
"Aku akan menikahi dia setelah dia benar-benar sembuh. Mungkin butuh waktu tapi tidak apalah Louis akan menunggu. Kalau perlu Louis akan ajak dia ke psikiater."
Karena mendengar pembicaraan antara Louis dan mama Ani yang berisik akhirnya Nindy terbangun kembali.
"Kenapa bangun lagi?"
"Entahlah aku kebangun sendiri," jawab Nindy.
"Tante belum pulang?" tanyanya kemudian.
"Belum. Kenapa kamu pengen Tante lekas pulang? Apakah Tante mengganggu kalian berdua?" goda mama Ani.
"Tidak Tante bukan maksudku seperti itu. Aku hanya tidak ingin Tante kelelahan kalau ikut menjaga Nindy di sini," jawab Nindy merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa selama Tante masih suka tidak ada masalah. Tante akan membantu anak Tante buat jagain kamu."
"Terima kasih ya Tante. Tante baik banget. Nindy merasa punya bunda kembali," ucap Nindy dengan bola mata yang sudah tampak berkaca-kaca.
Louis menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Dia memang tidak bisa tenang kalau sudah melihat gadis itu menangis.
"Sini Tante peluk!" ujar mama Ani sambil menarik tubuh Nindy ke dalam pangkuannya. Dia tahu dalam keadaan seperti ini gadis itu bisa butuh perhatian.
"Kalau ada masalah bisa curhat sama Tante tidak usah dipendam sendiri." Nindy mendongak, mama Ani mengangguk sambil tersenyum.
"Tante tidak punya anak perempuan jadi nggak ada yang suka curhat sama Tante." Nindy semakin mendekap erat tubuh mana Ani. Seperti seorang yang terhipnotis ia langsung menceritakan kisah hidupnya pada perempuan paruh baya tersebut.
"Apakah kamu tidak akan kembali ke rumahmu lagi?" tanya mana Ani saat Nindy menyudahi ceritanya. Dari cerita Nindy mama Ani menyimpulkan bahwa gadis itu benar-benar Safa.
"Tidak Tante saya sudah bersumpah untuk tidak menginjakkan kakiku di rumah itu lagi."
"Bagaimana kalau orang tuamu kangen sama kamu?"
"Mereka tidak akan pernah merindukanku karena sudah ada kak Lisfi yang begitu sempurna di mata mereka. Apapun kebaikanku akan selalu tertutup dengan keahliannya, termasuk keahlian yang suka menipu orang lain."
"Apakah kamu tidak merindukan mereka? Bagaimana kalau salah satu dari mereka ingin bertemu denganmu?"
"Tidak saya tidak mau menemuinya. Saya benci mereka semua. Mereka tidak pernah menganggap yang saya kerjakan itu benar. Semua salah di mata mereka," ucap Nindy dengan meluap-luap sepertinya sedang menahan emosi.
"Sudahlah jangan dipikirkan," ucap mama Ani menenangkan Nindy sambil mengusap-usap punggung Nindy.
"Tapi Tante mau tanya suatu hal," ucap mama Ani hati-hati.
"Apa Tante?"
"Apakah kamu mencintai anak Tante?"
"Emangnya boleh Tante?" Nindy malah balik bertanya.
"Emang ada yang melarang orang jatuh cinta?"
"Ngga ada Tante."
"Nah itu tahu, terus apa jawabanmu?"
"Iya Tante," jawab Nindy malu-malu.
Syukurlah aku hanya takut kisah Louis dan Angel terulang lagi.
Sementara Farah yang ingin membuka pintu kamar rawat urung mendengar pembicaraan Nindy dengan mama Ani yang mengatakan Nindy tidak mau bertemu keluarganya dan bahkan membencinya. Dia hanya menyandarkan bahunya di daun pintu sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat urtuk menemuinya. Dia masih sakit hati padaku. Maafkan aku Nak tapi tolong jangan benci aku. Ya Tuhan lindungilah dia selalu.
Sesaat pintu terlihat dibuka dari dalam. Farah segera bersembunyi lalu hendak pergi dari tempat itu.
"Farah itukah kamu?"
Farah menoleh mendengar sapaan dari mama Ani. Farah berbalik, mana Ani menutup pintu kembali namun sebelum tertutup sempurna mana Ani bertanya terlebih dahulu.
"Apakah dia Safa?"
Farah hanya mengangguk lemah.
"Ternyata kamu kejam Farah tidak adil sama anak-anakmu." Farah tidak menjawab ataupun menampik dengan tuduhan mama Ani.
"Kamu tahu dengan sikap keluarga mu itu hampir saja membuat anakmu gila."
"Maksudnya?"
"Kamu tidak mengerti ataukah tidak mau mengerti?"
"Aku memang salah jeng."
"Bukan cuma salah tapi kalian itu bisa dibilang orang tua durhaka."
"Jeng bagaimana keadaannya?" tanya Farah khawatir. Dia tidak mengindahkan cercaan mama Ani.
"Dia terluka fisik dan batinnya. Untung saja Louis segera bertemu dengannya kalau tidak aku tidak tahu akan jadi seperti apa. Masa anakku akan dijodohkan dengan wanita yang mengalami gangguan jiwa."
