Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 153. Lelah


__ADS_3

Perlahan Annete melangkah menuju meja yang terdapat pria mabuk tersebut.


"Tuan ini sudah terlalu malam dan anda sudah terlalu mabuk sebaiknya anda pulang sekarang." Annete langsung to the point dia tidak tahu caranya bagaimana berbicara kepada pelanggan yang sudah terlanjur mabuk.


"Berikanlah aku minuman lagi aku masih belum puas," pinta pria tersebut.


"Tapi tuan itu bisa berbahaya terhadap kondisi kesehatan Tuan."


"Kamu tidak perlu ikut campur dengan hidupku, tugas kamu adalah memberikan minuman untukku."


"Tapi Tuan..."


Lelaki itu mengangkat tangan tanda tak ingin mendengarkan perkataan Annete selanjutnya.


"Baiklah kalau begitu." Annete berdiri hendak meminta Bima saja yang berbicara pada pria ini namun tiba-tiba pria tersebut muntah-muntah.


"Hoek-hoek."


Annete menghentikan pergerakannya untuk pergi dan lebih memilih membantu, memijit bahu pria tersebut agar menuntaskan muntahannya.


"Aku tidak bisa menikahinya." pria itu meracau dan entah apalagi yang dikatakannya Annete hanya bisa menangkap kata-kata itu saja.


Mendengar racauan pria itu Annete tahu pasti pria tersebut dijodohkan dan tak kuasa menolaknya. Entah apa sebabnya mungkin ditekan oleh orangtuanya karena sakit atau apalah sehingga ia memilih melampiaskan dengan minuman keras.


"Tuan lebih baik tenangkan diri dulu!"


"Hoek-hoek." Sekarang muntahannya malah mengenai baju Annete.


Astaga nih orang minta digetok kali kepalanya, sudah nyusahin malah bikin baju kotor segala. Annete ngedumel sendiri dalam hati.


"Bawa aja An keluar! Kalau perlu seret saja!" Annete melotot ke arah Bima, bukannya bantuin malah nyuruh-nyuruh karyawan wanita. Namun Bima terlihat cuek dan terus melanjutkan pekerjaannya.


Bersamaan dengan itu ponsel laki-laki itu berdering. Namun pria itu sudah teler jadi membiarkan saja ponselnya berisik. Karena tidak tahan Annete mengintip layar ponsel pria tersebut yang kini tergeletak begitu saja di atas meja, barangkali keluarga atau sahabatnya yang menelpon. Melihat tulisan 'pak sopir calling' Annete segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo Pak."


"Halo ini siapa ya?"


"Tidak penting saya siapa tapi saya minta Bapak segera ke sini untuk menjemput majikan Bapak karena majikan Bapak sudah mabuk berat."


"Baik Nona, tolong kirimkan alamatnya."


Untung ponsel pria itu tidak dikunci, dengan lincah jari-jari Annete mengetikkan sesuatu di ponsel tersebut, mengirimkan alamat tempat dimana mereka berada sekarang.


Tring... pesan terkirim.


[ Tolong Nona jaga dulu majikan saya sampai saya datang]


Annete menghela nafas, menyusahkan sekali pria ini pikirnya. Padahal dari tadi Annete menahan diri untuk tidak ikut muntah mencium aroma muntahan pria ini.


Di sudut lain, di pintu masuk bar.


"Bagaimana Wil, ada yang saya pesan tadi?"


"Pesan apa?" Wilson pura-pura lupa.


"Itu tadi yang saya bicarakan di telepon, cewek cantik nan hot jeletot."


"Hmm, kakak belum berubah juga ya, masih suka main perempuan."


"Cih kamu sama saja, mengapa tidak menghentikan bisnis ini kalau tidak suka?"


"Pengennya sih berhenti Kak, aku pengennya ini tempat murni sebagai bar saja nggak ada plus-plus nya. Tapi kalau masih ada Daddy rasanya sulit terealisasi. Saya tidak kuasa Kak melawan Daddy."

