
Pagi hari Tristan membuka jendela kamarnya nampak diluar pemandangan yang berbeda dari biasanya. Pepohonan sudah tampak menghijau dengan dedaunan. Bunga pun mulai bermekaran dengan warna-warni yang sedap dipandang mata.
Tristan berlari ke arah Isyana. "Ma kayaknya musim sudah berganti musim semi deh. Mama lihat di luar pepohonan sudah mulai menghijau."
"Benarkah?"
"Iya Ma. Mama lihat sendiri bunga-bunga sudah mulai bermekaran." Tristan menyukai musim semi karena dunia serasa berwarna sedangkan Nathan lebih menyukai musim dingin karena suka bermain salju.
Isyana berjalan keluar melihat keadaan sekitar matahari sudah mulai bersinar dan tentu saja temperatur udara sudah mulai menghangat.
"Oh ya mama lupa Mama harus segera menyelesaikan orderan gaun pengantin dari klien karena pesta pernikahannya sudah dekat."
"Memang kapan Ma pernikahannya?"
"Awal musim semi ini tapi mama lupa tanggalnya. Nanti habis sarapan Mama langsung pergi ya! Kalian di rumah sama Papa aja."
"Iya Ma."
Selesai Sarapan.
"Pak saya nitip anak-anak ya soalnya ada banyak yang harus saya kerjakan hari ini. Jadi harus berangkat pagi-pagi seperti ini!"
"Iya tapi hari ini saya harus ke kantor." Beralih ke anak-anak, "Apakah kalian mau ikut?"
"Bapak mau pulang?" Entah mengapa hati Isyana merasa berat.
"Nggak aku mau ke perusahaan yang ada di kota ini?"
"Papa punya perusahaan di negara ini?"
"Iya Boy tapi cuma perusahaan kecil aja. Gimana apa kalian mau ikut?"
"Emang boleh Pa?"
"Bolehlah siapa juga yang akan melarang?"
"Okelah kalau begitu kita ikut," jawab Tristan.
"Tapi sekiranya merepotkan tidak usah saja. Biar saya titip mereka sama Kak Lusy aja."
"Nggak pa-pa kok mereka kan anak baik pasti tidak akan merepotkan apalagi saya ke sana hanya ingin berkunjung saja."
"Baiklah kalau begitu saya berangkat dulu!" Isyana beranjak dari duduknya.
"Tunggu Sya! Kita barengan aja. Kebetulan jalan menuju kantor searah dengan butik."
Isyana mengangguk, Zidane mengambil kunci mobilnya.
"Ayo!"
Mereka pun berangkat bersama.
"Sya lusa aku balik ke Jakarta. Anak-anak sama aku atau sama kamu?"
"Sama aku aja deh Pak."
"Ya sudah. Kalian baik-baik di sini ya!" ucap Zidane sambil mengusap kepala anaknya. Kebetulan mereka duduk di depan di samping kemudi sedangkan Isyana duduk di jok belakang.
Keduanya mengangguk.
"Tolong jagain mama untuk papa ya!"bisik Zidane di telinga keduanya.
Mereka memperlihat dua jempol tangannya sambil berkata, "Siap!"
"Mama kapan pulang kok nggak sekalian barengan sama papa?" tanya Tristan.
"Mama nggak tahu mungkin beberapa hari ini mama masih sibuk tapi mama usahain deh biar cepat kelar kalau kalian mau pulang bareng."
"Oke Ma. Semoga cepat selesai ya kerjaan Mama!"
"Amin."
__ADS_1
Isyana turun di butik sedangkan si kembar ikut papanya.
"Wah ini perusahaan Papa?" Keduanya tercengang melihat perusahaan milik Zidane yang tidak kalah besarnya sama yang di Jakarta.
"Iya."
"Kata Papa perusahaan yang di sini kecil tapi kok besar juga?"
"Kalo Papa bilang besar nanti dikira Papa sombong lagi sama mama kamu. Ya sudah Papa mau ke dalam kalian tidak mau ikut?"
"Kami mau jalan-jalan di luar aja."
"Ya sudah kalo kalian mau ke Papa kalian minta anterin sama pak satpam itu aja!" Tunjuk Zidane ke arah seorang satpam.
"Baik Pa."
"Pak nanti kalo mereka mau ketemu saya di antar ke ruangan saya ya!" perintah Zidane pada satpam tersebut.
"Baik Tuan."
...****************...
"Lo katanya Bapak mau balik ke Jakarta. Kenapa belum berkemas?"
"Anak-anak masih minta ditemani jalan-jalan. Kamu masih ada kerjaan?"
"Alhamdulillah sudah beres. Untuk yang lainnya saya percayakan pada salah satu karyawan di sana. Mungkin besok saya sudah bisa balik juga."
"Kalau begitu mau ya jalan-jalan bareng?"
Isyana memandang wajah Zidane dan mengangguk.
"Ya sudah kamu siap-siap sana! Anak-anak juga pada bersiap-siap."
"Kita mau kemana ini?" tanya Zidane pada kedua anaknya ketika mereka semua masuk mobil.
"Ke Disneyland Paris Pa. Kami mau melihat-lihat di Kastil Sleeping Beauty."
"Pak Tirta itu siapa Pa?"
"Dia sopir pribadi papa kalau papa berkunjung ke negara ini. Sebenarnya dia warga Indonesia namun sekarang menetap di sini."
"Oh."
