
"Mereka?"
"Maaf maksud saya anak itu."
"Baiklah lupakan yang telah terjadi tapi saya minta kamu harus mengganti anak tersebut."
"Maksud Bapak?"
"Menikahlah denganku kita buat anak kita lagi."
Isyana menggeleng, tidak secepat itu dia bisa mempercayai seseorang. Bagaimana kalau semua hanya sebagai jebakan.
"Tidak bisa Pak."
"Kenapa? Apa yang kurang dariku? Apa aku kurang tampan? Atau aku kurang kaya? Atau aku kurang...,"
Laki-laki ini selalu menganggap begitu. Dia pikir aku adalah wanita matre.
"Tidak Pak tapi masalahnya saya sudah bersuami."
"Apa? Kamu sudah menikah?! Kamu pasti berbohong kan?!" bicara dengan nada suara meninggi.
"Tidak Pak semua itu benar. Oleh karena itu aku minta Bapak tidak boleh mengganggu hidupku lagi. Aku takut suamiku akan marah."
"Maaf aku harus segera pergi," lanjutnya.
"Pergilah! Aku tidak akan menggangu mu lagi." ucap Zidane dengan wajah yang masih ditekuk.
Entah mengapa hati Isyana mendadak sakit mendengar perkataan Zidane. Apakah dia berharap Zidane masih mau mengganggunya?
Isyana segera berjalan menuju pintu tapi dia harus kembali lagi karena pintunya terkunci.
"Pak kuncinya!" Isyana menadahkan tangan meminta kunci.
"Kalau kau ingat saat pertama kali kita bersama maka tanggal dan tahun itulah yang menjadi password pintu apartemenku." Zidane berkata tanpa melihat wajah Isyana. Dia sudah terlanjur kecewa dengan wanita tersebut.
Gila nih orang, apakah dia merasa hebat waktu itu hingga menggunakan tanggal tersebut sebagai kode pintu apartemennya.
Bagi Isyana kalau dirinya yang mengingat hari dan tanggal itu adalah wajar karena hari itu baginya adalah hari yang kelam dimana kesuciannya direnggut secara paksa tapi Zidane apa maksudnya mengingat hari itu bahkan sampai dijadikan kode pintu apartemennya.
Isyana memencet kode sesuai dengan ingatannya dan ternyata benar dia berhasil membuka pintu tersebut.
Ketika sampai di luar apartemen Isyana mengingat bahwa tadi pagi dia berencana untuk ke rumah ayahnya.
anak-anak pasti mengkhawatirkan ku.
Isyana mempercepat langkahnya hingga sampai di pinggir jalan raya ia langsung menyetop taksi dan meminta sopir taksi segera mengantarnya ke hotel. Sampai di hotel dia berlari masuk ke dalam dan mengambil kemeja yang sengaja dia jahit sendiri untuk ayahnya. Setelah mengambil baju tersebut dia kembali ke taksi yang menunggunya di bawah dan meminta sang sopir melajukan mobilnya ke rumah Atmaja.
Di dalam taksi ia merogoh tas untuk mencari ponselnya dan ingin menghubungi kedua anaknya tapi nihil ponselnya tidak ditemukan.
"Ketinggalan dimana ya hapeku?" gumamnya.
"Ah sudahlah paling ketinggalan di hotel," ucapnya meyakinkan diri sendiri.
__ADS_1
...****************...
Di tempat lain.
"Itan mengapa mama tidak bisa dihubungi? Aku khawatir terjadi sesuatu sama mama."
"Apa kamu tidak bisa melacak keberadaan mama?"
"Tidak bisa Itan ponsel mama mati jadi tidak bisa dilacak keberadaannya."
"Biar uncle yang menyusul ke hotel biar kalian tunggu saja di sini!" ucap Lexi menenangkan keduanya.
Baru saja Lexi hendak berdiri ada taksi berhenti di depan rumah Atmaja.
"Mama!" keduanya berteriak sambil berlari ke arah Isyana.
Isyana merentangkan tangan kemudian memeluk kedua anaknya tak lupa dia juga mengecup puncak kepala keduanya.
"Mama kemana aja kok lama banget?" tanya Tristan.
"Iya hape mama juga tidak dapat dihubungi," sambung Nathan.
"Maaf mama tadi istirahat dulu di hotel karena kepala mama pusing. Mau menghubungi kalian tapi sepertinya ponsel mama jatuh dalam perjalanan."
"Syukurlah kalau begitu dari tadi kami semua mengkhawatirkan mama."
"Opa mana?"
