Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 140. Bertemunya Dua Insan


__ADS_3

5 Bulan kemudian...


Sejak kembali waktu itu Adrian sudah kembali bekerja di rumah sakit karena pemilik rumah sakit waktu itu memang meminta Adrian supaya kembali bekerja setelah urusannya menyelesaikan pengobatan sang anak selesai.


Suatu pagi Adrian mendatangi kamar putrinya. "Adel Ayah berangkat dulu ya," pamit Adrian pada Adel yang kini sedang duduk di ranjangnya sambil menyembunyikan sesuatu dibelakang tubuhnya.


"Iya Yah jangan telat pulangnya ya, Adel pasti akan menunggu Ayah pulang."


"Nggak usah nunggu ayah pulang Adel bisa tidur duluan aja, itu apa di belakang mu?"


"Ah bukan apa-apa Yah cuma mainan doang." Adel berbohong padahal tanpa Adel kasih tahu pun Adrian tahu bahwa itu adalah foto Anisa. Adrian kerapkali memergoki Adel menangis sambil memandangi foto bundanya. Adrian mengerti Adel pasti merindukan Anisa meski di depan Adrian Adel berpura-pura baik-baik saja dan tidak peduli sama Anisa.


Adrian tidak tahu harus berbuat apa padahal selama ini dia berusaha mencari Anisa sekedar untuk mengobati kerinduan anaknya nyatanya Anisa menghilang seolah di telan bumi.


Harus kemana lagi aku harus mencarimu Anisa, aku tidak tahu bagaimana caranya mengobati kerinduan Adel atas dirimu.


"Akh..." Adrian meraup wajahnya. "Sudah ya Del ayah berangkat dulu. Baik-baik di rumah ya sama bibik."


"Iya Ayah." Adel pun mencium tangan Adrian dan Adrian pun mengusap-usap rambut Adel.


Sedangkan di tempat lain Annete mengantarkan si kembar untuk menginap di rumah papanya. Setelah dirasa hari sudah cukup malam Annete izin kepada tuan rumah untuk pulang karena Lexi sudah berjanji untuk menjemputnya.


Namun Annete kecewa, sampai di luar Annete kelimpungan karena Lexi tidak menjemputnya bahkan Lexi tidak dapat di hubungi. Namun beberapa saat kemudian dia bisa bernafas lega karena kini teleponnya diangkat oleh Lexi.


"Lex kenapa tidak menjemput ku?"


"Emang kamu tidak nginap di sana?"


"Ya nggaklah aku kan merasa tidak enak kalo tinggal di sini."


"Kalau begitu kamu balik ke apartemen Syasa aja!"


"Kok ke apartemen? Aku mau pulang ke rumah saja."


"Kamu tidak boleh ke sini aku bilangnya ke pak Atmaja Nathan dan Tristan nginap sama kamu di apartemen."


"Cck." Annete berdecak. "Terus aku baliknya sama siapa?"


"Kamu naik taksi aja dulu ya!"


Annete menutup telepon dengan perasaan kesal dan menggerutu dalam hati.


"Gini nih kalo orang seenaknya aja ngambil keputusan nggak ada bilangnya sama sekali kalo tahu begini kan aku terima tawaran pak Zidane sama Tante Laras tadi. Kalau sudah begini kan aku malu kalau harus balik lagi ke dalam." Annete menggerutu sendiri.


"Ya Tuhan kenapa aku bisa suka sama orang yang cuek macam dia." Walaupun sudah berusaha untuk menghilangkan perasaanya pada Lexi nyatanya Annete masih saja menyukainya makanya dia kesal diabaikan seperti sekarang.


Annete melangkahkan kakinya ke jalan raya sambil menelpon taksi online. Tiba-tiba muncul sebuah mobil dan berhenti di depannya.


"Ayo aku antar!" ucap pengendara mobil itu menawarkan diri.


"Tidak terima kasih saya naik taksi saja."


"Sudah malam tidak baik buat perempuan keluyuran malam-malam."


"Siapa yang keluyuran? Aku kan mau pulang," batin Annete.


"Ayo aku antar!" ulangnya.


Annete menggeleng.


