Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 49. Siapa Pelakunya?


__ADS_3

Pagi hari Zidane dan sang mama pergi ke rumah sakit. Sampai di sana mereka langsung mendatangi ruangan dokter Lukman.


Dokter Lukman meyambut mereka dengan ramah, "Ada yang bisa saya bantu Nyonya?"


"Dokter apa maksud dokter memalsukan tes DNA kami? Apakah Dokter tahu kami bisa memecat Anda kapanpun kami mau?" semprot Laras.


"Maaf Nyonya. Maksud Nyonya apa? Siapa yang memalsukan hasil tes DNA?" Dokter Lukman tidak mengerti mengapa tiba-tiba Laras memarahinya.


"Dokter jangan pura-pura tidak mengerti. Siapa sebenarnya yang menyuruh Dokter?"


"Maaf Nyonya saya benar-benar tidak mengerti yang Nyonya tuduhkan. Asal Nyonya tahu saja saya selalu memegang teguh amanah dalam setiap pekerjaan saya."


"Ah alasan."


"Ma, Mama tenang dulu jangan asal tuduh!"


Dokter Lukman beralih memandang Zidane mencoba meminta penjelasan padanya.


"Pak Zidane tolong jelaskan ada apa ini sebenarnya!"


"Dok kami ingin menanyakan hasil tes DNA antara saya dengan Nathan. Apakah dokter yakin tidak ada kesalahan?"


"Kesalahan? Maksud pak Zidane?"


"Maaf sebelumnya Dok, ternyata hasil tes di rumah sakit ini kok tidak sama dengan hasil tes di rumah sakit lain."


"Tidak sama? Apakah pak Zidane yakin?"


"Iya Dok. Hasil di rumah sakit ini mengatakan bahwa mereka tidak ada kecocokan tapi di rumah sakit lain malah memperlihatkan kecocokan." Laras yang menjawab.


"Tidak cocok? Setahu saya hasilnya cocok. Tunggu sebentar saya akan mengambil duplikatnya!"


Dokter Lukman sengaja membuat duplikat kertas hasil tes DNA itu karena yakin mereka akan kembali ke rumah sakit untuk mempertanyakan hasil tes DNA-nya. Dokter Lukman tahu Zidane belum menikah pasti mereka tidak akan mempercayai hasil tes tersebut.


Dokter Lukman membuka laci lemarinya dan mencari kertas tersebut. Setelah dapat dia memeriksanya kemudian memberikan kepada Laras.


"Ini Nyonya hasilnya!"


Laras menerima kertas tersebut dan membacanya. Begitupun Zidane yang amat penasaran dengan hasil tes di rumah sakit itu langsung melongo ke arah kertas yang dipegang mamanya.


"Kok hasilnya cocok ya Dok?"


"Memang cocok Nyonya. Kertas yang saya serahkan waktu itupun menunjukkan hasil yang cocok. Mengapa Nyonya malah mengatakan tidak cocok?"


"Hah!" Laras terkejut


"Kalau begitu kesalahan ada ketika ada di tangan mama. Mama coba ingat-ingat barangkali ada yang sengaja menukar kertas tersebut dengan kertas lain."


"Seingat mama tidak ada, tunggu dulu! Apakah tertukar saat mama bertabrakan dengan seorang gadis?"

__ADS_1


"Mama menabrak seorang gadis?"


"Maksud mama tubuh mama yang bertubrukan bukan mama menabrak orang. Saat itu gadis tersebut membawa berkas yang banyak ditangannya dan ketika tubuhnya terbentur mama kertas-kertas miliknya berserakan di lantai. Mungkin saat itulah tertukar."


"Itu bukan tertukar Ma tapi sengaja ditukar kalau tidak, tidak mungkin dia punya hasil tes dna yang palsu. Mama kenal gadis itu?"


"Tidak jangankan kenal pernah melihat sebelumnya pun tidak."


"Kalau begitu kita cari tahu saja apa mau gadis itu. Dimana mama bertemu dia?"


"Di lorong menuju ruangan ini."


"Kenapa tidak mengecek cctv saja barangkali gadis itu melakukannya atas perintah seseorang dan saya yakin tidak jauh dari tempat Nyonya bertemu gadis itu pasti ada yang mengawasinya."


"Dokter benar juga. Ayo Ma kita cek di bagian cctv saja."


"Mari saya antar." Dokter Lukman berjalan mendahului Laras dan Zidane menuju ruangan cctv.


Setelah memerintahkan petugas di sana, petugas langsung memutar rekaman cctv.


"Itu Pak, ikuti gadis itu!"


Petugas melakukan apa yang diperintahkan. Setelah Video sampai kepada Laras yang bertabrakan dengan gadis itu terlihat gadis tersebut sengaja menukar kertasnya dengan milik Laras.


"Terus lacak Pak kemana gadis itu pergi!"


Terlihat di layar monitor gadis tersebut berjalan menuju tempat parkir. Sesampainya di sana ia menyerahkan kertas tersebut ke tangan seorang wanita. Wanita tersebut menyodorkan sejumlah uang kepada gadis tersebut.


