
Di dalam layar itu tampak seorang wanita muda dan lelaki separuh baya sedang berbicara.
"Om mengapa malah membiarkan Tante Lana dirawat di rumah Zidane," protes wanita tersebut pada lelaki di hadapannya.
"Kenapa sayang bukankah itu lebih baik? Kita bisa bebas melakukan apa saja di rumah ini tanpa ada yang mengganggu."
"Tapi Om, bagaimana kalau dia sembuh dan mengatakan pada semua orang bahwa akulah dalang dibalik penembakan itu."
"Kamu tenang saja sayang bukankah kita sudah memberikan obat kepadanya sehingga kalau sembuh pun dia tidak akan pernah mengingat apa-apa."
"Om benar untuk apa aku khawatir. Aku beruntung punya Om yang bisa diandalkan. Lebih baik kita nikmati saja hari kebebasan kita."
Setelah itu kedua manusia beda usia itu tampak memasuki kamar.
Andy dan Zidane yang menatap layar itu tercengang kemudian saling pandang.
"Belva," Zidane seolah tidak percaya dengan yang dilihat di hadapannya. Bagaimana mungkin Belva menjalin hubungan dengan orang yang lebih tua darinya.
"Papa Reyhan." Andy pun tak kalah terkejutnya.
"Brengsek semuanya." Andy mengepalkan tangannya lalu beranjak dari tempat itu.
"Om Andy mau kemana?"
"Pulang," jawabnya cepat.
Andy lalu berlari ke mobil dengan nafas yang memburu karena dikuasai amarah.
"Kalian pulang saja dengan om Dion biar papa mengikuti om Andy."
"Ikut aja deh Pa."
"Baiklah ayo cepat! Dion kamu lapor polisi!"
"Siap Pak."
Kemudian mereka semua memasuki mobil dan menyusul Andy ke rumahnya.
"Eh Den Andy sudah pulang Den?"
"Papa dimana Mbok?"
"Itu ... itu masih di kamarnya Den," pembantu itu bicara dengan suara bergetar karena takut. Dalam pikirannya pasti ada masalah besar yang akan terjadi di rumah ini.
Andy segera berlari ke kamar orang tuanya. Tanpa aba-aba langsung mendobrak pintu.
"Papa Reyhan!" Andy berjalan mendekati ranjang.
Kedua orang yang belum menyelesaikan ritualnya tersebut kelabakan melihat Andy berjalan ke arah mereka. Reyhan dengan terburu-buru masang boxer sedang Belva segera menutup tubuhnya dengan selimut dan melilitkannya. Setelah memungut pakaiannya ia segera berlari ke kamar mandi.
"Wow bisa diviralkan ini."
"Apa-apaan sih Itan."
__ADS_1
"Lebih baik kalian keluar saja ini urusan orang dewasa," saran Rama salah satu anak buah papanya yang turut ikut ke rumah itu.
Nathan mengangguk dan Menarik tangan Tristan keluar.
"Atan aku mau merekam itu."
"Tidak perlu."
"Buat bukti," rengek Tristan.
"Nggak perlu."
"Ih dasar kamu ya, kepo sama urusan orang tua," ucap Rama.
"Biarin Paman."
"Jadi ini yang papa lakukan di belakang ku dan mama!" bentak Andy.
"Andy aku bisa menjelaskan semuanya Nak."
"Menjelaskan apa Pa? Yang ku lihat tadi sudah cukup menjelaskan semuanya."
"Baiklah Papa mengaku salah tapi papa membutuhkan itu. Papa tidak mungkin menahan hasrat papa sebagai seorang laki-laki sedangkan mama kamu tidak bisa memberikan semuanya."
"Yakin dengan yang papa ucapkan? Bukankah papa menjalin hubungan dengan wanita itu sebelum mama sakit?"
"Itu tidak benar Nak."
"Hah papa pikir aku tidak tahu semuanya. Papa terlibat kan dalam pembunuhan Vallen?"
"Pa!"
"Baiklah papa mengaku, papa memang menyembunyikan pelakunya tapi sumpah papa tidak ikut andil dalam pembunuhan itu."
Sementara Andy berdebat dengan Reyhan, Belva cepat-cepat memasang pakaiannya kemudian hendak kabur dari tempat itu namun Zidane berhasil mencekal pergelangan tangannya.
"Mau kemana kamu?"
"Kenapa sayang apakah kamu merindukan ku?"
"Cih menjijikkan! Apakah sudah tidak ada yang menyukai tubuhmu sehingga kau menjerat orang yang sudah tua?"
"Bukan urusanmu!"
