
Setelah kejadian di rumah sakit Ruri begitu marah pada Annete, dia marah karena merasa tertipu dan menganggap Annete hanya ingin mempermainkannya. Dia merasa dipermalukan di depan Angel.
Karena sakit hatinya itu Ruri berinisiatif untuk menghancurkan keadaan keluarga Annete dengan cara menghancurkan tokonya.
Awalnya Ruri membeli tanah di sekitar toko Annete kemudian juga membangun toko di sana. Dan toko tersebut menjual kue-kue yang harganya pasti lebih murah namun rasanya tidak kalah enak dari toko Annete. Bahkan ia sengaja menjual kuenya dengan harga miring karena dia sama sekali tidak berniat mencari untung dari penjualan kuenya tersebut, rugi pun tidak mengapa asal dirinya puas, niatnya hanya ingin mengambil pelanggan dari toko Annete sehingga lambat laun toko Annete menjadi berkurang pelanggannya. Hanya ada beberapa pembeli yang masih bertahan karena menganggap kue yang dibuat Johan rasanya berbeda dengan kue jenis yang sama yang dijual di toko Ruri.
Namun karena pelanggannya semakin berkurang seringkali kue-kue yang dibuat Johan harus berakhir dibagikan kepada para tetangga karena tidak laku. Otomatis bukannya bertambah penghasilan namun kadang modalnya tekor.
"Ayah apa yang harus kita lakukan?" tanya Annete.
"Lama-lama kita bangkrut kalau begini Yah," imbuhnya lagi.
"Kita mesti bersabar ya Net, kita coba untuk membuat kue yang tidak di jual di sana barangkali bisa lebih laris."
"Iya Yah bagaimana kalau sembari berdagang kue dan roti kita dagang sembako juga ya Yah!"
"Boleh kita coba Nanti."
Annete pun mencoba berdagang sembako namun apapun yang dijual di toko Annete pasti ditiru oleh Ruri tentu saja masih saja dengan harga yang miring.
"Kok Ruri nggak rugi sih Yah menjual dengan harga segitu?"
"Jelas itu rugi Nak tapi dia tidak perduli karena niatnya hanya untuk menghancurkan toko kita," jelas Johan.
"Kalau begini haruskah kita bertahan Yah?" tanya Annete.
"Sebaiknya ayah cari kerja di luaran saja," jawab Johan.
"Jangan Yah lebih baik saya yang cari kerja ayah bertahan saja dengan menjual kue-kue yang masih tidak bisa mereka tiru, toh penghasilan penjualan kue tersebut masih mencukupi kebutuhan hidup kita yang sederhana ini."
"Kamu yakin Nak? Kamu akan kerja apa?"
"Yakin Yah apapun Annete akan kerjakan asal pekerjaan itu halal."
"Maafkan ayah ya Nak sampai saat ini ayah belum bisa membahagiakan kamu."
"Seharusnya Annete yang ngomong gitu Yah, kalau ayah mah sudah bisa bikin Annete bahagia. Ketulusan ayah merawat Annete seorang diri sejak kecil itu sudah membuat Annete merasa bersyukur punya ayah seperti ayah Johan." Mendengar perkataan Annete Johan langsung memeluk sang anak.
"Terima kasih ya Nak atas pengertiannya selama ini."
"Iya Yah, mulai besok Annete akan usaha mencari kerja. Ayah doakan saja ya, semoga usaha Annete dipermudah oleh Tuhan, supaya lekas dapat pekerjaan."
__ADS_1
"Itu pasti Nak ayah akan selalu berdoa untuk kebaikan kamu."
Esok hari pun tiba sesuai rencana Annete mempersiapkan diri untuk melamar pekerjaan. Pagi itu dia pamitan pada sang ayah dengan semangat yang menggebu-gebu namun pulang dengan keadaan yang terlihat lelah dan tidak bersemangat. Johan sudah dapat menebak apa yang terjadi pada anaknya tersebut.
"Nggak diterima ya Net," tebak sang ayah.
"Hehe... iya Yah." ucapnya malah cengengesan. "Susah Yah cari kerja bagi lulusan SMA seperti saya," ujarnya kemudian.
"Kalau begitu ayah saja yang cari besok."
