
Jam 4.30 pagi si kembar membangunkan orang tuanya.
'Tok-tok-tok'
"Pa bangun Pa, kami semua sudah menunggu di ruang sholat."
"Kalian duluan aja sama opa biar papa nanti nyusul."
"Pokoknya ditungguin ya Pa," ujar keduanya sambil meninggalkan kamar orang tua mereka.
Zidane yang masih merasa begitu lelah akhirnya terpaksa bangun dan masuk ke kamar mandi. Tanpa membangunkan sang istri menghampiri kedua anaknya yang kini berada di ruang sholat. Zidane tidak tega melihat Isyana yang begitu terlelap pastinya juga kelelahan melayani hasrat dirinya semalaman. Biarlah istrinya nanti sholat di kamar saja setelah bangun.
"Pa, mama mana?" tanya Tristan.
"Mama kalian kan lagi halangan," jawab Zidane.
Mendengar jawaban Zidane Laras menatapnya curiga. Melihat tatapan mamanya yang mengintimidasi Zidane hanya memalingkan muka.
"Ayo kita mulai," ajaknya cepat takut mamanya akan menginterogasinya di depan kedua anaknya.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Seperti biasa semua keluarga berkumpul di ruang makan kecuali Isyana yang sedari tadi tak pernah menampakkan batang hidungnya.
Zidane sudah siap dengan kemeja dan jasnya sedangkan si kembar sudah siap dengan seragam sekolahnya. Hari ini pertama kali masuk sekolah dasar. Zidane sudah mendaftarkan mereka ke sekolah SD internasional.
"Pa mama nggak ikut makan sama kita?"
"Biar papa nanti yang bawain ke kamar karena mama kalian lagi tidak enak badan," alasan Zidane.
"Mama sakit?" tanya Nathan khawatir.
"Hanya sedikit demam," jawab Zidane.
"Ya ... berarti mama tidak bisa ikut dong mengantarkan kami padahal ini kan pertama kali kami sekolah di sini. Gagal deh keinginan kita untuk diantarkan kedua orang tua pas pertama kali masuk sekolah," ujar Tristan kecewa.
"Biar sama papa aja ya dulu, besok-besok kami datang bersama."
Dengan berat hati keduanya mengangguk.
Tiba-tiba terdengar langkah seseorang menuruni tangga. Mereka semua menoleh ke arah tangga.
"Mama," ucap keduanya antusias ketika melihat mamanya sudah berpakaian rapi tapi sayangnya di leher Isyana terlilit sebuah syal sehingga membuat kedua anak tersebut menganggap Isyana benar-benar sakit apalagi langkah mamanya seperti terseok-seok.
"Kamu apakan istri kamu Dan kok jalannya sampai kayak bebek gitu," protes Laras.
"Nggak diapa-apain kok Ma," kilah Zidane.
"Mama demam ya? Yasudah mama hari ini nggak usah antar kami, mama istirahat di rumah aja," ujar Tristan seraya menyentuh kening mamanya.
"Tapi kok nggak panas ya Atan?" lanjutnya bertanya pada Nathan.
__ADS_1
"Coba." Nathan pun meraba dahi Isyana seperti yang Tristan lakukan.
"Nggak kok sayang mama nggak sakit, mama baik-baik aja kok," ucap Isyana menepis kekhawatiran kedua anaknya.
"Tapi kok mama pakai syal?" Bukannya di sini nggak ada musim dingin ya ma," ujar Nathan.
"Iya kenapa tiba-tiba cara berjalan mama berubah?" sambung Tristan.
Mendengar pertanyaan kedua cucunya Laras senyum-senyum sendiri sambil melirik ke arah Zidane yang kini sedang garuk-garuk kepala.
"Ah itu mama cuma..."
Tanpa mendengar ucapan mamanya Tristan langsung berdiri dan mencoba membuka syal Isyana.
"Kalau mama nggak sakit nggak usah pakai syal Ma, malu sama temen-temen kami nanti dikiranya mama nggak tahu fesyen lagi, musim kemarau kok malah pakai begituan," ujar Tristan.
"Jangan sayang jangan dibuka!" Namun sayang tangan Tristan sudah bergerak cepat membuka syal tersebut.
"Leher mama kok merah-merah?" Tristan terkejut melihat penampakan leher mamanya. Membuat semua mata tertuju pada leher Isyana. Dengan sigap Isyana langsung menutupnya kembali.
