
Hingga akhirnya Ara menghentikan langkahnya saat perutnya benar-benar terasa sakit.
"Kamu kenapa sih?"
"Jadi anak itu anak Om Lexi?"
Bukannya khawatir Lexi malah tertawa.
"Ish, kok tertawa sih?" Ara semakin sebal.
"Habisnya kamu lucu, bukannya nanya dulu malah langsung memvonis anak itu anak aku. Anak aku kan cuma mereka," ujar Lexi sambil mengusap lembut perut Ara. "Baik-baik ya di sana soalnya mommy kalian suka ngambekan."
Ara masih saja cemberut.
"Kamu salah paham sayang semua itu tidak benar." Lexi mencoba menjelaskan tapi Ara tidak menjawab seolah tidak mendengar. Dia seakan menulikan telinganya.
"Masih sakit perutnya?" Tanpa menunggu jawaban Ara Lexi langsung menggotong tubuh Ara dan membawanya ke mobil kemudian kembali ke hotel.
"Lepas Om! Malu dilihat orang."
"Biarin suruh siapa ngambek." Ara tidak menjawab. Lexi menurunkan Ara tepat di depan pintu kamar hotel.
Sampai di kamar hotel Ara masih saja mendiamkan Lexi.
"Ternyata kamu sekarang sudah berat yah."
"Masih marah?" Lexi masih saja menggoda Ara dengan menoel dagu istrinya.
"Aku males ngomong Om."
"Ya sudah kalau begitu istirahat saja dulu nanti saya jelaskan semuanya," ucap Lexi. Kalau Ara masih memanggilnya om berarti dia harus menunda dulu penjelasannya karena percuma tidak akan didengarkan oleh Ara.
"Kalau benar dia itu anak om Lexi lebih baik kita cerai saja. Aku tidak suka dibohongi," ucap Ara ketus lalu naik ke tempat tidur.
"Horor banget sih sayang." Lexi masih saja bersikap tenang.
Saat Ara merebahkan tubuhnya di ranjang tiba-tiba ponsel Ara bergetar. Lexi mengambilnya ternyata ada panggilan video call. Lexi menerima video call dari Andy dan Yuna hingga akhirnya Ara pun ikut menimpali.
Flashback Off.
Saat sedang asyik-asyik bercerita dengan Isyana dan yang lainnya tiba-tiba Lexi menerima panggilan lain dari mommy Laurens.
"Aku tutup dulu ya soalnya mommy lagi video call juga ini," ujar Lexi sambil menunjukkan ponselnya sendiri.
"Iya kalian sehat-sehat ya di sana. Jangan lupa jaga baik-baik ponakan kami."
"Pasti bang. Net semoga kamu lekas sembuh ya maaf kami tidak bisa menjenguk. Dri dan semuanya kami pamit ya."
"Iya-iya."
Setelah menutup panggilan dari Andy dan yang lainnya Lexi beralih menerima panggilan mommy Laurens.
__ADS_1
"Hallo Mom!"
"Mantu mama apa kabar?"
"Astaga bukannya nanyain anak sendiri langsung nanyain Ara."
"Iya kamu kan sudah terlihat di kamera kalau lagi baik-baik saja."
"Iya deh Mom terserah mommy aja mau ngomong apa."
"Loh benar kan?"
"Iya."
"Mana Ara?"
"Lagi ngambek dia Mom?"
"Ngambek kenapa? Hati-hati loh Lex jangan bikin dia stres nanti akan berpengaruh sama bayi kalian."
"Iya Mom tapi tadi kami tidak sengaja bertemu dengan Angel dan dia malah salah paham dan sekarang malah minta cerai."
"Mana? Mommy mau ngomong langsung saja."
"Oke Mom."
"Sini sayang mommy mau ngomong!" panggil Lexi saat Ara kembali ingin merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang. Ara mengangguk dan turun kembali dari ranjang.
"Baik, kamu sendiri?"
"Baik juga Mom. Daddy?"
"Dia juga baik. Kenapa kamu nampak tak bergairah sayang?"
"Aku lagi pusing Mom," jawab Ara berbohong.
"Aku dengar dari Lexi kamu lagi ngambek ya. Ara jangan berpikir yang macem ya sayang nanti takutnya bayimu ikutan stres."
"Emang bisa bayi stres Mom?"
"Bisa kalau ibunya stres terus."
"Habis Mas Lexi bohongin Ara Mom ternyata dia sudah punya anak dari wanita lain."
"Kami tahu darimana?"
