Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 84. Rasa Yang Tak Lagi Sama.


__ADS_3

"Nathan, Tristan Kak Naura mau jalan-jalan sama teman-teman apakah kalian mau ikut?" tanya Naura pada suatu pagi. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu dan Naura sudah mendapatkan gaji pertamanya. Dia berkeinginan untuk mentraktir teman-temannya.


"Emang boleh Kak?" tanya Nathan.


"Ia Kak emang teman-teman Kakak bolehin kita ikut?" sambung Tristan.


"Boleh teman-teman Kakak tuh orangnya baik-baik jadi nggak akan keberatan kalau kalian ikut."


"Tapi Kak Naura tahu kan kalau bawa kami antek-anteknya papa bakal ngikutin kita. Emang Kakak sama teman-teman kakak nggak bakalan risih gitu?" tanya Tristan.


"Ia Kak padahal aku sudah minta papa untuk berhenti nyuruh mereka ngikutin kami kan Tante Belva udah ketangkap jadi nggak mungkin ada yang akan berbuat jahat sama kami."


"Itu namanya papa kalian sayang sama kalian jadi jaga-jaga supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap kalian. Lagi pula mereka kan mengawasi kalian dari jauh jadi untuk apa risih."


"Tapi kami malu kak diledekin sama temen-temen kata mereka 'Kayak pak presiden aja dikawal segala' begitu Kak," adu Tristan.


"Udah jangan di dengerin mereka pasti cuma iri sama kalian. Jadi ikut nggak?"


"Ikut Kak."


"Ya udah ganti baju sana biar kakak tunggu di luar takutnya Rachel sudah menunggu. Jangan lupa ya izin dulu sama Oma!"


"Oke kakak cantik," ujar kedua anak tersebut sambil berlari ke kamar mereka.


Setelah hampir setengah hari mereka berjalan-jalan akhirnya perut mereka keroncongan juga. Mereka memutuskan untuk berhenti di salah satu restoran cepat saji.


"Nathan dan Tristan kamu pesen apa?"


"Kentucky kak." Keduanya kompak.


"Kalian persen apa biar aku yang antri," tanya Naura kepada sahabat-sahabatnya.


"Samain aja deh sama mereka tapi ditambah kentang goreng ya buat cemilan di mobil nanti," ujar Sheila.


"Ya sudah aku ke sana dulu." Naura melangkahkan kakinya untuk memesan menu yang diminta oleh semuanya sedangkan yang lain memilih duduk di kursi sambil bersantai ria menuggu pesanan datang.


"Shei gimana kerja kamu?" tanya Mita.


"Di tempat kerjaku atasannya pada baik-baik kok Mit."


"Ya pasti baiklah Mit orang dia udah berhasil ngegebet asistennya," sela Rachel.


Sheila hanya tertawa kecil mendengar ucapan Rachel. Memang dia sudah menceritakan semua pada sahabatnya itu.


"Elo sendri gimana?" tanya Sheila pada Mita.


"Sama dia juga berhasil menjerat asisten di perusahaan tempat kami bekerja." Rachel yang menjawab lagi.

__ADS_1


"Emang tali menjerat," protes Mita.


"Elo sendiri Hel udah dapat gebetan belum?"


"Aku mah kan serius kerjanya mana ada waktu buat mikirin begituan," sahut Rachel.


"Cih bilang aja Lo belum laku," ledek Sheila dan Rachel hanya memberengut kesal.


"Eh sebenarnya aku suka sama bos di tempatku bekerja tapi sayang kayaknya bos Andy suka sama Naura deh." Jadi curhat deh si Rachel.


"Siapa yang suka sama pak Andy?" tanya Naura yang kini sudah kembali dengan pesanan mereka.


"Tuh," tunjuk Sheila dan Mita bersamaan ke arah Rachel.


"Tapi sayang dia patah hati karena sang bos katanya lebih tertarik sama Lo."


"Enak aja aku dan pak Andy tidak ada hubungan apa-apa. Dia tertarik padaku hanya kerena kerjaku aja. Tapi ngomong-ngomong kalau kau tertarik sama Pak Andy siap-siap saja saingan sama Bu Yuna," terang Naura.


