
Sabar sayang kita kan masih baru menikah. Kita senang-senang aja dulu," ucap Adrian.
"Kamu kenapa Yun?" tanya Annete ketika melihat Yuna berekspresi lain.
"Aku mau..." Belum selesai bicara buru-buru Yuna berlari ke kamar mandi.
"Pelan-pelan," kata Andy sambil mengikuti Yuna ke dalam kamar mandi dan memijit tengkuknya karena muntah-muntah.
"Kamu sakit Yun? Sana gih periksa mumpung lagi di rumah sakit," suruh Zidane.
"Nggak kok Dan dia ngga apa-apa," jawab Andy.
"Nggak apa-apa gimana bang, udah jelas-jelas dia muntah-muntah tadi. Jangan pernah menyepelekan penyakit loh bang, awalnya bisa saja masuk angin entar lama-lama penyakit kecil bisa saja jadi besar." Zidane benar-benar khawatir.
"Tenang Dan dia nggak apa-apa kok." Andy berkata dengan santai.
"Hem, papa nggak tahu aja Tante Yuna tuh lagi gini," ucap Tristan sambil menggerakkan tangannya melengkung ke depan seperti mengatakan orang gendut.
"Benarkah? Kamu tahu darimana Itan?" tanya Isyana.
"Dari Juju Ma."
"Benar kamu hamil Yun?" tanya Isyana memastikan.
"Iya Sya."
"Wah selamat ya Yun akhirnya jadi ibu beneran."
"Selamat ya Dy ternyata suntikan elo cocok, tokcer." Louis tergelak.
"Alah kamu tuh ada-ada saja," ucap Andy.
"Iya benar kan, Adrian aja yang lebih lama nikahnya belum ada hasilnya tuh suntikannya padahal dia kan seorang dokter."
"Hm mulai lagi dia, mau mancing-mancing deh kayaknya nih orang," keluh Adrian.
Louis hanya cekikikan.
"Lexi mana?" Annete yang merasa ada yang kurang. Dia baru ingat kalau Lexi dan Ara tidak bersama mereka.
"Tuh dengar Dri, bini Lo malah nanyain mantan, hahaha...."
"Ya ampun maksudku Lexi sama Ara, kok tumben mereka nggak ikut," Annete jadi merasa tidak enak.
"Jangan dengerin Net dia itu cuma mau cari teman, kalau kalian pisah Adrian kan jadi jomblo juga."
"Bukan begitu Dan, aku cuma bercanda nggak usah diambil hati," terang Louis.
"Biarin lah Louis begitu dia kan masih stres Angel sama Edrick." Dion menimpali membuat Edrick menatap intens wajah Louis.
"Nggak benar itu Rick Dion mah ngaco. Tapi benar juga Lexi mana Dy?" Louis mengalihkan pembicaraan.
"Lexi sama Ara lagi babymoon ke New York."
"Loh kapan mereka berangkat kok nggak ngabari aku?"
"Dua hari yang lalu habis pernikahan Angel sama Edrick mereka langsung meluncur. Sebenarnya malam itu mereka pamit ke rumah Mas tapi Mas Zidane waktu itu belum balik dari hotel dan aku malah lupa ngasih tahu sampai sekarang."
"Kapan mereka balik?"
"Rencananya habis pulang dari babymoon mereka langsung pulang ke Paris."
"loh-loh kenapa seperti ini? Sudah perginya mendadak malah nggak balik ke sini lagi," protes Zidane.
"Terpaksa Dan habisnya sudah menyebar gosip di sekolah Ara bahwa dia hamil diluar nikah."
"Bukankah Lexi sudah meminta guru Ara agar selama ini dia bisa sekolah online ya."
__ADS_1
"Iya tapi kemarin pas ujian harus di sekolah jadi terpaksa Ara ke sana. Lalu langsung menyebar gosip tersebut karena teman-temannya melihat perut Ara yang sudah buncit. Jadi sebelum Ara dengar dan jadi stres Lexi berinisiatif untuk membawanya babymoon."
"Terus kamu biarkan gosip yang nggak benar begitu menyebar?" protes Zidane.
"Rahel sama Mita sudah mengurus semuanya. Nanti kalau tidak berhasil aku baru turun tangan."
"Okelah kalau begitu. Cuma kayaknya aku belum siap deh mereka balik ke Paris."
"Iya ya kita semua pasti kangen sama mereka," timpal Edrick.
"Nanti pas baby-nya lahir gimana kalau kita jenguk bareng-bareng ke sana," ajak Yuna.
"Boleh aku sekalian mau pulang sebentar ke sana. Boleh nggak Rick?" izin Angel.
"Boleh aku juga ikut, sekalian kita ke tempat Wilson ya, apa kabarnya tuh anak?"
"Dek kamu ikut tidak? Kalau kamu ikut aku juga mau ikut, aku mau kau antar ke makan ayah."
"Mas?" Annete bertanya pada Adrian.
"Boleh, kapan kira-kira Ara lahiran Dy?"
"Menurut prediksi dokternya masih bulan depan."
"Nanti aku planning dulu."
"Ma kita ikutan juga ya Ma, mau ketemu sama kak Darren dan mommy Lusy. Kangen," rengek si kembar.
"Boleh sekalian mama mau survei butik mama yang ada di sana."
"Eh ngomong-ngomong kamu nggak mau periksa sama Adrian saja Yun kan dia juga dokter obgyn, lumayan kan dapat yang gratisan."
"Hari ini masih ngomongin gratisan Lou? Enggak ah aku mau bawa dia ke dokter kandungan perempuan aja."
"Cih takut di otak-atik dia milik istrinya."