Farah menunduk semakin merasa bersalah. "Maafkan aku jeng."
"Kamu salah kalau meminta maaf padaku. Seharusnya kamu minta maafnya sama dia."
"Iya jeng saya akan melakukannya." Farah hendak menerobos ke dalam kamar tapi ditahan oleh mama Ani.
"Jangan sekarang keadaan hatinya masih belum stabil. Lebih baik kita cari waktu yang tepat saja. Kalau sekarang belum tentu juga dia bisa memaafkan kamu."
Farah mengangguk dan mundur.
"Terus aku harus bagaimana jeng?"
"Pulanglah biar aku yang jaga dia. Percayakan semuanya padaku dan putraku. Satu hal, kamu harus berjanji jangan kasih tahu suamimu dulu tentang keberadaannya."
"Iya jeng."
"Ya sudah kita keluar Louis memintaku untuk membelikan pakaian untuk putrimu. Jadi saya yakin kamu pasti tahu ukurannya."
"Iya jeng ayo."
"Jeng aku beneran nitip putriku ya!" ucap Farah setelah mereka selesai membelikan Nindy pakaian.
"Pasti tanpa kamu minta pun aku tetap akan menjaganya. Kan dia calonnya anakku."
"Masih berlaku ya jeng perjodohannya."
"Berlaku tidak berlaku akan tetap sama toh mereka sudah saling mencintai."
Farah hanya mengangguk mengiyakan.
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท
__ADS_1
Dua bulan berlalu kini Nindy sudah ceria kembali. Setelah beberapa kali dibawa ke psikiater Nindy dikatakan sudah sembuh total. Kini usaha yang gelutinya sudah mulai menampakkan hasilnya.
Setiap jam istirahat kantor Louis selalu menyempatkan dirinya untuk mengunjungi Nindy di tempat kerjanya. Louis sengaja menyewa gedung yang besar agar Nindy bisa merekrut karyawan yang banyak karena permintaan pasar terhadap barang yang diproduksi oleh Nindy semakin meningkat.
Nindy tampak sibuk berbicara dan memberikan arahan pada karyawan barunya untuk itu Louis memilih duduk di kursi yang berada di luar gedung sambil mengawasi gerakan gadis itu yang semakin lincah saja.
"Bu sepertinya ada tamu," lapor salah seorang karyawan.
"Mana?"
"Tuh di luar."
Nindy melihat ke arah yang ditunjuk oleh karyawan tersebut. Terlihat Louis sudah duduk santai di sana. Nindy tersenyum. "Kalian lanjutkan pekerjaan kalian dulu kalau tidak tahu bisa tanya yang lain."
"Baik Bu."
Nindy berjalan keluar ruangan dan mendekati Louis.
"Hei sudah lama? Kenapa tidak memanggilku?" Nindy menyapa Louis lalu duduk di sampingnya.
"Sudah sibuk sekarang ya?"
"Ya begitulah."
"Ada waktu tidak kalau aku ajak makan siang?"
"Hmm, gimana ya?" Nindy pura-pura berpikir.
"Ya sudah kalau tidak ada."
"Siapa bilang tidak ada? Yuk!"
"Oke, ditraktir tapi sekarang kan sudah sukses," goda Louis.
"Oke siap, yuk cepetan biar kamu tidak telat nanti kembali ke kantornya," kata Nindy sambil menarik pergelangan tangan Louis.
Dari tempat yang agak jauh terlihat dua wanita yang memandang sambil tersenyum ke arah keduanya.
"Bagaimana jeng sukses kan putrimu? Anak-anak tidak bisa dipaksa untuk melakukan hal yang tidak disukainya. Kita sebagai orang tua harus pandai-pandai mengarahkan anak untuk menemukan bakatnya sendiri. Bukan malah membuat mereka down karena kita tidak bisa menghargainya sebab tidak sesuai dengan keinginan kita. Dulu Louis juga tidak mau mengurus perusahaan papanya tapi seiring berjalannya waktu akhirnya dia minta sendiri sama papanya.
"Iya jeng kamu benar. Kalau ayahnya tahu dia pasti tidak akan percaya."
"Tapi karena kesibukan keduanya mereka sampai lupa untuk memikirkan pernikahannya sendiri. Bagaimana kalau kita atur pernikahan keduanya tapi mereka jangan sampai tahu siapa pasangan mereka."
"Maksudnya jeng?"
"Kita bilang saja sama mereka bahwa perjodohan yang dulu tetap dilanjutkan. Mereka kan sampai sekarang tidak tahu sama siapa kita menjodohkannya."
"Iya jeng saya setuju. Saya juga tidak sabar untuk bertemu langsung sama Nindy. Jeng Ani tega ya sama saya sampai sekarang saya belum diperbolehkan bertemu dengan putri saya sendiri," protes Farah.
"Anggap itu hukuman buat kesalahan kamu," ucap mama Ani sambil terkekeh.
"Cih, tega amat."
"Cih kamu tuh yang kurang nekat kenapa tidak mencuri-curi untuk bertemu."
"Eh iya ya kenapa aku bodoh begini ya."
"Udah dari dulu kenapa baru nyadar," ucap mana Ani cekikikan sedangkan Farah jadi cemberut.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