__ADS_1


"Ya semoga suatu saat kamu yang berkuasa di tempat ini. Ngomong-ngomong ada nggak itu yang tadi?"


"Udah Kak udah Wil pesan tadi sama orangnya."


"Cantik nggak?"


"Cantik Kak malah bisa dibilang dia tercantik di tempat ini tapi kalau hot mah aku tidak tahu Kak, soalnya belum pernah nyicip yang begituan."


"Ya nggak boleh lah kalau kamu Wil, kan belum cukup umur. Ini cuma untuk yang 21 plus." Edrick terkekeh.


"Ya sudah Kakak duduk dulu biar saya panggilkan orangnya."


"Oke siap."


Wilson melangkah ke rumah belakangan menaiki tangga menuju lantai atas kemudian berjalan ke suatu kamar. Sampai di depan kama ia memanggil wanita yang sudah di request nya tadi.


"Kak Angel tamu kak Angel sudah datang!" ucap Wilson sambil mengetok pintu kamar Angel.


Tok tok tok...


"Kak!"


"Tunggu sebentar Wil."


"Oke aku tunggu di bawah ya Kak!"


"Iya-iya."


Wilson beranjak ke luar menunggu Angel di lantai bawah. Beberapa kemudian Angel melangkah menuruni tangga dan datang dengan senyum manisnya.


"Mana orangnya Wil?"


"Sudah ada di meja bar Kak, Ayo Wil antar."


"Oke, ayo!" ajak Angel setelah berbicara sebentar dengan nyonya Mary dan menyerahkan kunci kamarnya.


Mereka melangkah ke ruangan bar dan menghampiri Edrick yang nampak duduk dengan santai.


Melihat kedatangan Wilson dengan seorang wanita di sampingnya, mata Edrick terbelalak. Bagaimana tidak Angel tidak hanya cantik tapi dia begitu seksi dengan balutan mini dress di tubuhnya. Kakinya yang jenjang memakai Peep Toe Heels yang memperlihatkan jari-jari kakinya yang indah dengan kuku-kukunya yang di cat merah.


"Kak kenalkan dia ini kak Angel," ucap Wilson yang melihat Edrick terpana memandang tubuh Angel tak berkedip dari atas sampai ke bawah. Begitupun dengan Angel yang terpukau melihat orang tampan di depannya.


"Kak Angel dia itu kak Edrick."


"Ah iya." Angel tersadar lalu mengulurkan tangan pada Edrick. Namun Edrick tak merespon masih saja terbengong.


"Kak Edrick!" sentak Wilson.


"Oh iya-iya," Edrick pun tersadar dan menerima uluran tangan Angel namun tak mau melepasnya.


"Sabar Kak! Nggak sabaran banget sih," ucap Wilson sambil cekikikan.


Edrick melepas pegangan tangannya. "Oh ayo silahkan duduk." Angel mengangguk dan duduk diikuti Edrick.


"Mau aku pesankan cocktails dulu?" tanya Wilson pada Edrick.


"Nggak hari ini aku pesan mocktail saja," jawab Edrick.


"Tumben." Wilson bergumam sendiri. Biasanya kalau Edrick ke sini pesannya ya cocktail bukan mocktail. Namun ia tak mau protes tetap berjalan ke arah Bima.


Sedangkan Edrick yang tahu pasti Wilson sekarang merasa aneh hanya tersenyum. Bukan apa, alasannya hanya satu dia tidak ingin menikmati tubuh wanita di depannya nanti dalam keadaan mabuk. Karena bisa saja dia nanti ingin nambah dan nambah lagi.


Wilson berbalik.

__ADS_1


"Ada apa lagi Wil?" protes Edrick.


"Kak Angel nggak mau minum juga?"


"Suruh Diena buatkan aku softdrink aja Wil."


