Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 5. Dia Seperti Apa?


__ADS_3

Karena ada yang memujinya mendadak Nindy menjadi bersemangat. Selesai mencuci peralatan makan dia mulai bersih-bersih sambil bernyanyi riang.


"Nin tolong ambilkan baju kotor di kamar Mas Louis!"


"Iya Mbak." Nindy menghentikan aktifitasnya dan langsung melaksanakan perintah seniornya.


Dia berjalan ke kamar Louis, mengetuk pintu kemudian membuka pintu secara perlahan. Karena tidak ada Louis di dalam akhirnya dia mulai masuk ke dalam.


Melihat kamar Louis yang luas dan rapi mengingatkan dia akan kamarnya sendiri meskipun nuansa maskulin yang terasa di tempat Ini. Entah kenapa dia kangen akan kasurnya yang empuk. Tiba-tiba saja dia lupa akan tujuannya datang ke kamar ini. Nindy langsung membaringkan tubuhnya di ranjang tersebut sambil memejamkan mata.


"Wah enak banget, coba kamar pembantunya seperti ini. Sudah sempit, pengap ranjangnya bikin aku sakit punggung lagi. Aduh seluruh tubuhku rasanya remuk tidur di tempat itu." Karena kelelahan ia jadi tertidur.


Sedangkan Mira di luar yang menggantikan Nindy bersih-bersih mengeluh. "Lama banget sih Nindy, apa dia tidak tahu ya yang mana kamar Mas Louis."


"Astaga." Tiba-tiba Mira mengingat ucapan Louis tadi tentang bibir yang ada manis-manisnya membuat dia berpikiran negatif.


"Jangan-jangan Mas Louis mengajak Nindy bercinta lagi." Mira tahu siapa Louis, bukankah pria itu memang suka one night stand dengan beberapa perempuan, tapi yang dia tahu Louis sudah berhenti semenjak mengenal Angel.


"Tapi bagaimana kalau Mas Louis haus akan s*k lagi? Kasihan Nindy, walaupun seperti itu aku yakin dia sebenarnya masih polos tentang hal begituan." Mira menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa Mbak Mira? Sepertinya kamu mengkhawatirkan sesuatu," ujar Louis yang kembali masuk ke dalam rumah.


"Mas Louis darimana?"


"Oh aku dari hotel ngambil dompet yang ketinggalan."


"Ke kamar Mbak Angel?"


"Nggaklah ada teman yang ngambil kan."


"Oh syukurlah, nanti kalau ketemu Mbak Angel bisa galau."


"Ah nggak ah, biasa aja."


"Ada apa Mbak Mira? Kamu belum menjawab pertanyaanku."


"Ah nggak saya tadi menyuruh Nindy untuk mengambil pakaian kotor di kamar Mas Louis tapi sampai sekarang belum balik-balik juga. Mau aku susul ke kamar takut..."


"Takut apa?" potong Louis.


"Takut lagi making love sama Mas Louis."


"Ih, ngeres aja pikirannya."


"Abis Mas Louis dari dulu kan emang begitu?"


"Itu dulu sekarang tidak lagi. Mbak Mira tahu sendiri kan aku udah berhenti. Lagian masa berbuat mesum di rumah sendiri, bisa-bisa nih rumah banyak setannya."


"Kali aja perkutut Mas Louis bereaksi kembali lihat body Nindy yang aduhai."


"Mbak Mira pembantu atau apa sih?" tanya Louis sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Pembantu sekaligus penasehat," ujar Mira sambil cekikikan.


"Tapi sayang gajinya tidak dobel," lanjutnya.


"Nanti aku dobelin kalau aku sudah berhasil dapat calon pendamping."


"Tahun berapa Mas?"


"Dua ribu seratus."


"Alamak bisa saja aku sudah meninggoy."


"Istilah apaan tuh? Sudah ah aku mau lihat Nindy di kamar. Ngapain aja dia di kamarku?"


Mira mengangguk dan Louis berjalan menapaki tangga ke kamarnya yang ada di atas.


"Ya Tuhan! Nindy ngapain kamu tidur di sini?"


Yang ditegur tidak menjawab karena masih terlelap. Louis masuk ke kamar mandi dan kembali dengan gayung berisi air. Sampai di samping Nindy dia duduk kemudian meneteskan air di wajsh gadis itu.


"Bangun!"


"Bocor-bocor- bocor!" Nindy langsung terduduk dia pikir sedang hujan dan atap rumah tersebut bocor.


"Ngapain kamu di sini?"


"Loh seharusnya aku yang tanya, ngapain kamu tidur di kamarku?"


