
"Dokter Rian saya membayar Anda bukan untuk banyak bertanya."
"Iya-iya saya segera ke sana."
Selang lima belas menit kemudian dokter Rian datang.
"Mana pasien yang harus aku periksa?"
"Ayo ikut ke dalam."
"Apakah dia wanitamu?"
"Iya."
"Wah selamat ternyata Anda sudah move on," kelakar dokter Rian.
"Udah jangan kebanyakan ngomong, cepat periksa dia!"
"Kalo semua dokter seperti kamu aku yakin nyawa pasien tidak akan tertolong," lanjutnya.
Dokter Rian pun mengeluarkan alat pemeriksaan dan mulai memeriksa Isyana.
"Maksudnya?"
"Masih nanya lagi. Kalo pasien telat lima menit saja dibawa ke rumah sakit nyawanya bisa melayang apalagi kalau dokternya lelet macam kamu."
"Hem, aku kan bisa membedakan mana pasien yang darurat mana yang tidak." sambil tangannya terus memeriksa.
"Hanya demam biasa. Ini obat kamu kasih kalau dia sudah sadar. Jangan lupa terus di kompres," ujar dokter Rian sambil menyerahkan tablet obat ke tangan Zidane.
"Oh ya usahakan dia banyak beristirahat dan jangan sampai stres," imbuhnya.
"Baik."
"Kalau begitu aku permisi dulu."
"Oh ya aku tunggu undangannya!" ucap dokter Rian dengan sedikit berteriak sambil berjalan ke luar kamar.
Selepas dokter Rian pergi Zidane mengambil kain dan membasahinya dengan air lalu dengan telaten dia mengompres dahi Isyana.
Dia sangat cantik. Mengapa dulu aku malah menyia-nyiakan dia. Bukankah dulu dia pernah datang kepadaku dan meminta agar aku menikahi dirinya tapi aku malah menyakiti dengan perkataan kasar. Aku benar-benar bodoh.
__ADS_1
Zidane berkata dalam hati sambil tangannya mengelus pipi Isyana. Sedangkan Isyana masih larut dalam mimpi dia terkadang mengigau bahkan terkadang mulutnya malah meracau tidak jelas.
"Pergi, pergi jangan sentuh aku lagi!Pergi aku benci sama kamu!"
Kemudian dia terbangun dengan nafas terengah-engah dan duduk sambil memeluk lutut namun masih dalam keadaan mata yang terpejam.
"Sya kamu kenapa? Apakah kamu mimpi buruk?"
Mendengar suara Zidane Isyana mulai tersadar dan membuka mata kala merasakan ada pergerakan tangan di pipinya.
"Kamu, kamu apa yang kamu lakukan padaku?" suaranya terdengar panik. Isyana tampak gelisah.
"Sya tenang aku tidak melakukan apapun padamu. Aku hanya mengompres karena kamu demam."
"Tidak kamu bohong, kamu ingin melakukan hal keji lagi padaku kan?"
"Tidak Sya."
"Bohong kamu menginginkan ini kan?" Isyana membuka kancing kemejanya. Dia benar-benar depresi.
"Silahkan puaskan dirimu tapi setelah ini aku mohon jangan ganggu hidupku lagi, hiks hiks hiks...."
Glek. Zidane menelan ludah melihat penampakan dada Isyana yang mulus. Bagaimanapun dia adalah laki-laki normal yang memiliki ***** tapi untunglah dia masih bisa menguasai diri.
"Kamu minum obat dulu ya karena suhu tubuh kamu masih tinggi."
Isyana yang mulai tersadar hanya mengangguk lemah. Zidane mengambil segelas air dan membantu Isyana minum obat.
"Kamu istirahatlah dulu sampai kesehatan kamu kembali pulih. Kamu tidak usah khawatir aku janji tidak akan melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu." sambil membantu membaringkan kembali tubuh Isyana.
Isyana yang mulai tenang memejamkan matanya. Dia kembali tertidur.
Saat Isyana tertidur Zidane terus mengompres dan matanya tidak pernah lepas dari wajah dan tubuh Isyana. Zidane benar-benar mengangumi wanita yang ada di hadapannya sekarang. Wajah yang cantik dan tubuh yang langsing membuat Zidane semakin mencintai Isyana.
