Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 60. Foto Prewedding yang Unik


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Yuna kini Zidane melajukan mobilnya ke sebuah studio. Saat datang beberapa karyawan di sana sudah menyambutnya.


Ketika acara foto-foto hendak dimulai kedua anaknya merengek ingin berfoto dan meminta kedua orang tuanya untuk mencetak foto kebersamaan dalam surat undangan.


"Nanti kita fotonya di sesi yang terakhir ya sayang, sekarang papa sama Mama dulu," rayu Isyana terhadap kedua putranya.


"Tapi foto kami akan di cetak ke undangan juga kan Ma."


"Astaga sayang ya nggak bolehlah lah yang nikah kan papa sama mama masa' kalian mau ikutan."


"Masa baru mau nikah udah punya anak?" Zidane terkekeh sendiri.


Mendengar penolakan mama dan papanya kedua anak tersebut cemberut.


"Suruh siapa kalian nyetak anak duluan," protes Tristan kemudian keduanya duduk dan diam tidak bersuara. Melihat anak-anaknya begitu Isyana mengerti kedua anaknya dalam mode ngambek.


"Mas gimana caranya ini ngomong sama anak-anak?"


"Ya udah kita iyain aja, nanti saya akan ngomong pada pihak vendor supaya nggak ikut dicetak dan pas hasilnya udah selesai jangan ditunjukkan sama mereka."


"Nanti kalau mereka tahu di php-in gimana? Mas tahu sendiri kan bagaimana gigihnya mereka mencari tahu."


Zidane nampak berpikir, " Ya sudah nggak apa-apalah mereka ikut daripada aku didiemin terus oleh keduanya kayak kemaren."


"Emang Mas juga didiemin?"


"Bukan cuma didiemin mereka malah tidak mau bertemu denganku apalagi nginep di rumah. Nanti aku ngomong sama photoghrafer nya supaya diatur bagaimana bagusnya."


"Emang Mas Zidane nggak malu?"


"Maksudnya?" Zidane mengernyitkan keningnya.


"Kenapa harus malu?"


"Kalau orang-orang yang menerima undangan melihat penampakan mereka di foto prewed kita di undangan mereka pasti akan bertanya-tanya dan bukan tidak mungkin akan timbul pembicaraan yang tidak-tidak. Saya hanya takut opini publik tentang mas Zidane akan berubah."


"Bagus dong mereka akan bangga sama kegagahan saya karena sekali cetak langsung dua," ucap Zidane sambil tertawa.


"Mas aku nggak bercanda ih," sungut Isyana sambil mencubit pinggang Zidane.


"Auw sakit sayang."


"Biarin habisnya aku ngomong serius ditanggepin nya malah begitu."

__ADS_1


"Kamu pikir aku peduli sama opini publik? Aku tidak masalah mereka bicara apapun tentang hidupku yang penting bagiku kamu dan anak-anak selalu bahagia dan selalu di sampingku. Tentang omongan orang-orang nggak usah dipikirin yang penting kita tidak mengganggu dan merugikan mereka. Lagipula ketika pesta pernikahan kita saya yakin kedua putra kita akan dekat-dekat dengan kita, nggak mungkin kan kita nutupin semuanya."


"Kan ada mama Mas yang bisa menghandle semuanya. Saya hanya takut nama baik Mas akan tercemar kalau sampai mereka tahu akan masa lalu kita. Bagaimana kalau berpengaruh sama bisnis Mas?"


"Tidak akan, dalam urusan bisnis tidak akan mencampur adukkan antara urusan pribadi dengan urusan perusahaan yang penting sama-sama untung ya cuss terus. Kalaupun ada rekan bisnis yang seperti itupun aku tidak masalah kalau harus batal kerjasamanya. Aku mau bekerja sama dengan orang-orang yang mau bekerja sama saja."


"Mas yakin?"


"Sangat."


"Baiklah kalau begitu."


Setelah berunding dengan pihak fotoghrafer akhirnya mereka memutuskan foto mereka bersama si kembar akan diambil pada sesi pemotretan outdoor.


