Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 61. Seberkas Kisah di Masa Lalu


__ADS_3

Hari sudah malam ketika Zidane kembali ke rumah utama. Dia langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasanya empuk dan nikmat sekali hingga tak terasa dia terlelap. Dia memang butuh istirahat karena tubuhnya seharian ini terasa lelah dan pegal-pegal.


Saat lagi enak-enak tidur tiba-tiba ponselnya bergetar.


"Siapa sih yang menelpon? ganggu tidurku aja."


Namun meski begitu dia mengangkat panggilan itu juga.


"Halo."


"Tuan kami melihat tuan Andy keluar dari hotel ini."


"Andy?"


"Iya Tuan."


"Apa ada yang mencurigakan darinya?"


"Tidak ada sih Tuan."


"Apa kalian tidak mencoba mengikutinya?"


"Sudah Tuan dia menuju bandara dan melakukan penerbangan ke Paris."


"Apa sudah dapat profil pemilik hotel yang bernama Awan itu?"


"Belum Tuan."


Zidane menutup teleponnya. Otaknya mencerna mengapa Andy tidak pulang ke rumah malah menginap di hotel tidak khawatir kah dia dengan mamanya?


Atau jangan-jangan hotel itu milik Andy?


"Aakh." Zidane mendesah. "Lebih baik aku mandi saja dulu biar otak lebih fresh."

__ADS_1


Segera ia masuk ke kamar mandi membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di tubuhnya. Setelah menyelesaikan ritual mandinya dia bergegas menghampiri kedua orang tuanya di meja makan.


##


"Kita mau kemana Mas? Ini rumah siapa?" tanya Isyana setelah mobil yang dikendarai Zidane berhenti pada sebuah rumah yang besar dengan pagar besi bercat orange. Hari ini dia baru saja dari tempat perhiasan tanpa diikuti kedua putranya. Entah kenapa hari ini mereka tidak mau ketika diajak.


"Ini rumah tante Lana adiknya mama Laras. Kita akan mengabarkan sekaligus meminta restu padanya bahwa kita akan segera menikah." Zidane bicara sambil turun dari mobil dan bergegas menuju pintu rumah.


"Eh Den Zidane tumben ke sini?" ucap salah seorang pembantu di sana.


"Tante Lana nya ada Mbok?"


"Ada Den seperti biasa Nyonya ada di ruang keluarga. Menghabiskan waktu dengan memandang foto cucu dan menantunya juga foto neng Ara."


Lana adalah saudara dari Laras. Setelah menikah ia memilih ikut bersama suaminya sedangkan Laras memilih tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang sebenarnya kecil. Mujur setelah dewasa dia bertemu dengan seorang bule berkebangsaan Itali yang merupakan pengusaha sukses kala itu. Mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Setelah menikah Tuan Alberto suaminya membeli tanah di sekitar rumah itu kemudian membangun rumahnya menjadi besar dan sekarang rumah itu menjadi rumah utama.


Tak jauh berbeda dengan Laras, Lana pun akhirnya menikah dengan pengusaha pribumi yang sukses yang bernama Reno. Bahkan Reno memilki beberapa perusahaan di luar negeri. Dengan suaminya ini dia dikaruniai seorang anak yang diberi nama Andy. Sayangnya saat hamil besar Lana malah ditinggalkan untuk selamanya oleh suaminya akibat kecelakaan yang merenggut nyawanya.


Dua tahun sejak meninggalnya suami pertamanya ia memutuskan untuk menikah lagi dengan laki-laki yang umurnya lebih muda darinya.


Reyhan begitulah nama suami keduanya. Sejak menikah dengan Lana dia begitu menyayangi Andy, anak tirinya. Hingga saat Andy dewasa pun dan dia menyerahkan perusahaannya ke tangan Andy ia masih tetap menyayangi kedua anak dan istrinya itu.


Meskipun perusahaan telah diserahkan ke tangan Andy namun Reyhan tetap bekerja di perusahaan itu sebagai direktur.


Keadaan berubah tatkala Reyhan mengenal seorang wanita yang umurnya jauh lebih muda dari dirinya. Bisa dikatakan wanita tersebut seumuran dengan Andy. Sejak mengenal wanita tersebut Reyhan menjadi suami yang kasar bahkan dia terang-terangan selingkuh di depan dirinya. Namun Lana masih bersabar dan berharap Reyhan akan berubah seperti dulu.


Lana memandangi potret cucu dan almarhumah menantunya juga Ara. Air matanya menetes tatkala kejadian tujuh tahun yang lalu berputar di kepalanya.


Saat itu dia melihat dengan mata kepalanya sendiri tembakan yang dilayangkan oleh seorang wanita yang menjadi selingkuhan suaminya itu mengenai ulu hati sang menantu. Dan saat itu pula cucu yang ada dalam gendongan Valen sang menantu terlepas dan terhempas ke tanah.