"Oke." Wilson pun melangkahkan kakinya kembali


Beberapa saat Wilson datang membawakan pesanan Edrick dan Angel lalu pamit meninggalkan keduanya.


Sebelum memutuskan untuk check in di hotel mereka memilih mengobrol hal-hal ringan terlebih dulu.


Saat sedang mengobrol tak sengaja Edrick melihat penampakan seseorang yang sepertinya ia kenal. Edrick menelisik ke arah meja yang berseberangan dengan meja yang ia duduki. Tampak seorang wanita sedang menelpon seseorang. Tak lama kemudian wanita tersebut beralih membersihkan pakaiannya sendiri dengan lap dan juga membersihkan pakaian pria yang ada di hadapannya.


"Kenapa, dia cantik ya?" Angel yang tersadar Edrick sedang memperhatikan Annete dari jarak jauh akhirnya buka suara.


"Dia itu temanku, tapi maaf meskipun kamu tertarik dia tidak menjual dirinya seperti diriku." Tanpa mendengarkan jawaban Edrick Angel terus berkata. Padahal Edrick bukan menyukainya tapi hanya penasaran saja.


Tampak Annete membantu seorang sopir mengangkat pria itu dan membawanya ke mobil.


"Terus kerjanya dia apa?"


"Cuma sebagai pelayan."


"Oh, boleh tahu namanya?"


"Anna."


"Oh."


Aku pikir Annete, tapi tidak mungkin sih kalau Annete bekerja di tempat seperti ini. Apalagi gaya berpakaian pun beda. Dan bukankah Annete juga ada di Jakarta bersama Adrian?


"Bagaimana apa kita jadi check out dari tempat ini?" Pertanyaan Angel membuyarkan lamunan Edrick.


"Oke Yuk!"


Edrick dan Angel pun meninggalkan ruangan. Sampai di luar Edrick masih penasaran sambil celingukan mencari keberadaan wanita tadi tapi tak menemukannya. Rupanya tadi ia berselisih di luar ketika Edrick keluar Annete masuk kembali dari pintu keluar ke dalam ruangan. Dia membersihkan meja tempat pria muntah tadi lalu beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Mau kemana An?" tanya Diena.


"Mau ke kamar mandi dulu Di, badan aku masih kotor ini."


"Ya udah aku antar ke kamarmu. Kamu sudah tahu kamarmu dimana?"


Annete menggeleng. "Aku ingin tidur dengan Angel saja."


"Oke kalau begitu kamu minta kuncinya sama nyonya Mary saja sepertinya Angel tadi menitipkannya pada Nyonya Mary. Oh iya sekarang kami istirahat saja duluan soalnya hari ini kan hari pertama kamu bekerja pasti kamu capek karena belum terbiasa."


"Benarkah? Emang boleh?"


"Boleh hari ini aku kasih kompensasi karena kamu baru bekerja tapi lain kali tidak boleh. Untuk sekarang biar aku dan Bima yang melanjutkan pekerjaan."


"Baiklah terima kasih Di, kau sungguh wanita yang sangat baik." Diena mencebik mendengar pujian dari Annete.


"Sudah ah sana aku mau kembali bekerja jangan ganggu."


"Oke, terima kasih." Annete pun berjalan ke ruangan nyonya Mary. setelah mendapat kuncinya ia langsung beranjak ke kamar Angel dan langsung berbaring di ranjang. rasanya seluruh tubuhnya terasa remuk padahal ia sama sekali tidak bekerja yang berat-berat hari ini.


"Ah kenapa aku merasa sangat lelah malam ini?"


Annete mencoba memejamkan matanya sedetik kemudian dia langsung tepar karena sudah sangat mengantuk. Pekerjaan malam memang butuh stamina dua kali lipat daripada pekerjaan di siang hari. Kalau hari ini saja Annete sudah begitu kelelahan karena kerja malam hari bagaimana esok yang harus bekerja siang malam.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like-nya! Terima kasih.๐Ÿ™


__ADS_2