Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part. 43 Apa masakanku tidak enak?


__ADS_3

"Ma, malam ini Nathan tidur sama Papa ya?" izin Nathan pada Isyana.


Walaupun agak ragu nyatanya Isyana mengangguk juga. Pasalnya Nathan selama ini begitu dekat dengan mamanya.


"Kalau begitu biar Itan tidur sama Mama aja," timpal Tristan.


"Oke."


Malam itu Zidane tidur di kamar anak-anak dan Isyana tidur di kamar dengan Tristan.


Dari kamar Isyana terdengar suara canda tawa antara Isyana dengan Tristan namun dari kamar sebelah sepi tidak ada suara.


"Ma Itan mau lihat Atan sama papa dulu."


Tristan mengintip dari balik pintu. Terlihat Nathan yang fokus dengan Ipad-nya sedang Zidane hanya berbaring di atas ranjang sembari memandangi langit-langit kamar.


Tristan kembali ke kamar mamanya sambil tertawa kecil.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Isyana pada Tristan.


"Lucu Ma kamar sebelah kayak kamar mayat sepi dan auranya dingin."


"Ngomong apa sih kamu Sayang?"


"Mama lihat sendiri aja sana!"


Isyana yang penasaran mengikuti saran Tristan. Ia mengintip dari balik pintu yang pintunya tidak tertutup sempurna. Benar kata Tristan suasana di dalam kamar itu dinginnya melebihi suhu udara di luar. Kemudian Isyana kembali ke kamar mereka.


"Gimana Ma?"


"Kamu benar. Mereka diem-dieman. Apa mereka nggak ada topik ya untuk dibicarakan?"


"Emang dasarnya gitu Ma. Begitulah kalau es balok ketemu sama kulkasnya dinginnya melebihi suhu udara di musim dingin."


Kedua anak dan ibu itu tertawa bersama.


"Ayo sudah kita tidur saja!"


***************


Jam di dinding sudah menunjukkan jam 5.30 dini hari waktu setempat. Zidane dengan hati-hati melepaskan pelukan Nathan kemudian beranjak ke dapur. Sejak semalam dia telah memikirkan menu apa yang akan dia masak pagi ini. Setelah dipikir-pikir pilihannya kini jatuh kepada nasi goreng. Bagi Zidane menu nasi goreng adalah menu termudah yang bisa dimasak.


Beruntung Isyana bukanlah asli orang Prancis kalau sampai dia asli orang sana tidak bisa dibayangkan Zidane harus memasak apa. Jangan-jangan memasaknya bahan-bahannya pun belum tentu dia tahu apalagi dia tidak pernah masuk dapur. Ketika berkunjung ke Prancis pun Zidane hanya tinggal pesan saja di restoran tanpa memikirkan bahan itu di buat dari apa saja.


Bukan tanpa alasan Zidane memilih memasak nasi goreng. Semalam Zidane masuk mengontrol bahan-bahan di dapur ternyata dia melihat ada stok beras di sana dan ketika ditanya, Nathan mengatakan dirinya sudah biasa mengonsumsi nasi.


Zidane mulai memotong bawang sambil menunggu nasi matang. Dengan berbekal pengetahuannya melalu video yang ia download semalam Zidane sudah benar-benar hafal bumbu apa saja yang harus ia pakai.


Dengan cekatan dia memasak nasi goreng dan menghidangkannya di meja makan.


Nathan yang terbangun tanpa sang papa di sampingnya sudah mengerti dimana papanya sekarang. Buru-buru ia melangkah menuju dapur.

__ADS_1


"Pa! Papa masak sepagi ini?"


"Eh iya boy. Kamu sudah bangun?"


"Iya Pa. Papa belum selesai masaknya?"


"Nasinya udah tinggal ikannya. Papa mau ceplok telur dulu biar afdol."


"Udah tinggalin aja dulu Pa. Kita sholat sama-sama mumpung lagi ngumpul biasanya jam segini Mama dan Tristan sudah ada di ruang sholat."


"Eh iya kamu duluan saja biar papa nanti menyusul!"


"Oke Pa ditunggu ya!"


Zidane tidak langsung beranjak dari tempatnya dia ragu apakah akan menyusul Nathan. Sejak dirinya depresi dulu dia jadi jarang sholat. Apa jadinya kalau dia nanti diminta jadi imam oleh mereka.


"Pa, papa ditunggu Mama tuh!" Nathan kembali memanggil Zidane karena belum datang juga. Penampilan Nathan sekarang sudah siap dengan memakai sarung pemberian opanya lengkap dengan kopiahnya.