Karena Annete tetap bersikukuh tidak mau pengendara tersebut yang ternyata adalah Adrian itu turun dari mobil dan Adrian yang masih berpakaian dokter itu menghampiri Annete.


"Ayolah aku antar. Tenang saja aku bukan orang jahat."


Akhirnya Annete mengangguk daripada menunggu taksi online yang tidak tahu kapan datangnya pikirnya. Ia masuk ke dalam mobil yang telah terlebih dulu di bukakan pintunya oleh pemiliknya.


"Kemana?"


"Ke apartemen A."


"Oke."


Dokter tersebut melajukan mobilnya ke arah apartemen yang dimaksud sambil melirik wajah Annete.


Adrian terperangah. "Anisa."


"Maaf Dok nama saya Annete bukan Anisa." Memilih memanggil laki-laki tersebut dengan sebutan dokter karena menilik pakaiannya.


"Oh maaf."


"Tidak apa-apa."


"Sudah sampai."


"Terimakasih ya Dok!" Annete keluar dari mobil dan menuju apartemen sedangkan dokter Adrian masih terdiam di dalam mobil. Dia masih memikirkan apakah wanita tersebut memang bukan Annisa. Dalam otaknya timbul niatan ingin membawa Annete ke rumahnya untuk mempertemukannya dengan Adel barangkali sedikit mengobati rasa rindu putrinya terhadap bundanya itu.


Tapi bagaimana caranya agar wanita ini bisa mau aku ajak ke rumah? Dia pasti akan menganggap aku mau berbuat macam-macam lagi. Apakah aku harus menceritakan semuanya pada wanita ini agar mau menolongku. Ah sudah malam lebih baik aku kembali besok pagi saja.


Sedangkan Annete setelah sampai di depan pintu apartemen tiba-tiba lupa dengan kode pintu tersebut. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Isyana namun ponselnya tidak aktif.


"Iya ya kok aku lupa mbak Isyana kan masih dalam pesawat." Annete bermonolog.


Kemudian dia beralih menelpon Nathan namun hingga tiga kali teleponnya belum diangkat juga.

__ADS_1


"Barangkali mereka sudah tidur," pikirnya.


Ingin menelpon Lexi tapi dia masih kesal dengan orang itu. Akhirnya ia turun kembali dan memutuskan akan menginap di hotel saja.


Sampai di bawah ia melihat mobil dokter Adrian masih ada namun dia melewati mobil tersebut pura-pura tidak melihat. Ia tidak ingin merepotkan dokter itu untuk yang kedua kalinya namun sayang dokter Adrian melihatnya.


"Annete kamu kok keluar lagi?"


Annete menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehe...lupa sama kode pintunya," ucapnya sambil cengengesan.


Dokter Adrian geleng-geleng kepala. "Kok bisa lupa?"


"Soalnya apartemen itu milik majikanku jadi pas dia ngasih tahu kodenya aku tidak begitu mendengarkan. Aku pikir aku tidak akan pernah ke sana sendirian nyatanya sekarang majikanku pergi ke luar negeri dan aku harus ke sana sendirian," tutur Annete panjang lebar.


"Emang majikan kamu tidak punya rumah?"


"Punya sih tapi untuk sementara aku tidak boleh tinggal di sana dengan alasan tertentu. Maaf tidak bisa menceritakan."


"Baiklah tidak apa-apa. Terus sekarang kamu mau kemana?"


"Ke hotel saja."


"Ke hotel? Baiklah aku antar."


"Tidak aku tidak akan merepotkan dokter untuk yang kedua kali."


"Siapa yang repot? Ayo cepat masuk!"


Annete pun masuk ke dalam mobil.


"Hotel mana ?"


"Terserah yang dekat dari sini aja."


Mendengar Jawaban Annete Adrian tersenyum licik. "Ini kesempatanku untuk membawanya ke rumah bertemu Adel."


Dokter Adrian pun melajukan mobilnya kembali tetapi tujuannya bukan hotel tapi rumahnya sendiri.


"Lo kok ke sini?"


"Iya ini rumahku. Daripada tinggal di hotel mending untuk sementara kamu tinggal di sini saja!"


"Tapi...," Annete ragu-ragu.


"Sudah nggak apa-apa disini ada beberapa pembantuku yang perempuan jadi kamu tenang saja aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu."


