Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 105. Pelajaran Biologi


__ADS_3

Suatu malam Naura menghubungi Lexi sambil menangis sesenggukan. Ketika ditanya mengapa ia mengatakan merasa tertekan tinggal di kediaman Zidane. Bukan karena apa dia merasa orang-orang yang tinggal di situ seolah memaksa dia mengakui bahwa dirinya adalah putri Lana. Pada kenyataannya sebenarnya mereka hanya ingin memancing daya ingat Naura agar bisa kembali dan mengingat semuanya. Namun Naura salah mengartikan atas semuanya.


Lexi yang melihat istri kecilnya menangis sesenggukan lewat video callnya langsung meminta izin kepada orang tuanya untuk terbang hari itu juga dan akan tinggal di Jakarta untuk batas waktu yang tidak bisa dipastikan. Beruntung kedua orang tuanya sangat paham apalagi mereka juga mengerti selama ini Lexi hanya bisa melihat wajah istrinya lewat layar ponsel. Mereka pikir pasti putranya sangat merindukan menantunya itu.


Setelah tiba di bandara Lexi tidak pergi ke apartemennya terlebih dulu tapi langsung menyuruh sopirnya mengantarnya ke rumah Zidane. Ia begitu khawatir takut istrinya itu menjadi stres.


"Lex, kapan kamu ke sini kok nggak ngasih kabar?" sapa Isyana ketika melihat Lexi dipersilahkan masuk oleh pembantunya.


"Baru sampai kok Sya, aku langsung ke sini."


"Ada apa ya kok kamu kelihatan khawatir?"


"Ah tidak apa-apa, Naura mana?"


"Wah kayaknya ada yang mau kangen-kangenan nih," goda Isyana.


"Oh ya Naura ada di kamarnya. Enggak tahu kenapa akhir-akhir ini dia sering murung dan menyendiri di kamarnya. Padahal biasanya dia sering ngumpul-ngumpul bareng sama kita."


"Aku ke sana ya!"


"Oh ya silahkan dan aku pergi dulu ya!"


"Iya. Mau kemana Sya?"


"Biasa mau menghadiri kelas ibu hamil dulu."


"Sendiri?"


"Ah nggak nanti sama Mas Zidane, sebelum berangkat aku mau nyamperin dia di kantornya dulu. Udah dulu ya Lex."


"Iya iya."


Lexi pun berjalan menuju kamar Naura sedang Isyana pergi mengikuti kelas ibu hami.


"Om!" pekik Naura ia begitu senang melihat kedatangan sang suami. Lexi pun merentangkan kedua tangannya agar wanitanya masuk ke dalam pelukannya.


Naura pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu ia langsung masuk ke dalam pelukan sang suami.


"Om kangen," ucapnya sambil mendongakkan kepala melihat wajah lelaki yang telah lama ia rindukan.


"Om juga kangen," ucap Lexi sambil mengacak-acak rambut Naura gemes.


"Om bawa aku pergi dari sini," pintanya.


"Dibawa kemana?"


"Kemana saja deh terserah Om, yang penting bawa aku keluar dari tempat ini. Lama-lama aku stres kalau terus tinggal di sini."


"Yakin nggak bakalan kangen sama si twins? Aku lihat kamu tuh sama mereka seperti Upin, Ipin dan kak Rose."


"Ah Om ngeselin, nggak lucu ah! Emang aku galak kayak kak Rose apa?" Naura cemberut.


"Iya kadang-kadang." Lexi terkekeh sedang Naura mencebik kesal.


"Orang aku kalem dibilang galak," gumam Naura.


"Entar kalau aku kangen sama mereka kan tinggal samperin mereka ke sini ataupun ke sekolah mereka," lanjutnya.


"Mau ikut ke Paris?" tawar Lexi. Naura menggeleng.


"Entar aja Om kalau sudah lulus sekolah."


"Kenapa? Kan kamu bisa pindah sekolah."


"Tanggung Om nggak nyampek setahun aku juga bakal lulus."


