
Nindy pun naik ke atas motor dan Louis langsung melajukan motornya kembali.
Hingga ditengah perjalanan hujan benar-benar turun. Membuat Louis harus pintar-pintar mencari tempat berteduh.
"Kita berhenti disini saja dulu ya." Louis berkata saat melihat warung makan di pinggir jalan.
"Terserah Tuan saja lah bagaimana baiknya."
"Oke." Louis menepikan motornya ke pinggir lalu dirinya mengajak Nindy untuk masuk ke dalam warung.
Saat memasuki warung Aroma masakan menguar ke seluruh ruangan membuat siapa saja yang menciumnya menjadi sangat lapar. Apalagi cuaca yang sedang hujan di luar sangat mendukung untuk menyantap makanan sebagai penghangat tubuh.
"Lapar," seru Nindy tatkala melihat seorang pembeli menyantap mie ayam bakso di warung tersebut.
"Pesan saja atau mau aku yang pesankan?"
"Nggak usah aku saja, tapi jangan dianggap hutang lagi ya."
"Udah nggak usah ngomongin hutang lagi. Kalau nggak kuat nanti kamu bunuh diri."
Nindy mencebik lalu menoleh kepada penjaga warung. "Mie baksonya satu Mbak."
"Oke siap, minumnya apa Mbak?"
"Jeruk peras hangat, ada nggak Mbak?"
"Ada."
"Sip."
Setelah memesan makanan Nindy beranjak ke tempat Louis. Pria itu sudah terlihat duduk di kursi.
"Tuan nggak makan?"
Louis menggeleng.
"Kenapa, nggak mau makan di tempat beginian?"
"Bukan nggak mau cuma nggak terbiasa aja."
"Coba aja kalau begitu."
"Enggak ah."
"Meskipun tempatnya beginian tapi kan bersih dah higienis lagi pula hebat dikantong," ujar Nindy membuat penjaga warung yang mendengarnya tersenyum.
"Iya aku ngerti."
"Kalau ngerti kenapa nggak mau makan di sini?"
"Malas," ujar Louis datar.
"Cih."
Selama mereka mengobrol penjaga warung mengantarkan pesanan Nindy ke meja. "Silahkan menikmati makanannya Mbak!"
"Iya terima kasih Mbak."
Nindy menyendok Mie nya tapi sebelum memasukkan ke mulut sendiri dia malah memainkan sendok berisi Mie tersebut di depan hidung Louis membuat pria tersebut berkata, "Mau ngapain?" tanyanya sambil terkekeh.
"Mau menggoda kamu kali aja juga mau makan biar aku ada temannya."
__ADS_1
"Makan kamu boleh?" Louis malah menggoda Nindy membuat perempuan itu cemberut.
"Jangan ngambek atau aku cium lagi." Sepertinya laki-laki ini masih belum jera juga.
"Mesum, coba aja kalau berani biar aku nanti kabur lagi."
"Suka kabur-kaburan ya kamu?"
Nindy tidak menjawab, dia khusuk melahap makanannya
"Marah lagi? Jangan suka marah ah aku kan hanya bercanda."
"Makan!" Nindy menyodorkan makanan ke mulut Louis, karena takut gadis itu merajuk karena ucapannya tadi terpaksa Louis membuka mulut.
Louis mengecap-ngecap makanan itu. "Ternyata enak juga, lagi dong!" pintanya pada Nindy dan Nindy pun menyuapi Louis kembali layaknya anak kecil.
"Lagi dong!"
"Nih sendok sendiri aku mau pesan lagi."
"Curang kamu ngasih aku bekas."
"Ya udah kamu aja yang pesan lagi, biar aku yang habiskan ini."
"Kita habiskan berdua saja sambil menunggu pesanan lagi," saran Louis.
"Boleh siapa takut." Akhirnya mereka menghabiskan makanan itu berdua hingga mangkok pertama tandas dan datang mangkok kedua.
Ketika mangkok kedua datang Louis menyendok mie itu lalu menyodorkan ke depan mulut Nindy. "Sekarang giliran ku balas budi."
"Si Mas nya modus bilangnya mau balas budi enggak tahunya pengen suap-suapan kan." Penjaga warung terkekeh melihat sikap keduanya.
"Udah pacaran berapa lama Mbak sama Mas nya?" Reflek kedua orang itu saling menatap.
"Dulu saya sama suami awalnya juga gitu saling suap-suapan bakso dan akhirnya pas nikah kami memutuskan untuk membuka warung bakso."
"Bisa dijadikan inspirasi tuh."
"Apa, mau nikah juga sama aku?"
"Ih jual baksonya maksudku." Wajah Nindy terlihat memerah karena malu.
