Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 190. Salah Paham


__ADS_3

Louis mengangguk sedangkan Angel langsung turun dari pelaminan dan berlari mencari kamar mandi karena mual-mual dan ingin segera muntah.


"Aku permisi dulu ya Yun, Dy. Sepertinya Angel mau muntah itu."


"Iya Lou."


Louis menyusul Angel ke kamar mandi sedangkan Angel yang sudah tidak tahan dengan isi perutnya yang sudah mendesak untuk keluar, masuk ke dalam toilet sembarangan. Dia sama sekali tidak sadar bahwa toilet tersebut untuk pria. Angel langsung masuk dan muntah-muntah tanpa sempat menutup pintu.


"Hoek, Hoek." Semua makanan yang sempat masuk menyembur semua keluar.


"Akh..." Angel memijit kepalanya sendiri karena terasa pening.


Pintu toilet sebelah terbuka. Nampak seorang pria keluar dari dalam sana. Pria tersebut mengurungkan diri untuk pergi mendengar suara wanita muntah-muntah. Pria tersebut mengintip dari balik pintu dan memang benar dia melihat Angel sedang muntah di sana.


Dengan pelan pria tersebut berjalan ke arah Angel kemudian membantu memijit dan menepuk-nepuk pundak Angel.


"Hoek, Hoek!" Angel malah semakin tersiksa. Dia terus muntah padahal makanan yang ada dalam perutnya sudah keluar semua tapi mengapa perutnya terus saja mual. Alhasil yang keluar bukan makanan tapi ludah yang berwarna kekuningan.


"Sudah Lou," ucap Angel sambil melepaskan tangan pria tersebut yang kini dalam posisi memijat lehernya. Laki-laki itu menurut, melepaskan pegangan tangannya. Tapi pegangan tangannya malah beralih mengelus perut Angel dari belakang. Sentuhan yang sangat lembut membuat Angel terbawa suasana melow dan dari pegangan tangannya pun Angel dapat merasakan pria yang yang memeluknya kini dalam keadaan bersedih.


"Lou?" Suasana menjadi menjadi hening sesaat.


"Hem?"


"Apakah kalau dia sudah lahir nanti kamu bisa menyayanginya seperti anakmu sendiri?" Pria itu semakin memeluk erat tubuh Angel. Angel tahu ini salah bahkan dirinya belum menikah dengan Louis tapi dirinya sudah mau dipeluk oleh Louis namun dia tidak munafik dia merasa nyaman dalam posisi ini.


"Tentu saja aku akan menyayangi nya." Mendengar suara tersebut Angel berbalik karena merasa aneh, itu bukan suara Louis. Sedangkan Louis yang melihat adegan itu matanya tampak berembun, lalu dengan secepat kilat dia berbalik dan meninggalkan keduanya.


"Rick kamu ngapain di sini?" Angel langsung berusaha melepaskan pelukan Edrick. "Pergi jangan pernah sentuh aku lagi!"


"Apa benar kamu akan menikah dengan Louis?" tanya Edrick tanpa mau melepaskan pelukannya. Berharap semua berita itu cuma gosip atau hanya rencana teman-temannya yang ingin memanas-manasi dirinya.


"Iya benar, saya harap kamu bisa hadir. Bukankah Louis itu teman kamu?"


"Apa tidak bisa dibatalkan Gel?" pinta Edrick dengan penuh harap. Untuk sesaat Angel terdiam.


"Aku mohon beri aku kesempatan. Aku ingin bertanggung jawab sama kamu. Aku ingin membesarkan anak kita bersama-sama. Aku mohon Gel batalkan pernikahan kalian dan menikahlah denganku." mohonnya sekali lagi.

__ADS_1


"Maaf Rick undangan sudah disebar dan aku bukan pengecut yang mau berhenti di tengah jalan. Terimalah takdir kita yang tak mungkin bersatu. Mungkin takdirku memang untuk Louis begitupun sebaliknya. Ku minta lupakan apa yang pernah terjadi diantara kita," ujar Angel langsung menghempaskan tangan Edrick.


Namun Edrick tidak terima, dengan sigap dia menarik tangan Angel kemudian menarik ke pelukannya kembali. Kali ini Edrick memegang dengan erat seakan tidak ingin Angel terlepas lagi. "Tidak ada yang boleh memiliki dirimu selain diriku."


"Lepas!" Angel masih berusaha melepaskan diri dengan menghentak-hentakkan tubuhnya. Namun Edrick mengekangnya begitu kuat. Dia benar-benar sudah gila.


"Dengar aku Gel, dengar aku! Aku tahu kita saling mencintai..."


