Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 207. Berhenti Mencintai Milik Orang Lain


__ADS_3

Esok hari Ara sudah diperbolehkan pulang oleh dokter dikarenakan kondisi kesehatan ibu dan anak-anaknya baik. Sampai di rumah dia malah dikejutkan oleh keberadaan Andy dan teman-temannya.


"Eh Abang kapan datang kok nggak ngabarin Ara sih?"


"Udah semalam sih tapi kami capek butuh istirahat dulu dan niatnya sekarang mau bareng-bareng ke rumah sakit, tapi berhubung kamu sudah pulang ya nggak jadi."


"Mana ponakan Abang?"


"Tuh!" tunjuk Ara ke arah mobil. Tampak Lana dan Laurens turun dari mobil dengan membawa cucu-cucu mereka sedangkan cucu yang satunya digendong oleh seorang baby sister.


"Mama kok nggak bilang sih bang Andy sudah datang!" protesnya pada Lana.


"Mama juga nggak tahu, abang kamu nggak ngabarin mama."


"Maaf ya semalam aku sih sebenarnya pengen kasih tahu kalian tapi saat aku sudah kembali ke rumah sakit kalian sudah pada tidur jadi nggak tega bangunin," terang Laurens.


"Oh gitu ya Mom?" Laurens hanya mengangguk sambil berjalan ke dalam rumah diikuti yang lainya.


"Maaf ya tempatku ya seperti ini, semoga kalian betah ya!" ujar Lexi.


"Ah jangan merendah lah Lex, orang ini tempat begitu luas dan megah sehingga bisa menampung kami semua," ujar Edrick.


"Iya yah lumayan bisa menghemat pengeluaran hotel," ucap Dion sambil terkekeh.


"Iya kalian bisa tinggal di sini sepuas kalian."


"Uncle bayinya cantik- cantik dan ganteng," ujar Nathan.


"Iya ya, pengen deh cepat-cepat punya adik," sambung Adel.


"Ayo dong Del minta sama ayah dan bunda kamu, aku aja udah hampir punya adik." Juju ikut menimpali.


"Masih proses," jawab Adel membuat Annete dan Adrian tercengang.


"Kok bayinya banyakan yang mirip kamu ketimbang Ara sih?" protes Dion.


"Itu tandanya aku yang aktif saat buat hingga gen punyaku yang lebih kuat." Lexi terkekeh membuat Ara melotot ke arahnya.


"Sudah kamu istirahat saja Ra," suruh Isyana. "Mumpung bayi kamu tidur ya kamu ikutan tidur biar ASI-nya cepat keisi."


"Capek Mbak tidur terus mending ngobrol-ngobrol sama kalian semua. Kapan lagi aku bisa ketemu kalian semua?"


"Iya juga sih," timpal Angel sambil melihat bayi-bayi Ara yang sudah anteng di dalam boks bayi sambil mengusap perutnya sendiri.


"Kenapa nggak sabar?" goda Edrick. Angel hanya mengangguk.


"Aku juga nggak sabar," sambung Andy sambil mengelus perut Yuna.


"Ayo camilannya dinikmati!" ucap Laurens setelah para pembantunya sudah menyiapkan makanan ringan di atas meja.


Tampak para perempuan mengobrol bersama para perempuan dan lelaki berbincang-bincang dengan Abraham dan Reyhan. Sedangkan anak-anak tampak ikut Lexi berjalan-jalan mengitari rumahnya.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Ara berbunyi. "Sebentar ya Mbak-Mbak," izin Ara sambil mengangkat video call dari kedua sahabatnya.


"Hai!"


"Hai juga."


"Ara katanya kamu sudah melahirkan ya?"


"Iya, kalian tahu dari siapa?"


"Dari bang Andy."


"Ooh, tun bang Andy," ujar Ara sambil mengarahkan kameranya ke arah Andy.


"Sheila mana kok akhir-akhir ini tidak bareng sama kalian?"


"Dia sibuk pacaran," sahut Rachel.


"Kok rame sih Ra?" tanya Mita.


"Iya bang Andy dateng bareng teman-temannya, jadi rame deh."


"Yaaah... bang Andy curang kenapa tidak mengajak kami sih?"


"Kalian kan sibuk daftar kuliah jadi saya nggak berani ngajak kalian takut diprotes sama ortu kalian."


"Cih bilang aja bang Andy pelit padahal kami tuh teman Ara sejak lama. Selalu ada di saat-saat Ara membutuhkan."


"Kalau Ara juga kuliah kami mau."


