
Hari demi hari Isyana semakin dipusingkan dengan tingkah kedua putranya yang selalu menghindar darinya bahkan mereka sering menghabiskan waktu dengan Annete dengan menginap di rumah Adrian.
Karena hatinya lelah akhirnya dia memutuskan untuk menyendiri dulu.
"Annete kalian hari ini akan menginap di rumah Adrian lagi?"
"Iya Mbak anak-anak memintanya. Maaf ya Mbak."
Annete merasa bersalah terhadap Isyana tapi dia juga tidak bisa menolak keinginan anak asuhnya itu. Sudah berapa kali Annete menasehati kedua anak tersebut tapi tak pernah digubris.
"Nggak apa-apa Annete itu bukan salahmu tapi aku nitip anak-anak ya."
"Emang Mbak mau kemana?"
"Tidak kemana-mana saya hanya ingin menempati apartemen sekejap memenangkan pikiran dulu. Nanti kalo anak-anak sudah ingin menemui saya kamu antarkan saja mereka ke apartemen ya!"
"Baik Mbak."
Setelah melihat anak-anaknya pergi bersama Annete Isyana langsung pergi ke apartemen setelah berpamitan kepada Atmaja.
Sampai di apartemen ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Memikirkan apa yang sekiranya membuat kedua anaknya mendiamkan dirinya.
Tut-tut-tut.
Bunyi telepon membuyarkan lamunannya. Isyana meraih ponselnya melihat panggilan dari Belle seorang karyawan butiknya di Paris.
Isyana mengangkat panggilan telepon tersebut. "Halo Belle ada apa?"
"Nyonya utusan tuan Smith tadi siang datang menemui kami. Dia komplain tentang busana pengantin yang dipesan dari kami. Katanya ada detail yang tidak sesuai dengan permintaan."
"Detail yang mana? Bukankah sebelum aku kembali sudah aku cek dan semuanya sudah sesuai dan bukankah putri dari tuan Smith sudah melihatnya dan mengatakan cocok?"
"Kami tidak tahu Nyonya tapi ketika kami meminta penjelasan dan membawa gaun itu utusan tersebut mengatakan ingin bicara langsung dengan Nyonya agar Nyonya bisa langsung memperbaiki gaunnya."
"Kamu kan tahu sendiri Belle saya lagi ada dimana."
"Tahu Nyonya tapi kalau kami tidak mau mempertemukan dia langsung dengan Nyonya dia meminta ganti rugi yang nominalnya sangat fantastis."
"Memangnya dia minta ganti berapa?"
"Kurang lebih 100 juta kalau diuangkan ke mata uang negara Nyonya."
"100 juta rupiah? Gila harga gaunnya aja nggak sampek segitu masa dia minta ganti ruginya sebanyak itu?"
"Katanya karena kita sudah membuang waktunya sia-sia."
"Terus aku harus gimana Bella? Masa saya harus terbang ke sana sekarang juga padahal saya di sini lagi sibuk."
"Saya sudah bicara dengan utusan tersebut katanya kebetulan dia ada kunjungan ke Indonesia jadi sekalian dia akan membawa gaun tersebut dan menemui Nyonya di sana. Jadi saya tadi sudah memberikan nomor telepon Nyonya. Mungkin kalau sampai di sana dia akan menelpon Nyonya."
"Baiklah kalau begitu saya akan menunggu panggilan telepon dari utusan tersebut."
"Baiklah Nyonya." Dan sambungan telepon terputus.
Setelah menutup telepon, Isyana merebahkan tubuhnya kembali. Dia memijit pelipisnya yang terasa sakit.
Ya Tuhan mengapa ujian ini datang secara bertubi-tubi. Belum selesai masalahku dengan Mas Zidane ditambah lagi dengan sikap anak-anak yang aneh. Sekarang malah datang masalah baru.
Isyana mencoba memejamkan matanya berharap setelah terbangun kedua anaknya ada di sampingnya.
Dua hari berlalu tetapi kedua putranya belum mau menemuinya. Isyana tidak tahan dengan semuanya hari ini dia memutuskan untuk pulang dan akan memaksa kedua anaknya untuk bercerita tentang masalah mereka mendiami dirinya.
Ketika Isyana sudah siap dengan pakaiannya dia meraih tas di atas nakas namun ponselnya bergetar.
Ia meraih ponsel tersebut dan mengangkatnya.
"Hallo dengan siapa ini?"
__ADS_1
"Maaf Nyonya saya Lean utusan dari tuan Smith, boleh bertemu sekarang?"
"Baik, bertemu di mana?"
"Di sebuah cafe, saya akan mengirim alamatnya."
Telepon di tutup. Sepersekian detik ponsel Isyana bergetar kembali. Setelah dilihat ternyata Lean yang mengirimkan alamat cafe tempat mereka akan bertemu.
"Baiklah saya akan segera ke sana!" Isyana bicara sendiri sambil berlalu keluar apartemen.
Sedangkan Isyana yang sibuk dari tadi tidak menyadari kedatangan Annete dan kedua putranya.
"Aunty mama mau kemana?"
"Aunty tidak tahu."
"Kita ikuti saja yuk Aunty!"
"Ayo."
