
Mendengar pernyataan Angel muka Annete menjadi pucat pasi.
"Aku harus melarikan diri sekarang," batinnya.
"Kamu benar Gel, aku harus pergi. Tempat seperti ini bukanlah tempatku."
Annete lalu bergegas, bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan tersebut. Sampai di luar Diena menyapanya.
"Kenapa kamu belum ganti baju Anna, para pelanggan sudah berdatangan ini."
"Tunggu sebentar!" Annete meminta waktu. Saat Diena lengah, Ia menyelinap di antara para pengunjung dan keluar dari tempat itu. Namun nasibnya saja yang masih belum beruntung, ternyata tempat tersebut dijaga ketat.
"Mau kemana Nona? Anda tidak diperkenankan keluar," ucap salah satu bodyguard yang bertugas di sana. Annete meneguk Salivanya kasar. Mencoba memandang ke sekeliling untuk mencari celah agar bisa keluar dari pintu lain.
Ya Tuhan kenapa tempat ini di jaga ketat
"Saya hanya ingin ke kamar mandi Tuan tapi ternyata saya tersesat." Annete beralasan meskipun baginya tidak masuk akal.
"Nona Lily tolong antarkan dia ke kamarnya," ucap bodyguard itu kepada salah satu penghuni rumah belakang, temannya Angel.
"Baik," jawab orang yang dipanggil Lily tadi.
"Ayo saya antar!" ajaknya pada Annete. Annete pun mengikutinya tapi baru beberapa langkah Annete berkata, "Sepertinya saya sudah tidak kebelet lagi."
Orang yang bernama Lily itu tersenyum. "Saya tahu kamu ingin melarikan diri kan?"
"Maksud Mbak?"
"Ah sudahlah jangan berpura-pura saya dulu pun pernah seperti anda. Tapi percuma setiap karyawan yang sudah masuk ke sini tidak akan bisa keluar dengan mudah kecuali sudah menghasilkan banyak pundi untuk pemilik tempat ini." Mendengar perkataan Lily ini bulu kuduk Annete terasa merinding.
"Apakah semua karyawan wanita di sini akan dijadikan wanita pemuas nafsu?"
"Mayoritas iya tapi tergantung pelanggan tertarik tidak sama kamu. Asal kamu tahu yang bebas dari semua itu hanyalah Diena. Jadi kamu bisa meminta tips sama dia kalau tidak ingin bernasib seperti kami semua."
"Oke terima kasih informasinya. Boleh minta tolong antarkan aku ke ruangan nyonya Mary?" Annete ingin menemui Angel kembali mungkin dia punya solusinya.
"Baiklah, ayo!" Mereka pun melangkah ke ruangan Nyonya Mary kembali.
"Sudah sampai ya aku pergi dulu."
"Net kenapa kamu kembali?" tanya Angel yang kini sudah dipoles oleh Nyonya Mary tersebut.
"Tidak ada jalan keluar Gel, semuanya dijaga ketat."
"Oke kalau begitu, untuk sementara kamu bisa bekerja dulu. Kamu harus bertahan sambil memikirkan rencana agar terbebas dari semuanya. Kamu tenangkan diri dulu karena selama dua minggu di sini kamu masih bisa bebas," ujar Angel.
"Nyonya Mary tolong lanjutkan mendandani Annete dulu."
__ADS_1
"Anna bukan Annete," ucap Annete.
Untuk sesaat Angel terdiam namun kemudian menjadi paham. "Okei," ucapnya.
"Nyonya Mary tolong beri pakaian dia yang agak panjang ya, harus di bawah lutut tidak boleh selutut ataupun di atas lutut. Ada kan stoknya?"
"Ada Mbak Angel, tenang saja. Tapi kalau tuan Paul komplain bagaimana?"
"Kamu bilang aja di paha Anna ada boroknya atau tompelnya saja, akan merusak penampilan kalau diperlihatkan. Dia tidak akan mengeceknya kan?"
"Baiklah Mbak Angel."
"Ayo Nona ke ruang ganti."
"Bagaimana Mbak Angel cocok?" Nyonya Mary memperlihatkan Annete yang sudah berganti pakaian.
Angel mengulum senyum. "Cantik meski pakaiannya tidak seksi. Oh ya Nyonya Mary lain kali kalau mendandani dia jangan terlalu cantik."
"Ah bilang saja mbak Angel iri ya dengan Nona Anna ini jadi cantiknya takut ada saingannya."