"Sorry guys aku nggak bisa, anakku bukan cuma satu, tapi triplet jadi mana mungkin aku ninggalin mereka bertiga. Perhatian aja sudah pecah tiga, eh pecah empat sama bapak'e masak waktunya harus terbagi lagi dengan kuliah?"


"Iya-iya deh kami ngerti, maaf bang Andy kami nggak bisa kuliah di sana kalau Ara juga tidak kuliah."


"Yasudah terserah kalian yang penting jangan bilang lagi kalau aku pelit."


Setelah dua hari menginap di rumah Lexi mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal masing-masing.


Edrick dan Angel mendatangi Wilson lalu pulang ke rumah Angel dan tinggal di sana untuk beberapa waktu sedangkan Annete dan Adrian setelah ke tempat Wilson langsung mengantarkan Anisa dan Farhan ke kuburan Johan kemudian pulang ke rumah ayahnya sebelum memutuskan untuk check in di hotel.


Zidane, Isyana dan kedua putranya langsung pulang ke rumah Lusy. Berbeda dengan Dion dia yang sama sekali tidak memiliki kerabat di sana memutuskan tinggal di hotel dan mengajak Vania dan putri kecilnya keliling Paris sebelum memutuskan untuk pulang ke tanah air. Kapan lagi dia dapat hari libur seperti ini, mumpung Zidane lagi baik pikir Dion.


"Adel ikut ayah atau ikut bunda Anisa?" tanya Annete ketika mereka memutuskan untuk berpisah.


"Boleh aku ikut bunda Anisa saja?" pinta Adel.


"Loh kenapa?"


"Mana ada Bun honeymoon bawa anak," ucap Adel sambil tersenyum. Lebih baik aku bareng bunda Anisa saja biar kalian cepat bikinin Adel adik. Pokoknya Adel nggak mau kalah sama Juju."


Adrian geleng-geleng kepala. Adel pikir ini perlombaan apa?

__ADS_1


"Iya boleh," jawab Annete.


"Kalau begitu kami pamit dulu. Kamu baik-baik sama bunda Anisa ya!"


"Iya Bunda. Bunda juga baik-baik sama ayah. Kerjasama yang baik biar ada hasilnya."


"Adel kok pintar sih Mas siapa yang ngajarin?"


"Mana aku tahu," jawab Adrian tidak mau ambil pusing. Yang penting bulan madunya bersama Annete tidak ada yang menggangu. Siapa tahu setelah pulang perut sang istri sudah terisi. Lagipula ada baiknya Adel bersama Anisa agar dia tidak tinggal berdua saja dengan Farhan karena bisa saja terjadi hal-hal yang tidak baik antara keduanya selagi keduanya belum menikah.


"Mbak apa tidak sebaiknya mbak menikah saja dengan Farhan," ujar Annete.


"Ya aku juga setuju itu," timpal Adrian.


Farhan hanya tersenyum mendengar saran keduanya.


"Iya Bun lagipula om Farhan kan baik selama tinggal sama bunda kan om Farhan yang sering jemput Adel ke sekolah?"


"Maaf untuk saat ini aku hanya ingin menghabiskan waktuku berdua saja sama Adel. Tidak tahu ya kalau nanti."


"Aku akan selalu menunggu," jawab Farhan penuh harap.


"Mbak saya harap Mbak Anisa bisa membuka diri. Saya lihat Farhan tulus sama Mbak Anisa. Kalau tidak, dia pasti sudah menikah sedari dulu."


"Nanti aku pikirkan lagi Dek."


"Ya sudah kalau begitu kami pamit ya, kami titip Adel." Annete dan Adrian melangkah pergi.


Farhan langsung menggenggam tangan Anisa. "Apa kamu masih mencintainya?"


"Maksudmu?"


"Adrian."


"Entahlah aku tidak tahu yang aku tahu di hatinya sudah tidak tersisa namaku lagi."


"Berhentilah untuk mencintainya karena dia sudah menjadi milik orang lain terlebih wanita itu adalah saudarimu sendiri. Kamu ingat saat aku dulu begitu mencintaimu, tapi kamu sudah menjadi milik Adrian. Apa yang aku dapatkan? Hanya kebencian darimu."


Anisa terlihat termenung. "Kamu benar tapi mengapa terasa begitu sulit?"


"Tidak akan sulit kalau kamu mau membuka hatimu untuk orang lain."


"Aku akan berusaha."


"Berusahalah dan aku akan selalu menunggumu."


Anisa memejamkan mata. Apakah tandanya dia harus mengganti nama Adrian di hatinya dengan Farhan?


"Beri aku waktu."


"Pasti."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2