"Ara dengar sendiri dari wanita itu Mom." Lexi menghela nafas, padahal apa yang didengar Ara itu salah.
"Ara dengerin Mommy, Ara percaya nggak sama Mommy?" Ara hanya mengangguk.
"Apa yang dikatakan wanita itu tidak benar. Kalau memang benar Lexi menghamili seorang wanita pasti Mommy lebih dulu tahu. Kamu tahu sayang meskipun Lexi mommy biarkan bebas di luaran sana tapi pengawasan kami tidak pernah kendor terhadapnya. Mommy tahu apa yang dilakukan dan yang tidak dilakukan olehnya. Bahkan mommy tahu kalau kamu pernah tinggal bersama Lexi dalam satu ruang apartemennya sebelum kalian menikah. Makanya mommy langsung tertarik sama kamu karena sebelumnya Lexi tidak pernah memasukkan wanita ke kamar atau ke dalam apartemennya."
__ADS_1
"Waktu itu Ara hampir saja diperkosa Mom makanya aku..."
"Iya mommy tahu makanya mommy berkesimpulan bahwa kamu memang memiliki perasaan sama Ara karena waktu itu kamu begitu khawatir terhadapnya."
"Mom maafkan Ara ya."
"Tidak perlu minta maaf sayang karena kamu tidak salah. Cemburu boleh saja karena itu tandanya kamu cinta sama anak mommy. Tapi jangan sampai rasa cemburu itu merusak hubungan kalian ya apalagi sampai menuduh macam-macam bisa hancur rumah tangga kalian. Kalau ada masalah bicarakan baik-baik dengan kepala dingin jangan mengambil keputusan yang gegabah."
"Iya Mom," jawab Ara sambil menunduk karena merasa bersalah dan malu.
"Ara dengar sayang, mommy bisa menjamin bahwa saat nikah sama kamu Lexi masih ori," bisik mommy Laurens namun Lexi masih bisa mendengarnya.
"Bukan begitu Mom saya hanya takut wanita itu menuntut Mas Lexi untuk tanggung jawab. Ara tidak mau Mom diduakan, mending Ara memilih pisah aja."
"Katanya dulu tidak takut mendua dengan Annete sekarang belum apa-apa sudah ketir duluan." Lexi menggoda lagi membuat sebuah bantal tiba-tiba melayang ke arahnya."
"Bercanda sayang, tidak akan ada yang kedua dalam rumah tangga kita. Kamu yang pertama dan terakhir," ucap Lexi sambil mendekap tubuh Ara.
"Gimana benar kata mommy kan Lex?" ucap mommy Laurens sambil mengedipkan matanya.
"Sok tahu Mommy." Mommy Laurens mendelik bukannya mengucapkan terima kasih Lexi malah protes.
"Iya deh mommy terbaik pokoknya, apapun yang dilakukan mommy selalu benar."
"Iya dong dan kamu sebelum kenal sama Ara selalu takut menyentuh wanita makanya si Angel milih selingkuh karena haus sentuhan, ups." Mommy Laurens reflek menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Mommy kenapa sih buka kartu?" protes Lexi.
"Benar Mom?"
"Iya sayang makanya mommy dulu sempat khawatir takutnya dia tidak normal." Ara hanya tertawa mendengar penjelasan mommy Laurens.
"Bukan begitu Mom, kan mommy yang ngajarin supaya jangan menyentuh wanita sebelum menikah."
"Iya ya mommy yang ngajarin ya? kenapa mommy jadi pelupa?"
"Amnesia kali kayak Ara dulu."
"Jangan ah nanti mommy jadi lupa punya anak seganteng kamu." Lexi hanya mencebik dengan perkataan Laurens yang lebai.
"Tapi benar juga sih, aku memang tampan kalau nggak mana mungkin kamu mau sama aku, iya nggak?" goda Lexi pada Ara.
"Huh mommy sama anak sama aja, sama-sama lebai," keluh Ara. Untung saja mommy Laurens tidak mendengar kalau tidak bisa saja pembicaraan semakin panjang.
"Ngomong-ngomong perut kamu kok besar banget sayang? Apa isinya kembar ya? Atau memang kamu yang gemukan?" tanya mommy Laurens yang sejak tadi memang penasaran melihat penampakan perut Ara yang memang terlihat lebih besar dari ibu-ibu hamil biasanya.
"Dia langsung isi tiga Mom." Lexi yang menjawab.
"Apa?!" Laurens tercengang.
"Mommy tidak suka ya?" tanya Ara khawatir.
__ADS_1
Bersambung.....