Annete mengangguk dan turun dari mobil. Ia mengikuti dokter Adrian ke rumahnya. Sampai di depan pintu ada anak kecil yang kira-kira seumuran Nathan namun tubuhnya tampak kurus


membukakan pintu.


"Bunda!"


Anak tersebut berhambur ke pelukan Annete. Meskipun Annete tak mengerti namun dia tetap menerima pelukan anak tersebut.


Melihat anaknya tidak mau lepas dengan Annete dokter Adrian mendekati anaknya.


"Adel itu bukan bunda tapi Tante Annete."


"Eh. Benarkah?" Ia melepaskan pelukannya dan memandang wajah Annete.


"Benar Tante?"


Annete mengangguk.


"Maaf Adel pikir bunda soalnya wajah Tante mirip sama foto bunda."


"Iya nggak apa-apa. Adel nggak mau mempersilahkan tante masuk?"


"Eh iya Tante boleh masuk."


"Kamu belum tidur?" tanya Adrian iada Adel.


"Belum Adel kan nunggu Ayah, tumben ayah datangnya malam biasanya jam tujuh ayah sudah pulang."


"Iya ayah tadi masih menggantikan dokter Budi soalnya dia ada kepentingan jadi telat."


"Oh gitu ya. Ayah boleh nggak kalo Tante Annete tidur di kamar Adel?"


"Jangan biar Tante Annete tidur di kamar tamu saja."


"Boleh ya Ayah!"


Dokter Adrian memandang Annete seolah meminta persetujuan dan Annete yang mengerti mengangguk.


"Yuk ke kamar Adel sekarang kan sudah malam," ajak Annete.


"Benar Tante mau tidur sama Adel?"


"Iya ayo!"


Selepas mereka masuk ke dalam kamar dokter Adrian masuk ke kamar mandi membersihkan diri dari sisa-sisa bau obat yang menempel di tubuhnya. Selesai ia mandi ia mengecek Adel di kamarnya. Melihat Adel yang sudah terlelap dokter Adrian berbalik dan berjalan ke luar kamar.


"Dokter!" Annete memanggil dokter Adrian. Rupanya ia belum terlelap.

__ADS_1


"Iya?" Dokter Adrian membalikkan badan.


"Ada yang ingin aku tanyakan sama dokter."


"Tentang?"


"Adel."


"Oke kita bicara di luar aja ya!"


Dokter Adrian membawa Annete ke taman depan rumah.


Suasana di taman terasa sunyi, hanya bintang-bintang dan cahaya rembulan yang menemani mereka. Angin berhembus menampar wajah mereka dan menerbangkan rambut lurus Annete yang kebetulan di urai.


"Mengapa Adel menganggap saya bundanya?" Annete membuka suara.


"Seperti yang kau tahu aku pun sempat menyangka mu Anisa."


"Jadi Anisa bunda Adel?"


"Iya."


"Kemana dia sekarang?"


Mendengarkan pertanyaan Annete dokter Adrian menghela nafas.


"Dia meninggalkan kami ketika Adel masih berumur tiga tahun. Dia katanya sudah lelah merawat Adel yang penyakitan. Dia berpikir tidak ada gunanya merawat Adel toh pada akhirnya Adel akan meninggal juga." Ada gurat kesedihan terpancar di wajah dokter Adrian kala mengucapkan kalimat tersebut. Adrian tidak mungkin mengatakan bahwa sebenarnya Anisa pergi karena berselingkuh juga.


Dokter Adrian terlihat sedih mengingat beberapa tahun yang lalu Anisa meninggalkan mereka setelah siangnya baru merayakan ulang tahun Adel. Anita meninggalkan surat di samping tempat tidur Adel yang mengatakan dia sudah lelah dan menyerah.


"Emang Adel sakit apa?"


"Kanker."


"Ya Tuhan." Annete menutup mulutnya yang menganga karena terkejut.


Annete bisa merasakan kesedihan Adrian terlebih kesedihan Adel. Dia pernah ada dalam posisi tersebut ditinggalkan ibu karena tidak sanggup hidup susah dengan ayahnya bedanya dia dalam keadaan sehat-sehat aja.


"Dokter yang sabar ya semoga Adel bisa sembuh."