Memang Isyana yang dulu adalah gadis yang cantik dengan penampilan yang sederhana namun Isyana yang sekarang adalah wanita cantik nan seksi dan penampilannya pun modis. Zidane berpikir sepertinya dia akan gila kalau tidak bisa mendapatkan dirinya. Namun ada satu hal yang mengganjal di hatinya apakah dulu Isyana sempat hamil ketika berhubungan badan dengannya.
Biarlah aku tanya saja nanti setelah dia terbangun.
Sore hari Isyana terbangun dengan tubuh yang mulai mendingan. Melihat Isyana terbangun segera Zidane membawakan makanan untuknya.
"Makan dulu ya, kamu sedari siang belum makan juga." Zidane menyendok makanan dan menyuapkannya ke mulut Isyana namun Isyana menolaknya.
__ADS_1
"Maaf, biar aku makan sendiri."
Zidane menyerahkan sendok dan piring yang berisi makanan itu ke tangan Isyana dan Isyana pun memakannya. Zidane terus saja menatap Isyana yang dengan lahap menyantap makanannya. Entah mengapa Zidane tidak pernah puas melihat wajah wanita yang dia klaim sebagai wanitanya itu.
Selesai Isyana makan Zidane sudah tidak sabar untuk menanyakan hal yang mengganjal di hatinya itu sampai gelas air yang dipegangnya belum sempat diberikan kepada Isyana dia sudah bertanya.
"Sya apakah benar kamu pernah hamil anak saya?"
"Mengapa Bapak bertanya seperti itu?" Isyana mulai gelisah kembali.
"Karena tidak mungkin kamu datang kepada ku waktu itu kalau kamu tidak hamil."
"Ti..dak Pak aku tidak hamil," jawab Isyana gugup.
"Benarkah? Tapi mengapa aku merasa kamu berbohong? Kalau kamu tidak hamil kenapa waktu itu kamu menghilang?"
"Eh, tidak Pak saya tidak berbohong."
"Sya tolong jujur sama saya. Kamu hamil anak kita kan?" sambil mencengkram lengan Isyana.
"Tolong jangan permainkan aku kamu tahu aku telah menunggu mu selama enam tahun dan selama itu aku dihantui bayang-bayang mu dan anak kita,"
"Aduh sakit," ucap Isyana sambil meringis.
"Maaf," ucap Zidane sambil melepaskan cengkraman tangannya.
"Baiklah Pak kalau bapak ingin tahu semuanya. Aku memang pernah hamil anak Bapak tapi aku sudah berhasil menggugurkannya."
"Apa kamu bilang? Kamu telah menggugurkan anak kita?"
"Kenapa Pak? Bukannya itu yang diinginkan Bapak? Seharusnya Bapak berterima kasih kepada saya karena telah mengabulkan permintaan Bapak."
Mendengar pernyataan Isyana Zidane terduduk. Dia terlihat begitu lemas bahkan gelas yang dipegangnya terlihat bergetar.
"Sya mengapa kamu tega membunuh anak kita. Anak itu tidak bersalah. Kalau ada yang perlu disalahkan akan hal itu maka salahkan lah saya bukan anak itu. Kamu tahu kata-kata yang keluar dari mulut saya waktu itu di luar kendali karena waktu itu aku benar-benar depresi atas masalah yang menimpa hidup saya."
Melihat Zidane terpuruk Isyana sebenarnya tidak tega namun dia tidak boleh gampang mempercayai orang begitu saja. Dia tahu orang kaya bisa melakukan apa saja termasuk merebut si kembar dari tangannya dan itu tidak boleh terjadi. Isyana yang merawatnya selama lima tahun jadi tidak boleh dimiliki orang lain termasuk ayahnya sekalipun. Kalau Zidane bisa berpura-pura dia pun bisa menutup fakta.
"Maaf Pak saya tidak tahu kalau bapak menginginkan anak itu lagipula aku tidak sanggup membesarkan anak tanpa seorang suami. Aku tidak sanggup melihat mereka akan di cap sebagai anak haram."
"Mereka?"
__ADS_1
"Maaf maksud saya anak itu."