Nindy terbelalak dan langsung menatap sekeliling. "Maaf aku pikir kamarku, terima kasih atas tumpangan kamarnya." Nindy berkata sambil berjalan ke luar kamar.


"Ku pecat kau ya!"


"Boleh asalkan hutang dianggap lunas."


"Cih mana bisa."


"Nindy cuciannya."


Mendengar kata cucian Nindy teringat dengan Mira.


"Ya ampun, mbak Mira pasti marah. Aku hanya ngerecoki pekerjaannya." Nindy kembali ke kamar lagi dan mengambil pakaian kotor beserta keranjangnya.


Melihat Louis membuka pakaian atasnya membuatnya Nindy berpikir macam-macam. Dia pikir dia harus segera keluar.


Dia takut Louis akan macam-macam padanya mengingat tadi dia mengambil kesempatan untuk mengecup bibirnya. Nyatanya pria itu hanya ingin mengganti pakaian atasnya dengan kaos oblong.


Setelah mengambil keranjang, dengan sigap ia berlari keluar membuat pakaian kotor yang ia ambil berceceran di lantai.


"Ya ampun nih anak ceroboh banget sih." Louis mengeluh sedangkan Nindy kembali masuk kamar dan memunguti pakaian yang berjatuhan.


Satu demi satu pakaian ia ambil dan ditaruh kembali ke dalam keranjang. Namun sampai pada satu pakaian dia terdiam. Bagaimana dia tidak diam pakaian yang ada di depannya kini adalah pakaian dalam bagian bawah Louis.

__ADS_1


"Ayo ambil!" perintah Louis sambil terkekeh melihat Nindy seolah jijik dengan benda yang berada di hadapannya kini.


Nindy masih diam, ia tampak berpikir.


"Ayo ambil itu harus segera di cuci!"


"Sebentar!" Nindy keluar dari kamar, Louis mengernyit tidak tahu apa yang ada dalam pikiran gadis itu.


Sesaat kemudian dia kembali dengan membawa sapu di tangannya.


"Apa kamu mau bersih-bersih?"


Nindy tidak menjawab tangannya tampak mengarahkan sapu ke arah semvak tadi. Ternyata dia ingin mengambil benda tersebut dengan sapu namun tidak berhasil juga.


"Astaga Nindy." Louis mengambil benda tersebut dengan tangannya kemudian menaruh ke dalam keranjang.


"Sana berikan pada Mira! Kalau kau tahu dengan rasa isinya pasti kau tidak akan jijik dengan bungkusnya."


Nindy melotot, bisa-bisanya Louis bicara hal mesum seperti itu pada dirinya.


"Apa kok memandangku seperti itu, mau dicium lagi?" Nindy melengos sambil cemberut, rupanya itu kesengajaan saat Louis mencium bibirnya. Nindy kemudian keluar dengan membawa keranjangnya, dalam hati dia harus berhati-hati karena dia pikir Louis bukanlah orang baik-baik.


Mira yang melihat dan mendengar pembicaraan mereka hanya tertawa dan geleng-geleng kepala. Dia berpikir bahwa Louis membawa Nindy ke sana adalah keputusan yang tepat karena sangat terlihat Louis tidak terlalu mengingat akan nasib pernikahannya bersama Angel.


"Sini aku yang cuci," ujar Mira sambil mengambil cucian yang di pegang oleh Nindy. Nindy mengangguk dan menyerahkannya pada Mira kemudian mengikuti langkah Mira dari belakang.


"Kenapa lama sekali?"


"Maaf aku ketiduran."


"Ooh, pantesan." Nindy pikir dia akan marah tapi ternyata tidak.


"Mbak Mira."


"Ya ada apa?"


"Menurut Mbak Mira Tuan Louis itu seperti apa sih?"


"Oh Mas Louis? Baik lah."


"Tidak pernah macem-macemin Mbak Mira?"


"Macem-macemin gimana maksud kamu?" Mira pura-pura tidak mengerti.


"Masak Mbak Mira nggak ngerti sih? Bertindak tidak senonoh misalnya?"


"Emang kamu pernah diapain sama Mas Louis?" Mira membalikkan pertanyaannya pada Nindy.


"Nggak sih, nggak pernah diapa-apain."


"Ya sudah sama, berarti nggak juga."

__ADS_1


Apa itu artinya Mbak Mira pernah dicium juga oleh Tuan Louis? Ah sepertinya tempat ini berbahaya bagiku. Aku harus segera keluar dari tempat ini.


Bersambung.....


__ADS_2