Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 131. Penolong Misterius


__ADS_3

"Aku yang akan membelinya." Terdengar suara wanita dari arah depan mereka berdiri.


Kedua wanita yang sedang berbincang-bicang serius itu menoleh.


"Ruri?"


"Bagaimana apakah kau berniat menjualnya padaku?" tanya Ruri dengan wajah angkunya pada Annete.


Melihat ekspresi wajah Ruri. Angel meremas tangan Annete dan menggeleng.


"Memangnya kau mampu bayar berapa?" tanya Angel pada Ruri.


"800 juta," jawab Ruri tersenyum licik.


Mendengar ucapan Ruri Annete menjadi tertarik. "Kau serius?"


"Sangat serius," jawab Ruri.


"Baiklah kalau begitu aku setuju."


"Jangan Net," cegah Angel.


"Kalau tidak mau ya sudah tapi saya yakin tidak akan ada yang menawar lebih tinggi dariku," ujar Ruri sambil melangkah pergi dari tempat itu.


Melihat Ruri pergi Annete mencegahnya, "Tunggu Rur, aku mau."


"Baiklah tapi ada syaratnya."


"Syarat, maksudnya?"


"Saya akan membeli rumah tersebut asalkan kamu mau bekerja di rumah saya."


"Hei kamu niat mau membeli rumah apa cuma mau meledek Annete sih," bentak Anggi.


"Sudah Net nggak usah jual sama dia kita cari pembeli yang lain saja," ucap Anggi sambil menarik pergelangan tangan Annete dan membawanya duduk pada sebuah kursi.


"Kalau tidak mau ya sudah tapi kalau kalian berdua berubah pikiran silahkan hubungi saya," ucapnya sambil berlalu pergi.


Setelah duduk di kursi Angel mulai bicara lagi.


"Net aku curiga jangan-jangan yang nyebarin rumor tentang rumahmu yang banyak hantunya tuh Ruri, dia sengaja nyebarin gitu agar tidak ada yang membeli rumah kamu sehingga dia bisa manfaatin kamu."


"Tapi kalau sampai ayah keluar dari rumah sakit belum juga ada yang menawar dengan harga yang pas terpaksa aku harus menerima tawaran Ruri. Lagipula saya memang butuh pekerjaan setelah ini."


"Kita berdoa saja supaya ada orang lain yang akan membeli rumah tersebut sehingga kamu tidak harus menjualnya pada Ruri. Saya tidak rela kalau sampai kamu diperbudak oleh dia."


"Iya semoga saja."


Setelah beberapa hari pasca transplantasi ayah Annete sudah diperbolehkan pulang tapi sayangnya sampai saat ini belum ada yang menawar rumahnya lagi sehingga terpaksa dia harus menghubungi Ruri untuk menerima penawarannya. Angel yang kini berada di samping Annete hanya bisa pasrah karena tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi. Kemarin- kemarin dia sudah gigih menawarkan rumah milik sahabatnya itu tapi sama sekali tidak membuahkan hasil.


Annete mengambil ponselnya dan segera menghubungi Ruri.


"Halo."


"Halo Ruri saya terima penawaran kamu dan saya minta kamu langsung mengantar uangnya ke rumah sakit karena uangnya dibutuhkan sekarang."


"Oke saya akan segera ke sana," ucap Ruri dengan sumringah.


"Tapi ingat kamu harus menandatangani perjanjian bahwa kamu siap untuk bekerja di rumahku sebagai pembantu," tambahnya.


"Iya," jawab Annete singkat.


Hari itu Ruri langsung meluncur ke rumah sakit menemui Annete.


"Baiklah karena kita sudah deal maka kamu harus tanda tangani kertas ini!" Dalam hati Ruri tersenyum licik, dia sudah menyiapkan segala hal untuk menyiksa Annete kalau sampai dia berhasil menjadikan Annete sebagai babunya.

__ADS_1


"Aku akan menandatanganinya setelah kau menyelesaikan pembayaran rumah sakit ayah dan sisanya baru bisa kau kasih setelah aku menandatangani surat perjanjian itu." Annete mengantisipasi takutnya Ruri menipunya.


"Baiklah ayo ke ruangan administrasi!" ajak Ruri sambil menarik pergelangan tangan Annete. Sedangkan Angel hanya mengikuti langkah mereka dari belakang.


"Bu saya ingin melunasi biaya rumah sakit atas nama Johan," ucap Annete kepada staf yang bertugas.


Staf rumah sakit pun membuka berkas-berkas yang ada di depannya.


"Atas nama Johan ya?"


"Iya Bu."


"Pasien atas nama Johan sudah ada yang melunasi pembayarannya." Annete dan Angel terbelalak mendengar pernyataan staf rumah sakit tersebut sedangkan Ruri merasa kesal mendengar berita tersebut.


"Maaf apakah ibu tidak salah lihat?" tanya Annete tak percaya.


"Tidak ini sudah lunas," ucap staf tersebut sambil menyodorkan rincian-rincian biaya pengobatan Johan beserta pelunasan pembayarannya.


"Atas nama siapa Bu yang melunasinya?" Annete masih tak percaya masih penasaran benarkah ada orang baik yang mau menolongnya.


"Maaf orang tersebut tidak mau memberikan identitasnya."


Ruri bangkit dari kursi sambil mengepalkan tangannya.


"Berani ya kalian menipuku," ucapnya kesal sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Awas Ya Net aku akan memberikan pelajaran karena kamu berani mempermainkan ku!" ancamnya sebelum benar-benar pergi dari tempat itu.


Seperginya Ruri Annete dan Angel saling pandang.


"Siapa ya Gel kira-kira yang telah membayar tagihan rumah sakit ayah."


"Mana aku tahu Net," jawab Angel karena memang tidak tahu.


