
Tiga hari berlalu Lexi masih memilih tinggal di rumah Zidane dibanding di apartemen miliknya. Apalagi alasannya kalau bukan karena ingin berdekatan dengan Naura meskipun pada kenyataannya dia tidak bisa tidur sekamar karena Isyana semakin ketat mengawasi keduanya.
Apalagi tiga hari lagi dia akan kembali ke Paris untuk menyelesaikan pekerjaannya yang selama ini tanggung jawabnya dilempar kepada Tuan Abraham. Dan selama dia di sana mereka hanya akan bisa melihat satu sama lain lewat layar ponsel ataupun laptop karena Lexi tidak bisa memboyong istrinya untuk ikut dengan alasan sekolahnya.
Pagi-pagi Naura dan si twins sudah siap berangkat. Lexi pun sudah siap dengan kunci mobilnya namun tiba-tiba saja Adrian muncul dan mencarinya.
"Mana Lexi?" Dari nada bicaranya Isyana tahu bahwa Adrian dalam keadaan marah apalagi dari wajahnya yang kini memerah pun Isyana mengerti bahwa laki-laki itu benar-benar emosi.
"Ada apa sih Dri?" Zidane yang menjawab karena kaget dengan ekspresi yang tidak biasanya ditunjukkan oleh sahabatnya yang biasanya kalem itu.
"Mana Lexi?" Adrian tidak menggubris pertanyaan Zidane. Rasa marah masih terlihat di wajahnya.
"Ada apa Dri?" Lexi menghampiri Adrian karena mendengar dari tadi memanggil namanya.
'Bug.' Satu pukulan mendarat di kepala Lexi.
"Dri?"
'Bug bug bug.' Bogeman mentah bertubi-tubi melayang ke arah Lexi namun Lexi tidak bergerak dan tidak ada keinginan untuk melawan. Namun ketika sekali lagi bogeman itu akan bersarang di tubuh Lexi kembali Naura berteriak.
"Hentikan! Hentikan Om Adri!" Sambil berlari ke arah keduanya dan menepis tangan Adrian.
Melihat kehadiran Naura Adrian semakin tersulut, "Brengsek Lo Lex, gue serahin Annete ke elo bukan untuk disakiti. Aku mengalah, memilih menyerahkan dia padamu karena tahu dia mencintaimu dan berharap kau bisa membahagiakannya, tapi nyatanya apa? Kamu malah mengkhianatinya dengan menikahi gadis ini."
"Brengsek Lo kenapa kalau kamu tidak membutuhkan dia lagi kenapa tidak kau kembalikan padaku lagi hah?!"
"Sorry Bro dia bukan barang yang bisa kita lempar kemana saja sesuai keinginan kita."
Mendengar perkataan Lexi semakin memancing amarah Adrian.
"Brengsek Lo," ucapnya sambil mengayunkan tangannya kembali ingin menghantam Lexi namun langsung dicegah oleh Naura dengan menerobos masuk diantara keduanya.
"Stop Om, stop! Jangan pukul Om Lexi lagi, aku mohon! kalau Om mau Om pukul Naura saja, hiks hiks hiks. Jangan salahkan Om Lexi atas semuanya, di sini Naura yang salah Om, Naura yang telah membuat mereka terpisah hiks hiks hiks." Setelah itu tangis Naura benar-benar pecah sehingga membuat Adrian iba dan menghentikan pukulannya.
__ADS_1
"Naura kamu tunggu di mobil aja ya sayang!" ucap Lexi agar istri kecilnya tidak menangis lagi.
Zidane menghampiri Adrian. "Dri tenanglah semua masalah bisa diselesaikan dengan baik-baik jangan pakai emosi kalau tidak masalah tidak akan dapat dipecahkan." Zidane berucap sambil menepuk-nepuk punggung Adrian mencoba menyalurkan ketenangan.
"Bagaimana aku tidak emosi Dan, karena pernikahan mereka kini Annete menghilang. Aku sudah cari kemana-mana tapi tidak ketemu. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu sama dia?" Sebentar kemarahan di wajahnya berganti kekhawatiran.
"Apakah dia akan bertanggung jawab?" tunjuknya pada Lexi. Emosinya timbul kembali. Lexi hanya diam mematung, bagaimana dia harus menjelaskan pada Adrian bahwa Annete pergi bukan karena dirinya tapi karena Adrian lah dia pergi.
