebut. Dia menggosok matanya untuk memastikan pandangannya benar siapa tahu pandangan matanya sedang kabur.
Apakah dia bermimpi? Seperti sebelum-sebelumnya dia selalu memimpikan dua anak yang wajahnya mirip dengannya selalu tersenyum padanya. Selama ini dia berpikir itu adalah memori masa kecilnya yang kebetulan masuk ke dalam mimpinya. Dia selalu bertanya-tanya mengapa bayangan dirinya dalam mimpi itu sepasang?
"Siapa orang tua kalian?"
"Mama kami adalah mama Sya...,"
Cepat-cepat Nathan menghampiri Tristan dan menginjak kakinya.
"Mama kami adalah mommy Lusy dan papa kami adalah Daddy Edward."
Mendengar pernyataan Nathan Tristan mendelik kearahnya. Tristan tidak suka Nathan berbohong. Tristan tidak suka Nathan tidak mengakui mamanya sendiri.
"Oh orang tua kalian ada di sini?"
__ADS_1
"Tidak mereka di Prancis."
"Kalau orang tua kalian di Prancis mengapa kalian di sini?"
"Kami mendapat undangan mengisi acara ulang tahun seorang anak pengusaha." Kini Tristan yang menjawab.
"Sejauh itu mereka mengundang kalian hanya untuk mengisi acara ulang tahun. Emang kalian bisa apa?"
Pertanyaan tersebut membuat Tristan merasa dirinya diremehkan.
Ia turun dari pangkuan Zidane dan berkata dengan sombongnya. " Saya bisa bernyanyi dan memainkan berbagai macam alat musik."
"Oh ya?"
Dengan angkuh Tristan menjawab, " Iya."
"Oke kalau begitu kebetulan paman punya gitar kesayangan. Dulu paman selalu memetik gitar itu kala merasa kesepian tapi sekarang paman sudah tidak menggunakannya lagi. Kalau kamu bisa bernyanyi sambil memainkan alat gitar itu nanti paman kasih gitar tersebut buat kamu sebagai hadiah, bagaimana?"
"Benarkah Paman?" Mata Tristan berkaca-kaca karena terharu. Bukan perkara gitarnya yang membuat dia senang tapi siapa pemberinya.
"Iya asal kamu bisa bernyanyi dan memainkannya dengan baik."
"Baiklah Paman mana gitarnya?"
Zidane beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamar pribadinya yang ada dalam ruangan tersebut. Kemudian dia kembali dengan gitar di tangannya dan menyerahkan pada Tristan.
"Ini gitarnya."
Tristan mengambil gitar tersebut dari tangan Zidane. Sejenak dia menarik nafas untuk menghilangkan rasa nervous. Entah mengapa ia grogi tampil di hadapan Zidane padahal dia sudah terbiasa tampil di depan umum.
Tristan mulai memetik gitarnya kali ini dia menyanyikan lagu dari Alwiansyah yang berjudul 'Ayah Bunda Jangan Berpisah' dengan penuh penghayatan.
aku ingin ayah bundaku
ku tak mau mereka berpisah....
air mata ini tak cukup
mengobati rindu..
rindu ingin selalu bersama....
reff: setiap malam..aku berdoa..
ku ingin kita kumpul bersama..
aku tak mau ada perpisahan
antara ayah dan bundaku
sayang..
ayah lihatlah..anakmu ini..
menahan perih sakitnya hati..
bundaku sayang surga
duniaku..
aku rindu selalu bersama
__ADS_1
selalu bersama..
Tak terasa air mata mengalir dari pelupuk mata Zidane juga kedua anak tersebut. Lagu yang dibawakan Tristan benar-benar menyentuh ke dalam hati. Permainan gitar Tristan pun semakin membuat lagu tersebut semakin membuat mereka larut dalam perasaaan sedih.
"Sudah," kata Tristan mengakhiri permainannya.
"Ah sudah," ucap Zidane kaget. Dia belum tersadar seutuhnya.
"Iya Paman."
"Oke kalau begitu karena permainan gitar dan suaramu bagus paman kasih gitar ini untuk kamu."
"Beneran Paman?" Tristan masih tidak percaya.
"Iya ambil saja."
"Terima kasih Paman."
Terima kasih Papa.
"Oh ya paman lupa menanyakan siapa nama kalian?"
"Nama saya Tristan dan kakak saya ini namanya Nathan."
"Dia sedikit pendiam," bisik Tristan di telinga Zidane.
"Oh begitu ya! Kalian sudah makan siang?"
"Belum Paman."
"Maukah kalian makan siang sama Paman?"
"Mau dong Paman."
"Nathan sini kenapa kamu takut dekat dengan Paman?"
"Eh nggak, saya cuma ingat nasehat mama katanya, 'Jangan bicara dengan orang asing.'
"Memang paman orang asing? Kita kan dari tadi sudah berkenalan."
"Baik Paman." Nathan pun mendekat ke arah Zidane. Zidane merangkul kedua anak tersebut dan membawanya ke kantin kantor.
"Kalian sama siapa ke sini?"
"Sama uncle Lexi."
"Sekarang dia dimana?"
"Di luar mungkin menunggu di mobil."
"Sebaiknya kalian hubungi saja dia takutnya dia nyariin kalian karena lama."
Nathan mengambil ponselnya dan menelpon Lexi dia mengatakan dirinya akan lama di dalam karena harus makan siang dulu di dalam.
"Aneh-aneh saja kedua anak ini. Kalau hanya untuk makan kenapa tidak di sini saja," gumam Lexi.
"Ada apa?" tanya Annete yang mendengar Lexi menggerutu.
"Itu anak tuyul mau makan aja harus di dalam kantor. Kantor orang lagi. Gimana caranya dia bisa diterima di sana?"
"Hus bilang anak orang anak tuyul nanti kena laknat sama mbak Syasa."
__ADS_1
"Habisnya dia bisa pergi kemanapun yang dia mau," kesal Lexi.