
Semenjak si kembar dan Zidane mengetahui bahwa hubungan mereka adalah ayah dan anak keduanya menjadi sangat dekat dan suka menghabiskan waktu bersama. Oleh karena si kembar sudah bahagia Annete meminta izin kepada Isyana untuk lebih banyak tinggal di rumah Adrian bersama Adel karena merasa Adel lebih membutuhkan perhatiannya sekarang dibanding si kembar. Isyana pun tidak keberatan apalagi dia tahu bahwa Adrian itu adalah sahabat Zidane.
Lama-kelamaan tinggal bersama membuat hati Adrian semakin mencintai Annete dia kadang berpikir untuk memberitahukan perasaannya itu kepada Annete segera. Namun ia tahan sampai iya benar-benar yakin bahwa dirinya memang mencintai Annete bukan karena mirip Anisa ataupun jiga karena Annete rela merawat Adel. Dia pun masih ragu dan juga takut Annete menganggapnya menyukainya karena wajahnya yang mirip dengan Anisa. Walaupun sebenarnya Adrian lebih menyukai attitudenya dibanding fisik dari Annete. Apalagi Annete selalu siap siaga ketika Adel membutuhkannya. Bahkan ketika Adel harus keluar masuk rumah sakit Annete tidak pernah absen mendampingnya untuk menjaga Adel.
"An kamu pulang saja dulu ya biar Adel saya yang menjaga," ucap Andrian tempo hari di ruang rawat rumah sakit.
"Tidak Mas aku mau jaga Adel di sini sampai iya diperbolehkan pulang."
"Tapi An kamu juga butuh istirahat. Kalau kamu di sini terus kamunya juga bisa sakit." Adrian tidak tega melihat kondisi Annete yang terkadang sampai tidak memperhatikan dirinya sendiri hanya karena terlalu mengkhawatirkan Adel.
"Nggak papa Mas aku bisa istirahat di sini kok sambil jaga Adel."
"Tapi istirahat di sini dengan istirahat di rumah itu beda An. Kalau di sini istirahat kamu bisa terganggu."
"Justru kalau istirahat di rumah aku tidak bisa tenang Mas. Aku khawatir terjadi sesuatu sama Adel." Annete masih ngotot.
Mendengar ucapan Annete hati Adrian terenyuh. Sebegitu sayangkah Annete pada Adel sedangkan ibunya sendiri saja tidak pernah peduli padanya. Apalagi yang harus dia ragukan pada ketulusan Annete? Jika seorang wanita bisa menyayangi anak orang lain dengan begitu tulusnya bukankah dia akan lebih tinggi kasih sayangnya pada anaknya sendiri nanti. Bagi Adrian Annete terlalu sempurna untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu. Terus apa yang harus diragukan Adrian lagi. Apakah perasaannya sendiri? Bukankah bertahun-tahun hidup bersama Anisa setelah dia ketahuan selingkuh hati Adrian sudah mati? Bahkan dia sebenarnya jijik menyentuh tubuh Anisa. Terus sekarang ketika dia menyukai Annete haruskah dia dikatakan menyukainya hanya karena wajahnya yang mirip Anisa?
"Tidak itu tidak benar, aku mencintai Annnete bukan karena mirip Anisa, bukan." Adrian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ya aku harus jujur sama Annete tentang perasaanku terhadapnya. Tidak perduli jawabannya apa yang penting aku bisa lega kalau sudah mengatakannya. Ya walaupun aku sangat berharap dia mau menerimaku."
"Tapi aku harus mencari momen yang tepat untuk mengungkapkan semuanya karena sekarang Adel masih sakit." Sedari tadi Adrian bermonolog sendiri dalam hati. Bukannya berat dengan keadaan Adel malah berat dengan perasaan sendiri.
"Mas aku ngantuk mau tidur dulu, kamu yang jaga Adel ya." Ucapan Annete membuyarkan lamunan Adrian.
"Ah iya kamu istirahat saja kamu pasti lelah setelah seharian menjaga Adel." Seharian ini Annete memang menjaga Adel seorang diri karena Adrian dituntut pekerjaannya.
Annete menggangguk. "Nanti kalau Adel terbangun aku dibangunin ya Mas tadi Adel tidur sebelum minum obat." Adrian hanya mengangguk ke arah Annete.