"Nikahnya juga boleh," ucap Louis sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Nindy.
"Ih genit."
"Biarin kan genitnya cuma sama kamu doang."
"Tapi bohong," ujar Nindy.
"Nggak beneran, suer deh!" Ucapan Louis membuat wajah Nindy semakin memerah.
"Sudah ah aku mau makan lagi."
"Suapin!"
"Astaga nih orang."
"Ya udah kalau nggak aku nggak mau makan."
"Ya udah ini," ujar Nindy sambil menyendok mienya dan menyuapi lagi. Akhirnya mereka suap-suapan kembali.
__ADS_1
Saat mereka sedang asyik-asiknya makan tiba-tiba ada seorang perempuan mengendarai matic menepi ke warung tersebut.
Wanita tersebut melihat ke arah keduanya dengan tatapan menelisik. Setelah memastikan bahwa orang yang dia lihat beneran ia kenal, ia menghampiri keduanya.
"Oh Hebat, ternyata dia toh yang membuat kamu bisa betah hidup diluar rumah. Ternyata Lo jadi simpanan om-om." Wanita itu langsung menuduh macam-macam.
"Apa maksudmu?!" Louis tidak terima mendengar wanita itu menghina Nindy apalagi dirinya juga dibilang om-om.
"Ayo Tuan kita pergi dari sini!" Nindy menarik tangan Louis. Dia sudah malas berdebat.
"Sebentar!" Louis tampak membayar makanannya pada penjaga warung.
"Terima kasih Mbak."
"Sama-sama Mas, maaf atas ketidaknyamanannya." Penjaga warung merasa tidak enak karena ada pengganggu masuk ke warungnya padahal kedua pasangan itu belum menghabiskan makanannya.
"Tidak apa-apa ini bukan kesalahan Mbak."
"Ayo Tuan kita harus segera pergi saya enek kalau harus melihat nenek lampir di sini. Bisa-bisa mie ayam yang baru ku telan keluar kembali."
"Cih dia memanggil Tuan? Jangan-jangan ada skandal antar tuan dan majikan. Siapa tahu juga pria ini sudah punya istri secara kan wanita ini suka menggoda laki orang."
"Jaga mulut kamu ya kalau tidak jangan salahkan tangan ini kalau sampai memberi cap merah di pipi mu!" ancam Louis.
"Sudah Tuan tidak perlu meladeni dia, bisa-bisa tangan Tuan alergi menyentuh pipi nenek lampir itu."
"kurang ajar ya kamu mengata-ngatai aku nenek lampir." Wanita itu menggangkat tangan untuk menampar Nindy namun segera ditangkap oleh Louis dan langsung dihempaskan dengan kasar.
"Berani kamu menyentuh tubuhnya sedikit saja, habis kau di tanganku."
"Dan ingat satu hal dia itu bukan simpanan ku tapi calon istriku. Camkan itu!" Louis menuding wajah perempuan itu dengan amarah. Dia langsung menyusul Nindy keluar warung.
"Nin masih hujan biar aku telepon sopir ya untuk menjemput kita."
"Tidak usah Tuan kita naik motor saja lagi, aku nggak apa-apa kok kena hujan." Padahal dia hanya ingin segera pergi dari tempat tersebut kalau menunggu sopir kelamaan. Bisa-bisa dia beneran muntah melihat wanita itu.
"Tapi aku takut kamu masuk angin lagi."
"Tidak akan, aku sudah terbiasa kok mandi air hujan nanti pas sampai rumah aku langsung mandi air hangat agar tidak demam."
"Kamu yakin?"
"Iya aku yakin."
"Ya sudah ayo!" Louis langsung duduk di atas motornya diikuti Nindy di belakang.
"Pegangan!"
"Iya."
"Lebih erat lagi pegangannya!"
"Sebenarnya Nindy tidak ingin mengikuti perintah Louis karena yakin Louis tidak akan melajukan motornya dengan kencang ditengah hujan seperti ini, tapi karena wanita tadi terus memperhatikannya maka dia benar-benar mengeratkan pelukannya seperti seorang kekasih yang memang berpacaran dan berjalan-jalan dengan motornya.
Saat melihat keduanya tampak mesra apalagi melihat tangan Louis terulur memegang tangan Nindy yang memeluknya, wanita tersebut mengepalkan tangannya.
"Kenapa sih wanita itu selalu bernasib baik, tidak mendapatkan Pras malah mendapatkan lelaki itu," ucapnya geram.
Bersambung....
Jangan lupa dukungannya! Like, Favorit, Vote, Rate bintang 5, Hadiah dan Komentarnya. Terima Kasih ๐๐๐.
__ADS_1