Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 183. Dia Bukan Anakmu


__ADS_3

Tak terasa sudah sebulan Annete menikah dengan Adrian. Hubungan mereka terlihat harmonis saja, tidak pernah ada cekcok sekalipun karena mereka berdua sama-sama kalem. Tak seperti pengantin baru pada umumnya yang sering ribut untuk hal sepele karena masih belum bisa menyesuaikan diri dengan kepribadian mereka yang mungkin saja berbeda.


Adrian memilih untuk tidak bekerja dulu meskipun Zidane sudah memintanya untuk bekerja di rumah sakit miliknya. Dia ingin me time bersama keluarga. Adrian sangat memanjakan Annete walaupun terkadang Annete tidak suka dimanja. Dia juga sering memasak untuk Annete meski menu yang di masaknya tergolong selektif mengingat Annete tidak boleh mengkonsumsi masakan yang pedas dan asam.


"Mas apa kabarnya Angel ya, sudah lama dia tidak ke sini dan kita juga tidak pernah berkunjung lagi padanya."


"Kenapa tidak telepon saja?"


"Sudah tapi ponselnya selalu berada dalam panggilan lain saat aku menelpon."


"Mungkin sibuk kali makanya ponselnya begitu. Pas kamu nelepon kebetulan dia terima telepon dari customernya. Nanti habis dari cafe kita langsung ke sana jenguk Angel."


"Benar Mas?"


"Iya. Adel mana sih kok lama banget ini?"


"Masih dandan dia Mas tadi dia menolak saat aku mau membantunya. Katanya mau belajar dandan sendiri."


"Ya nggak ada-apa biar dia bisa mandiri."


Beberapa menit kemudian Adel sudah siap dengan dress biru muda kesukaannya. "Gimana Yah Adel cantik nggak?" tanyanya sambil mengusap dress yang dipakainya.


"Cantik nggak Yah?" Adrian berpura-pura berpikir, menggoda putrinya.


Adel cemberut. "Kalah ya sama bunda?"


"Nggak kok sayang Adel yang tercantik pokoknya." Annete yang menjawab.


"Terima kasih Bunda."


"Sama-sama sayang."


"Ayo Yah berangkat!"


"Loh emang Adel nggak mau dengar jawaban ayah dulu?"


"Nggak usah, kalau bunda sudah bilang cantik ya berarti Adel memang cantik."


"Hmm, ya sudah deh, ayo kita berangkat katanya sudah kepingin makan cake matcha dan roti puff isi es krim matcha." Entah kenapa hari ini Adel menginginkan menu matcha sehingga Adrian berinisiatif mengajaknya ke cafe.


Sampai di cafe mereka duduk dan Adrian memesankan menu yang diinginkan Adel. "Kamu pesan apa sayang?" tanya Adrian pada Annete.


"Aku pesan milk shake cokelat aja deh Mas."


"Makannya?"

__ADS_1


"Nggak usah aku masih kenyang."


"Jangan begitu lah kamu harus makan lagi. Sekarang kan sudah siang, tadi pagi kamu makannya sedikit. Makan lagi ya aku tidak mau kamu sakit lagi. Siapa tahu dalam perut kamu juga sudah ada dedek bayinya," ucap Adrian sambil mengusap perut Annete.


"Asyik kalau aku punya dedek bayi nanti rumah bakalan ramai dong," ujar Adel.


"Amin doakan saja ya sayang." Adel mengangguk.


"Ya sudah samain aja deh Mas." Adrian mengangguk dan memesan makanan yang diinginkannya pada pelayan.


Setelah pesanan datang mereka menikmati menu sambil bercengkrama santai. Sesekali terdengar tawa dari ketiganya karena saling menggoda satu sama lain.


"Bunda mau nyicip kue ini," tawar Adel sambil menunjuk cake matcha yang ada dalam piring di hadapannya ketika mereka selesai dengan makanan beratnya.


"Nggak ah pasti rasanya aneh kan," ujar Annete yang memang tidak pernah mau menyicipi kue yang satu ini padahal hampir semua kue dia pernah cicipi karena dulu sempat menjual kue bersama ayahnya.


"Enak kok bunda, cobain aja."


"Nggak ah."


"Ayo dong sayang coba kalau sudah nyicip nanti boleh berkomentar," ujar Adrian. Annete tetap menggeleng.


"Aaaa..." Adrian tetap menyendok kue tersebut dan hendak menyuapkan pada Annete.