Gambar di monitor di perbesar.


"Apa! Jadi ini semua ulah Belva."


"Ternyata perempuan ular itu masih tidak mau berhenti mengganggumu," kesal Laras.


Tanpa banyak bicara Zidane langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Dion.


"Dion tolong hubungi agensi yang menaungi Belva. Suruh dia memecat Belva sekarang juga. Kalau mereka tidak mau ancam mereka kita akan menghentikan kerjasama kita."


"Tapi Pak, apa alasannya?"


"Apa kau akan selalu bertanya tentang alasan kepadaku? Cepat lakukan apa yang kuperintahkan!"


"Tapi Pak mereka akan menanyakan apa alasannya."


"Dion apakah kamu mau kau yang aku pecat?"


"Tidak Pak. Baik aku akan segera melaksanakan perintah Bapak."


Bulu kuduk dokter Lukman dan petugas cctv meremang mendengar ucapan Zidane pada Dion. Bagaimana tidak Zidane bisa melakukan apapun terhadap orang lain. Mereka harus berhati-hati terhadap orang ini apalagi mereka bekerja di rumah sakit milik ayah dari Zidane. Mereka bertekad tidak akan melakukan kesalahan di rumah sakit ini walau sekecil apapun.

__ADS_1


"Ayo Nak kita pulang," ajak Laras kepada Zidane.


"Iya Ma tapi sebelumnya mama harus meminta maaf pada dokter Lukman dulu karena sudah menuduh dia macam-macam."


"Nggak ah masak mama harus minta maaf kan gengsi."


"Mama!"


"Iya-iya. Dok maafkan saya ya!"


"Iya Nyonya saya sudah memaafkan kok."


"Ternyata pak Zidane baik juga ya Dok." ucap petugas cctv setelah Zidane dan Laras keluar dari ruangan.


"Iya memang kamu pikir dia jahat?"


"Bukan jahat sih Dok tapi agak menakutkan." ucap petugas itu diiringi tawa keduanya.


Flashback On


Ketika mendengar Zidane digigit ular Belva mencoba mendatangi rumah sakit. Berharap kalau tahu dirinya masih bersimpati pada Zidane akhirnya Zidane akan luluh dan mau menerimanya kembali. Namun ketika sampai di depan pintu ruang rawat Zidane dia mendengar Zidane yang berbicara dengan Laras tentang tes DNA.


Belva menguping pembicaraan mereka. Ketika terdengar di telinganya bahwa yang akan melakukan tes DNA itu adalah Zidane dengan anak yang dia jumpai di kantor tadi, Belva memutuskan untuk mengikuti Laras secara diam-diam ke ruangan dokter Lukman. Informasi yang dia dapatkan adalah Laras akan mengambil hasil tes DNA itu beberapa hari lagi.


"Aku harus bertindak cepat. Apapun hasilnya hasil tes DNA itu tidak boleh jatuh ke tangan mereka."


Belva bertekad akan mencuri kertas hasil tes DNA tersebut namun karena ruangan tersebut di jaga ketat ia tidak bisa masuk ke ruangan dokter Lukman.


Karena rencananya tidak mungkin berhasil dia memata-matai Laras dan menyuruh seorang gadis untuk berpura-pura menabrak Laras dan menukar kertas di tangan Laras dengan kertas miliknya. Karena bayarannya yang besar gadis tersebut tergiur dan mau melakukan yang diperintahkan Belva.


Flashback Off.


"Apa! Saya dikeluarkan? Enak saja. Apa salah saya?" Belva tidak terima dirinya dikeluarkan dari agensi model yang menaunginya.


"Anda bermasalah dengan Pak Zidane jadi maaf kami terpaksa mengeluarkan Anda. Kami tidak ingin rugi hanya gara-gara mempertahankan Anda."


"Apa hubungannya agensi ini kan bukan milik Zidane? Mengapa seenaknya saja mengeluarkan saya. Pokoknya saya tidak terima saya tidak mau keluar dari agensi ini."


"Maaf ini sudah perintah dari Bos. Jadi lebih baik Anda pergi saja."


"Pokoknya saya tidak akan pergi sebelum kalian membatalkan keputusan kalian."


"Security cepat seret wanita ini keluar!"


"Baik Pak."


Security menarik tangan Belva keluar gedung tersebut namun Belva memberontak akhirnya dengan terpaksa security tersebut menyeret Belva keluar.


"Lepas! Kalian akan bermasalah denganku ya kalau terus menyeret aku seperti ini," ancam Belva.

__ADS_1


"Maaf Nona kami hanya menjalankan perintah lagipula kenapa Nona tidak mau pergi secara baik-baik." Security itu melepaskan Belva setelah sampai diluar pagar dan mengunci pagar tersebut.


"Awas ya serangga kecil aku akan menyingkirkan mu!" ucap Belva berapi-api sambil mengepalkan kedua tangannya.


__ADS_2