Beberapa saat setelah Annete terlelap Adel membuka mata. "Ayah sudah pulang?"
__ADS_1
"Iya sayang, kata Tante An kamu belum makan dan minum obat ya?"
"Iya Ayah, tante mana?"
"Itu." Adrian menunjuk ke arah Annete. "Jangan diganggu ya dia baru saja tidur. Kasihan kalau harus bangun lagi. Sekarang ayah saja yang nyuapin Adel." Adel mengangguk tanda setuju. Adrian pun melakukan tugasnya menyuapi Adel kemudian membantu putrinya minum obat.
"Sudah ya kamu istirahat lagi!" suruh Adrian.
"Adel sudah tidak mengantuk lagi Yah."
Yaa...padahal mata Adrian sudah mengantuk dari tadi tapi dia tahan karena kasihan sama Annete tapi sekarang setelah minum obat Adel yang malah tidak mengantuk lagi. Terpaksa Adrian menemani Adel mengobrol walaupun matanya sudah terasa berat. Namun di tengah pembicaraannya dengan Adel, Adrian tidak bisa menahan kantuknya lagi. Memang karena kesibukannya beberapa hari ini melakukan tugas sebagai dokter ditambah juga merawat sang putri membuat tubuh Adrian lelah karena jarang tidur.
"Ayah, Yah!" panggil Adel karena ayahnya tertidur. Namun bukannya Adrian yang terbagun malah Annete yang bangun.
"Adel kamu sudah bangun?"
"Iya Tante."
"Sudah tadi sama ayah."
"Tapi kok belum tidur lagi? Ini sudah larut malam loh."
"Iya Tante Adel paham tapi Adel tadi mencoba tidur lagi tapi tidak bisa, jadi Adel minta ayah nemenin Adel ngobrol nggak tahunya malah kayak gitu." tunjuk Adel pada Adrian yang sudah terlelap.
Annete menoleh ke arah Adrian yang kini sudah terbang ke alam mimpi. Annete menggelengkan kepala melihat Adrian yang sudah terlelap bahkan terdengar suara dengkuran dari mulutnya.
"Hmm, katanya mau jaga Adel nggak tahunya malah tidur sendiri," protes Annete dalam hati.
"Ya sudah biar Tante yang temani, ayah pasti capek seharian kerja."
"Nggak usah deh Tante, Tante tidur aja lagi biar Adel coba pejamkan mata kali aja kini sudah bisa tidur. Tante Annete juga capek kan?"
__ADS_1
"Nggak apa Del biar Tante temani sampai Adel tidur lagi. Tante kan sudah sempat tidur tadi jadi sudah tidak begitu ngantuk."
"Tapi Tante, Tante kan selama ini sudah kurang istirahat jadi malam ini Tante harus...."
"Sudah Del nggak apa-apa, Tante temani Adel saja."
"Tante kapan orang tua Nathan dan Tristan menikah?"
"Mungkin beberapa hari lagi, kenapa Adel mau hadir?"
"Iya Tante Adel sudah janji sama mereka bakalan hadir."
"Iya nanti Adel bisa hadir kalau sudah sembuh makanya harus semangat biar cepat sembuh."
"Enak ya Tante bentar lagi Nathan dan Tristan punya mama sama papa. Nah Adel cuma punya ayah." Adel menunduk sedih.
"Siapa bilang Adel cuma punya Ayah, kan Adel sekarang sudah ada Tante yang juga sayang sama Adel."
"Emang Tante mau jadi bunda Adel?"
Annete memandang Adrian terlebih dulu untuk memastikan bahwa Adrian tidak akan mendengar ucapannya karena takut terjadi kesalahpahaman. Setelah dirasa aman karena ternyata Adrian masih terlelap Annete mengangguk. "Iya mulai sekarang Adel bisa panggil Tante bunda oke?"
"Benar Tante?"
"Iya sayang."
"Makasih ya Tante, eh Bunda." Adel tersenyumanis, Annete hanya mengangguk.
Seberkas senyum terbit dari bibir Adrian kala mendengar jawaban Annete. Rupanya dia bangun tadi ketika Adel bertanya apakah Annete mau jadi bundanya namun Adrian berpura-pura masih tertidur. Dalam hati dia berniat untuk menyiapkan kejutan romantis untuk melamar Annete nanti.
BERSAMBUNG .....
__ADS_1