Setelah menyelesaikan foto-foto indor akhirnya mereka kini menuju ke pantai untuk melakukan sesi foto selanjutnya. Dengan pakaian jas lengkap Zidane yang berdiri berhadapan dengan Isyana namun terlihat sedikit menyamping dari kamera terlihat satu tangannya memeluk pinggang Isyana sedang tangan yang lain memegang pundak Isyana yang kini memakai gaun menjuntai ke pasir yang seakan ombak tampak menjilati gaunnya yang panjang itu. Sedangkan Nathan diarahkan oleh sang fotographer untuk berdiri di samping Zidane dan Tristan di samping Isyana. Mereka di beri balon-balon yang harus dilemparkan ke udara tatkala sang fotografer akan mengambil gambar mereka dan 'Ckrek' foto mereka selesai diambil.


Setelah sesi foto selesai mereka kembali ke studio. Setelah beberapa saat pihak vendor menunjukkan di komputer kira-kira seperti apa jadinya nanti kalau undangannya sudah di cetak.


"Kira-kira begini hasil undangannya Mbak," ucap salah satu karyawan di sana.


Isyana dan Zidane menatap layar komputer.


"Bagus Ma," ucap si kembar dari arah belakang.


Setelah acara selesai kini Zidane mengantarkan Isyana ke rumahnya.


"Kalian turun di sini apa ikut papa ke rumah?" tanya Zidane.


"Turun di sini aja Pa."


Mereka semua turun termasuk Zidane juga ikut turun tatkala melihat mertuanya menghampiri mereka. Melihat Isyana yang nampak bahagia begitupun dengan kedua cucunya Atmaja bernafas lega. Sudah dapat dipastikan konflik diantara anak dan menantunya sudah mereda.


"Hei cucu-cucu opa sudah nggak sariawan lagi?" goda Atmaja terhadap kedua cucunya karena ketika ditanya waktu keduanya mendiamkan mamanya keduanya beralasan sedang sariawan.


"Yah Zidane pamit ya!" pamit Zidane sambil mengulurkan tangan menyalami Atmaja.


"Iya hati-hati ya Nak."


"Iya Yah."


"Ingat Sya besok aku jemput lagi buat pergi ke toko perhiasan."


Isyana hanya tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Sementara di hotel xxx Andy memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi pergerakan anak buah Zidane.


"Mereka belum bubar Tuan."


"Kalau begitu atur saja biar aku bisa keluar dari tempat ini tanpa dikenali oleh mereka. Zidane tidak boleh tahu bahwa aku di Indonesia sebab dia tahunya aku tidak pulang beberapa tahun ini."


"Tuan pakai masker ini aja." Seorang anak buah menyerahkan masker ke tangan Andy.


"Apa bukan malah mencurigakan ya?"


"Tidak Tuan ada beberapa orang yang keluar dari hotel menggunakan masker saya pikir tidak akan mencurigakan."


"Baiklah dan lakukan apa yang seharusnya kalian lakukan karena malam ini aku harus kembali ke Prancis."


"Baik Tuan."


Andy keluar dari tempat itu tanpa diikuti pengawal. Mencoba berjalan santai ke arah parkiran.


"Kok aku kayak kenal orang itu ya?" Seorang anak buah Zidane sepertinya mengenali sosok Andy.


"Siapa?" tanya yang lain.


"Entahlah tapi sepertinya aku familiar dengan postur tubuh dan cara berjalannya."


"Kalau begitu kita ikuti dia, siapa tahu dia ada hubungannya dengan jebakan yang dimaksud bos kita."


Merasa seolah dirinya diikuti Andy buru-buru masuk ke dalam mobilnya kemudian tancap gas. Mobil tersebut melesat meninggalkan gedung hotel tersebut hingga sampai pada lampu merah ia malah menerobos rambu-rambu tersebut hingga hampir menabrak seorang gadis.


"Aaaakh...." Gadis itu berteriak sambil memejamkan matanya.


'Kreeek.' Terdengar bunyi mobil di rem secara mendadak.


Andy turun dari mobil dan menghampiri gadis tersebut.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa," jawab Yuna. Ya wanita itu adalah Yuna yang menyebrang dari cafenya ingin membeli sesuatu di Indomaret di seberang jalan.


Sesaat Yuna tertegun mengenali siapa yang ada di hadapannya.


"Andy!"


"Maaf aku buru-buru." Andy memasuki mobilnya dan melajukannya kembali.

__ADS_1


"Ah bodoh mengapa aku bisa jatuh cinta pada orang jutek macam dia." Yuna merutuki dirinya sendiri.


__ADS_2