Kebetulan saat itu Lana bersama Ara habis datang dari arisan sambil mengendarai maticnya. Karena lupa membawa SIM Lana memutuskan untuk lewat menyusuri gang-gang karena mendengar kabar di jalan sedang ada operasi polisi gabungan.


Melihat seorang wanita menyodorkan senjata Lana berteriak sambil berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan keduanya. Namun terlambat sudah peluru sudah bersarang di tubuh Valen yang kini sudah tak berdaya.

__ADS_1


Ketika Lana menghampiri, ingin menolong kedua korban tiba-tiba ia disekap. Lana yang memang memiliki penyakit hipertensi tiba-tiba ambruk dan stroke. Jangankan menggerakkan tubuhnya bicara pun dia tidak bisa.


Sedangkan Ara yang melihat kejadian tersebut ketakutan dan berlari meninggalkan tempat itu namun na'as keberadaan dirinya pun diketahui dan dikejar oleh orang-orang suruhan wanita iblis tersebut.


"Bibi tolong aku, tolong sembunyikan identitasku, aku tidak mau kembali ke rumah." Matanya berkaca-kaca penuh harap dan mengulurkan tangan karena kebetulan bertemu dengan seorang pembantu yang sudah dua tahun berhenti bekerja di rumahnya.


Namun ketika tangannya hampir diraih oleh bibi tersebut keburu beberapa orang menangkap dirinya dan memasukkan ke dalam mobil.


"Non, Non." Sang bibi hanya mampu berteriak sambil berlari mengejar mobil tersebut. Hari itu benar-benar kacau dia tak mungkin mengurusi anak mantan majikannya itu karena cucunya sendiri sekarang sedang sekarat di rumah sakit.


Beberapa saat polisi datang menyelamatkan semua korban namun sayang Valen dinyatakan meninggal di tempat dan cucunya masih hidup namun dokter menyatakan kalaupun hidup dia akan lumpuh karena mengalami cedera otak akibat kepalanya yang terbentur ke lantai yang menyebabkan bagian tungkai tidak bisa digerakkan.


Keadaan diperparah ketika sorenya bahkan jasad Ara dikirimkan oleh pihak rumah sakit dalam keadaan meninggal dunia akibat kecelakaan. Namun ketika di turunkan dari ambulans keadaan jasad sudah terbungkus kain kafan dan siap dimakamkan. Pihak rumah sakit hanya menunjukkan pakaian dan perhiasan yang dipakai Ara pada waktu itu. Dan keadaan keluarga yang berkabung saat itu tidak terlalu banyak bertanya dan segera menguburkannya bersamaan dengan penguburan Valen.


"Tante kenapa menangis?" tanya Zidane.


Lana tetap diam bukannya tidak ingin menjawab pertanyaan Zidane tetapi karena keadaan. Nyatanya ia ingin sekali berbicara panjang lebar dengan ponakannya itu, apalagi dia sempat mendengar ucapan Andy sebelum meninggalkan rumah itu yang mengatakan dia tidak akan pulang ke rumah sebelum sukses membalas dendam pada Zidane.


Ingin rasanya saat itu Lana mendapatkan keajaiban dari Tuhan untuk dapat bicara sebentar saja. Kalaupun setelah bisa mengungkap kejadian yang sebenarnya ia kembali gagu dia rela.


Zidane mendorong kursi roda Lana ke luar rumah dan membawanya keliling taman.


"Tante harus banyak-banyak menghirup udara segar biar otak lebih fresh." Zidane tahu Lana sekarang memikirkan anak, cucu dan menantunya.


"Valen sudah meninggal jadi Tante tidak perlu memikirkannya lagi, ya walaupun sampai saat ini pelakunya belum tertangkap saya yakin Valen bahagia di alam sana. Begitupun dengan Ara. Seseorang yang meninggal sebelum baligh jaminannya surga. Yang Tante lakukan saat ini adalah harus semangat untuk sembuh. Juju perlu Tante. Tante tahu sendiri kan sejak Valen meninggal bang Andy tidak mau menikah lagi. Juju perlu keluarga selain ayahnya untuk merawatnya. Sayangnya bang Andy tidak mengizinkan kami untuk merawat Juju."


Bagaimana mau mengizinkan kalian merawatnya kalau Andy masih menganggap kaulah dalang dari penembakan itu.


"Tante Zidane ke sini ingin mengabarkan bahwa Zidane akan menikah dan sekaligus ingin meminta restu pada Tante. Dan Tante perkenalkan dia calon istri Zidane."


"Halo Tante." Isyana berucap sambil mengambil tangan Lana untuk di cium.


"Zidane harap Tante bisa hadir di pernikahan kami. Nanti saya akan meminta si mbok untuk mengantar Tante ke rumah."

__ADS_1


Lana hanya merespon Zidane dengan senyuman. Senyuman yang di dapat dengan menggerakkan bibirnya dengan susah payah.


__ADS_2