Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 64. Wedding (Part 2)


__ADS_3

Masih di suasana pesta.


Setelah acara foto-foto selesai mereka semua kembali ke meja prasmanan. Lexi yang sedang melihat Annete sedang mengambil makanan mendekatinya.


"Net habis makan ada yang mau aku omongin sama kamu."


Annete menoleh ke arah Lexi dan merespon dengan anggukan kepala. Lexi pun mengambil dan menyantap makanannya juga. Entah mengapa nasehat Isyana terngiang di telinganya.


'*Kalau kau mencintai Annete maka ungkapkan lah sebelum dia memilih yang lain.'


'Sebelum janur kuning melengkung kau masih punya kesempatan*.'


Setelah selesai makan Annete menghampiri Lexi yang juga sudah menyelesaikan makannya.


"Ada apa Lex, katanya mau bicara?"


"Kita ke sana yuk," ajak Lexi ke tempat yang mungkin saja tidak akan ada yang mendengar pembicaraan mereka.


Mereka duduk di kursi yang jauh dari para undangan lainnya karena sebagian dari mereka sudah ada yang pulang.


"Net aku ingin membicarakan sesuatu," ucap Lexi gugup.


"Ya?"


"Sebenarnya sudah lama aku menyukaimu."


Annete mengernyitkan dahi. "Maksudnya?"


"Aku ... aku mencintaimu. Mungkin rasa itu sudah lama tapi maafkan aku yang baru menyadarinya. Maukah kau menjadi kekasihku?" Lexi bukanlah laki-laki yang romantis jadi dia to the poin saja dalam bicaranya. Bicara tanpa persiapan apa-apa karena takut kedahuluan Adrian namun dari raut wajahnya tampak serius.


"Kamu tidak bercanda kan Lex?" Bagaimana mungkin laki-laki yang terkesan menjauhinya belakangan ini malah mengungkapkan perasaan cintanya.


"Apa aku terlihat bercanda?" tanya balik Lexi.


Annete mencoba menelisik dari raut muka Lexi tidak terlihat bercanda dan dari mata Lexi ada cinta seperti di matanya sendiri. Annete memang selama ini mencintai Lexi tapi tidak terlalu berharap cintanya berbalas Karena dia sadar dirinya tidak pantas untuknya. Dan ketika Lexi mengungkapkan perasaannya mengapa dia merasa terluka? Bukankah dia seharusnya bahagia?


Ada butir air mata yang lolos dari pelupuk matanya. Yang mana yang harus dia pilih? Kebahagiaan Adel atau kah kebahagiannya sendiri?


Dia sudah terlanjur berjanji pada Adel untuk mau menjadi ibunya walaupun dia tidak mencintai Adrian karena yakin Lexi tidak mungkin membalas cintanya.


Tapi sekarang apa yang harus dia lakukan? Memilih Lexi dan menghancurkan kebahagiaan Adel atau memilih Adel tetapi menyakiti Lexi dan dirinya sendiri?


Ah tidak, Annete tahu bagaimana rasanya hidup tanpa seorang ibu. Apalagi kondisi Adel sekarang ini sedang tidak stabil dan keluar masuk rumah sakit. Mana mungkin dia mengkhianati anak itu?


"Maaf Lex aku tidak bisa aku sudah berjanji pada Adel untuk menjadi ibunya." Padahal Annete tidak pernah tahu sebenarnya perasaan Adrian itu seperti apa padanya.


"Annete apa kau serius?" Ada gurat kecewa di wajah Lexi.


"Kau tidak mencintai Adrian bukan?"


"Aku tahu kamu juga mencintaiku kan?" Lexi menggempur Annete dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa Annete jawab.


"Maaf Lex kebahagiaan Adel lebih penting bagiku dari apapun."


"Memangnya dia siapa hingga kau harus memilih kebahagiaannya dibanding kebahagiaanmu sendiri?"


"Dia adalah cerminan diriku sendiri."


"Hah." Lexi menghembuskan nafas kasar.


"Baiklah kalau itu keputusanmu, saya harap kamu bahagia dengan pilihanmu."


