Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 174. Meminta Izin


__ADS_3

Beberapa hari kemudian louis menemui Edrick di club nya setelah sejak bertemu Angel dia tidak berjumpa dengan Edrick. Dia lebih suka menemani Angel mengobrol dan kadang membantu Angel dalam pekerjaannya. Angel saat ini beralih profesi menjual barang-barang secara online.


Apalagi Annete sempat meminta Louis untuk membantu mengawasi Angel karena tempat tinggal Louis yang paling dekat dengan kontrakan yang ditempati Angel. Annete harus mengantisipasi agar Angel tidak akan mengulangi perbuatannya untuk menggugurkan kandungannya ataupun sampai bunuh diri walaupun Angel sudah berjanji padanya tidak akan berbuat nekat. Takutnya Angel stres dan mengulangi perbuatannya. Untungnya Louis orangnya supel sehingga Angel bisa menerima kehadiran dirinya sebagai seorang sahabat.


"Hei kenapa wajahmu kusut banget Bro kayak kemeja yang nggak disetrika setahun sih," sapa Louis yang melihat Edrick duduk seperti orang stres, asap rokok mengepul di udara karena berkali-kali dihisapnya dengan kasar.


"Ada masalah?" tanya Louis karena Edrick tak kunjung merespon sapaannya.


"Lagi stres Lou," jawabnya datar.


"Stres kenapa?" tanya Louis penasaran, tumben Edrick stres.


"Gue bingung sama diri gue sendiri."


"Bingung kenapa?"


"Aku akhir-akhir ini jadi aneh Lou."


"Aneh apaan?"


"Aku sudah tidak gagah lagi Lou."


Louis menganga namun kemudian berucap, "Kenak santet kali Lo," jawab Louis seenaknya.


"Ish, mana ada setan yang berani nyentuh gue, lihat tato gue aja dia pasti takut dan langsung kabur."


"Cih." Louis berdecih.


"Tapi benar sih setan sekarang takut sama elo kalau tidak pasti dia akan membiarkan elo untuk zina lagi tapi nyatanya Lo bilang tadi sudah tidak gagah jadi gagal deh zina nya ternyata setan tidak berani membantu Lo lagi. hihihi...." Louis berucap sambil cekikikan.


"Cih, sejak kapan elo bilang perbuatan kita zina yang ada kemarin-kemarin Lo bilang kegiatan enak-enak."


"Sejak sekarang lah," jawab Louis santai.


"Tumben, kesambet setan putih mana Lo," protes Edrick.


"Eh gimana-gimana ceritanya kamu sampai memvonis dirimu seperti itu."


"Ceritanya panjang tapi setiap aku lihat tubuh wanita yang ku bawa ke ranjang tiba-tiba adik kecilku lemes dan tubuhku terasa sakit. Kamu tahu kenapa itu terjadi?"

__ADS_1


"Tidak," jawab Louis disertai gelengan kepala karena memang dia tidak tahu. Dia kan bukan dokter ataupun dukun.


"Karena setelah mereka polos aku seolah mencium bau yang tidak sedap dari tubuh mereka. Saat dalam kondisi itu aku malah muntah-muntah tidak jelas dan lebih memalukannya aku bahkan pernah muntah di ******** wanita tersebut dan wanita tersebut marah-marah dan mengatai-ngataiku macam-macam. Dia bahkan mengatakan aku brengsek dan tidak laki-laki segala."


"Hahaha...." Louis malah tertawa mendengar curhatan sang sahabat. Sudah dipastikan tidak akan ada lagi wanita yang mau diajak tidur olehnya.


"Kenapa Lo tertawa? Sahabat lucnut Lo ya, teman lagi susah malah diketawain," ujar Edrick sambil melempar bungkus rokok ke arah Louis.


"Habisnya Lo lucu sih itu pertanda kamu harus ke rumah sakit itu bukan ke club. Yang mau nyembur tuh bagian atas tubuh kamu bukan bagian bawah."


"Senang Lo ya gue kayak gini, dengan gini Lo yang akan jadi penguasa di tempat ini dan gue sebagai pemilik club hanya bisa menelan ludah melihat mu berhasil menggagahi mereka."


"Cih siapa juga yang senang, mulai saat ini gue berhenti main perempuan."


"Apa? Nggak salah Lo?"


"Nggak aku yakin. Mulai saat ini aku berhenti, titik."