"Bukan begitu Nyonya aku hanya tidak ingin pelanggan yang hidung belang di sini menatap lapar ke arahnya. Nyonya tahu sendiri kan tadi apa keinginan Anna ini?"
"Iya-iya paham."
"Ya sudah Anna pergi sana, nanti Diena bisa murka," perintah Angel. Dan benar saja baru saja melangkah ke luar Diena sudah menggedor pintu.
"Ayo Anna cepetan, belum selesai kah?"
"Sekilas Diena melirik penampilan Annete. "Kok lama sekali ya!"
"Maaf Mbak Diena, aku tadi agak pusing jadi lelet." Nyonya Mary yang menyahut.
"Ya sudah ayo cepat!" Diena mengalungkan apron ke leher Annete.
"Antarkan coppucino ke meja yang di sana dan coffe late ke meja yang di sebelah sana."
"Oke." Annete pun bergegas mengantarkan pesanan ke meja masing-masing.
"Sudah," katanya pada Diena setelah kembali ke tempatnya.
"Kalau sudah sambil membuat pesanan berikutnya ayo aku ajari meracik kopi," kata Diena. Annete pun mengangguk dan memperhatikan bagaimana caranya Diena bekerja. Setelah selesai ia langsung mengantarkan pada pelanggan.
"Anna tolong antarkan cocktail dan makanan ini ke meja yang di sana ya!"
"Oke Bim." Annete melakukan apa yang diperintahkan Bima mengantarkan pesanan ke pelanggan. Mereka bertiga terlihat akrab walaupun baru kenal. Bima dan Diena merasa terbantu dengan keberadaan Annete di sana. Dan Annete sedikit bisa melupakan kegelisahannya untuk sementara waktu karena kesibukannya.
"Anna Terima kasih ya," ucap Diena pada Annete.
__ADS_1
"Sama-sama Di. Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Iya, tanya apa?"
"Katanya semua orang yang bekerja di sini pelan-pelan akan dipaksa untuk dijadikan kupu-kupu malam tapi hanya kamu yang tidak, bisa bagi tipsnya tidak?"
"Oh itu, aku pakai semacam jimat agar orang lain tidak tertarik untuk menyentuhku." Diena bicara dengan cara berbisik di telinga Annete.
"Kamu dapat dari mana? Aku ingin juga."
"Hem Hem," Bima terbatuk-batuk di sela pembicaraan mereka yang hanya berbisik karena tidak dilibatkan.
"Apa sih Bim ini urusan wanita," protes Diena pada Bima.
"Iya-iya deh asal jangan gibahin saya."
"Kepedean siapa juga yang ngomongin elo, huek," ucap Diena lalu menjulurkan lidah.
Bima hanya memalingkan muka dan melanjutkan pekerjaannya.
"Gimana Di, bisa bantu aku untuk dapatkan barang itu tidak?"
"Bisa sih An cuma harganya mahal."
"Emang berapa?"
Diena membisikkan harga ditelinga Annete.
"Mahal banget sih Di."
"Kumpulkan uangmu dulu nanti kalau sudah terkumpul baru kasih tahu saya." Annete terdiam bagaimana caranya mengumpulkan uang kalau dirinya saja bekerja tidak dibayar. Kalau Sampai menunggu uang itu rasanya akan terlambat. Annete harus memikirkan cara lain agar terbebas dari tempat terkutuk itu.
Saat termenung Bima memanggilnya kembali.
"Apa ada minuman yang harus aku antar lagi Bim?"
"Bukan mengantar minuman tapi kamu harus menangani orang yang mabuk di meja itu. Orang itu masih memesan minuman padahal dirinya sudah terlalu mabuk. Tadi aku sudah memberinya bir non alkohol tapi orang itu tetap tak mau pergi. Kamu harus bisa menghentikannya dan membuatnya pergi dari tempat ini dengan cara halus."
Annete menoleh ke arah pria itu yang sedari tadi memanggil-manggil untuk dibawakan minuman kembali.
"Ya ampun Bima kenapa tidak kamu saja sih? Bagaimana aku tahu cara menanganinya. Kan aku masih baru di sini?"
"Justru karena baru kamu harus banyak belajar."
"Baiklah." Annete berjalan sambil menggertakkan kaki di lantai di samping Bima karena kesal sedang Bima hanya terkekeh melihat ekspresi Annete.
"Anna, Anna kamu pikir bekerja di sini hanya sekedar mengantarkan makanan dan minuman apa."
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak.๐