Sesampainya di mobil Nathan meminta Lexi untuk mengejar mobil yang ditumpangi mamanya.
"Uncle ikuti taksi itu!"
"Kalian ingin berubah profesi jadi mata-mata ya!"
"Ayolah Uncle jangan bercanda, itu mama."
"Iyakah? Baiklah ayo!"
Lexi melajukan mobilnya mengikuti taksi itu sesuai permintaan si kembar. Sesampainya di cafe mereka bertemu dengan Adel dan Adrian.
Karena melihat Adrian Lexi tidak jadi masuk dan memilih menunggu di parkiran saja sedang Annete menghampiri Adel dan Adrian. Beda lagi dengan kedua anak tersebut dia memilih duduk di meja yang tidak jauh dari tempat mamanya duduk karena kalau dia ikut duduk dengan Annete dia tidak bisa mengawasi mamanya karena tempatnya yang agak jauh.
##
"Baik, mana gaunnya?"
"Sabar Nyonya biar kita minum dulu!"
Lean memanggil seorang pelayan wanita yang sudah lebih dulu di pesannya.
"Nyonya minum apa?"
"Orange jus saja."
"Oke orange jus dua!" perintahnya pada pelayan itu.
"Baik Tuan."
Tidak menunggu lama pesanan pun datang.
"Ayo diminum dulu Nyonya sebelum kita mulai diskusinya!"
Isyana meneguk minumannya begitupun dengan Lean.
Selang tidak begitu lama tiba-tiba kepala Isyana terasa sakit.
"Kenapa Nyonya?" Lean pura-pura bertanya.
"Maaf Tuan kepala saya rasanya sakit dan tubuh saya rasanya tidak enak. Apa boleh ditunda ya pembicaraan kita tentang gaunnya?"
"Apa perlu saya antar Nyonya ke rumah sakit?"
"Tidak perlu biar saya balik sendiri."
Isyana bangkit berdiri namun tubuhnya terasa tidak seimbang dia hampir jatuh namun segera ditangkap oleh Lean.
__ADS_1
"Biar saya antar." Lean memapah tubuh Isyana keluar dari cafe tersebut.
Nathan dan Tristan yang sedang bicara dengan pelayanan di sana tidak menyadari kalau mamanya sudah dibawa keluar.
"Mama dimana Itan?" tanya Nathan setelah menyadari mamanya tidak ada di tempat.
"Gawat kita kecolongan." Tristan berlari keluar cafe untuk memeriksa.
"Atan itu mama sudah keluar. Ayo kita ikuti saya takut terjadi sesuatu sama mama."
Mereka bergegas keluar dari cafe dan mengikuti mamanya. Ternyata orang tersebut membawa mamanya ke sebuah hotel yang tidak jauh dari cafe tersebut.
"Gawat Atan mengapa orang itu membawa mama ke kamar hotel?"
"Kamu telepon aunty biar saya ikuti dia!"
Tristan menelepon Annete sedang Nathan berlari mengejar mamanya.
Sampai di depan kamar hotel Nathan melihat orang tersebut hampir menciumi mamanya.
Nathan memasuki kamar tersebut yang belum sempat dikunci dan
'Brug-brug-brug.' Nathan menendang pria tersebut secara bertubi-tubi dan tentu saja pria tersebut yang dalam posisi tidak siap kewalahan menghadapi pukulan Nathan.
"Pergi jangan pernah sentuh mama!"
"Kamu pikir saya takut dengan anak kecil seperti kamu hah!"
"Petugas!" Nathan berteriak memanggil petugas hotel yang berada jauh darinya.
Mendengar teriakan Nathan pria tersebut memilih untuk segera kabur.
Setelah pria itu pergi Nathan mendekati Isyana.
"Ma, mama tidak apa-apa?"
"Bantu Mama sayang tubuh mama rasanya tidak enak dan panas sekali. Bantu mama panggilkan dokter ya sayang!"
"Iya Ma."
Nathan keluar dari kamar sesampainya di pintu dia hampir bertabrakan dengan Lexi. Ya Lexi ketika mengetahui Annete terburu-buru keluar dari cafe memutuskan untuk mengikutinya.
"Uncle tolong Mama, tubuh mama panas."
Mendengar pernyataan Nathan Lexi, Annete dan Tristan masuk ke dalam menghampiri Isyana.
Ketika melihat Isyana bertingkah aneh menggeliat-geliatkan tubuhnya di ranjang dia memutuskan untuk menyuruh Nathan menghubungi Zidane.
"Cepat hubungi papa kalian!"
"Kok papa sih Uncle, apa Uncle tidak bisa membantu mama?"
Lexi menggelengkan kepala, "Tidak bisa."
"Kalo begitu Aunty tolong hubungi om dokter aja dia kan ada di sekitaran sini, kalau menunggu papa kelamaan."
"Tidak bisa, Adrian juga tidak bisa menyembuhkan. Penyakit mama kalian bukan penyakit sembarangan."
"Maksud Uncle?"
"Mama kalian kesurupan dan cuma papa Zidane yang punya mantra nya untuk menyembuhkan."
"Baiklah."
Tristan menghubungi Zidane, "Pa, papa cepat ke sini secepatnya!Mama butuh bantuan Papa. Mama kesurupan."
Bersambung....
__ADS_1