Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 12. Rencana Keluar Kota


__ADS_3

"Orang tuamu juga lucu banget, jaman sekarang main jodoh-jodohan takut anaknya nggak laku apa?" Nindy bertambah cemberut.


"Ih gini-gini aku banyak yang naksir lo di kampus."


"Kalau iya kenapa masih jomblo?" Apa masih ngarepin Pras?"goda Louis.


"Masih Traumu," jawab Nindy ketus sambil beranjak ke kamar sedang Louis hanya terkekeh.


"Ya sudah istirahat saja sana, aku mau balik ke kantor dulu."


Nindy menoleh lalu mengangguk.


Louis pun bangkit dari duduknya lalu pergi sebentar ke ruang kerjanya untuk mengambil berkas-berkas penting, setelah itu langsung beranjak ke luar rumah.


"Sudah mau balik Mas?" Mira yang berpapasan di depan pintu langsung bertanya.


"Iya ada yang harus secepatnya aku urus dulu. Nitip Nindy ya jangan sampai dia keluar rumah."


"Siap Mas Louis. Mas Louis sama Nindy saja perhatian amat tapi kalau sama Mira kayak nggak ada perhatiannya sama sekali."


"Cih kamu iri ternyata, mau aku perhatiin?" Mira mengangguk.


"Ya sudah lukai dulu salah satu bagian tubuhmu nanti pasti aku perhatiin. Soalnya aku perhatian sama Nindy kan karena dia sedang terluka."


Mira hanya menelan ludah kasar. "Nggak ah mending nggak usah diperhatiin aja."


"Ya sudah aku berangkat ya!"


"Iya."


Setalah sampai di kantor Louis langsung memanggil sekretarisnya. Meminta berkas-berkas mana yang harus ditandatangani.


"Ini pak yang harus ditandatangani terlebih dahulu. Kalau yang lainnya nanti bisa menyusul." Sang sekretaris menyodorkan berkas-berkas yang perlu ditangani oleh Louis.


Setelah berkas itu selesai dibubuhi tanda tangan sekretaris tadi mengambilnya kembali dan membawa ke luar ruangan. Namun sampai di depan pintu dia membalikkan badan.


"Oh ya Pak tadi Tuan Zaki mencari Bapak."


"Apa katanya?"


"Ada masalah pada cabang perusahaan yang ada di luar kota dan beliau meminta Bapak yang terjun langsung ke lapangan."


"Harus saya?" Entah mengapa kali ini Louis merasa berat padahal sebelumnya ia paling senang apabila ditugaskan ke daerah tersebut.


"Katanya beliau sih ia."


"Oke, biar aku langsung telepon beliau."


Sekretaris itu mengangguk lalu pamit pergi.


Drrrt ....


๐Ÿ“ฑ"Halo Lou."


๐Ÿ“ฑ"Halo Pa, apa benar Papa yang menugaskan saya untuk berangkat ke kantor cabang itu?"


๐Ÿ“ฑ"Iya lah Lou kalau bukan kamu terus siapa lagi?"

__ADS_1


๐Ÿ“ฑ"Kan ada Kenan Pa, biar dia saja yang saya tugaskan ke sana."


๐Ÿ“ฑ"Jangan! Kenan asisten kamu itu istrinya kan baru saja melahirkan. Kasihan dia kalau harus bertugas ke luar kota. Biar papa saja yang mengendalikan perusahaan ini untuk sementara sedangkan kamu yang harus berangkat ke sana. Masalahnya sangat urgen kalau dibiarkan berlarut-larut papa takut konflik internal ini akan berdampak pada keuangan perusahaan di sana. Papa percaya Lou kamu bisa mengatasinya sendiri."


๐Ÿ“ฑ"Jadi saya harus berangkat kapan ini Pa?"


๐Ÿ“ฑ"Hari ini juga boleh, lebih cepat lebih baik."


Louis menarik nafas panjang.


๐Ÿ“ฑ"Baiklah Pa aku akan berangkat nanti sore saja."


๐Ÿ“ฑ"Baiklah semoga kamu berhasil."


๐Ÿ“ฑ"Papa tenang saja saya pasti akan mengatasinya dengan baik."


๐Ÿ“ฑ"Iya Papa percaya kamu bisa diandalkan.


Telepon ditutup. Louis tampak memikirkan sesuatu.


"Kok rasanya aku tidak enak ya meninggalkan Nindy? Bagaimana kalau tiba-tiba Pras nekad datang ke rumah dan menyakiti Nindy lagi? Akh, aku berpikir apa sih, bukankah Pras tidak pernah tahu rumahku dan dia juga tidak tahu kalau Nindy tinggal bersama ku. Mana mungkin dia akan menemukan Nindy? Seperti apa sih wajah Pras itu?" Louis bergumam sendiri.