Sebenarnya Isyana tidak pernah menyuruh Nathan memanggil Zidane tapi itu adalah rencana Tristan yang mengatakan pada Nathan bahwa papanya dipanggil mamanya.


Mendengar dirinya ditunggui Isyana Zidane mencoba menghilangkan keraguan dan kegugupannya. Segera ia masuk ke kamar mandi dan mengambil wudhu.


"Karena papa sudah di sini sekarang Papa yang jadi imam ya!" pinta Tristan.


Tanpa berkata apapun akhirnya Zidane mengambil posisi imam.


Selesai sholat kedua anak tersebut mencium tangan papanya.


Akhirnya dengan terpaksa Isyana mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Zidane.


Nathan dan Tristan tersenyum melihat keluarganya kini sudah utuh dia tidak mengerti bahwa diantara mama dan papanya masih belum terikat janji suci. Sejenak mereka terlihat seperti keluarga bahagia.


"Sudah yuk Pa aku bantuin ceplok telurnya!" ajak Nathan.


Setelah mengganti pakaiannya mereka bergegas ke dapur menyelesaikan tugas yang belum selesai. Setelah selesai mereka berdua memanggil Isyana dan Tristan.


Kini mereka semua sudah berkumpul di meja makan.


Isyana mengambil nasi goreng ke piringnya begitupun degan kedua anaknya yang sudah terbiasa mengambil makan sendiri.


"Papa tidak makan?" tanya Tristan melihat piring ketiganya sudah terisi dengan nasi sedang Zidane hanya diam saja.


"Apa perlu Nathan ambilkan?" tawar Nathan.


"Eh nggak usah biar papa ambil sendiri."


Dengan malas Zidane menyendok nasi ke piringnya sendiri tapi ia belum makan juga. Ia memilih memandangi Isyana yang kini sedang mengunyah makanannya dengan pelan. Zidane curiga dan takut masakannya tidak enak di lidah Isyana.


"Gimana masakannya apa tidak enak?" tanyanya kepada Isyana.


"Eh, enak kok," jawab Isyana karena memang bumbunya pas.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Benar Pa." Tristan yang menjawab.


Nathan hanya mengacungkan dua jempol.


Melihat ketiganya memuji masakannya Zidane menjadi bahagia dan mulai menyendok makanannya.


"Huek." Zidane ingin memuntahkan makanannya. Segera ia berlari ke wastafel untuk membersihkan mulutnya. Kemudian kembali lagi ke meja makan menghampiri ketiganya.


"Kalian stop makannya biar aku pesankan online saja!"


"Kenapa harus berhenti Pa? Ini beneran enak kok."


"Kalian jangan begitu dong kalau nggak enak jangan bilang enak. Ini asin tahu nanti kalau dilanjutkan kalian bisa darah tinggi."


"Papa ngomong apa sih? Ini beneran enak kok," ucap Nathan.


Isyana hanya mengangguk membenarkan ucapan Nathan.


"Benar nggak Sya? Kamu jangan ngajarin anak bohong dong!"


"Bapak nggak percaya?" Isyana menyendok nasi dan menyuapi ke mulut Zidane.


Zidane ragu untuk menerima suapan Isyana takut muntah kayak tadi tapi kalau ditolak kapan lagi dia dapat kesempatan seperti itu. Akhirnya dia mengambil kesempatan itu, tidak apalah muntah yang penting dapat perhatian dari Isyana pikirnya.


"Gimana, benar enak kan?" tanya Isyana.


"Kok benar enak ya? Apa jangan-jangan karena sendoknya ada bekas mulut kamu," goda Zidane.


Mendengar perkataan Zidane, Isyana memutar bola matanya malas kemudian memalingkan muka.


"Apa hubungannya Pa?" tanya Nathan tidak paham.


"Iya kan mulut mama kalian manis Jadi asinnya jadi netral," kilah Zidane.


"Jangan-jangan Papa modus ya!" canda Tristan.


"Ah nggak kok memang yang Papa makan tadi asin. Kalau nggak percaya ayo dicicipi!" Zidane menyuapi Tristan dengan nasi yang ada di piringnya.


"Iya kok beneran asin sih?"


"Itu berarti garamnya tidak rata," ujar Isyana.


"Untung kena Papa nggak kena mama. Kalau sampai kena mama pasti Papa dipecat sekarang juga," ujar Tristan.


"Boy kamu berani ya sama Papa!"


Dan keempat orang tersebut tertawa bersama.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2