Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 106. Pasrah


__ADS_3

"Om akan ajarin kamu pelajaran Biologi bab reproduksi." Naura menganga mendengar penuturan Lexi.


"Sekarang langsung praktek," ucap Lexi sambil menarik Naura dalam pelukannya.


"Om?"


Lexi tidak menggubris protesnya Naura tetap saja tangannya tak mau berhenti bergerilya.


"Ini bahaya," batin Naura sambil mencoba melepaskan diri. Namun sama sekali tidak berhasil.


"Om ingat kalau Om sampai ngapa-ngapain Naura, setengah dari harta Om akan jadi milik Naura." Naura mengingatkan.


Gerakan tangan Lexi seketika berhenti dan wajahnya memandangi wajah Naura. Naura bernafas lega dia pikir berhasil namun nyatanya Lexi memulai tingkahnya lagi, sama sekali tidak perduli dengan ucapan Naura.


"Om ingat kalau sampai Naura hamil dan Om ninggalinn Naura maka tiga per empat warisan Om akan jatuh ke tangan Naura."


"Aku tidak perduli Naura, aku lebih takut kehilangan kamu dibandingkan harta itu karena aku lebih membutuhkanmu dibanding semuanya. Naura kumohon kamu mau ya!" pintanya memelas dengan suara yang berat.


"Om." Naura tidak tahu harus berkata apa.


"Masa kamu tega sih biarin Om bersolo karir. Kali ini saja kita kan sudah menikah."


Karena kasihan melihat wajah Lexi sekaligus takut berdosa karena menolak suami dan ditambah lagi kalau penolakannya membuat sang suami harus selingkuh dengan sabun maka dosanya akan berkali lipat akhirnya dia mengangguk juga.


Lexi tersenyum mendapat izin dari sang istri, tanpa menyia-nyiakan kesempatan dia langsung meraup bibir sang istri dan melancarkan serangan-serangan nakalnya.


Mendapat ciuman yang lembut dari sang suami dan pelukan hangatnya membuat Naura melupakan segalanya. Dia kali ini benar-benar pasrah. Bahkan ketika sang suami menjelajahi tubuhnya Naura merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang menari-nari di perutnya. Dan malam itu akhirnya menjadi malam panas bagi mereka berdua yang sama-sama belum pernah merasakan kenikmatan ini sebelumnya.


"Terima kasih Sayang." Lexi mengakhiri permainannya dengan mencium kening Naura saat setelah menyelesaikan ritualnya kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya. Sesaat setelah itu ia lalu ambruk di samping tubuh Naura. Rasanya malam ini begitu indah baginya karena telah berhasil memiliki Naura seutuhnya. Dia merasa begitu puas walaupun permainan mereka masih pada tahap lembut. Tak berapa lama dia terlelap dan deru nafasnya mulai terdengar di telinga Naura.


Sedangkan Naura tidak bisa tidur dia kemudian duduk bersandar di sandaran ranjang. Dia memandangi wajah Lexi, tubuhnya sendiri dan bercak darah yang tercecer di sprei yang kebetulan selimutnya tersingkap, secara bergantian.


"Akh aku sudah tidak perawan, bagaimana kalau aku hamil?" gumamnya. Tiba-tiba saja dia teringat dengan sekolahnya. Apa nasib sekolahnya nanti kalau dia benar-benar hamil?


Dan bagaimana kalau Lexi ingkar janji dan meninggalkan dirinya dalam keadaan hamil? Apakah harta yang akan dia dapatkan mampu membawanya hidup bahagia dengan anak tanpa seorang ayah? Naura menangis memikirkan itu semua.


"Tidak aku yakin Om Lexi bukanlah seorang pengecut yang akan meninggalkanku dalam keadaan seperti itu." Meyakinkan diri sendiri sambil mengusap air mata. Namun sayang air matanya tak bisa berhenti. Tangisnya malah semakin keras dan menjadi-jadi sehingga membuat Lexi terbangun.


