Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 41. Mereka Juga Putraku


__ADS_3

"Habisnya nanti sore paman Zidane ngajak nemuin mama di Paris. Jadi sebelum itu terjadi kami ingin tahu dulu hasil tes DNA-nya."


"Apa?!"


"Aunty jangan keras-keras ah nanti uncle sama opa denger!"


"Terus aunty gimana?"


"Aunty tinggal sama Adel aja kayaknya Adel masih butuh Aunty untuk menyemangati hidupnya."


"Nggak ah aunty mau pulang aja ikut kalian."


"Jangan Aunty! Pasti bakal nggak boleh sama Paman Zidane."


"Kalau begitu aunty mau nempatin apartemen kalian aja."


"Jangan! Masa kami belum nempatin malah Aunty yang nempatin duluan. Berarti yang dapat perawannya kamar apartemen kita mah aunty kita dapat bekasnya."


"Heleh! Kamar apartemen kok ada perawannya. Bilang aja kalian pelit! Sudah kalau begitu pergi aja sana sendiri!" Annete cemberut pura-pura kesal.


"Aunty! Aunty marah ya? Maaf kami kan cuma bercanda. Kalau begitu Aunty boleh tinggal di apartemen," ucap Tristan merayu.


Padahal kami kan cuma mau bikin Aunty deket sama Adel.


"Nah gitu dong! Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit!"


"Let's go!"


Sampai di rumah sakit dokter Adrian menyambut mereka karena sebelumnya Annete telah menelpon dan menyampaikan keinginan keduanya.


"Ini hasil tesnya!" Dokter Adrian menyodorkan kertas tersebut ke arah mereka.


Nathan dan Tristan berebut untuk membukanya.


"Nggak usah berebut nanti kalo sobek Om dokter tidak mau tanggung jawab!" ucap Adrian.


"Atan ini ih!" Tristan membuka amplop dan membaca kertas tersebut.


Mereka menganga melihat hasil tes DNA tersebut memperlihatkan kecocokan antara Zidane dengan Nathan dan Tristan.


"Apakah ini benar Om?"


"Iyalah masa salah. Om dokter sampai ikut mengawasi proses tes DNA ini demi kalian."


"Yeee... terima kasih Om!" Mereka memeluk Adrian karena teramat senang.


"Ingat janji kalian!" Adrian mengingatkan.


"Iya Om tapi untuk beberapa hari ini kami izin nggak bisa nemenin Adel dulu karena mau ikut papa kami menemui mama."


"Wah kalian sudah punya papa ya?" goda Annete.


Mereka berdua tersenyum malu.


"Karena kalian mau


pergi dengan papa kalian apakah aunty kalian bisa tinggal dengan kami?"


"Kalau itu sih terserah aunty Om dokter, tadi kami sudah menyarankan begitu tapi Aunty tidak mau."


"Benar Tante nggak mau tinggal sama Adel?"


"Bukan begitu sayang tapi Tante nggak ...."


"Kalau begitu Tante harus mau tinggal sama Adel."


"Iya deh iya Tante akan tinggal di sini sama Adel sampai mereka pulang."

__ADS_1


๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ


Paris.


"Kamu kenapa sih Dek, kok senyum-senyum sendiri?"


"Ah ini Kak ada chat nyasar. Ya udah aku ladenin aja itung-itung sebagai hiburan."


"Hiburan?"


"Iya Kak soalnya saya kesepian tidak ada si kembar. Sini deh Kak! Nih kakak lihat sendiri chattannya. Lucu ya Kak ini orang kayaknya gak bisa merayu tapi kelihatannya dipaksakan."


"Iya yah pantes aja kakak lihat kamu dari tadi senyum-senyum bahkan kadang sampai ngakak sendiri. Ternyata nih orang konyol sekali. Eh tapi kenapa kamu nggak ngehubungi anak-anak aja?"


"Mereka pasti udah tidur Kak sekarang kan sudah jam berapa. Apalagi di sana waktunya kan lebih cepat. Mungkin di sana sudah dini hari."


"Iya juga ya. Ngomong-ngomong benar kamu nggak kenal sama nomor ini?"


"Beneran nggak tahu Kak."


"Yasudah biar kakak cek di ponsel kakak saja kali aja nomor itu ada di kontak kakak."


Lusy mengetikkan nomor tersebut ke ponselnya sendiri ternyata yang muncul adalah nama Zidane.


"Dek lihat ini!"


"Apa sih Kak?"


"Ternyata pemilik nomor ini adalah pak Zidane."


"Pak Zidane siapa sih Kak?"


"Ya Zidane ayah dari anak-anak kamu."


"Ah kakak bercanda ya! Mana mungkin? Darimana dia tahu nomor Syasa?"


"Ya mana kakak tahu. Yang jelas nomor ini adalah nomor pak Zidane pemilik Dirgantara group. Nomor ini dulu mas Edward yang kebetulan nge-save di ponsel Kakak."


"Kenapa muka pucat begitu?"


"Habisnya tadi pas dia ngaku-ngaku sebagai suami aku. Aku malah dengan santainya mengatakan bahwa aku tidak punya suami."