"Apa ada yang bisa kami bantu lagi?" ujar staf tersebut.


Sebelum ke kamar ayahnya Annete memutuskan ke ruangan dokter yang menangani ayahnya terlebih dahulu.


"Mau kemana Net?" tanya Angel yang melihat Annete justru berjalan ke arah lain.


"Mau ke ruangan dokter dulu mau tanya barangkali dia yang membantu aku membayarnya terlebih dahulu." Annete pikir sang dokter yang membayarnya dulu setelah itu Annete harus membayarnya kepada dokter tersebut sebagai hutang.


"Bagaimana kalau iya, Ruri sudah pulang lagi," batinnya.


Angel menganggu dan memilih menunggu di luar ruangan.


"Bagaimana Net?" tanya Angel setelah melihat Annete keluar dari ruangan tersebut.


"Ada dokternya?" tanyanya lagi karena Annete masih tidak menjawab.


"Bukan, dokter itu malah tidak tahu menahu tentang pembayaran tersebut."


"Sudahlah Net tidak usah diambil pusing anggap saja malaikat yang menolong kamu," canda Angel.


"Seharusnya kamu merasa lega sekarang kan? Ayah Johan sembuh dan rumah masih utuh," lanjutnya.


"Iya kamu benar Gel."


Annete lalu berlari-lari ke ruang rawat ayahnya. Wajahnya tampak berseri-seri karena saking bahagianya.


"Ada apa Nak, mengapa kamu terlihat senang begitu?" tanya Johan.


"Ya senanglah Yah kan ayah sudah sembuh dan hari ini sudah diperbolehkan pulang," ujar Annete masih dengan raut wajah cerianya.


"Tapi kita akan pulang kemana Nak?" Johan malah terlihat murung.

__ADS_1


"Ya ke rumah lah Yah."


"Ke rumah siapa? Rumah Angel?" tanya Johan sambil menatap wajah Angel.


"Tidak ke rumah kita sendiri Yah," jawab Annete.


"Rumah kita? Apa masih nyisa uang penjualan rumahnya?" Johan pikir Annete membeli rumah kecil dari uang sisa biaya rumah sakitnya.


"Sudah nanti ayah bakalan tahu sendiri, lebih baik kita siap-siap untuk pulang saja." Johan pun menurut.


"Taksinya sudah sampai," lapor Angel kepada Annete karena dia yang menelpon taksi tadi.


"Oke ayo!" ucap Annete sambil menggandeng tangan ayahnya menuju parkiran rumah sakit dan kembali ke rumah.


Sampai ketika taksi sampai di depan rumah Johan menjadi kaget. Dia turun dari taksi dan perlahan-lahan berjalan menuju rumah tersebut.


"Kenapa kita kembali ke sini Nak?" tanya Johan heran.


"Iya Yah rumah ini tidak jadi di jual."


Mendengar perkataan Annete Johan langsung bersujud syukur di halaman rumah tersebut. Air mata haru menetes di pipinya. Sepertinya dia sangat bahagia sekali.


"Ayah senang?" tanya Annete ikut bersimpuh di lantai.


"Iyalah ayah senang sebenarnya rumah ini pernah dipesan oleh almarhumah nenek kamu supaya jangan sampai dijual apapun yang terjadi."


"Kenapa Ayah tidak mengatakannya pada Annete?"


"Ayah tahu kamu akan melakukan apapun demi kesembuhan ayah jadi ayah tidak tega kalau sampai ayah melarang kamu menjual rumah ini karena kamu pasti akan berjuang keras untuk mendapatkan biaya tersebut jadi terpaksa ayah mengizinkan mu untuk menjual rumah ini."


"Sudah Yah mari masuk dulu, ayah harus beristirahat tidak boleh banyak beraktivitas dulu," ujar Annete. Johan mengangguk dan ikut masuk ke dalam.


"Ayo Gel ke dalam," ajak Annete pada Angel.


"Tidak Net terima kasih saya harus kembali dan taksi tersebut sudah aku pesan untuk mengantarku," kata Angel sambil menunjuk taksi tadi yang masih menunggu Angel.


"Terima kasih ya Nak atas bantuannya," ujar Johan pada Angel.


"Sama-sama paman."


"Oke Gel, terima kasih ya atas semuanya."


"Iya Net sampai jumpa," ucap Angel sambil melambaikan tangannya disambut lambaian tangan Annete.


Setelah Angel hilang dari penglihatan mereka barulah Johan dan Annete masuk ke dalam rumah. Selesai Annete menaruh barang-barangnya dia menemui ayahnya yang sedang beristirahat di kamarnya.


"Net kalau rumah ini masih utuh berarti kamu dapat uang darimana?" Johan penasaran.


"Itulah Yah yang Annete tidak tahu saat Annete ingin membayar petugas di sana mengatakan biaya sudah ada yang melunasi."


"Kira-kira siapa ya Nak yang membantu kita?"


"Aku juga tidak tahu Yah, biarkan sajalah yang penting kita sekarang bahagia."


"Bukan begitu Nak ayah hanya takut itu semua akan berpengaruh dalam kehidupan kita di masa mendatang. Atau bisa saja kan orang itu menginginkan sesuatu dari kita. Itu bisa saja kan terjadi?"


"Sudah Yah jangan terlalu dipikirkan nanti ayah sakit lagi. Pasti itu orang baik yang diutus oleh Tuhan untuk menolong kita. Pokoknya siapapun mereka kita ucapkan terima kasih dan kita doakan saja semoga mereka sehat-sehat selalu."


"Iya Nak kamu benar."


"Ya sudah kalau begitu Ayah makan dulu biar Annete ambilkan makanan."


"Iya Nak," jawab Johan.


Dan Annete berlalu ke dapur untuk mengambil makanan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2