"Tidak aku tidak pernah mencintai mu." Angel langsung memotong perkataan Edrick.


"Mulutmu bisa berbohong tapi tatapan matamu tidak bisa menyembunyikan kenyataan kalau kau masih mencintaiku." Angel memalingkan muka ketika Edrick mengatakan hal itu.


"Aku hanya mencintai Louis, maka lepaskanlah aku."


Mendengar perkataan Angel Edrick menjadi murka. Lalu seperti orang kesetanan dia menciumi wajah Angel.


Plak. Angel langsung menampar wajah Edrick. "Kurang ajar ya kamu," ucap Angel sambil mengusap-usap wajahnya sendiri lalu melepaskan diri dan bergegas pergi dari tempat itu saat melihat Edrick terpaku di tempat. Rupanya pria tersebut baru menyadari tindakannya tadi.


Angel langsung berlari keluar dari tempat tersebut namun beberapa langkah dirinya terdiam karena perutnya terasa kram. "Aduh sakit sekali." Ia meringis sambil memegangi perutnya. Dia sudah tidak kuat melangkah lagi akhirnya hanya bisa terduduk.


"Kamu kenapa?" tanya Edrick yang langsung menghampirinya kala melihat Angel meringis kesakitan.


"Perutku sakit sekali."


"Kita ke rumah sakit." Tanpa aba-aba Edrick langsung menggendong Angel dan membawanya keluar dari gedung.


"Lou Angel kenapa?" tanya Annete yang melihat Edrick menggendong Angel dengan terburu-buru keluar dari tempat pernikahan.


"Biarkan saja sudah ada Edrick." Louis terlalu cemburu untuk berpikir rasional. Dia terlihat cuek saja.


"Kenapa kamu jadi ketus seperti itu sih Lou? Sebenarnya kamu cinta sama Angel atau cuma kasihan padanya sehingga kalau sudah ada yang menolongnya kamu merasa tidak perduli sama dia lagi!" protes Annete.


"Hah, emang Angel kenapa?" Louis tidak mengerti apa yang dikatakan Annete karena tidak melihatnya.


"Tidak tahu yang jelas tadi Edrick membawanya ke luar dengan terburu-buru dan sepertinya Angel terlihat kesakitan," ujar Annete lalu melangkah menemui Adrian dan mengajaknya untuk mengejar Edrick.


Begitupun dengan Louis, ia segera bangkit menyusul Edrick dan Angel.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Edrick setelah seorang dokter keluar dari ruang periksa.


"Pasien baik-baik saja hanya saja tadi dia mengalami syok dan perutnya sedikit tertekan."


Edrick merasa bersalah pasti itu terjadi karena ulahnya yang main narik-narik dan memeluk Angel sembarangan tadi.


"Keadaan bayinya Dok?" Edrick tidak mau kehilangan bayi itu karena saat ini bayi itulah pengikat antara dirinya dan Angel.


"Baik, tapi saya harap jangan sering-sering membuat ibunya stres karena hal itu bisa saja membuat keguguran."


"Baik Dokter."


"Baiklah saya sarankan untuk sementara biarkan pasien istirahat dulu setelahnya anda bisa membawanya pulang."


"Baik Dok."


"Baik kalau begitu saya permisi."


Setelah dokter itu pergi Louis, Annete dan Adrian datang. "Bagaimana keadaanmu Gel?"


"Baik Net tadi hanya sakit perut saja tapi sekarang sudah mendingan."


"Bayinya bagaimana?" tanya Louis sambil mengelus perut Angel.


"Kata dokter sih baik-baik saja Lou," ucap Angel sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu. Kalau kamu belum sehat kita tunda saja pernikahan kita."


Edrick berharap Angel menyetujui perkataan Louis namun nyatanya Angel masih bersikukuh.


"Jangan Lou aku tidak apa-apa kok. Kalau ditunda urusannya akan belibet nanti."


"Ya sudah terserah kamu saja tapi kalau memang belum sehat jangan dipaksakan."


"Sekarang kamu makan dulu ya, tadi saat kamu diperiksa aku menyempatkan diri membeli sup daging kesukaan kamu. Kamu belum makan kan habis muntah-muntah tadi?"


Mendadak perasaan Angel menjadi tidak enak. Apakah Louis tadi melihat dirinya bersama Edrick di toilet? Kalau iya Angel takut Louis salah paham.

__ADS_1


"Aaa..." Louis langsung menyodorkan sendok berisi sup daging ke mulut Angel. Begitu berulang-ulang kali sampai sup daging dalam mangkok tandas sedangkan Edrick hanya memandang ke arah mereka dengan perasaan tidak menentu.


Bersambung.....


__ADS_2