
"Habis makan Mama mau ketemu klien Mama ya! Kalian di rumah sama Papa aja."
"Ikut Ma," rengek Tristan.
"Ya udah kalian siap-siap sana! Mama juga mau ganti baju dulu."
"Oke Ma." Kedua anak tersebut beranjak ke kamarnya.
Melihat semua orang mau pergi buru-buru Zidane membereskan meja makan dan ikut bersiap-siap.
"Lo Bapak mau kemana juga? Apa mau balik ke Indonesia?" tanya Isyana ketika melihat Zidane sudah rapi dengan pakaiannya. Isyana merasa lega bila akhirnya Zidane menyerah. Dia pikir Zidane sudah kapok menjadi pembantunya.
"Ya nggaklah, aku mau ikut kalian aja."
"Apa, mau ikut?"
Mengapa aku malah merasa semua orang ingin ngintilin aku.
"Ya biar ada yang jaga anak-anak saat kamu ngobrol dengan klien kamu," alasan Zidane.
"Lagipula kamu butuh sopir, kan? Ayo biar saya antar!"
"Baiklah."
Zidane masuk ke dalam mobil terlebih dahulu kemudian disusul Nathan.
"Mama duduk di depan aja ya sama Papa biar kami berdua di belakang," ucap Tristan sambil mendorong sedikit tubuh mamanya.
"Kita akan kemana?" tanya Zidane. Saat ini dia sudah duduk di belakang kemudi mobil.
"Ke restoran B," ujar Isyana.
Zidane pun melajukan mobilnya ke alamat yang disebutkan Isyana.
"Baiklah kita turun," ujar Isyana setelah sampai di depan restoran itu.
Mereka pun turun dan berjalan masuk ke dalam restoran. Sesampainya di dalam klien Isyana sudah menunggu.
"Kalian duduk di sana ya sama Papa kalian," ucap Isyana kepada kedua anaknya.
"Kenapa nggak bareng aja Ma?" tanya Tristan.
"Nggak boleh Sayang, nanti malah klien mama merasa terganggu."
"Baiklah kalau begitu, ayo Pa kita ke sana!"
Mereka berjalan ke meja yang terletak di sebelah tempat duduk Isyana dan duduk di sana. Memesan kue macaroon dan coklat panas adalah hidangan yang tepat di musim dingin seperti ini, apalagi mereka sudah selesai sarapan.
Isyana tampak serius berbicara dengan kliennya. Seorang lelaki muda dan tampan di hadapan Isyana tampak antusias dengan obrolannya setelah melihat desain baju yang Isyana sodorkan. Dia ingin memesan tiga pasang gaun pengantin untuk dirinya dan kekasihnya.
Setelah bernegosiasi tentang harga dan merasa cocok mereka memutuskan untuk bekerja sama.
"Baiklah kalau Anda cocok dengan rancangan saya besok Bapak boleh membawa calon istri Bapak ke butik untuk kami ukur."
"Baiklah deal ya," ucap pria tersebut sambil mengulurkan tangan untuk berjabat.
__ADS_1
Isyana menerima uluran tangan kliennya itu tapi tiba-tiba Zidane datang melepaskan jabatan tangan pria tersebut.
"Nggak usah lama-lama jabat tangannya!" ketus Zidane tanpa merasa bersalah.
Isyana melotot ke arah Zidane, tetapi yang dipelototi malah cuek bebek.
"Siapa?" tanya pria itu kepada Isyana.
Sebelum Isyana menjawab Zidane lebih dulu menjawab.
"Saya suaminya."
Untuk kedua kalinya Isyana memelototi Zidane, tetapi tetap saja pria itu pada ekspresinya tadi.
"Oh suaminya ya? Maaf tadi saya hanya berdiskusi tentang gaun pengantin yang akan saya pesan."
"Tidak perlu meminta maaf karena Anda tidak bersalah," ucap Isyana.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," lanjutnya.
"Tidak masalah, karena sudah tidak ada yang perlu dibicarakan saya permisi dulu. Sampai ketemu besok di butik Anda!"
Setelah mengatakan itu pria tersebut berlalu dari hadapan mereka.
"Bapak apa-apaan sih!" protes Isyana.
"Kalau tidak begitu pasti dia tidak akan melepaskan tanganmu."
"Terserah Bapak deh," ucap Isyana malas. Kemudian dia beranjak ke meja kedua anaknya.
"Iya Ma."
Akhirnya mereka kini menuju ke butik, tetapi hanya untuk mengantarkan mamanya karena setelah itu mereka memilih ikut Zidane kembali ke restoran tadi.
"Kenapa kita kembali ke sini Pa?" tanya Nathan.
