Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 125. Pelampiasan


__ADS_3

Melihat Adrian tidak masuk ke kamarnya Anisa mencari Adrian ke kamar Adel ternyata prasangkanya benar Adrian telah tertidur di kamar bayinya. Anisa mengguncang-guncang tubuh Adrian.


"Bangun Dri, pindah ke kamar yuk!" ajak Anisa namun Adrian menggeleng, rupanya pria tersebut dalam mode ngambek.


"Ayolah Dri, aku tidak mau tidur sendiri." Anisa merengek.


"Baiklah asal kamu harus berjanji satu hal," pinta Adrian.


"Janji apa?"


"Mulai besok kamu harus mau menyusui Adel."


"Ckkk." Anisa berdecak.


"Ayolah Nis, Aku tidak tahu kenapa kamu tidak menyukai bayi kita tapi ku mohon demi aku mau ya kamu susui dia!"


Anisa memandang wajah Adrian yang tampak memelas rasanya ia tidak tega melihat Adrian seperti itu. Akhirnya dengan terpaksa dia mengangguk.


Melihat Anisa mengangguk Adrian mengulum senyumnya kemudian menarik Anisa masuk ke kamarnya kembali.


Sejak saat itu Anisa mau menyusui Adel tapi hanya ketika Adrian ada di sampingnya tapi kalau tidak ada Anisa tidak mau dekat-dekat dengan Adel karena entahlah mengapa setiap kali memandang wajah Adel dia selalu terbayang wajah Farhan padahal wajah mereka tidak ada miripnya sama sekali.


"Nis kamu mau kemana?" tanya Adrian ketika melihat Anisa pagi-pagi sudah rapi.


"Mau ke kantor lah Dri," jawab Anisa santai.


"Bukankah kamu sudah berjanji untuk berhenti kerja kalau kita sudah punya anak?"


"Bosan lah Dri kalau di rumah terus, bisa-bisa aku stres dengar tangisan Adel yang rewel itu."


Adrian menghela nafas ternyata Anisa masih tidak berubah, masih tidak bisa menyukai Adel sehingga harus menggunakan pekerjaannya untuk menghindari Adel.


"Baiklah kalau itu mau kamu, aku antar ya!" Kebetulan hari itu Adrian tidak ada jadwal praktek dan dia juga berpikir biarlah untuk sementara Anisa seperti itu dia yakin suatu saat nanti secara perlahan Anisa pasti bisa menyayangi Adel. Yang penting sekarang Anisa sudah mau menyusui Adel itu sudah merupakan awal yang baik menurut Adrian.


Setelah sampai di kantor dan Anisa turun dari mobil Adrian ternyata Rayyan sedang memperhatikannya. Dia sengaja menunggu Anisa di depan pintu.


"Selamat pagi Pak!" sapa Anisa pada Rayyan sekedar untuk menghormati sang atasan.

__ADS_1


"Pagi," balas Rayyan.


"Dia suamimu?" tanyanya kemudian.


"Iya Pak," jawab Anisa sambil tersenyum ramah.


"Saya permisi masuk duluan pak," izinnya.


"Ya silahkan."


Anisa masuk ke dalam melihat-lihat kantornya yang sudah lama ia tinggalkan rasanya dia merindukan kantor ini. Sejak lahiran Adel dia memang mengambil cuti.


Setelah Anisa masuk ke dalam Rayyan tampak berpikir, "Kalau yang tadi suaminya berarti laki-laki yang keluar dari hotel sebelum Anisa keluar malam itu berarti selingkuhannya."


Rayyan mengulas senyuman merasa ada kesempatan untuk bisa mendekati Anisa. Kalau Anisa mau sama laki-laki malam itu berarti ada harapan dia juga mau kepada dirinya. Hanya dia harus pintar-pintar merayu Anisa agar tidak terkesan menganggapnya murahan.


Setelah hari itu Rayyan menyuruh salah satu anak buahnya untuk menyelidiki Anisa dan bagaimana keadaan keluarganya. Rupanya ia ingin mencari celah untuk bisa masuk ke dalam kehidupan Anisa. Namun sayang sejauh ini Rayyan tidak bisa mendapatkan celah itu karena sepertinya Anisa sangat menyayangi suaminya.


Hingga suatu hari keadaan Adel semakin parah sehingga harus bolak-balik ke rumah sakit. Adrian yang memang basicnya sibuk menjadi sangat sibuk tatkala waktunya harus terbagi antara kerja dan merawat anak sedangkan Anisa masih saja belum mau berhenti kerja.