Lexi bangkit dan meninggalkan Annete seorang diri.


Sedangkan Adrian yang sedari tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka bernafas lega. Katakanlah dia egois mempertahankan Annete di sisinya dengan alasan Adel walaupun dia tahu Annete tidak mencintainya bahkan tadi dia sempat melihat ada cinta di mata Annete untuk Lexi.

__ADS_1


Di sisi lain Naura yang juga tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Annete dan Lexi menghampiri Lexi yang duduk termenung dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.


"Om kenapa, lagi sedih ya? Apa karena di tolak Tante Annete tadi?" Naura langsung menutup mulutnya yang nyerocos tidak bisa dikendalikan.


"Bukan urusanmu," ucap Lexi ketus. Bisa-bisanya ada bocah yang mau ikut campur urusannya.


"Maaf Om aku tidak bermaksud untuk ...." Naura tidak menyelesaikan ucapannya kemudiaan beranjak pergi dari tempat itu sambil merutuki dirinya sendiri.


Naura merasa sendiri di tempat itu tidak ada teman sama sekali. Entah kemana perginya para bocah. Biasanya dia bersama dengan mereka. Untuk berbaur dengan orang dewasa rasanya enggan apalagi ketika tadi mencoba menyapa Lexi dirinya salah ngomong. Padahal di tempat itu yang tidak berpasangan hanyalah Lexi dan Yuna sedangkan Yuna entah dimana sekarang.


Naura merasa asing berada di tempat itu. Apalagi para tamu undangan dan yang lainnya terlihat. berkelas. Apalah arti dirinya yang hanya gadis miskin di tempat seperti itu. Kalau saja Nathan dan Tristan tidak memaksa dirinya mana mungkin dia datang ke rumah tersebut.


Naura termenung seorang diri mengingat nasib hidupnya. Bertahun-tahun dia hidup dengan seorang nenek tanpa tahu seperti apa wajah ayah dan ibunya.


"Ayah, ibu kalian dimana?" Kata neneknya orang tuanya bekerja menjadi TKW dan tidak pernah pulang dan tak pernah ada kabar.


Naura menunduk dan terisak kecil.


Dari jauh Lexi yang melihat Naura mengusap air matanya menghampirinya. Dia takut karena ucapannya tadi yang membuat bocah tersebut menangis.


"Hei kenapa kamu menangis? Apa ucapanku tadi menyakitimu?"


Naura menoleh. "Om?"


Lexi duduk di sampingnya.


"Maafkan aku kalau tadi kata-kataku kasar."


"Tidak, Om tidak salah kok. Aku yang salah sok mau tahu urusan orang lain. Lagipula aku bukan menangis karena itu kok."


"Oh gitu ya? Kamu masih sekolah?"


"Masih Om."


"Kelas berapa?"


"Jurusan?"


"Bisnis dan Manajemen."


"Umur kamu?"


"16 tahun."


"Naura apakah kamu sudah punya pasangan di pesta dansa nanti malam?" Tiba-tiba Lexi ada niatan untuk memanfaatkan Naura.


"Aku tidak ada niatan untuk ikut Om. Lebih baik aku bantu-bantu para pelayan saja."


"Bolehkah aku meminta tolang padamu?"


"Ya?"


"Bagaimana kalau kamu jadi pasanganku? Kebetulan aku tidak ada pasangan nanti malam."


"Nanti aku akan minta Bu Yuna barangkali mau berpasangan sama Om secara kan Bu Yuna juga tidak ada pasangan."


"Tapi aku maunya sama kamu karena aku punya rencana kalau sama Yuna belum tentu dia mau menolongku."


"Rencana?"


"Nanti kalau pas lampu padam dan kita tukar pasangan kamu akan saya lempar ke Adrian dan saya akan menangkap Annete. Bagaimana?"


"Bagaimana kalau tante Annete malah terlempar ke pria lain?"


"Makanya aku minta tolong kamu supaya saat aku melempar mu ke Adrian kamu harus menghalangi pergerakan Annete supaya tidak jatuh ke tangan orang lain."

__ADS_1


"Om tidak ada niat jahat kan sama Tante Annete?" tanya Naura menyelidik.