"Cih, tanggung apa kepikiran sama sahabat-sahabat Lo?"


"Hehe...dua-duanya sih Om," ucap Naura sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Ya udah kalau begitu kita tinggal di apartemen aja." Naura mengangguk.


"Sebentar ya aku izin dulu sama orang-orang di sini, nggak enak kan kalau aku tiba-tiba langsung memboyong kamu pergi."


"Iya Om aku tunggu di sini ya sambil kemas-kemas baju."


"Oke."


Lexi lalu menemui Lana kebetulan di sana juga ada Laras dan Alberto.


"Kebetulan," ucap Lexi. Dia langsung menghadap mertuanya dan meminta izin untuk membawa Naura pergi namun suatu saat dia berjanji pasti akan membawa istrinya menemui Lana.


"Silahkan dibawa Nak Lexi, Mama tidak berhak melarang kamu membawa istri kamu tapi Mama minta kamu hati-hati ya ngadepin dia ternyata dia itu anaknya terlalu sensitif dan pemikirannya masih bisa dibilang masih belum dewasa."


"Iya Ma."


"Baiklah kalau begitu Mama titipkan dia sama kamu. Jangan bikin dia kecewa dan jangan pernah menyakitinya ya."


"Iya Ma."


Lana menepuk bahu Lexi sambil berkata, "Bawalah! Mama percayakan dia padamu."


Lexi mengangguk lalu beralih ke hadapan Lana dan Alberto.


"Nyonya dan Tuan saya ucapkan terima kasih karena telah menampung istri saya di sini dan sekarang saya minta izin membawanya pergi."


"Lakukan apa yang menurutmu baik dan satu hal tolong jangan panggil kami Tuan dan Nyonya karena sekarang kami juga mertua kamu," ujar Alberto.


"Panggil saja Paman dan Bibi," sambung Laras.


"Baik Paman dan Bibi."


"Sudah izin sama Isyana dan Zidane?" tanya Laras.


"Belum biar nanti Lexi hubungi lewat telepon sama si twins sekalian."


"Baiklah kalau begitu."


"Tidak Nek masih di sekitaran sini kok mungkin tahun depan saya baru akan membawanya ke Paris."


"Oh." Nenek Nisa merasa lega.


"Permisi semuanya." Lexi berlalu dari hadapan semuanya dan kembali bersama Naura untuk menyalami semua. Setelah itu mereka pun pamit pergi.


Sebelum membawa Naura pergi ke apartemennya Lexi terlebih dahulu mengajak Naura berbelanja di supermarket untuk mengisi kulkas dan bahan-bahan di dapur. Setelah sampai di apartemen Naura langsung membantu Lexi menata belanjaannya.


"Capek juga ya Om," ujar Naura sehabis menata barang-barang di dapur.


"Kalau capek langsung istirahat saja di kamar."


"Gimana mau istirahat Om, baju Naura belum ditata ini. Oh ya kamar Naura yang mana?"


"Terserah kamu pilih kamar yang mana."


"Hm, kalau itu kan kamar Om Lexi berarti kamar Naura yang satunya ya."


"Iya terserah kamu, tidur bareng juga boleh," kelakar Lexi.


"Ah nggak ah nanti aku diapa-apain lagi sama Om Lexi."


"Emang aku mau ngapain kamu? Ih otakmu ngeres aja," ucap Lexi sambil memencet hidung Naura.


"Sakit Om," rengek Naura manja.


"Sudah sana katanya mau menaruh pakaianmu? Apa perlu Om bantuin?"


"Tidak usahlah Om aku bisa sendiri kok."


"Ya udah Om mandi dulu ya!"

__ADS_1


"Iya." Naura berlalu masuk ke kamarnya sendiri dan Lexi pun juga masuk kamarnya untuk mandi.


Sehabis mandi Lexi beranjak ke dapur ingin membuat kopi tapi ternyata Naura sudah lebih dulu ada di sana.