"Apa sih Lou orang ada asisten, aku hanya membantu saja dalam proses persalinan. Aku cuma turun tangan kalau pasien memang darurat dan benar-benar membutuhkanku. Kalau tidak aku hanya mengintrokan saja pada asistenku. Nah kalau harus dioperasi baru aku turun tangan sendiri."
"Ampun! Orang Annete lagi sakit kalian selalu aja manas-manasin terus. Kayaknya hobi ya jadi kompor."
"Terancam nih rumah sakit gue karena adalagi satu dokter obgyn yang bakal keluar," keluh Zidane.
"Aku nggak apa-apa kok Mas, aku ngerti kok profesi kamu," ucap Annete menenangkan Adrian.
"Terima kasih sayang tapi kalau kamu tidak suka aku bisa keluar."
"Nggak Mas tidak perlu, selama tenaga kamu masih dibutuhkan ya dilanjutkan saja." Adrian hanya mengangguk.
"Nih Ara sama Lexi," ujar Andy sambil menunjukkan video callnya bersama Ara.
"Hai semua! Lagi ada acara apa ya kok tumben kumpul-kumpul?" tanya Lexi di seberang sana sambil melambaikan tangannya.
"Kami lagi di rumah sakit," ujar Yuna sambil memperlihatkan penampakan kamar rumah sakit di ponselnya.
"Mana Ara?" tanya Zidane.
"Tuh dia." Lexi mengarahkan kameranya pada Ara.
"Kok cemberut dia?"
"Biasa bang lagi ngambek dia karena cemburu."
"Cemburu sama siapa lagi?" tanya Isyana.
"Siapa yang sakit?" Ara tidak mendengarkan ocehan mereka.
"Annete yang sakit."
__ADS_1
"Sakit apa?"
"Biasa kemarin kecelakaan, tertabrak mobil karena mencoba menyelamatkan Anisa."
"Menyelamatkan tante Anisa, ngapain? Kalau aku tuh lihat mantan mas Lexi bukannya diselamatkan malah pengen dorong aja sekalian."
Edrick mengambil ponsel tersebut dan mengarahkan ke Anisa.
"Hehe... maaf ya Tante Anisa aku bercanda," ujar Ara sambil mengangkat dua telunjuknya membentuk piss.
"Tidak masalah," ujar Anisa sambil tersenyum.
"Sorry dia lagi sensitif karena baru ketemu mantanku," ujar Lexi terkekeh dan Anisa hanya mengangguk.
Mendengar perkataan mantanku Ara mencebik kemudian mendengus namun beberapa saat kemudian berbalik ke kamera.
"Mbak Syasa kenal Angel?"
"Kenal lah ini dia," sahut Isyana sambil mengarahkan kamera ke arah Angel.
"Bukan Angel yang itu tapi Angel mantannya dia," tunjuknya pada Lexi sambil manyun.
"Kalau kenal sih nggak tapi kalau tahu iya. Kenapa sih?"
"Ceritanya sih dia baru ketemu dan dia jadi ngambek deh." Lexi menimpali.
"Ketemu aja bisa ngambek?"
Flashback On.
Pagi-pagi sekali Lexi mengajak Ara jalan-jalan. Sebelum mengajak ke tempat yang lain hari ini Lexi membawa Ara jalan-jalan di atas jembatan Brooklyn. Lumayan dari atas sungai East ini mereka memandang penampakan kota New York yang indah. Mereka menikmati pemandangan di sekitar jembatan itu yaitu gedung-gedung tinggi di Manhattan dan Brooklyn, New York hingga kapal yang melintas Sungai East. Juga memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di atas jembatan.
Sekali-kali mereka duduk di kursi yang telah disediakan oleh pihak pengelola jembatan saat merasa lelah.
"Mas aku mau foto-foto di sana," tunjuk Ara pada patung Liberti.
"Ayo!" Lexi menarik tangan Ara.
"Hai Lex apa kabar? Senang bertemu kamu lagi." Tiba-tiba ada seorang wanita yang menggandeng anak kecil menyapa Lexi.
"Angel kok kamu bisa ada di sini?"
"Iya aku ikut suamiku ke sini tapi sayangnya suamiku sudah meninggal."
"Bukannya suamimu orang Paris ya?"
"Iya suami yang dulu tapi kami bercerai karena sampai saat ini dia masih belum mengakui anak ini adalah anaknya."
"Kok bisa? Sudah besar ya ternyata anak itu," ucap Lexi sambil mengacak rambut anak laki-laki tersebut gemas karena mengingatkan dirinya akan Nathan dan Tristan.
"Karena... karena..." Perempuan itu berkata ragu-ragu.
"Siapa Mas?" tanya Ara. Dari tadi dia tidak suka melihat Lexi seolah akrab dengan perempuan tersebut.
"Hanya teman," jawab Lexi karena memang dia sudah melupakan perihal hubungannya dengan perempuan di hadapannya. Dia hanya menganggap sebagai teman saja.
"Karena dia pikir anak ini adalah anakmu soalnya waktu itu aku kan masih berpacaran sama kamu." Lexi mengernyit.
"Oh jadi kalian pernah menjalin hubungan?" Ara langsung berlari menjauh dari keduanya.
"Ara pelan-pelan nanti perutmu sakit!" Ara tidak mendengarkan peringatan Lexi dia terus saja berlari membuat Lexi ikut berlari mengejarnya.
Hingga akhirnya Ara menghentikan langkahnya saat perutnya benar-benar terasa sakit.
"Kamu kenapa sih?"
"Jadi anak itu anak Om Lexi?"
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like dan vote-nya.๐