"Tenanglah Dri Annete tidak menghilang tapi dia pulang ke negaranya karena merasa di sini tugasnya sudah selesai," jelas Isyana.
"Maksudnya?" tanya Adrian tak mengerti tubuhnya masih bergetar karena menahan emosi.
"Karena si twins sudah bahagia ketemu ayahnya dan Adel pun katanya sebentar lagi akan mempunyai bunda lagi."
"Maksudnya?" Adrian masih tak mengerti.
"Entahlah mungkin dia pikir kamu sama Yuna pacaran jadi dia merasa Adel sudah ada yang jagain. Entahlah aku tak mengerti yang pasti dia mengatakan, ini saatnya untuk dia cari kebahagiaan sendiri."
Lexi menepuk pundak Adrian. "Masih belum mengerti juga?"
"Annete tuh pergi bukan karena aku tapi karena kamu. Dia mencintai mu tapi kamu malah menyerahkannya padaku jadi dia menganggap kamu tidak benar-benar tulus mencintainya dan disaat seperti itu malah ada seorang wanita yang mengancam keselamatan dirinya jika ia terus bersamamu dia juga berkata macam-macam yang menyakiti hati Annete makanya dia menyerah dan memilih pergi. Jadi jangan salahkan aku, introspeksi lah sebelum menyalahkan orang lain." Setelah itu Lexi menepuk pundak Adrian kembali dan berlalu meninggalkannya karena kalau tidak Naura dan si kembar akan telat masuk ke sekolah karena masih menunggu dirinya di mobil.
Seperginya Lexi Adrian mencoba mencerna kata-kata Lexi. Apa benar Annete mencintai dirinya? Terus siapa wanita yang Lexi maksud? Apakah Yuna seperti yang dimaksud Isyana?
Ah tidak mungkin, tapi siapa? pikirnya dalam hati. Adrian tahu siapa Yuna dia tidak akan melakukan hal curang seperti itu. Keduanya sudah lama bersahabat dan tidak ada yang ditutupi dalam persahabatannya itu. Ya Yuna termasuk sahabatnya yang paling terbuka terkecuali satu dia tertutup pada Andy saja. Dan kalau Yuna memang mencintai dirinya Adrian pasti bisa melihat dari gelagatnya.
"Dan bisa bantu aku? Siapa orang yang Lexi maksud?"
Zidane mengangkat bahu. "Mana aku tahu permasalahan kalian aja aku tidak mengerti."
Akhirnya Adrian membuang ego mencoba bertanya pada Lexi melalui sambungan telepon.
"Halo Lex."
__ADS_1
"Iya ada apa?"
"Siapa wanita yang kau maksud?"
"Oh itu saya tidak tahu tapi yang saya tahu Annete mengatakan dia masih berstatus istri kamu."
"Annisa? Mana mungkin dia?"
"Entahlah siapa yang pasti suatu saat nanti dia akan menampakkan dirinya di depanmu dan anakmu."
Mendengar penuturan Lexi Adrian menjadi gusar. Bagaimana kalau apa yang dikatakan Lexi semuanya benar? Bagaimana kalau Adel meminta dirinya kembali pada bundanya?
"Ah tidak aku tidak bisa kembali padanya. Aku mencintai Annete. Aku akan mencari dirinya walaupun ke ujung dunia sekalipun." Begitulah tekad Adrian. Entahlah apakah dia bisa membuktikan ucapannya itu atau tidak yang pasti dirinya kini sangat kehilangan Annete.
"Lex beritahukan aku alamatnya aku akan menyusulnya sekarang juga!"
"Baiklah."
Tak lama kemudian,
'Cring' ada notifikasi masuk ke ponsel Adrian. Cepat-cepat ia membacanya. Bibirnya tersenyum tatkala melihat alamat rumah Annete yang tertera di ponselnya.
"Tunggu Net aku akan menyusul mu!" Adrian pun bergegas keluar dari kediaman Zidane.
"Tunggu Dri, minum dulu," panggil Isyana dengan segelas minuman di tangannya namun Adrian tak menggubris panggilannya.
"Sudahlah sayang dia tidak haus minuman ini tapi seperti dia haus cinta," ujar Zidane sambil menengguk minuman di tangan Isyana sampai tandas.
"Mas yang mencak-mencak dari tadi tuh Adrian tapi kenapa malah kamu yang kehausan?" protes Isyana.
"Sudah ah Mas pamit dulu," ucap Zidane sambil memberikan tangannya untuk disalami sang istri.
Bersambung....
__ADS_1