"Ini kopinya Om," ucap Naura sambil mengulurkan kopinya ke arah Lexi.


"Wah roman-romannya istri idaman ini tahu aja apa yang suami mau," goda Lexi.


Naura mencebik. "Om mau dimasakin apa?"


"Emang kamu bisa masak? Kalau nggak bisa biar Om pesan online aja besok baru saya akan memanggil bibi untuk masak.


"Bisalah Om sedikit-sedikit."


"Ya udah kalau bisa masakin aja sesuai keinginan kamu nanti Om pasti makan kok."


Akhirnya Naura berkutat dengan memasaknya sedang Lexi memeriksa pekerjaannya. Meskipun diserahkan ke daddy Abraham, Lexi tidak mau lepas tanggung jawab begitu saja. Jadi dia tetap akan membantu daddy-nya walaupun dari jauh.


##


Sudah tiga bulan Naura tinggal bersama Lexi dalam satu apartemen namun dalam kamar yang berbeda.


Hari ini kran kamar mandi di kamar Lexi rusak dan sudah dari pagi tadi tukang yang dia panggil belum datang juga akhirnya dia terpaksa masuk ke kamar mandi di kamar Naura. Naura yang lagi asyik menyetel kaset tidak sadar bahwa Lexi masuk ke kamarnya.


Setelah Lexi selesai mandi dia keluar saja dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan menghampiri Naura.


"Lagi ngapain? Kok sepertinya asyik."


"Wah Om terima kasih banget ya ternyata Om mengadaptasi komik saya menjadi film kartun." Naura terharu sekali ternyata hadiah diberikan di hari ulang tahunnya adalah komik yang diadaptasi menjadi kartun. Entah bagaimana caranya Lexi melakukannya apakah bekerjasama dengan app tempat Naura mempublikasi komiknya ataupun dengan cara yang lain Naura tidak perduli yang jelas saat ini Naura merasa bahagia.


"Iya." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Lexi.


"Terima kasih juga boneka pinguin nya. Om tahu darimana aku suka boneka itu?"


"Rahasia."


"Om kok rahasia sih Om?" protes Naura sambil menoleh ke arah Lexi.


"Oh my God, Om!" Reflek Naura menutup mulut melihat penampakan Lexi saat ini. Bagaimana tidak, penampakan perut Lexi yang six pack membuat Naura hampir meneteskan air liur.


"Om kok pakai begituan sih?" Pura-pura protes untuk menyamarkan kegugupannya.


"Aku kan lagi mandi di sini apa kamu tidak dengar suara air tadi?" Naura menggeleng sambil menelan ludah.


"Apa, mau pegang?" Lexi menggoda Naura dan wajah gadis itu kini berubah memerah bak kepiting rebus. Tanpa persetujuan Naura Lexi memegang tangan Naura dan menyapukannya ke perutnya sendiri.


Bukannya Naura yang tergoda tapi malah dirinya yang ketagihan dengan sentuhan tangan Naura yang membuat dirinya menggelinjing geli bercampur nikmat. Reflek gairah nafsunya berkobar sudah dan sekarang malah tangan Lexi tidak dapat dikendalikan menjelajahi tubuh Naura.


"Om geli protes Naura." Namun Lexi tidak memperdulikan ucapan gadis itu malah tangannya bergerak semakin nakal.


"Om mau ngapain sih?"


"Kamu pernah belajar biologi?" Malah bertanya.


"Iya dulu waktu SMP."


"Sekarang?"


"Tidak lagi."


"Oke kalau begitu Om yang akan ajarin kamu."


"Hah!" Naura kaget bercampur bingung.


"Om akan ajarin kamu pelajaran Biologi bab reproduksi." Naura menganga mendengar penuturan Lexi.


"Sekarang langsung praktek," ucap Lexi sambil menarik Naura dalam pelukannya.


"Om?"

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, hadiah, vote, rate bintang lima dan favorit tentunya. Terima kasih🙏 Love you all.💓


__ADS_2