"Papa mau menemui koki di sini untuk belajar masak."
"Memangnya Papa mau jadi koki ya?" tebak Tristan.
"Iya tapi koki khusus kalian," jawab Zidane sambil terkekeh.
"Papa ada-ada saja. Kami makan mie instan pun tidak apa-apa. Papa lihat saja di dapur stok mie instan kami banyak." Rupanya selera mereka seperti orang Indonesia. Mungkin karena mamanya orang pribumi asli jadi sedikit banyak mengenalkan makanan dari negerinya sendiri kepada kedua anaknya.
"Pokoknya kalian tidak boleh makan yang instan-instan nanti
kalian bisa sakit!"
"Asal tidak terlalu sering saya pikir nggak apa-apa Pa. Buktinya sampai sekarang kami masih sehat-sehat saja."
Zidane tidak menanggapi celotehan kedua putranya. Dia sekarang fokus menyetir.
Setelah sampai ke restoran Zidane langsung menghubungi manager dari restoran itu dan meminta izin untuk mendapat bimbingan langsung dari koki di sana.
Setelah mendapat bimbingan dari sang koki akhirnya Zidane sekarang membuat makanannya sendiri.
__ADS_1
Sore hari mereka pulang dengan membawa makanan hasil buatan Zidane sendiri. Hari ini dia banyak belajar membuat makanan namun dia hanya membawa soupe a I' oignon yaitu sebuah makanan khas Prancis yang terbuat dari daging sapi dengan campuran bawang sehingga makanan ini biasa disebut dengan sup bawang prancis. Dia juga memasak cassouleut, makanan ini juga makanan khas Prancis yang terbuat dari sosis dan kacang putih. Zidane membuat cassouleut ini atas permintaan kedua anaknya yang memang menyukai sosis dan segala bentuk olahannya.
Sampai di rumah ternyata Isyana telah lebih dulu pulang.
"Kalian dari mana saja kok sampai sekarang baru pulang?" tanya Isyana kepada kedua anaknya.
"Menemani Papa belajar masak," jawab Nathan.
Isyana hanya mengernyitkan dahinya, bingung.
"Papa nanti pas nyampe Indonesia mau buka cafe western food," timpal Tristan sambil terkekeh.
Sedangkan Zidane sedari tadi tidak fokus dengan pembicaraan mereka tapi lebih fokus melihat penampilan Isyana.
Saat ini Isyana memakai kaos pendek dan juga celana pendek selutut yang menampilkan kemulusan betisnya. Rambutnya juga dicepol ke atas yang menunjukkan leher jenjangnya yang putih dan mulus.
Zidane terkagum-kagum melihat Isyana. Bagi Zidane hari ini Isyana terlihat jauh lebih cantik. Jiwa kelelakiannya meronta-ronta. Dia sampai menelan salivanya melihat penampilan Isyana sekarang.
"Benar begitu Pak?" tanya Isyana.
"Ah. Apa katamu tadi?"
"Apakah benar Bapak berencana membuka cafe yang menjual western food?"
"Ti ... dak. Siapa yang bilang begitu?"
Melihat Zidane tidak fokus Isyana mengikuti arah pandangan Zidane. Ternyata Zidane sedari tadi tidak berkedip memandang dirinya.
"Ya ampun!" Isyana tersadar dengan pakaiannya sekarang. Buru-buru dia masuk kamar dan mengganti pakaiannya.
Dia keluar dengan pakaian yang lebih panjang.
"Kenapa kamu harus mengganti pakaianmu?" tanya Zidane.
"Maaf tadi saya lupa kalau ada pria dewasa yang tinggal di rumah ini. Seingat saya, saya hanya tinggal bertiga dengan anak-anak."
"Kenapa harus meminta maaf? Malahan aku lebih suka dengan pakaianmu yang tadi."
Isyana hanya diam.
"Kamu kelihatan lebih cantik dan seksi," bisik Zidane di telinga Isyana.
Mendengar pernyataan Zidane tubuh Isyana menjadi merinding.
"Eh, itu apa Pak?" tanya Isyana mengalihkan pembicaraan.
"Oh ini menu untuk makan malam kita nanti," ucap Zidane sambil menyodorkan paper bag ke arah Isyana.
"Ah tidak menyangka ternyata Bapak curang juga ya?"
"Mama tidak perlu khawatir, meskipun dimasak di luar, ini masakan asli buatan Papa," ujar Nathan.
"Ah benarkah?"
Bersambung....
__ADS_1
Kalau suka dengan cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak. Like, komen, Vote dan hadiahnya. Jangan lupa di share juga ya!๐