Awalnya Anisa selalu menemani Adrian ketika bolak-balik ke rumah sakit di sela-sela jam kerjanya namun akhirnya dia merasa bosan dan menyerah apalagi sejak saat itu pula perhatian Adrian hampir tercurah semua kepada Adel dan terhadap Anisa semakin berkurang.


Suatu malam percintaan mereka harus gagal lagi karena Adel yang tiba-tiba demam dan nangis terus padahal saat itu hasrat Anisa sudah berada di atas puncak. Dia tidak terima karena Adrian meninggalkan dirinya begitu saja ketika pembantu mereka memberitahukan bahwa Adel demam tinggi.


Ketika Adrian memilih menghampiri Adel, Anisa malah mengambil jaketnya dan kunci motor kemudian bergegas meninggalkan rumah. Malam itu wajahnya penuh amarah. Dia mengemudikan motornya dengan kencang. Dia sangat membenci Adel karena sejak kehadiran Adel hidupnya terasa berbeda. Adrian serasa pilih kasih lebih menyayangi Adel ketimbang dirinya padahal belum tentu Adel itu anaknya.


Tujuannya sekarang adalah club itu dia ingin minum banyak malam ini agar bisa melupakan semuanya. Bukankah dengan minum waktu itu dia bisa tidak ingat apa-apa. Dia sudah tidak peduli lagi apa yang akan terjadi pada dirinya karena merasa dirinya memang sudah hancur. Dengan langkah yang tegas dia menghampiri sebuah table kemudian langsung memesan minumannya.


Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Rayyan, dia yang sudah diberitahu oleh salah satu anak buahnya langsung menuju tempat. Namun dia tidak langsung menghampiri Anisa tetapi lebih memilih mengawasi wanita tersebut sampai Anisa setengah mabuk.


Dirasa cukup Rayyan kemudian menghampiri tempat duduk Anisa.


"Nis boleh aku duduk?" tanyanya basa-basi.


"Pak Rayyan ya? Silahkan! Silahkan!" ucapnya dengan suara khas orang mabuk.


"Kamu kenapa, ada masalah?"

__ADS_1


Akhirnya dengan setengah sadar Anisa curhat tentang keadaan rumah tangganya.


"Kamu tenang saja saya bisa memberikan apa yang tidak bisa suami kamu berikan."


"Hahaha.... Pak Rayuan bercanda ya! Mana mungkin Pak." Kemudian dia meracau tidak jelas.


"Kalau tidak percaya ayo saya buktikan!" ucap Rayyan sambil menarik tangan Anisa dan Anisa pun menurut.


Akhirnya malam itu Anisa memang benar-benar mendapatkan apa yang tidak bisa dia dapatkan dari Adrian malam itu.


Rayyan mengecup kening Anisa setelah melewati malam yang panjang.


"Terima kasih ya Nis, aku mencintaimu."


"Pak!" ucap Anisa gugup begitu sadar dengan siapa dia tidur. Dia begitu canggung karena menyadari dia tidur dengan atasannya sendiri dan Rayyan menyadari itu.


"Tidak usah canggung anggap saja aku kekasihmu."


Anisa tersenyum tidak seperti malam itu malam ini dia begitu merasa puas lalu tanpa sadar bibir nya mengatakan, "Terimakasih Pak."


Rayyan pun tersenyum lalu mendekap tubuh Anisa sambil menciumi leher Anisa.


"Geli Pak," ucap Anisa sambil tertawa-tawa.


"Kalau nanti butuh lagi tidak usah memaksa suamimu, jangan sungkan-sungkan katakan padaku."


Anisa memandang wajah Rayyan tak berkedip. Tak kalah tampan dengan wajah Adrian.


"Kenapa memandangku seperti itu?" protes Rayyan.


"Nanti kalau aku butuh kamu aku juga akan menghubungi mu," ujarnya kemudian.


Hari itu mereka merasa puas dan bahagia merasakan seolah dunia millik mereka berdua, melupakan bahwa sebenarnya mereka sudah sama-sama memilki pasangan hidup.


Tanpa mereka sadari ada mata yang memandang mereka ketika keluar kamar dengan saling tertawa.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan hujat author ya Readers, Othor takut!โœŒ๏ธ


Jangan lupa dukungannya dengan cara like, vote, hadiah, komentar, rate bintang 4 dan Favorit. Terima kasih ๐Ÿ™


__ADS_2