"Iya terima kasih telah menyemangati ku." Adrian tersenyum getir mengingat tidak lama lagi dia akan berpisah dengan Adel untuk selamanya. Apakah doa Annete itu akan dikabulkan oleh Tuhan bahwa Adel akan sembuh? Meskipun sempat ragu tapi Adrian mengaminkan juga ucapan Annete.


"Annete aku bisa minta tolong?"


"Minta tolong apa? Kalau bisa saya pasti akan menolong dokter."


"Maukah kamu menjadi pengasuh Adel? Aku tahu wajahmu pasti bisa menawarkan kerinduan Adel atas bundanya."


"Maaf dokter aku tidak bisa, aku tidak mungkin meninggalkan kedua anak asuhku sekarang. Dokter kan tahu aku sudah bekerja sama orang."


"Ku mohon An bantu aku mungkin tidak sampai sebulan lagi Adel akan pergi."


"Maksudnya bagaimana dokter?"


"Dokter memprediksi bahwa umur Adel tidak lama lagi, kalau itu benar mungkin saja bulan depan dia sudah tidak ada."


"Apa?!" Annete benar-benar kaget mendengar berita tersebut tapi tetap saja dia tidak bisa meninggalkan Nathan dan Tristan begitu saja. Dia begitu menyayangi anak tersebut layaknya anak sendiri tapi dia juga tidak tega pada Adel dan Adrian. Entah mengapa melihat Adrian mengingatkan Annete pada sosok sang ayah, Johan.


Annete terdiam sesaat memikirkan langkah apa yang harus dia ambil, melihat tatapan Adrian yang begitu memelas Annete menjadi tersentuh.


"Begini saja dokter saya tidak bisa menjadi pengasuh Adel tapi aku akan usahakan agar sering-sering jenguk Adel ke sini."


"Benarkah?" Annete mengangguk.


"Terima kasih." Adrian begitu bahagia hingga reflek tubuhnya sampai memeluk tubuh Annete.


"Dokter lepaskan!"


"Ah maaf, aku tidak sadar, aku terlalu bahagia."


"Tidak apa-apa. Kalau begitu aku ke kamar dulu takutnya Adel nanti nyariin."


"Baiklah selamat beristirahat."


Annete melangkah meninggalkan dokter Adrian yang masih terduduk, seolah enggan beranjak.


"Dokter harus istirahat juga biar tetap sehat!" ucap Annete sedikit berteriak.


Mendengar perkataan Annete dokter Adrian tersenyum. "Kamu ya wajah aja yang mirip dengan Anisa tapi hati kamu jauh lebih baik darinya." Adrian bahagia mendapatkan perhatian Annete bahkan dia senyum-senyum sendiri kala mengingat dirinya yang memeluk Annete tadi. Sepertinya cinta yang sudah lama mati di hatinya telah tumbuh kembali.


Adrian bangkit dari duduknya dan berjalan ke dalam rumah. Ketika melewati kamar Adel dia sedikit mengintip lagi, ternyata Annette sudah tertidur pulas dengan saling berpelukan dengan Adel.


Adrian mengulas senyum kembali menyadari Annete sepertinya menyayangi putrinya dan bisa memberikan apa yang tidak pernah diberikan oleh Anisa terhadapnya.


Ah Anisa seandainya kau bisa bersikap seperti Annete pada Adel.


Sudahlah Adrian tidak ingin mengingat Anisa lagi. Baginya Anisa sudah lama mati. Terlalu jauh jika membandingkan Annete dengan Anisa. Rasanya tidak salah kalau Adrian bisa jatuh cinta pada gadis itu dalam waktu sekejap.


Adrian kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Rasanya tubuhnya sudah terlalu lelah beraktivitas seharian ini namun entah kenapa dia tidak bisa terlelap juga. Setiap kali memejamkan matanya wajah Annete selalu membayanginya. Dan Kenapa sekarang malah dia takut Annete sudah dimiliki orang lain.


"Ah benarkah aku jatuh cinta lagi? Semoga saja kau belum punya kekasih," ucap Adrian dalam hati penuh harap.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Like Vote, Rate bintang 5, Komentar dan Hadiahnya. Terima kasih.๐Ÿ™


__ADS_2