"Ya nggaklah kamu tenang saja saya hanya ingin Annete jadi pasangan dansa saya." Lexi tahu setelah mengungkapkan perasaannya tadi pasti ada kecanggungan diantara dirinya dan Annete dan Annete pasti akan menolak berdansa dengannya.


"Baiklah Om tapi imbalannya apa?"


"Ya ampun nih bocah! Nanti aku belikan apa aja yang kamu mau."


"Oke Om deal."


##


Jam tujuh malam acara resepsi di mulai (anggap saja resepsi kedua). Tamu malam ini tak kalah banyak dari acara tadi pagi. seorang MC mempersilahkan kedua mempelai untuk naik ke pelaminan bersama kedua orang tua setelah mengungkapkan rasa syukur karena akad nikah berjalan lancar. Setelah itu tamu undangan naik ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat.


"Mas apakah masih banyak tamunya?" tanya Isyana.


"Masih sayang kenapa? Apakah kamu lelah?" tanya Zidane.


"Nggak sih cuma kakiku terasa pegel saja," jawab Isyana.


"Tenang nanti aku pijit," bisik Zidane di telinga Isyana.


Setelah semua orang sudah memberikan ucapan selamat para undangan dipersilahkan mencicipi hidangan bersamaan dengan seorang artis yang menyanyikan lagu-lagu romantis persembahan untuk mempelai. Tak mau kalah kedua anak kembarnya pun ikut menyanyikan lagu di acara tersebut.


Setelah acara-acara makan-makan kini saatnya acara lempar bunga. Isyana dan Zidane membelakangi para tamu undangan sambil memegang buket bunga yang akan dilemparkan kepada para tamu undangan. Para tamu undangan yang masih jomblo antusias menyambut acara tersebut.


"Sudah Siap? Satu... dua ... tiga!" Zidane dan Isyana melempar buket bunga tersebut.


Suasana terasa semarak karena Para tamu undangan berebut untuk mendapatkan buket bunga tersebut tapi akhirnya buket bunga tersebut jatuh kepada orang yang tidak menginginkannya sama sekali.


"Tidak-tidak aku tidak mau nikah muda," ucap Naura dan melempar buket bunga tersebut kembali.


Beberapa tamu undangan malah menertawakan Naura.


Setelah sesi foto -foto bersama sang MC menutup acara namun tak lupa mengingatkan bahwa setelah acara ini masih ada acara pesta dansa bertopeng bagi yang berkenan ikut tapi untuk para sahabat dan kerabat dekat diwajibkan untuk ikut.


##


"Kalian yang memaksa orang tua kalian untuk mengadakan pesta dansa bertopeng tapi kalian malah ada disini tidak menyaksikan sama sekali," protes Dion kepada Nathan dan Tristan yang memilih tinggal di sebuah ruangan.


"Om Dion tidak ikut?"


"Nggak lah istri Om kan lagi hamil besar masak disuruh dansa, gimana kalau perutnya terbentur nanti?"


"Ya cari pasangan lain lah Om."


"Rupanya kalian pengen om Dion di suruh tidur di luar sama Tante Vania."


Mereka tertawa.


"Om Dion tahu bahwa pesta seperti ini rawan adanya kejahatan?"


"Terus kenapa kalian ingin diadakan pesta seperti ini?" Dion tidak habis pikir mereka menganggap pesta seperti ini berbahaya tapi malah merengek supaya diadakan pesta tersebut.


"Ya karena kami ingin memancing orang yang berbuat jahat sama kami selama ini keluar. Siapa tahu dengan acara ini dia mau mengambil kesempatan."


"Oh jadi ceritanya kalian di sini pengen mengecek lewat cctv begitu?"


"Yes Om Dion ternyata pintar juga."


"Hemm tenyata kalian licik juga ya!"


Bersambung....


Kira-kira Annete baiknya dengan Lexi atau Adrian ya menurut kalian?

__ADS_1


Jangan lupa rate bintang 5, like, vote, hadiah dan komentarnya. Terima kasih.๐Ÿ™


__ADS_2