"Siapa takut? Sebelum janur kuning melengkung aku masih punya kesempatan lagian wajahku kan lebih glowing dari Tante Yuna jadi pak Andy pasti milih gue."


"Kepedean amat sih," sela Sheila.


"Pede sih bagus," ucap Naura.


"Tapi apakah kau akan tetap naksir sama pak Andy kalau tahu dia sudah punya anak," sambungnya.


"Kok bercanda sih? Kalau nggak percaya silahkan tanya sama mereka. Mereka tuh ponakannya pak Andy. Ia kan Nathan, Tristan?"


"Ia apa yang kak Naura katakan benar. Kak Rachel juga harus tahu anaknya om Andy itu lumpuh jadi kalau Kakak pengen sama om Andy harus bisa merawat anaknya."


Mendengar perkataan Tristan Rachel menganga karena saking terkejutnya.


"Nggak jadi deh kalau begitu. Ngerawat diri sendiri aja belum bisa masa sudah mau merawat anak," keluhnya.


"Biar deh pak Andy sama Bu Yuna saja lebih cocok," lanjutnya membuat semua orang tertawa dengan penuturan Rachel.


"Sudah yuk kita makan di sini aja," ajak Mita.


"Oke."


Ketika hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya tiba-tiba saja ada yang menyapa Naura.


"Hai Naura apa kabar?"


Naura menoleh. "Kak Febri!"


"Boleh bicara sebentar?"

__ADS_1


Naura menoleh kepada teman-temannya untuk meminta persetujuan dan teman-temannya mengangguk menandakan setuju dirinya pergi dengan Febri sebentar.


"Sebentar Ya Atan, Itan," pamitnya kepada si twins.


"Ia Kak."


Naura pergi bersama Febri ke meja lain. Teman-temannya melirik ke arah mereka menebak-nebak sekiranya apa yang sedang mereka bicarakan. Tak selang berapa lama Naura kembali dengan wajah datarnya.


"Apa katanya Ra?" Mita tidak dapat menahan rasa penasarannya jadi langsung bertanya.


"Dia nembak aku guys."


"Alamak berarti tinggal aku yang jomblo dong," gumam Rachel.


"Tenang Kak nanti aku carikan jodoh," goda Tristan.


Mita mengernyitkan dahi. "Emang kalian udah punya calon?" tanyanya pada kembar di depannya.


"Ada Kak itu," tunjuknya pada Rama yang sedang mengobrol dengan bodyguard lainnya.


"Ih nggak ah takut," ujar Rachel yang ngeri melihat tubuh Rama yang kekar.


"Terus kamu jawab apa Ra?" tanya Sheila.


"Jadi tadi aku tolak dia tapi dianya minta supaya jangan buru-buru mengambil keputusan katanya dia masih memberikan waktu untuk ku berpikir," jawab Naura.


"Kok ditolak sih bukanya kamu memang menyukai dia ya?" Sheila tak percaya Naura menolak Febri padahal dia tahu perasaan Naura sama Febri itu seperti apa.


"Ketinggalan berita dia guys," sindir Rachel.


"Dulu Naura memang suka sama kak Febri tapi kini kayaknya hatinya sudah berpaling sama om Lexi deh," timpal Mita.


Mendengar Mita bicara seperti itu Naura langsung memelotinya bisa bahaya kalau si kembar tahu. Beruntung keduanya sedang asyik mengobrol jadi mungkin saja mereka tidak mendengar perkataan Mita.


"Habis ini kita mau langsung pulang atau mau jalan-jalan lagi?"


"Jalan-jalan lagi dong Kak." Nathan yang menjawab.


"Ia Kak ini kan hari kebebasan kami tanpa orang tua jadi maunya seharian jalan-jalan saja," tambah Tristan.


"Baiklah kalau begitu tapi kakak nggak tanggung jawab ya kalau kalian dimarahi Oma."


"Kakak tenang saja Oma bisa diajak kerja sama."


"Ya udah yuk! Let's go kita jalan-jalan lagi!" ajak Rachel.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, hadiah dan vote-nya okey! Terima kasih.🥰


__ADS_2