
Lisfi memejamkan matanya. Ternyata dirinya harus tertahan di tempat ini lagi, entah sampai kapan.
Hari demi hari berlalu hingga saat Maximus kembali, Lisfi belum juga berhasil melarikan diri. Keamanan di sana sungguh dijaga ketat hingga beberapa kali mencoba melarikan diri tetapi belum lolos juga.
Saat-saat Maximus berada di luar negeri Lisfi melihat tempat itu seperti surga karena merasa damai, dan apapun yang dibutuhkan di tempat itu pasti tersedia tanpa harus bekerja keras. Meskipun anak buah Maximus ada di sana, tetapi mereka tidak berani menyentuh Lisfi terkecuali wanita itu melarikan diri.
Mereka hanya mengawasi gerak-gerik Lisfi saja tanpa mau mencampuri urusan wanita itu. Disaat seperti itu terkadang Lisfi lupa bahwa tempat ini sebenarnya adalah neraka untuknya. Karena ketika Maximus kembali dia akan menjadi budak nafs*nya kembali sekaligus pelampiasan akan kekesalan atas kegagalan dalam pekerjaannya.
Seperti hari ini Lisfi yang dipaksa menyambut kedatangan Maximus oleh anak buah pria itu langsung ditarik ke dalam kamar.
Di dalam sana dia dipaksa melayani Maximus yang kasar dalam permainan ranjangnya ditambah lagi dengan rasa kesal yang membuatnya semakin kasar. Hanya saat Maximus menang saja dia bisa melakukan hubungan itu dengan lembut.
Seperti biasa setiap kali dipaksa melakukan hubungan dengan pria itu Lisfi hanya bisa menangis. Kamar dan air mata selalu menjadi saksi bisu atas penderitaannya selama ini.
Lisfi meratapi nasibnya disudut kamar. Dia masih berpikir keras bagaimana caranya ia bisa melarikan diri dari tempat terkutuk itu. Namun sayang otaknya buntu, sudah tidak bisa diajak berpikir keras lagi.
Ketika segala macam cara dilakukan untuk terbebas dari rumah itu tidak berhasil akhirnya Lisfi menyerah. Dia tidak sanggup lagi tinggal di tempat itu. Dia bahkan beberapa kali meminta anak buah Maximus untuk menembak mati saja dirinya atau dihukum gantung sekalipun dia rela. Namun, tidak ada satupun yang dapat mewujudkan keinginannya itu.
Lisfi melirik meja di kamar. Ada sebuah benda yang menarik perhatiannya. Ia berjalan mendekat ke arah benda itu. Sepertinya pria tadi kelupaan hingga meninggalkan sesuatu yang sangat penting baginya.
"Pistol." Lisfi meraih benda itu dan menimang-nimang. Muncul sebuah ide di kepalanya.
Lisfi keluar dam menembak anak buah Max yang tidak ada persiapan sama sekali. Satu anak buah Max langsung roboh dan tewas.
"Kurang ajar kamu ya, ternyata wanita sepertimu akan berbahaya kalau dibiarkan tetap hidup." Mereka semua murka dan berjalan ke arah Lisfi hendak mengamuk wanita itu.
"Hutang nyawa dibalas dengan nyawa."
Lisfi tersenyum menanggapi perkataan orang-orang di hadapannya.
"Maka ambillah nyawaku sebagai ganti nyawanya." Sepertinya gadis itu mulai gila karena terlalu sering mengalami tekanan batin.
Lisfi mengulurkan pistolnya hendak menembak kembali. Dalam hatinya harus ada yang mati lagi, kalau tidak mereka ya dirinya sendiri pun tidak mengapa. Bukankah lebih baik mati daripada hidup dalam kehinaan.
__ADS_1
Saat hendak menekan pistolnya Maximus menghalangi sasaran penembakan Lisfi dengan berdiri di hadapannya hingga peluruh itu bersarang di dada Max.
Lisfi tersenyum puas, berharap pria itu langsung meregang nyawa. Kalau bos mereka tiada akan lebih mudah untuk menguasai mereka yang mungkin saja akan terpecah belah.
Senyum puas Lisfi berubah pahit tatkala melihat ekspresi pria dihadapannya yang seperti tidak terjadi apa-apa. Tangan pria itu terulur ke dadanya dan dalam hitungan menit mampu mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam dada tanpa bantuan alat maupun orang lain.
Dia sebenarnya manusia atau bukan sih?
Lisfi terkejut dan langsung berjalan mundur ketika tuan Max berjalan ke arahnya.
"Bunuh aku!" Lisfi melempar pistol di tangannya ke arah Max.
Tuan Max menangkap pistol itu dan memutar-mutar di tangannya. Lisfi memejamkan mata, dia sudah pasrah dengan tembakan mati untuknya. Bukankah ini adalah pilihan terakhir selain bisa melarikan diri?
Lama Lisfi menunggu tetapi tidak terdengar suara pistol. Karena penasaran Lisfi membuka mata.
"Kamu tahu seorang pembunuh harus disiksa dulu sebelum dibunuh." Maximus melotot ke arah Lisfi.
"Baik Tuan." Anak buah Max bergegas mendekati Lisfi dan membawa wanita itu ke tempat yang diperintahkan.
๐๐๐๐๐
Hari masih gelap namun Louis tidak menemukan keberadaan Nindy di kamarnya. Di kamar mandi pun tidak ada. Akhirnya Louis mendatangi dapur untuk mencari keberadaan istrinya.
"Mbok lihat Nindy nggak?"
"Nindy siapa Den?"
"Oh maksud saya Safa Mbok."
"Oh Non Safa tadi saya lihat masuk ke ruangan gym Den."
"Oke terima kasih Mbok kalau begitu aku ke sana dulu."
__ADS_1
"Iya Den."
Louis pun naik ke lantai dua dan masuk ke ruangan gym yang tidak dikunci.
"Kamu lagi ngapain sih?" tanya Louis pada Nindy.
"Olahraga Mas." Nindy memang dianjurkan sering-sering olahraga kegel oleh Farah karena mengingat menantunya adalah mantan cassanova. Farah tidak mau putrinya tidak bisa memuaskan Louis dan akhirnya ditinggal selingkuh oleh menantunya itu.
"Senam apa nih namanya?"
"Senam kegel Mas."
"Senam kegel?" Louis tampak mengerutkan kening. Beberapa saat kemudian dia menarik tangan Nindy keluar ruangan.
"Kenapa sih Mas?" Nindy protes.
"Tidak perlu senam kegel-kegelan segala. Susah-susah aku membuat jalan malah mau kau tutup lagi."
"Astaga Mas, ini kan cuma olahraga."
"Pokoknya tidak perlu," ujar Louis ngotot.
"Hmm, gini nih kalau punya suami udah biasa sama yang lebar-lebar," gumam Nindy kesal.
"Ya begitulah, dia tidak tahu kalau yang menjepit lebih legit," bisik mama Ani ditelinga Nindy.
"Ngomong apa sih kalian?"
"Nggak ada," ujar mama Ani sambil menarik tangan Nindy dan pergi dari sana.
*Apa salahku? Aku kan hanya takut nggak ada jalan lagi buatku.
Bersambung*.......
__ADS_1