Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 63 Wedding (Part 1)


__ADS_3

Hari perhelatan pun hampir digelar, tampak di depan kediaman Zidane beberapa papan ucapan selamat sudah bertengger.


Ketika memasuki pintu utama suasana hikmat langsung terasa. Alunan suara musik mulai terdengar merdu.


Memasuki area taman belakang nampak di suatu sudut pelaminan yang tertata dengan apik dan indah. Di depan pelaminan ada sebuah meja dengan dikelilingi kursi-kursi secara melingkar tempat melaksanakan ijab Qobul.


Beberapa kursi dan meja tamu undangan pun sudah tertata sedemikian rupa di sepanjang jalan menuju pelaminan. Meja prasmanan pun sudah terisi secara sempurna.



Sedangkan di salah satu kamar nampak Isyana yang sedang gugup. Dia tampak menarik nafasnya yang panjang. Jantungnya berdetak tidak karuan. Walaupun dia sudah memiliki putra tapi ini adalah momen pertama baginya. Apalagi sesi mendandani dirinya semenjak jam lima pagi belum kelar-kelar.


"Mbaknya santai aja nggak usah gugup," ucap seorang mua yang merias dirinya tatkala melihat Isyana menggesek-gesekkan tangannya yang terasa dingin.


"Wah mama cantik sekali," puji kedua putranya yang sekarang matanya tampak berkaca-kaca karena bahagia.


"Sini sayang peluk dan cium mama," pinta Isyana. Mengharapkan kegugupannya hilang ketika memeluk dan mencium kedua putranya.


"No mama peluk aja ya nggak usah cium nanti make up-nya rusak kan kasihan sama mbaknya," ucap Tristan.


"Oke."


Dan mereka bertiga saling berpelukan.


Tak jauh berbeda dengan Isyana Zidane malah terlihat lebih gugup darinya. Sudah beberapa hari dia belajar mengucapkan ijab qobul bersama Dion dan lancar tetapi dia masih takut karena bisa saja setelah sampai waktunya dia malah melakukan kesalahan.


"Santai Pak, kalau gugup nanti bapak bisa lupa," saran Dion.


"Ayo kita coba lagi," lanjutnya.


Zidane mengangguk kemudian mulai berlatih lagi.


Selang tidak begitu lama para undangan pun mulai berdatangan. Mereka kemudian mengisi kursi-kursi yang kosong.


"Hadirin yang saya hormati terutama yang masih ada di luar diharapkan segera masuk dan mengisi tempat-tempat yang sudah disediakan karena acara akan segera di mulai." Terdengar suara seorang MC dari salah satu sudut taman.


Setelah semua undangan mengisi tempat-tempat yang disediakan beberapa saat kemudian sang pengantin melangkah ke pelaminan diiringi kedua putranya beserta para keluarga.


Para tamu berdiri menyambut kedatangan mempelai. Mereka terpesona dengan penampilan mempelai wanita yang nampak cantik dan anggun dengan gaun pernikahan berwarna putih. begitupun dengan pengantin pria yang nampak gagah dan tampan dengan balutan setelah jas hitam. Sang pengantin duduk di kursi di bawah depan pelaminan dengan dikelilingi keluarga dan pak penghulu dan juga seorang Qori.



Setelah diadakan acara penyambutan oleh kedua keluarga mempelai, sesaat setelah itu terdengar suara qori yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dilanjutkan dengan khotbah nikah.


Kemudian tibalah saat acara ijab qobul. Sang penghulu bertanya pada mempelai pria.


"Bagaiman sudah siap?" tanya pak penghulu.


Zidane menarik nafas panjang lalu menghembuskan mencoba memantapkan hati dan menghilangkan kegugupan.


"Siap Pak."

__ADS_1


"Oke kalau begitu kita mulai, silahkan Pak!"


Atmaja mengangguk lalu mengulurkan tangan di sambut oleh jabatan tangan Zidane.


"Saya nikahkan ananda Zidane Alberto dengan anak kami yang bernama Isyana Atmajaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat lengkap beserta gelang berlian seberat 10 gram dibayar tunai."


Dengan satu kali hentakan Zidane langsung menjawab, "Saya terima nikah dan kawinnya Isyana Atmajaya binti Atmajaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


Bukan tanpa alasan Zidane dan Isyana memilih mas kawin gelang. Selain karena dia sudah memakai kalung bundanya, ada banyak mitos dan fakta dalam masyarakat bahwa gelang adalah simbol keabadian( gelang yang melingkar secara tidak terputus dianggap sebagai simbol bahwa hubungan mereka tidak akan putus sampai akhir hayat), pembawa keberuntungan dan kemakmuran, ikatan spiritual dan lain-lainya walupun mereka tidak seratus persen percaya karena bagaimanapun takdir manusia hanya berada di tangan Allah SWT dan berat 10 gram yang dipilih karena mereka menikah pada tanggal sepuluh.


"Bagaimana para saksi, apakah sah?"


