
Sampai di depan pos satpam, pak satpam menyapa. "Mau kemana Nin?"
"Pulang Pak," jawab Nindy.
"Oh udah mau balik ya! Hati-hati ya Nin soalnya kemarin ada seorang pria yang mencari mu dan sepertinya orang tersebut mencurigakan takutnya dia mau macam-macam sama kamu."
"Bapak tahu siapa dia?"
"Namanya kalau tidak salah ..." Pak satpam tampak merogoh saku bajunya.
"Tapi sebelumnya saya mau tanya apakah kamu itu yang namanya Safa?"
"Ssst! Jangan keras-keras Pak. Iya benar aku yang namanya Safa, tapi Bapak jangan bocorkan pada siapapun ya soal nama itu termasuk sama Tuan Louis juga."
"Oke Nin kalau sama pak satpam sih rahasia dijamin aman. Oh ya yang nyari kamu kemarin namanya Prasetyo. Iya benar Prasetyo," ucap psk satpam sambil membaca kartu nama.
Jadi dia tahu aku ada di sini?
"Terus Pak satpam bilang apa?"
"Aku bilang ya di sini tidak ada yang namanya Safa dan saya tidak kenal dengan wanita itu."
"Baguslah Pak kalau begitu. Kalau begitu saya pamit ya Pak."
"Iya Nin, jangan lupa hati-hati dan selalu waspada," nasehat pak satpam.
"Oke Pak terima kasih nasehatnya."
"Sama-sama Nin."
Nindy keluar pagar dengan hati yang cemas. Sebenarnya dia khawatir akan bertemu Pras lagi kalau kembali ke rumah, tapi sayang dia tidak punya pilihan lain selain pulang ke rumah dan meminta bantuan sang ayah untuk melunasi hutang-hutangnya. Nindy langsung menyetop taksi yang melintas. Dia langsung menyuruh sopir taksi untuk membawanya pulang ke rumah.
"Eh Enon, apa kabar Non?" Sapa pak satpam rumahnya sendiri yang dulu pernah dikerjain dengan diberi obat tidur oleh Nindy.
"Baik Pak, Bapak sendiri apa kabar?"
"Baik Non."
"Maaf ya Pak kalau Nindy ada salah sama pak satpam."
"Kok kalau ada sih Non, jelas- jelas Non Safa punya salah sama saya. Tahu nggak Non, gara-gara Non Safa saya kena amarah dan hukuman dari Tuan dan Nyonya. Untung saja tidak ada maling yang masuk kalau tidak, bisa saja saya tidak terima gaji selama sebulan." Pak satpam tampak kesal.
"Iya deh Pak, Safa minta maaf."
"Baiklah saya maafkan asal Nona janji tidak akan ngibulin bapak lagi."
"Itu sih tergantung situasi dan kondisi Pak," sahut Nindy terkekeh lalu berjalan cepat menuju rumah. Sedangkan pak satpam hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak majikannya.
"Eh sudah pulang Non?" tanya Mbok Siti.
"Iya Mbok, bunda ada di rumah?"
"Bunda sama Tuan lagi ke rumah temannya Non dan sampai sekarang belum balik."
"Oh belum balik ya Mbok? Kalau Pras?"
"Juga tidak ada di rumah Non."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu."
"Sejak Non Lisfi keguguran den Pras jarang pulang."
"Keguguran Mbok? Sejak kapan Kak Lisfi hamil?"
"Itu...itu...," ucap mbok Siti ragu.
"Itu-itu kenapa Mbok?"
"Itu...sejak tiga bulan yang lalu." Reflek mbok Siti langsung menutup mulutnya karena keceplosan.
"Apa?" Nindy terhenyak.
"Berarti saat mereka menikah kak Lisfi sudah hamil?"
"I...iya Non." Sekarang Nindy yang menutup mulutnya, teramat kaget dengan berita yang baru saja di dengarnya.
"Pantesan saja ayah sama Bunda lebih mendukung hubungan mereka daripada aku," batin Nindy.
"Yasudah mbok kalau begitu saya masuk kamar dulu."
"Apa perlu saya bikinin minuman Non?" Mbok Siti menawarkan diri.
"Boleh Mbok kebetulan aku sedang haus."
"Baik Non kalau begitu si Mbok mau ke dapur dulu ya Non."
"Iya Mbok."
"Permisi."
"Kenapa Non?"
"Tolong bawa ke kamar ya!"
"Iya Non."
Mbok Siti berlalu ke dapur sedang Nindy langsung naik ke kamarnya yang berada di lantai atas. Sampai di kamarnya dia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Aaakkh kamarku aku kangen." Dia bicara sendiri sambil memandangi pemandangan kamarnya yang tetap tidak berubah. Tetap sama seperti pada waktu ia tinggalkan. Sepertinya Farah tidak pernah mengotak-atik kabar Nindy. Yang terlihat berbeda hanya sprei yang membungkus kasurnya, mungkin sprei yang lama sudah dicuci.