"Cih, seyakin itu Lo? Emang apa motif Lo berhenti, aku nggak percaya Lo bakalan tobat. Palingan tobat sambal kayak kemarin-kemarin."


"Aku mau mencoba menjadi lelaki setia."


"Emang pacar sudah punya? Pacaran aja belum punya mau setia, setia sama siapa? Sama meong, hahaha...."


"Emang belum sih tapi sudah ada incaran," jawab Louis sambil tersenyum membayangkan wajah Angel ada di hadapannya.


"Cih senyum-senyum sendiri, awas gila Lo."


"Jatuh cinta memang kadang buat kita jadi gila." Edrick hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Louis.


"Terserah Lo aja deh, tapi kalau sampai Lo masuk RSJ gue nggak bakal ngantarin elo," lanjutnya.


"Ngomong-ngomong Lo udah periksa belum ke dokter? Siapa tahu Lo ada kelainan." Louis tidak menggubris perkataan Edrick.


"Kelainan apaan maksud Lo ?"


"Kelainan alergi wanita, hahaha...."


"Siapa tahu iya kan?" Kali ini bukan lagi bungkus rokok yang melayang tapi sama asbak-asbaknya.

__ADS_1


"Brengsek Lo Lou dari tadi ngeledek terus."


"Ah nggak kali ini aku serius nanya apakah kamu sudah memeriksakan diri ke dokter barangkali kamu sakit apa gitu?" Kali ini Louis berucap dengan serius tak ada kata 'elo-elo' lagi.


"Sudah Lou tapi dokter bilang aku tidak sakit apa-apa."


"Aneh." Tiba-tiba Louis mengingat akan kehamilan Angel. Kalau benar Angel hamil anak Edrick berarti saat ini Edrick mengalami kehamilan simpatik. Louis lihat akhir-akhir ini Angel sudah terlihat lebih sehat dan tidak pernah muntah-muntah lagi. Dia pikir mungkin morning sicknes nya berpindah ke Edrick.


"Rick kamu yakin anak yang di kandung Angel itu bukan benihmu?" Louis menatap wajah Edrick serius membuat Edrick salah tingkah.


"Kenapa elo malah ngomongin Angel?"


"Karena yang ku tangkap dari keluhanmu tadi sepertinya kamu mengalami yang namanya ngidam."


"Ya nggak lah Lou aku yakin dia bukan anakku. Masa laki-laki bisa ngidam juga sih? Bukannya ngidam tuh pengen apa-apa gitu?"


"Kamu yakin Bro, kamu pas ngelakuinnya sama Angel nggak buang di dalam gitu?" Edrick termenung, dia tidak menjawab pertanyaan Louis.


"Kamu tanya sama Zidane dia tuh pernah ngidam pas istrinya hamil baby Fazila. Dia bisa muntah-muntah hanya gara-gara mencium bau sabun saja apalagi wangi parfum." Edrick mencerna ucapan Louis apakah dirinya juga muntah karena parfum yang dipakai para wanita tersebut di tubuhnya. Sepertinya ia tapi Edrick tidak mau mengakuinya dia tetap menyangkalnya. Dia percaya bahwa Angel tidak sedang mengandung anaknya.


"Tidak Louis dia bukan anakku." Edrick berucap dengan mantap.


"Jujur, apakah kamu tidak mencintainya Angel?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu saja tidak saya hanya mengganggap dia sebagai rival semata."


"Oke kalau begitu saya yang akan menikahi dia."


Edrick menganga mendengar penuturan Louis. "Kamu yakin Lou?"


"Yakin sangat yakin malah. Tadinya aku berpikir kamu mencintainya namun kamu hanya gengsi saja untuk mengakui perasaanmu sekaligus mengakui bayi dalam kandungannya. Selama ini aku tidak berani mengatakan perasaanku pada Angel karena takut kamu menganggap ku nikung dia. Namun sekarang mendengar pernyataanmu aku lega. Aku bisa jujur tentang perasaanku padanya siapa tahu lambat lain dia bisa menerima ku dan benar-benar mau ketika aku ajak untuk menikah.


"Jadi wanita yang kau bilang bisa membuat mu jatuh cinta itu Angel?"


"Iya."


Edrick menelan ludah mendengar Jawaban Louis entah mengapa dalam hatinya dia merasa tidak rela Angel dimiliki oleh sahabatnya sendiri.


Bersambung......

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak!๐Ÿ™


__ADS_2