"Jangan-jangan Yah ayah sudah tua tidak baik bekerja di luar. Tenang saja Annete akan berusaha lebih giat lagi untuk mencari pekerjaannya."
"Makasih ya sayang," ujar Johan sambil mengecup kening sang anak.
"Sama-sama Yah, ayah sudah makan?"
"Sudah tadi, kamu belum?" Annete menggeleng.
"Kalau begitu ayo ayah temani." Annete mengangguk kemudian beranjak ke ruang makan.
Beberapa hari perjuangannya tidak berhasil namun suatu hari dia pulang dengan wajah yang sumringah.
"Alhamdulillah dapat Yah, tapi cuma jadi pengantar paket," ucapnya cemberut.
"Tidak apa-apa pekerjaan itupun baik," ujar sang ayah menyemangatinya.
"Ayah gimana penjualan kuenya?"
"Menurun drastis."
"Lo kok bisa Yah, apa sudah tidak ada yang berminat beli kue yang begituan?"
"Bukan begitu tapi di toko Ruri juga jual yang begituan."
"Lo kan kualitasnya nggak bakal sama Yah?"
"Gimana nggak sama ternyata Ruri mengajak bibi Rez kerja di sana jadi kan dia sudah tahu rahasianya."
"Sudahlah kalau begitu ayah beristirahat saja tidak usah jualan lagi mumpung sekarang Annete sudah kerja."
"Tapi Nak..."
__ADS_1
"Sudahlah Yah di umur ayah yang seperti ini lebih baik di rumah saja."
"Baiklah," ucap Johan hanya bisa pasrah.
Setelah mengetahui Annete mendapat pekerjaan Ruri terus saja mengikutinya.
"Oh, jadi pekerjaanmu seperti itu? Baiklah jangan berpikir kau akan bebas dari gangguan ku. Aku tidak akan membiarkan kau hidup tenang setelah ibumu berhasil membuatku kehilangan sosok seorang ayah," ucapnya penuh amarah.
Saat Annete mengantarkan paket pada salah satu pelanggan dan meminta tanda tangan pada penerima paket tersebut Ruri mengacak-acak bungkusan paket yang ada di sepeda. kemudian ketika Annete berbalik dia bersembunyi di balik sebuah gedung.
"Siapa yang melakukan ini semua?" pikir Annete. "Bukankah tadi tidak ada angin kencang yah?" bergumam sendiri sambil memunguti bungkusan paket yang terserak di jalanan.
"Semoga tidak ada yang rusak," batinnya. Setelah itu dia lalu melajukan motornya kembali untuk mengantarkan paket yang lainnya kepada penerimanya.
Berhari-hari ada saja ulah Ruri yang membuat Annete kesal bahkan terkadang dia harus bergerak lama dan mendapatkan teguran keras karena ban sepeda motornya selalu kempes saat bertugas sehingga selalu terlambat saat mengantar paket. Namun sejauh ini Annete masih baik-baik saja. Dia menikmati pekerjaannya tanpa mengeluh sedikitpun.
"Ayah, Ayah!" panggil Annete sambil berlari ke arah Johan.
"Ada apa sih Nak kok kayaknya girang banget, hem?"
"Ini Annete dapat gaji pertama," ujarnya sambil menunjukkan uang gajinya kepada Johan. Dia begitu bahagia karena kali ini merasa berguna.
Johan memeriksanya. "Lumayan," ucapnya sambil menyodorkan uang itu kembali pada Annete.
"Selamat ya Nak!"
"Terima kasih Ayah. Eh itu untuk ayah kenapa dikembalikan sama Annete?"
"Itu kan hasil kerja kamu Nak biar ayah minta buat belanja uang dapur saja selebihnya kamu pakai buat keperluan mu mungkin mau beli kosmetik, pakaian atau apalah."
Annete menggeleng kosmetikku masih ada Yah lagian aku tidak suka dandan," tolaknya.
"Ya sudah buat pegangan," ujar Johan.
"Aku mau minta buat uang bensin aja deh Yah."
"Ah, sudah separuh-separuh aja, separuh ayah yang pegang dan sebagian kamu yang pengang takutnya nanti ada apa-apa di jalan kamu mau minta siapa nanti."
"Baiklah Yah kalau begitu."
Bersambung....
__ADS_1