"Sebentar aku panggilkan dulu!" Tristan berlari ke dalam untuk menemui opanya.
Tak lama Atmaja muncul dari dalam kamar dan berjalan setengah berlari ke arah Isyana.
Isyana pun berlari ke dalam pangkuan Atmaja. "Ayah Syasa kangen."
Air mata mengalir deras dari pelupuk mata Isyana. Tidak mudah menahan rindu selama hampir 6 tahun.
"Ayah juga Nak." Bola mata Atmaja pun tampak berkaca-kaca.
Kedua ayah dan anak itu saling melepaskan rindu dalam suasana yang mengharu biru.
Nathan dan Tristan pun meneteskan air mata. Dia tahu tidak mudah menjadi mamanya. Mamanya bahkan harus mau berpisah dengan opanya demi bisa membesarkan mereka tanpa ada gangguan.
"Ayah, kak Zamila sama ibu Rumana mana?"
"Ayah tidak tahu mereka meniggalkan ayah ketika tahu ayah sudah bangkrut."
"Ayah bangkrut? Mengapa ayah tidak memberitahu Syasa?"
"Ayah tidak mau membebani kamu Nak. Hidup kamu sudah susah ayah tidak mau menambah kesedihanmu."
"Siapa bilang hidup kami susah? Ayah lihat bahkan cucu-cucu ayah sudah bisa membantu Syasa mencari uang," tutur Isyana sambil menunjuk kedua anaknya.
"Lagipula kalau ayah tidak mau memberitahu ku ayah kan bisa ngasih tahu kak Lusy," protes Isyana.
__ADS_1
"Sudahlah ayah tidak mengapa, masih ada satu toko yang beroperasi yang bisa ayah andalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari."
"Setelah ini apakah kalian mau tinggal bersama ayah?"
Sebelum Isyana menjawab kedua anak itu menjawab terlebih dahulu, "Mau Opa, kan opa tinggal sendirian kami tidak tega ninggalin opa."
Isyana menatap kedua anaknya, "Kalian yakin?"
"Yakin Ma. Kita sekolah di sini aja."
Isyana menarik nafas. "Baiklah kalau itu keinginan kalian mama menurut saja."
"Asyik!" Keduanya melompat kegirangan.
"Tapi lusa mama harus ke Prancis dulu untuk melihat keadaan butik dan harus mengurus semua keperluan jika kita akan tinggal di sini. Kalian tidak apa ditinggal sama opa?"
"Tidak apa Ma. Uncle apakah kamu juga mau balik sama mama?"
"Tidak saya di sini dulu hingga beberapa minggu sekalian saya refreshing di sini. Lagipula kalian kan masih banyak job ya? Apakah kalian tidak butuh uncle lagi?"
"Bukan begitu Uncle tapi kan uncle ada kerjaan di sana, kami takut gara-gara kami kerjaan uncle terganggu."
"Tidak akan saya sudah memantau keadaan semua cafe dari sini. Tidak ada masalah apalagi orang-orang yang saya serahi tanggung jawab semua bisa diandalkan."
"Baguslah kalau begitu berarti uncle bisa terus menemani kami jalan-jalan dong!"
"Hem, kayaknya saya lebih dominan sebagai sopir ya ketimbang jadi manager kalian."
Semua yang ada di tempat itu tertawa mendengar keluhan Lexi.
"Annete kamu mau ikut mbak atau mau di sini?"
"Di sini aja deh Mbak mau nemani anak-anak aja."
"Kayaknya aunty Annete sama uncle Lexi sehati deh. Gimana kalo kita jodohin mereka?" ucap Tristan berbisik di telinga Nathan tapi masih bisa di dengar oleh mereka semua.
"Enak aja nggak mau lah," tolak Annete.
"Kenapa tidak mau bukannya saya lelaki yang tampan?" goda Lexi sambil menaik-turunkan kedua alisnya."
"Gak mau karena di hati kamu tuh isinya mbak Syasa semua."
Isyana hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Annete.
Lexi terkekeh. "Bukannya di hatimu itu ya yang penuh dengan nama Jordhan."
"Jordhan?" ketiga orang ibu dan anak itu tidak tahu siapa Jordhan.
"Paket! paket!" ucap Lexi menggoda dan bersamaan dengan itu ada bantal melayang ke arahnya.
"Jadi itu alasannya kenapa aunty senang sekali belanja online."
Mendengar penuturan Nathan wajah Annete memerah seperti kepiting rebus karena menahan malu.
__ADS_1
"Lexi awas kamu ya!"