
"Terus kamu akan memberi mereka nama siapa?" tanya Mama Ani.
Louis menoleh pada Nindy. "Menurutmu Sayang?" tanyanya pada Nindy.
"Kamu aja ya Mas yang ngasih nama," ujar Nindy.
"Loh kok aku sih. Ini kan hasil kerjasama kita berdua." Alasan padahal lagi malas berpikir karena otaknya tiba-tiba buntu.
"Gini aja, aku yang ngasih nama putri kita kamu kasih nama putra kita," usul Nindy.
"Baiklah." Lama mereka berpikir.
"Kalian gimana sih nggak siap dari kemarin-kemarin apa?" protes mama Ani.
"Nggak sempat mikir ke situ Ma, Nindy selamat aja Louis sudah senang."
Semua orang yang hadir tampak menggeleng.
"Kasih tahu papi dong sayang kamu mau dikasih nama siapa?" Louis malah berbicara pada bayi laki-laki yang masih ada dalam gendongannya.
"Mas ih, mana bisa dia jawab, mikir sendiri dong!" protes Nindy.
"Kasih nama Akira sama Akito saja, kan kamu suka sama Jepang-jepang gitu," usul Louis yang tiba-tiba ingat bahwa Nindy menyukai yang ada sangkut pautnya dengan negara Jepang.
"Artinya?"
"Kalau Akira itu cerdas kalau Akito itu ceria," jawab Louis.
"Kayak slogan acara anak TK aja cerdas ceria," protes mama Ani.
"Ma!" seru Louis.
"Iya deh iya, terserah kalian," ucap mama Ani pasrah.
"Oke, kita tambah Isfa gimana?" tanya Nindy.
"Isfa?"
"Iya Louis-Safa gitu Mas."
"Boleh."
"Berarti putri kita, kita kasih nama Akira Isfa Ilham Zakiyya dan yang putra kita kasih nama Akito Isfan Ilham Zaki, gimana Mas?" (Aku ambil dari usul kak Nining sama kak Irma ya. Yang lain juga bagus kok, cuma author susah merangkai. Terima kasih dan maafkan author 🙏)
"Bagus aku setuju," ujar Louis.
"Hm, pakai nama belakang Louis ya," ujar mama Ani.
"Iya dong Ma biar orang-orang pada tahu bahwa mereka putra dari Louis Ilham Zaki," ujar Louis sambil tersenyum sumringah.
"Mulai sekarang papi panggil kamu Akito." Louis beralih berbicara pada putranya lalu mencium kening bayi tersebut. Ia lalu mendekati putrinya yang kini sudah dalam gendongan Nindy. "Dan kamu papa kasih nama Akira biar cerdas dan tidak mudah digoda laki-laki."
"Cih mentang-mentang papinya playboy," ucap Mama Ani terkekeh.
"Mana ada Playboy Ma, orang Louis tidak pernah PHP-in cewek."
"Terserahlah kamu mau ngomong apa."
"Hilang deh namaku," keluh pak Ramlan. "Nggak ada ya tempat untuk diselipkan," tambahnya lagi.
"Mas," protes Farah.
__ADS_1
"Bercanda," ujar pak Ramlan sambil tertawa dan mereka pun tertawa bersama.
Saat sedang asyik-asyiknya tertawa Zidane dan antek-anteknya datang.
"Hai Lou selamat ya sudah jadi bapak-bapak juga sekarang," ucap Andy.
"Ya begitulah," sahut Louis. "Ternyata jadi bapak-bapak itu menyenangkan," imbuhnya. Lalu Louis memberikan putranya pada mama Ani dan dirinya menemui sahabatnya.
"Iya apalagi bayinya lucu-lucu ya, kembar lagi," sambung Adrian.
"Kalah Elo Drick sama dia, sekali buat langsung dua." Zidane menimpali.
"Aku mah mending, baru nikah nah Dion dari dulu tetap satu aja."
"Astaga kenapa bawa-bawa aku."
"Tumben dia kalem biasanya paling berisik," ujar Louis.
"Aku capek habis disiksa noh sama temanmu, masa semua tugas dilimpahkan kepadaku," protes Dion sambil menunjuk Zidane.
"Lah suruh siapa kemarin nggak masuk," protes Zidane.
Sedangkan para istri-istri langsung melihat-lihat bayi Louis dan Isyana mengambil Akira dari tangan Nindy sedangkan Vania mengambil Akito dari gendongan mama Ani.
"Lucu-lucu ya mereka," ujar Angel.
"Iya aku suka anak kembar," sahut Annete.
"Buat lagi sana Net barangkali dapat yang kembar," ucap Yuna.
"Ayden masih kecil Yun, nggak tega kalau harus punya adik lagi.
"Iya."
"Hati-hati loh Lou."
"Emang kenapa Dan?"
"Biasanya kalau ayahnya suka ganggu cewek bisa-bisa anaknya juga diganggu para cowok," ujar Zidane terkekeh.