Dia langsung menelpon Mira untuk menyiapkan segala keperluannya yang harus dibawa keluar kota nanti sore.


"Mbak Mira ngapain?" tanya Nindy tatkala melihat Mira mengepak pakaian Louis ke dalam koper.


"Ini berkemas, katanya nanti sore Mas Louis mau pergi keluar kota dan saya tadi dimintai tolong untuk menyiapkan segala keperluannya selama perjalanan termasuk menyiapkan pakaiannya."


"Oh begitu ya Mbak, berapa lama?"


Mira mengangkat bahu. "Entahlah tapi kalau dulu sih biasanya Mas Louis kalau ke sana lama baliknya. Paling cepat satu bulan."


"Iya itu dulu sebelum Mas Louis diserahkan jabatan untuk memimpin di perusahaan induk. Namun sekarang kan ia sudah jadi pimpinan perusahaan yang ada di sini. Jadi bisa saja lebih cepat baliknya."


"Oh, begitu ya Mbak."


"Iya, emang kenapa? Kamu takut kangen ya sama Mas Louis?" kelakar Mira.


"Ih nggak lah Mbak Mira. Mbak Mira ah ngaco aja."


"Kali aja iya, tapi kalian cocok banget kok kalau bersatu menurut saya sih."


"Ah Mbak Mira ada-ada saja," ucap Nindy sambil tersenyum malu.


Beberapa saat kemudian Louis datang dan masuk ke dalam kamarnya. "Bagaimana Mbak Mira sudah disiapkan semuanya?"


"Sudah," jawab Mira.


"Termos air panasnya sudah diisi? Soalnya aku tidak mau berhenti di jalan nanti hanya untuk sekedar membeli kopi, biar cepat sampainya."


"Sudah Mas kopi, gula, dan susunya juga sudah aku siapkan."


"Kalau begitu taruh semuanya ke mobil biar tidak kelupaan nanti!"


"Baiklah." Mira menyeret koper berisi pakaian itu keluar kamar.


"Eh Mbak Mira ini kuncinya."

__ADS_1


"Lempar saja Mas!" Mira hanya balik badan tidak mau melangkah lagi ke dalam kamar karena dirinya kini sudah ada di luar pintu.


"Oke tangkap!" Mira langsung menangkap kunci tersebut dan melangkah keluar.


Kini tinggal Louis dan Nindy di dalam kamar.


"Mas Louis beneran mau pergi?"


"Iya ada kepentingan mendadak. Ada masalah kecil di anak cabang perusahaan."


"Berapa lama kira-kira di sana?"


"Aku tidak bisa memastikan, tapi yang pasti aku akan usahakan supaya bisa pulang lebih cepat."


"Oh." Nindy tidak bisa menyembunyikan raut sedih di wajahnya.


"Hei kenapa kamu kok jadi sedih? Nanti aku bawakan oleh-oleh untuk kamu." Louis berkata sambil menyelipkan anak rambut di telinga Nindy.


"Aku tidak butuh oleh-oleh."


"Terus butuhnya apa? Kasih sayang?" Louis terkekeh.


"Ih." Nindy memukul lengan Louis.


"Awas tangannya sakit lagi," ujar Louis.


"Kamu jaga diri baik-baik ya selama aku tidak ada. Kalau tidak penting banget tidak usah keluar. Kalau mau kuliah nanti kabari aku, aku akan menyuruh anak buahku untuk mengawasi mu."


"Tidak usah, untuk sementara aku di rumah saja."


"Bagus kalau begitu jadi aku tidak perlu khawatir."


"Jadi kamu mengkhawatirkan ku?" Sekarang Nindy yang berbalik menggoda Louis.


"Ih kegeeran," ucap Louis sambil memencet hidung Nindy.


"Aduh sakit tahu."


"Ya sudah aku mau istirahat dulu sebelum melakukan perjalanan."


"Kalau begitu aku keluar ya!"


"Jangan!" cegah Louis.


"Terus aku harus apa?"


"Temani aku di sini."


"Ogah ah masak mau nemani kamu tidur. Meski statusku seorang pembantu di sini tapi tidak mungkin aku tidur dengan sembarang orang karena aku masih punya harga diri."


Pletek.


Louis menyentil dahi Nindy. "Ngomong apa sih kamu? Ternyata otakmu ngeres juga ya. Ya Tuhan, Nindy maksudku kamu temani aku di sini sampai aku terlelap bukan ngajak kumpul kebo."


"Hehe... sorry gagal paham," ujar Nindy sambil tersenyum malu-malu.


Bersambung....

__ADS_1


Maaf ya readers kali ini tidak bisa doule up, up 1 bab saja ya. Tadi rencananya mau up 2-3 bab tapi ternyata kondisi tidak memungkinkan. Kepala kliyengan dan raanya mau roboh ini. Terima kasih.๐Ÿ™


__ADS_2