Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 136. Mulai Menyukainya.


__ADS_3

Ting tung ting tung.


Bel di rumah Isyana berbunyi. Annete yang baru mengantar si kembar sekolah kini malah berkutat di dapur membersihkan piring dan perabot makan lainnya. Isyana sudah berangkat ke butik.


Sebenarnya Isyana punya seorang sopir namun terkadang sopir tersebut tidak bisa masuk kerja karena harus merawat istrinya yang sakit dan Isyana pun tidak tega untuk memecatnya oleh karena itu dia berinisiatif mengangkat Annete menjadi pengasuh anaknya sekaligus untuk mengantar kedua anaknya apabila sopir tersebut tidak ada.


Siapa ya yang bertamu pagi-pagi begini? Apakah Mbak Syasa kembali dari butik?


Annete mencuci tangannya lalu mengeringkan dengan serbet. Kemudian melangkah ke luar untuk membukakan pintu.


Ketika pintu terbuka mata Annete membulat sempurna melihat seorang pria tampan dengan body yang atletis berdiri di hadapannya. Sejenak Annete terkesima mengagumi keindahan ciptaan Tuhan itu.


Ganteng banget, seumur hidup aku baru melihat pria seganteng ini. Apakah ini papanya si kembar?


"Mana Nathan dan Tristan?" pertanyaan pria itu membuyarkan lamunan Annete.


"Eh, mereka lagi sekolah," jawab Annete gugup karena malu kepergok menatap wajah pria itu.


"Oh jadi mereka sudah mulai sekolah ya!" bergumam sendiri.


"Iya benar."


"Maaf anda siapa?"


"Saya Annete Tuan, saya yang mengasuh si kembar saat mamanya bekerja. Saya juga yang mengantar jemput mereka sekolah kalau sopir lagi tidak ada."


"Mereka sekolah dimana?" Annete menyebutkan nama sekolah anak asuhnya.


"Oke kalau begitu hari ini biar aku saja yang menjemput si kembar sekalian mau ajak mereka jalan-jalan."


"Jangan Tuan itu tugas saya." Sebenarnya Annete takut pria tersebut akan berbuat jahat pada si kembar.


"Tidak apa-apa biar aku yang ngomong sama Isyana nanti." Lexi paham akan ketakutan Annete.


Eh dia benar kenal mbak Syasa. Apakah memang benar dia suaminya?


"Iya Tuan, maaf Tuan siapa ya?"


"Perkenalkan nama saya Lexi, saya itu pamannya Nathan dan Tristan." Sambil mengulurkan tangan pada Annete dan Annete menjabatnya.


"Oh maaf saya pikir anda adalah papa mereka."


"Doakan saja semoga saya bisa benar-benar menjadi papa mereka."


Apa maksud orang ini? Apakah itu artinya dia menyukai mbak Syasa? Tapi dia bilang dia ini pamannya si kembar. Apakah saudara mbak Syasa ya? Semoga memang saudaranya siapa tahu dia bisa kepincut sama aku. Eh tapi dia kan bilang tadi...akh..sudahlah.


"Kalau begitu saya permisi dulu, ingat mereka biar saya yang menjemputnya," ujar Lexi kemudian melangkah pergi.


"Oh iya-iya."


Setelah Lexi pergi Annete langsung menelpon Isyana apakah benar mereka memang mengenal Lexi dan memberitahukan bahwa pria itu juga berkeinginan menjemput si kembar hari ini dan juga akan mengajak mereka jalan-jalan.


"Iya nggak apa-apa Net, Nathan dan Tristan memang akrab dengan Lexi, biarkan saja kalau dia yang ingin menjemput mereka nanti kamu istirahat saja di rumah." Jawaban Isyana membuat Annete lega. Dia kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Sebenarnya Isyana berkeinginan merekrut asisten rumah tangga agar mengurangi tugas Annete tapi Annete menolaknya. Dia mengatakan mampu merawat si kembar sekaligus membereskan urusan rumah apalagi Isyana juga sering membantunya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan pekerjaan di dapur kini Annete bisa bersantai ria, sambil menuggu kepulangan Nathan dan Tristan, dia duduk di ruang keluarga sambil menyalakan tv untuk mengusir rasa sepi.


Dia sekarang bersyukur sekali bisa menemukan keluarga baru yang care terhadapnya. Mereka seolah lebih menganggap dirinya keluarga daripada hanya seorang pembantu. Kedekatannya dengan si kembar memberi warna berbeda dalam hidupnya. Annete memang suka anak kecil terlebih mereka adalah anak-anak yang baik dan lucu bahkan tingkahnya sering membuat Annete tertawa.