"Enak saja kalau berani ganggu putri saya hadapi saya dulu."
"Cih."
"Ini apa Mbak?" tanya Nindy yang baru sadar bahwa istri dari teman-teman Louis membawa sesuatu.
"Itu kebutuhan bayi. Jangan dilihat bentuk dan harganya ya. Kalau dilihat dari itu Mah saya yakin Louis bisa membelikan yang lebih baik dan lebih mahal."
"Nggak lah Mbak. Kalian bawain ini aja aku udah terima kasih. Berarti kalian peduli sama kami," ujar Nindy dan para wanita mengangguk serempak.
"Sudah kamu berbaring, istirahatlah jangan terlalu banyak duduk," nasehat Isyana.
"Baiklah." Nindy pun menurut dan langsung berbaring dengan dibantu Farah. Sedangkan Louis dan yang lainnya tampak berbincang-bincang, begitupun. dengan para istri mereka.
Saat-saat mengobrol tiba-tiba Kinara dan Putri muncul dari balik pintu. "Permisi!"
"Masuk Put," ujar Louis.
"Siapa Lou?" tanya Adrian.
"Teman istriku."
__ADS_1
"Oh." Mereka pun melanjutkan obrolannya sedangkan Putri dan Kinara langsung menghampiri Nindy dan mengobrol.
Lama mereka berbincang-bincang hingga akhirnya mereka pamit untuk pulang.
Kini di dalam ruangan rawat Nindy hanya ada Putri, Kinara dan mama Ani serta Farah yang menjaga Nindy. Kedua bayi sudah diletakkan ke dalam box bayi. Tuan Zaki dan pak Ramlan berangkat ke kantor bersama karena memang pak Ramlan adalah anak buah Tuan Zaki meski gedung mereka terpisah.
"Ma aku keluar dulu," pamit Louis.
"Mau kemana?" tanya mama Ani curiga.
"Aku mau vasektomi Ma. Louis kan sudah punya anak komplit, sudah ada yang perempuan dan laki-laki."
"Sudah bilang sama istri kamu?"
Louis menggeleng. "Jangan kasih tahu dia Ma."
"Emangnya kenapa kamu harus melakukan itu?"
"Aku tidak mau Safa hamil lagi Ma. Aku tidak mau dia menderita lagi."
"Lou dengarkan Mama! Tidak semua kehamilan itu sama. Bisa saja kemarin kandungan Safa lemah tapi belum tentu kalau dia hamil lagi akan tetap seperti itu. Bisa saja kandungannya nanti malah kuat dan sehat."
"Louis tidak mau ambil resiko Ma."
"Enak ya Saf anakmu udah komplit nggak perlu hamil lagi." Terdengar suara putri dari arah Nindy berbaring.
"Siapa bilang Put, aku masih pengen hamil sekali lagi. Pengen ngerasain rasanya lahiran normal," jawab Nindy.
"Tuh dengar apa kata istri kamu," ujar Farah. Kalau kamu melakukan ini pasti dia akan kecewa kalau dia tahu."
Louis hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Nindy. "Terus apa yang harus aku lakukan Ma?"
"Berembug dulu sama dia atau kalau kamu ingin tetap melakukan tindakan ini ambil yang sementara, yang bisa dibuka kalau kalian sudah siap punya anak lagi. Jangan ambil operasi yang langsung dipotong."
"Iya deh Ma." Louis mendekati Nindy. Putri dan Kinara sudah tampak berpamitan.
"Pak kami permisi dulu lain kali kami akan menemani Safa lagi."
"Iya terima kasih ya Put, Kinara."
"Iya Pak."
Putri dan Kinara keluar. Mana Ani pun mengajak Farah keluar sebentar untuk mencari makan sekaligus membawakan Louis dan Nindy makanan.
"Mas kamu tahu hari ini apa yang aku rasakan?"
"Apa sayang?"
"Hari ini aku merasa sangat beruntung bisa menjadi istrimu dan bisa memberikan anak-anak yang lucu."
"Aku jauh lebih beruntung karena bisa memiliki istri yang mau menerima aku apa adanya dan sesabar dirimu."
Nindy langsung bangkit dan memeluk Louis sambil menangis haru.
"Hati-hati Sayang bekas operasimu," ujar Louis mengingatkan.
...----------------...
Terima kasih ya semua reader yang sudah mengikuti novelku sampai tahap ini. Sebenarnya, jujur author berat menamatkan novel ini karena sudah terbiasa bersosialisasi dengan kalian semua.( Author menganggap kalian semua sahabat dan sekarang harus berpisah. 😭 )Namun apalah daya novel ini sudah tidak bisa dipanjangkan lagi. Untuk cerita Lisfi author akan semangat di kisah Nathan dan Tristan (Terpaksa Menikah Putri Mafia) Kalau penasaran kalian bisa mampir ke sana. Akhirnya author minta maaf atas semua kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Terima kasih🙏🥰
TAMAT
__ADS_1