"Apanya yang salah? Kan emang kamu tidak punya suami."


"Masalahnya pas saya ketemu dia beberapa waktu yang lalu, saya mengatakan kalau saya sudah bersuami tapi sekarang saya malah mematahkan pengakuanku sendiri."


"Jadi kamu sempat ketemu dia?"


Isyana mengangguk pelan.


"Terus apa yang dia lakukan pas lihat kamu?"


"Tuh orang aneh Kak masak datang tiba-tiba ngajak nikah."


"Kok aneh sih? Bukannya malah bagus?"


"Iya aneh lah kenal dekat nggak, tiba-tiba ngajak nikah nggak inget apa dulu dia ngehina aku pas aku minta pertanggung jawaban. Dia pikir semua bisa dibeli dengan uang. Dia pikir aku nggak punya harga diri apa?"


"Sudahlah Dek yang dulu nggak usah diungkit barangkali dia sudah berubah. Lagian Kakak yakin dalam hati kamu ada nama dia kan?" tebak Lusy.


"Nggak lah Kak, kakak ngaco aja."


"Kamu bisa bohong sama kakak tapi kamu tidak bisa bohong pada dirimu sendiri. Kalau kamu memang tidak mengharapkan dia kenapa kamu selalu menolak laki-laki yang ingin mendekatimu?"


"Lexi, kurang apa Lexi? Tampan iya mapan juga iya apalagi dia dekat dengan anak-anak sejak kecil. Apa alasan kamu kalau memang bukan di hati kamu ada yang lain?"


Isyana terdiam, mencoba mencerna ucapan Lusy. Bahkan alasannya selama ini yang ingin fokus pada kedua anaknya dan tidak ingin memberikan ayah tiri untuk mereka terkesan berlebihan. Bukankah Lexi pantas menjadi ayah tiri? Apalagi kedua anaknya dekat dengan Lexi, tapi kenapa hati Isyana menolaknya? Apa benar kata Lusy dirinya masih mengharapkan Zidane?

__ADS_1


"Ah nggak tahu lah Kak, Syasa mau tidur aja."


"Baiklah kakak balik aja, tapi ingat ya ikuti kata hati kamu!" ucap Lusy setengah berteriak.


...****************...


Hari sudah siang namun cuaca di luar sangat dingin karena bulan ini masih musim dingin. Dua hari ini turun salju meskipun tidak begitu tebal namun cukup membuat malas Isyana untuk keluar rumah.


Isyana memilih bergelung dengan selimutnya. Dingin di luar seolah menusuk ke tulang-tulang.


Lama bermalas-malasan Isyana merasa bosan dia mengambil kertas dan pensilnya menyelesaikan desain baju yang akan digarapnya.


Ting-tong Ting-tong. Tiba-tiba bel rumah berbunyi.


"Siapa sih yang bertamu di saat cuaca dingin seperti ini?" Dengan langkah malas ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dia tercengang melihat kedua anaknya yang kini berpakaian tebal ada di hadapannya.


"Nathan! Tristan! Benarkah ini kalian Nak?"


"Iya Ma, ini kami." Kedua anak tersebut berhamburan ke pangkuan Isyana.


"Nathan kangen Ma."


"Itan juga Ma."


"Mama juga sayang."


"Ngomong-ngomong kalian bareng siapa? Uncle?"


"Bukan Ma."


"Aunty?"


"Bukan Ma."


"Terus sama siapa dong? Masa sih kalian sama opa?"


"Bukan Ma tapi sama Papa." Sebelum berangkat Zidane mewanti-wanti keduanya supaya memanggil dirinya 'Papa'.


"Papa? Maksud kalian?"


Bersamaan dengan itu Zidane muncul ke hadapan Isyana.


Isyana menutup mulutnya yang reflek menganga karena terkejut dengan kedua telapak tangannya.


"Pak Zidane? Apa maksud dengan semua ini? Kenapa mereka memanggil Anda dengan sebutan papa?"


"Memangnya cuma kamu yang ingin dipanggil mereka dengan sebutan Mama akupun pengin lah di panggil mereka dengan sebutan papa."


"Tapi aku kan ibu kandungnya jadi pantaslah kalau mereka memanggil aku dengan sebutan Mama."


"Dan aku adalah ayah kandung mereka jadi apa salahnya mereka memanggil aku dengan sebutan papa."


"Kamu...,"


"Apa? Kamu mau mengatakan bahwa anakku sudah mati? Atau kamu mau mengatakan bahwa mereka adalah anakmu dengan suamimu?"


"Kamu ngaco ya!"


"Siapa yang ngaco? Bahkan aku punya bukti bahwa mereka adalah putraku juga."


"Apa buktinya?"


Zidane mengambil hasil tes DNA dan menyerahkan kepada Isyana.


Dengan tangan gemetar Isyana meraih kertas yang di ulurkan Zidane.


"Tidak mungkin, Nathan kenapa kalian melakukan ini di belakangku?"

__ADS_1


Bersambung...


Senin jangan lupa vote-nya ya!๐Ÿ™


__ADS_2