"Akan menjadi urusanku karena kalian berbuat curang. Obat apa yang kau berikan pada Tante Lana?"
"Obat apa? Jangan ngaco kamu!"
"Kamu kira aku tidak tahu. Kamu kan yang membunuh Valen?!"
"Jangan menuduh sembarangan ya atau kamu akan saya laporkan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik."
"Cih apakah orang sepertimu masih memiliki nama baik? Kamu tidak usah mengelak, perbuatan mu tadi saja sudah cukup untuk menjerat mu ke kantor polisi apalagi kalau sampai polisi tahu kau bahkan merencanakan suatu pembunuhan. Kau tahu hukuman buat orang yang melakukan pembunuhan berencana? Hukuman seumur hidup dan itu pantas untukmu."
__ADS_1
"Rupanya kamu masih tidak bisa melupakan cinta pertamamu itu ya sehingga omongan mu ngelantur seperti itu."
"Aku tidak gila Belva! Bukankah kau yang mengatakan sendiri bahwa kaulah dalang dibalik pembunuhan itu."
"Kapan aku mengatakannya?"
"Lihat ini!" Zidane menunjukkan rekaman tadi.
Belva terbelalak melihat dirinya dalam video.
"Tidak mungkin, bagaimana kalian bisa mendapatkannya?"
"Bagaimana mungkin aku melupakan kalau di tempat ini ada cctv-nya," Gumamnya dalam hati. Belva berpikir kalaupun ada cctv-nya pasti tidak akan ada yang mengeceknya. Bukannya Andy sudah tidak pernah pulang dan selama ini perselingkuhannya dengan Reyhan aman-aman saja.
"Sekarang kau siap-siap mendekam di penjara."
Bersama dengan itu polisi datang.
"Polisi?" Belva terkejut dengan kedatangan polisi secara tiba-tiba. Reflek ia berlari ke luar rumah dan kabur. Sedangkan Reyhan yang sudah terkepung akhirnya pasrah dan menyerahkan diri.
"Tangkap dia sampai dapat!" perintah salah satu polisi pada anak buahnya.
"Bantu kepolisian menangkap wanita itu! Wanita itu akan berbahaya kalau dibiarkan di luaran," perintah Zidane pada anak buahnya.
"Baik Tuan."
Semua orang pergi dari tempat tersebut kecuali Andy, Zidane dan kedua anaknya.
Andy lalu bersimpuh di kaki Zidane dan kedua anak tersebut.
"Maafkan aku adikku Zidane maafkan aku. Dendam yang menggebu membuatku tidak bisa berpikir jernih. Maafkan aku yang telah salah sangka kepadamu. Maafkanlah aku yang nyaris membuat kehidupanmu hancur. Maafkan aku karena ulahku pernikahan mu dengan Belva waktu itu jadi gagal."
"Maksud Abang apa?"
"Aku yang telah memaksa Robin untuk mengambil Belva darimu. Semua ku lakukan agar kau juga kehilangan cintamu." Ada air mata yang lolos dari pelupuk matanya. Dia benar-benar menyesal untuk itu.
"Maafkan Paman ya keponakanku. Paman hampir mencelakai kalian juga mama kalian. Dan terima kasih telah menyadarkan paman. Kalian benar-benar keponakan paman yang hebat."
Mendengar ucapan Andy kedua anak tersebut hanya mengangguk.
Zidane menunduk dan membantu Andy untuk berdiri. "Bangunlah Bang! Aku sudah memaafkan Abang. Dan terima kasih telah menggagalkan pernikahan itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dan keluargaku kalau sampai aku menikah dengannya. Dan Abang tahu aku malah bersyukur karena dengan kegagalan itu aku malah mendapatkan anak-anak yang hebat ini," ucap Zidane sambil mendekap kedua anaknya.
"Berdamailah Bang, berdamai dengan hatimu. Jangan ada dendam lagi, biarkan polisi yang mengurus semuanya. Mulai sekarang Abang harus berusaha membuka hati Abang untuk orang lain. Jangan biarkan Valen tersiksa dengan keadaan Abang yang menutup diri ini. Abang tahu bahkan ada seseorang yang menunggu sejak lama untuk dapat hidup dengan Abang. Bahkan dia rela menentang orang tuanya yang ingin menjodohkannya dengan pria lain.
"Maksud kamu siapa?"
"Nanti Abang akan tahu sendiri."
"Mama." Tiba-tiba Andy mengingat Lana.
"Tante Lana ada di rumahku. Ayo kita ke sana!"
Andy mengangguk dan mengikuti langkah Zidane.
__ADS_1
Bersambung....