"Sah."


"Sah."


"Sah."


Kata-kata sah terdengar dari setiap penjuru.


"Alhamdulillah." Akhirnya Zidane bisa bernafas lega.


Isyana mencium tangan Zidane diikuti Zidane yang kemudian mengusap-usap ubun-ubun Isyana sambil berdoa kemudian mencium kening Isyana.


"Jangan lama-lama woi nanti kalau kurang dilanjutkan di kamar aja," goda Louis yang melihat Zidane seolah enggan melepaskan ciumannya diiringi tawa semua yang hadir.


Akhirnya acara ditutup dengan pembacaan doa oleh pak penghulu diikuti kata amin dari semuanya.


Sedangkan kedua mempelai melakukan sungkeman kepada orang tua dan mertua. Ketika sampai kepada Atmaja mereka diberikan nasehat panjang lebar.


"Nak Zidane saya serahkan dan percayakan nak Isyana padamu. Sekarang kamulah yang bertanggung jawab atas segalanya dari anak saya baik itu kebutuhan lahir maupun kebutuhan batin. Sayangi dia dan tegurlah dia apabila melakukan kesalahan. Dan apabila suatu saat nanti seumpama nak Zidane sudah bosen dengan anak saya maka kembalikanlah dia pada saya. Maka saat itu dengan tangan terbuka dan sukarela saya akan menerima anak saya kembali."


"Dan untuk kamu Sya pandai


-pandailah membawa diri jaga kehormatan suami kamu dan patuhilah perintahnya selama tidak melanggar syariat. Apabila kalian ada masalah bicarakanlah baik-baik sebelum kalian mengambil keputusan apalagi kalian sudah memiliki anak."


"Iya Yah terima kasih atas nasehatnya Syasa janji akan menjadi istri yang baik dan setia untuk mas Zidane."


"Dan saya janji akan memegang amanah yang diberikan kepada saya dan insyaallah saya akan menjadi suami yang bertanggung jawab dan setia sampai maut memisahkan kami," lanjut Zidane.


"Baiklah kalau begitu kalian boleh pergi," ucap Atmaja.


Isyana dan Zidane kemudian naik ke pelaminan dan duduk di sana.


Ditengah acara makan-makan ada beberapa temannya yang memilih untuk menghampiri pengantin terlebih dahulu ketimbang makan-makan. Melihat banyak teman-temanya yang naik ke panggung akhirnya Isyana dan Zidane memutuskan untuk berdiri.


Satu-persatu dari mereka menyalami dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


"Selamat ya Pak, Sya," ucap Dion.


"Selamat ya Sya akhirnya kamu sudah jadi Bu bos," kata Vania sambil terkekeh.

__ADS_1


"Selamat ya Dek, akhirnya adik kakak menikah juga," ucap Lusy sambil memeluk dan menepuk-nepuk bahu Isyana.


"Terima kasih Kak atas dukungannya selama ini."


"Selamat ya adik ipar tolong jagain adik saya," ucap Lusy lagi pada Zidane.


"Terima kasih kakak ipar."


"Selamat ya Bro, Sya," ucap Edward.


"Terima kasih kakak ipar."


"Cih." Edward berdecih.


"Makasih Mas," ucap Isyana.


Setelah itu bergantian Lexi, Annete, Adrian, dan yang lainnya. Setelah itu Yuna yang berjalan sambil mendorong kursi roda Lana.


Melihat tantenya datang Zidane dan Isyana yang menghampiri Lama dan menyalaminya.


"Selamat ya Dan, Sya." kata Yuna.


"Terima kasih Yun."


"Terima kasih calon mantu yang baik," goda Zidane karena Yuna terlihat telaten mengurusi tantenya.


"Kami kok nggak ada yang ngasih ucapan selamat ya." Kedua anak kembar itu merasa ngenes melihat dirinya yang berdiri di samping mama dan papanya tapi tak ada satupun orang dewasa yang mengucapkan selamat bahkan mereka tampak mengacuhkan keduanya. Yang mengucapkan selamat pada mereka hanyalah Adel, Naura dan Darren.


"Maaf ya sayang kami terlalu fokus sama pengantinnya. Selamat ya sayang akhirnya kalian sudah punya keluarga yang lengkap," ucap Annete sambil mencubit pipi kedua anak tersebut dibalas anggukan dan menggelembungkan pipi oleh keduanya.


Mereka yang ada di tempat itu tertawa gemas melihat keduanya.


"Sudaha ah kalian nikmati hidangannya dulu sana," suruh Isyana.


"Mau foto-foto," pinta Vania.


"Ya udah tapi sebentar aja ya kalian kan belum menikmati jamuannya. Nanti sesi foto-foto kita lanjutkan nanti malam di acara resepsi. Oke!"


"Oke." Jawab semuanya serempak.


Bersambung....


Like Like Like


Vote Vote Vote


Hadiah hadiah hadiah


Komentar komentar komentar


Terima Kasih.๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2