Setelah menjemput pak Tirta di kediamannya mobil kembali melaju di jalanan dengan pak Tirta sebagai sopirnya.
Tempat pertama yang di datangi adalah Disneyland Paris seperti permintaan si kembar. Mereka menyukai tempat itu karena bagi mereka seperti negeri dongeng.
Disneyland Paris.( Sumber Google)
Setelah berkeliling dan berfoto-foto di tempat itu kini mereka mengunjungi Hall of Mirrors.
Hall of Mirrors. (Sumber:Google)
Puas melihat-lihat di sana mereka mengunjungi Laduree, sebuah toko kue yang terkenal di Paris. Membeli berbagai varian macaroon di sana sebagai oleh-oleh besok pulang ke tanah air. Terutama untuk Adel yang katanya menyukai camelan itu.
"Sekarang kemana lagi?" tanya Zidane.
"Menara Eiffel Pa," ucap keduanya.
"Oke. Pak Tirta ke menara Eiffel ya Pak!"
"Baik Tuan."
Pak Tirta membawa mereka ke tempat yang sudah diperintahkan.
"Ramai banget Pa. Apa kita balik aja ya?"
__ADS_1
"Kenapa mesti balik? Ayo ikut Papa!" Zidane membawa mereka ke jalur khusus. Di sana tidak ramai seperti jalur biasa sehingga mereka tidak perlu mengantri.
Sampai di atas mereka langsung menuju lift transparan. Melihat wajah negeri Prancis dari tempat tertinggi. Setelah lelah mereka turun ke bawah dan makan-makanan di salah satu restoran yang ada di menara Eiffel.
"Hari sudah sore. Apakah kalian masih ada yang mau dituju?"
"Tidak ada Pa."
Sebenarnya Isyana ingin sekali mengarungi sungai Seine namun dia gengsi untuk mengatakan.
"Kalau begitu sekarang kita ke tempat yang ingin Papa kunjungi. Apa kalian sudah siap?"
"Oke Papa kami siap."
Zidane membawa mereka menaiki kapal pesiar di sungai Seine. Dia sudah mereservasi tempat di sana untuk melakukan dinner bersama Isyana.
"Wah megah sekali kapalnya!" Isyana terkagum-kagum melihat keadaan di kapal yang mewah. Entah berapa dollar Zidane meraih koceknya untuk mereservasi tempat itu. Dari dalam kapal Isyana bisa melihat menara Eiffel yang berdiri cantik dihiasi lampu-lampu di sekitarnya yang gemerlap dan membawa kesan romantis.
Sumber: Google.
"Ma kami jalan-jalan dulu ya Ma," ucap Tristan.
"Iya tapi jangan jauh-jauh ya sayang!"
"Iya Ma." Mereka berjalan menjauh dari Isyana ditemani pak Tirta. Sedang Zidane mempersilahkan duduk di salah satu meja yang sudah ditata cantik lengkap dengan lilin yang menyala.
Seorang pelayan datang membawakan makanan dan menghidangkan di meja.
"Ayo dimakan Sya," ajak Zidane.
"Nanti aja deh Pak kalau anak-anak sudah datang," tolak Isyana merasa tidak enak kalau makan duluan sedang anak-anaknya tidak makan.
"Saya ada yang mau aku omongin sama kamu."
"Tentang?"
"Tentang aku."
"Tentang Bapak?"
Zidane mengangguk. Untuk beberapa menit dia diam mencoba menetralkan rasa gugup dalam dirinya kemudian melanjutkan bicaranya.
"Sebenarnya setelah kamu datang ke ruanganku waktu itu aku selalu memikirkan mu. Aku pikir rasa itu hanyalah karena rasa bersalahku kepadamu. Nyatanya setelah aku mencoba meresapi rasa itu bukan hanya rasa bersalahku padamu melainkan aku mulai menyukaimu.
Aku mencari mu kemana-mana. Mengerahkan semua anak buahku untuk mencari mu walau nyatanya hanya sia-sia belaka.
Akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan pencarian mu, berharap aku bisa melupakanmu. Nyatanya semakin aku melupakan bayang-bayangmu semakin menghantuiku." Zidane menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan. Bersamaan dengan itu pelayanan datang membawa nampan yang berisi seikat bunga dan sebuah kotak beludru berwana maroon. Pelayan itu memberikannya pada Zidane.
Zidane mengambilnya dan memberikan bunga tersebut pada Isyana.
"Terima kasih."
Kemudian Zidane berjongkok di depan Isyana dan membuka kotak beludru yang berisikan cincin.
"Isyana aku mencintaimu. Will you marry Me?"
Bersamaan dengan itu Nathan datang bersama Tristan dengan gitarnya. Mereka menyanyikan lirik lagu 'Will You Marry Me' yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis.
Isyana terkejut melihat Zidane dan kedua anaknya benar-benar kompak.
Selesai bernyanyi Nathan menghampiri Isyana dan berkata, "Mau ya Ma!"
Isyana melihat wajah kedua anaknya kemudian beralih ke wajah Zidane dan mengangguk.
"Benarkah?" Zidane tidak percaya ini seolah mimpi baginya.
"Yes I do," jawab Isyana.
"Hore....." Kedua anak itu berjingkrak kegirangan sedangkan Zidane menyematkan cincin di jari manis Isyana dan menciumi tangan tangan itu.
__ADS_1
"Terima kasih telah menerimaku."