Beberapa saat kemudian si Mbok mengetuk pintu.
Tok tok tok.
"Siapa?"
"Saya Non mbok Siti."
"Oh ya, silahkan masuk Mbok."
Mbok Siti masuk ke dalam. "Ini Non minumannya."
"Taruh dulu di meja Mbok."
"Baik Non." Mbok Siti meletakkan minuman tersebut di atas meja lalu keluar kamar tapi sebelumnya ia menutup pintunya terlebih dahulu.
__ADS_1
Nindy bangkit dari berbaringnya kemudian meneguk jus jambu kesukaannya. Setelah itu ia berbaring kembali.
Nindy mencoba menutup matanya tapi ia tidak bisa terpejam karena saat itu perjalanan hidupnya sejak bertemu Pras sampai pergi dari rumah Louis melintas dipikirannya.
Ada bulir air mata yang jatuh membasahi pipi. Mengapa setiap lelaki yang disukainya selalu membuatnya kecewa. Dulu Pras sekarang Louis.
"Tuan mengapa kau membuat pandangan ku terhadapmu berubah? Padahal aku sangat menyukaimu, tapi mengapa kau membuat ku kecewa?"
Nindy memejamkan matanya kembali. "Ya Tuhan aku pasrahkan semuanya padamu bukankah jodoh manusia itu ada di tanganmu. Semoga Engkau memberikan jodoh yang terbaik untukku siapapun dia."Nindy merapalkan doa dalam hati. Setelah itu barulah ia bisa tidur.
Setengah jam berlalu, Nindy Menggeliatkan tubuhnya. Meski cuma tidur sebentar tapi rasanya begitu puas mungkin karena tidurnya yang berkualitas.
Nindy masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci muka. Setelah itu ia pergi ke dapur menemui Mbok Siti dan Mbok Minah hendak membantu keduanya memasak.
"Nona mau apa ke sini?"
"Mau bantu-bantu lah Mbok untuk menyiapkan makan siang."
"Nggak usah lah Non biar si Mbl saja." Mbok Minah merasa tidak enak jika membiarkan anak majikan kerja sendiri di dapur.
"Ayolah Mbok Safa kan pengen belajar biar bisa memasak juga, biar tidak dibanding-bandingkan lagi sama ayah dengan kak Lisfi."
Mendengar perkataan Nindy kedua pembantu tersebut terenyuh. Apalagi mengingat sepertinya kedua majikannya itu terlihat lebih memperhatikan di sulung dibandingkan anak bungsunya ini.
"Ayo saya ajarin Non."
Nindy mengangguk. "Terima kasih ya Mbok atas pengertiannya."
"Iya Non."
Mereka bertiga pun berkutat di dapur untuk memasak menu makan siang. Bisa dibilang Nindy yang memasak semuanya karena kedua pembantunya hanya mengarahkan saja.
"Mbok dicicipi dong enak tidaknya!"
"Baiklah Non." Mbok Siti pun mencicipi satu demi satu masakan yang berhasil di buat oleh Nona-nya. "Sempurna!" ucap Mbok Siti dengan mengacungkan dia jempolnya.
"Beneran Mbok?" tanya Nindy sambil tersenyum sumringah.
"Beneran Non, sebenarnya Non hebat, sekali buat langsung mantap. Mungkin dulu-dulu Non nggak mau belajar jadi tiap masak rasanya hambar," Puji mbok Minah.
"Ah si Mbok jangan terlalu memuji ah, itu kan karena didekte oleh si Mbok kalau buat sendiri belum tentu bisa enak seperti ini."
"Kan bisa diingat-ingat Non takarannya. Nanti bisa coba sendiri saja tanpa bantuan Mbok.
"Iya nanti tak coba lagi Mbok," ujar Nindy sambil menyendok asem-asem daging.
"Beneran enak ya Mbok." Namun tiba-tiba ia termenung mengingat tadi pagi Louis memintanya agar ia bisa memasak menu yang satu Ini kalau nanti ia jadi istrinya.
Nindy tersenyum kecut. "Akh, palingan cuma kebetulan," batinnya.
"Kenapa Non?" tanya Mbok Siti karena melihat Nindy termenung.
"Nggak apa-apa Mbok cuma Nindy senang aja bisa masak seenak ini."
"Asal Nona mau belajar pasti Nona bisa memasak masakan yang lebih enak dari ini," ucap mbok Minah bangga.
"Ya sudah yuk Mbok kita tata saja di meja makan, mungkin bentar lagi ayah sama bunda datang."
__ADS_1
"Iya ayo Non."