Lagi sedang asyiknya menonton acara drakor tiba-tiba terdengar suara mobil masuk ke pekarangan rumah.


Siapa sih?


Annete mengintip dari balik jendela terlihat Nathan dan Tristan berlari menuju pintu rumahnya di susul Lexi yang berjalan santai di belakang keduanya.


"Aunty!"


"Aunty!"


Mereka berteriak kegirangan.


"Kenapa sudah pulang katanya mau langsung jalan-jalan?"


"Kami mau mengajak Aunty."


"Kemana?"


" Ya Jalan-jalan lah."


"Emang boleh?" Annete melirik ke arah Lexi terlihat Lexi mengangguk ke arahnya.


"Oke kalau begitu kalian ganti baju dulu ya. Ayo ke kamar kalian biar Aunty bantu!" Keduanya mengangguk.


"Oke sekarang giliran aunty yang siap-siap ya!"


"Iya," jawab Annete sambil berlalu ke kamarnya."


Beberapa saat kemudian Annete sudah siap dengan pakaiannya dan menghampiri mereka di mobil dan hari itu mereka seharian menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan.


"Pulang yuk sudah sore," ajak Lexi.


"Iya Uncle."


"Sebentar ya!" Lexi turun dari mobil dan beberapa saat kemudian kembali dengan membawa bungkusan.


"Annete ini makanan biar kamu tidak usah masak sampai di rumah, saya tahu kamu pasti lelah kan? Dengan makanan ini kamu tidak perlu repot-repot sehingga kalian bisa langsung makan."


So sweet banget nih cowok, andai aku punya cowok kayak dia, perhatiannya membuat hatiku meleleh.


"Terima kasih Tuan."


"Jangan panggil Tuan panggil Lexi saja."


"Baik Lex."


"Nah gitu dong kan lebih akrab, anggap saja aku temanmu okey?"


Teman? Ya iyalah teman kenal aja baru, ngarep apa sih kamu Net? Annete memukul-mukul kepalanya sendiri mengapa hari ini otaknya begitu ngaco pikirnya.


"Kenapa kepalamu sakit? Apa kita mampir di apotik dulu buat beli obat?" tanya Lexi melihat Annete memegang kepalanya.

__ADS_1


"Ah nggak usah cuma pusing dikit dibawa istirahat pasti nanti hilang." Annete berbohong.


"Ya sudah kalau begitu." Lexi lalu melajukan mobilnya membelah jalanan yang kini mulai sepi.


Sampai di rumah mereka masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu Annete menata makanan yang dibelikan Lexi ke dalam piring kemudian meletakkannya di meja makan.


Annete lalu menghampiri si twins yang kini sedang berbaring di kamarnya. "Kalian mau makan duluan atau mau menunggu mama Syasa? Kalau mau makan duluan biar Aunty temani."


"Nunggu mama aja Aunty."


"Baiklah kalau begitu Aunty mau istirahat sebentar ya ke kamar."


"Oke Aunty."


Sampai di kamar Annete terbayang-bayang wajah Lexi tanpa sadar dia tersenyum sendiri.


"Aunty kenapa senyum-senyum sendiri?" Tristan yang ingin memanggil Annete karena mamanya telah pulang karena melihat Annete yang tersenyum jadi kepo.


"Ah tidak Aunty lagi senang aja karena tinggal sama kalian ternyata menyenangkan. Tristan tidak mengerti apa yang dimaksud Annete tapi dia tetap mengangguk.


"Itan, boleh Aunty tanya?" Tristan mengangguk.


"Tanya apa Aunty?"


"Papa kalian mana?"


"Papa kami kan daddy Edward."


"Maksudnya?"


"Kami anak mommy Lusy sama daddy Edward."


"Apa?!" Annete kaget mendengar kenyataannya. Annete pikir mereka benar-benar anak Isyana.


"Awas Aunty ada lalat masuk," ujar Tristan yang melihat Annete menganga karena saking terkejutnya.


"Terus mama Syasa itu apanya kalian?"


"Adiknya mommy Lusy."


"Kalau Uncle Lexi?"


"Dia itu teman mama tapi dia suka sama mama namun mama menolaknya."


"Terus?"


"Itan tidak tahu Aunty tapi sejak kami kecil uncle Lexi memang sering datang menemani kami."


"Oh tapi kemarin-kemarin kok aunty tidak pernah melihat dia ke sini?"


"Mungkin lagi sibuk Aunty, sudah yuk mama sudah menunggu di meja makan."


"Oke ayo kita ke sana." Mereka pun berjalan ke meja makan untuk makan malam bersama.


Ya Tuhan kenapa aku jadi kepo?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2