"Baiklah aku akan mencoba," ujar Annete karena tidak enak pada sang suami.


"Udah ah Mas itu kan punya Adel."


"Biar nanti aku pesan lagi." Adrian berkata sambil mengelap bibir Annete yang sedikit belepotan dengan tisu.


"Bunda habisin saja di sini stoknya kan masih banyak," ucap Adel sambil tertawa-tawa. Annete pun tersenyum melihat Adel bahagia.


Dari arah lain seorang pelayan cafe menggebrak meja karena melihat kemesraan Adrian dengan istrinya yang sekarang.


"Brengsek sama aku aja dia nggak pernah romantis kayak gitu. Eh giliran sama dia. Aaaagh... brengsek Lo Dri."


"Awas piring-piring pada pecah nanti bukan cuma disuruh ganti malah dipecat pula," ucap rekan kerjanya karena bukannya membereskan piring-piring kotor malah Anisa menggebrak meja.


"Lagian loh sirik aja lihat orang. Kalau aku tuh lihat begituan meleleh hatiku. Pengen deh cepat-cepat kawin," ucap gadis itu lagi karena melihat arah pandangan Anisa tertuju pada meja Annete dan Adrian.


"Nikah saja sana sama kambing."


"Etdah, kalau ngomong sama kamu bikin puyeng pala barby. Aneh," ucap gadis itu lagi lalu pergi meninggalkan Anisa seorang diri.


Setelah gadis itu pergi Anisa bergegas menghampiri Adel.

__ADS_1


"Adel yuk sama bunda, bunda kangen loh sama Adel. Bunda juga pengen peluk-peluk Adel." Anisa berkata dengan halus agar bisa merebut hati Adel. Siapa tahu setelah itu bisa merebut hati suaminya kembali.


"Nggak mau aku sama bunda Annete saja dan aku nggak mau dipeluk oleh kamu," tolak Adel.


"Adel dia ibu kamu loh tidak baik berkata seperti itu." Annete menasehati Adel.


"Tidak mau dia jahat aku tidak mau sama dia. Dia bukan bundaku," ucap Adel lagi dan ucapan itu memancing amarah Anisa.


"Adel tidak boleh ngomong gitu loh bagaimanapun dia itu orang yang telah melahirkan kamu."


"Tutup mulutmu! Tidak usah berpura-pura, sok baik. Di depan Adrian kamu berkata seperti itu sedangkan di belakang kamu kan yang menghasut Adel untuk membenci ku."


"Astaghfirullah hal azim Mbak, itu tidak benar. Aku tidak pernah melakukan yang mbak tuduhkan."


"Mana ada maling mau ngaku. Kalau ada penuh penjara."


"Kamu yang tutup mulut Anisa jangan seenaknya berbicara. Kalau bukan karena kelakuanmu sendiri tidak mungkin Adel akan bersikap seperti itu terhadap dirimu. Kalau kau tidak tutup mulut juga ku pastikan bibirmu akan berdarah." Adrian ikut terpancing.


"Tuh lihat semenjak kenal sama kamu Adrian menjadi kasar. Kamu memberikan pengaruh buruk terhadap keluarga saya."


"Anisa tutup mulut kamu!"


"Mas hentikan!" Hampir saja Adrian menampar wajah Anisa kalau tidak dicegah oleh Annete.


"Ayo tampar dan kalau sampai itu terjadi ku pastikan kau akan menyesal karena aku akan membawa Adel jauh dari kalian."


"Adel saja tidak mau sama kamu."


"Mau ataupun tidak saya berhak memaksa dan membawa dia karena aku ibunya."


"Tapi aku juga berhak atasnya karena dia juga anakku!" ucap Adrian dengan nada yang tegas.


"Kata siapa?" ucap Anisa sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Maksudmu?"


"Dia bukan anakmu, dia anak hasil perkosaan, makanya aku sempat membencinya."


"Apa?" Adrian terbelalak mendengar pernyataan Anisa.


"Kamu bercanda kan Nis? Kamu bercanda!" bentaknya.


"Sayangnya tidak, kamu pikir apakah aku membencinya hanya karena dia punya penyakit? Itu tidak masuk akal Dri. Aku membencinya karena dia lahir dari hubungan yang tidak aku inginkan."


Mendengar perkataan Anisa tubuh Adrian luruh ke lantai sedang Adel menangis histeris. "Itu tidak benar, aku anak ayah kan Bunda?"

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa vote-nya ya sayang!๐Ÿ™


__ADS_2