"Iya mama cuma masuk angin," kilah Isyana.
"Jadi mama habis kerokan?" tanya Tristan dijawab anggukan Isyana.
"Tapi bekasnya kok nggak sama ya sama bekas kerokan Oma yang kemarin?" tanya Tristan penasaran.
"Ia ya Itan sepertinya yang punya mama kayak bekas gigi," timpal Nathan.
Mendengar pertanyaan kedua anaknya Isyana memandang ke arah Zidane meminta bantuan agar Zidane mau membantunya menjawab pertanyaan aneh kedua anaknya sekaligus protes karena bisa-bisanya suaminya meninggalkan bekas di tempat yang terlihat.
"Digigit serangga nakal," jawab Zidane sekenanya.
"Serangga? Sepertinya Oma harus beli lebih banyak desinfektan deh agar rumah ini lebih bersih jangan sampai tuh serangga masuk ke kamar kami," ucap Tristan.
"Mana ada serangga di rumah Oma. Rumah Oma tuh bersih, cling, wangi. Kalaupun ada di kamar orang tuamu itu pasti karena papa kamu yang jorok," ujar Laras menggoda Zidane.
"Ma!" protes Zidane bisa-bisanya mamanya mengatakan dirinya jorok.
"Papa nggak bohong kan?"
"Nggak."
"Serangga apa ya Pa yang bisa gigit sampai begitu? Mama perlu ke dokter tidak?"
Zidane hanya mengangkat bahu acuh.
"Digigit Vampir," ucap Isyana kesal membuat tuan Alberto tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban menantunya itu. Sedangkan kedua anak tersebut ekspresinya datar-datar saja.
Sedangkan Zidane melotot ke arah istrinya karena menganggap dirinya vampir namun sekarang Isyana yang acuh.
__ADS_1
"Sudah-sudah ayo kita makan saja, Bukankah kalian harus datang lebih awal? Terus papa kalian juga harus ke kantor karena hari ini kebetulan ada rapat penting."
Akhirnya mereka menikmati makan pagi bersama. Setelah selesai Zidane dan Isyana mengantarkan kedua anaknya ke sekolah barunya.
"Sayang hari ini kamu jangan ke butik dulu ya!"
Isyana hanya mengangguk.
"Nanti pulangnya biar pak sopir aja yang jemput Mas kalau kamu masih sibuk."
"Biar nanti aku usahakan aku yang jemput."
"Baiklah kalau begitu tapi kalau tidak bisa ya tidak usah dipaksakan," ujar Isyana.
Zidane mengangguk.
"Boy apakah kalian masih membajak cctv di rumah om Andy?" tanya Zidane.
"Masih sih Pa. Memangnya kenapa Pa?"
"Jangan dihentikan ya Boy barangkali ada yang mencurigakan atau perempuan itu bisa saja kembali ke tempat itu dengan tujuan tertentu."
"Iya Pa."
"Perempuan? Perempuan siapa?"
"Itu lo ma tante-tante genit mantannya papa."
"Astaga kenapa nih anak bawa-bawa mantan lagi bisa bahaya ini," kata Zidane dalam hati. Zidane tahu perempuan sensitif kalau sudah menyangkut soal mantan dari suaminya.
"Mantan yang mana Mas?" tanya Isyana penasaran.
"Belva," jawab Zidane datar.
"Oh wanita yang pernah bikin Mas gila ya."
"Mana? Wanita yang bikin saya gila kan cuma kamu."
"Cih."
"Kamu jangan marah ya sayang itu kan cuma masa lalu. Aku di sana cuma membantu bang Andy kok menangkap perempuan itu kalau tidak percaya tanya saja sama mereka."
"Ia Ma benar papa tuh tidak bohong lagian kata Om Lexi mantan tuh tempatnya di pojokan bukan di hati yang telah bertuan. Hehehe...."
"Astaga anak papa diajarin apa saja nih sama om Lexi."
"Baik aku tidak marah tapi Mas juga jangan marah ya kalau tiba-tiba mantan saya dateng dan menyapa."
"Apa?" Zidane hanya menelan ludah mendengar ucapan Isyana.
__ADS_1
Bersambung....
Maaf ya kalau bab ini kurang menarik karena othor lagi galau. Wkwk.๐ Jangan lupa votenya.๐