"Hei kenapa menangis?" Lexi bangkit dari berbaring dan ikut duduk di samping Naura.


"Maafkan aku ya yang tidak bisa menahan hasrat ku. Apa sekarang kamu menyesal ?" tanya Lexi sambil mengusap-usap punggung Naura.


Naura menggeleng. "Apa setelah ini Om akan meninggalkan aku?"

__ADS_1


"Hei mengapa bertanya seperti itu? Mana mungkin aku merelakan 3/4 harta warisan lepas dariku," ujar Lexi sambil tertawa.


'Plak.' Naura memukul punggung tangan Lexi.


"Nyebelin sih tadi katanya lebih baik kehilangan harta daripada harus kehilangan Naura."


"Tapi aku tidak mau kehilangan dua-duanya. Biarlah hartaku nanti menjadi milik anak-anak kita nantinya," ujar Lexi sambil mengusap-usap perut Naura.


"Semoga tumbuh ya," lanjutnya.


"Om pengen punya anak?"


"Iyalah, suami mana sih yang nggak pengin punya anak dari istri tercintanya."


"Tapi Naura kan masih sekolah Om? Naura pasti akan dikeluarkan dari sekolah kalau nanti ketahuan hamil."


"Biar Om yang atur kan tubuhmu tidak akan tiba-tiba membesar begitu saja pasti kan ada prosesnya. Nanti kalau memang hamil kamu bisa sekolah seperti biasa tapi kalau perutmu sudah kelihatan membesar nanti om akan minta pihak sekolah untuk mengizinkan mu sekolah online."


"Sejauh itu sih berpikirnya." Batin Naura.


"Tapi Om mohon kalau memang benihku tumbuh di rahimmu jangan pernah berpikir untuk membuangnya ya!" Naura mengangguk.


"Om apakah pernikahan kita sah?"


"Tapi Om menyebut namaku lain."


"Oh itu? Naura, boleh aku bertanya?"


"Iya Om, mau tanya apa?"


"Apakah kamu benar-benar belum bisa mengingat masa kecilmu?" tanya Lexi lembut.


Naura menggeleng. "Sampai saat ini belum Om."


"Kiara itu nama kecilmu, nama yang disematkan orang tuamu disaat kamu lahir. Entah mengapa nenek Nisa mengubahnya menjadi Naura."


"Apakah Om percaya aku anaknya nyonya Lana?"


"Kamu sendiri?"


"Entahlah Om aku selalu berusaha mengingat masa kecilku apalagi saat Om Zidane menunjukkan hasil tes DNA tapi hasilnya aku masih tidak bisa mengingat apa-apa malah kepalaku terasa pusing terus memikirkannya. Aku kadang berpikir apakah Om Zidane membohongiku?"


"Kamu pikir buat apa Zidane membohongimu?"

__ADS_1


"Entahlah."


"Ya sudah kalau memang belum bisa mengingat jangan terlalu dipaksakan tapi saya mohon bersikap baiklah pada mereka semua."


"Iya Om."


"Sudah ayo tidur lagi jangan terlalu banyak yang dipikirkan nanti kamu sakit."


"Aku mau ke kamar mandi dulu Om ,nggak enak kalau tidur dalam keadaan kotor seperti ini."


Naura bangkit dari ranjang dan memungut pakaiannya namun bukannya dipakai justru ia melilitkan selimut di tubuhnya lalu hendak berjalan menuju kamar mandi. "Auw sakit," lirihnya. Rasa sakit dari organ intimnya masih terasa padahal Naura pikir akan cepat hilangnya. Namun ia mencoba menahannya kemudian berjalan terseok-seok menuju kamar mandi.


Lexi yang tidak tahan melihat istrinya yang berjalan kesakitan akhirnya berinisiatif menggendong Naura dan membawanya ke kamar mandi.


"Turunkan Om! Om mau apa ikut ke kamar mandi?"


"Mau mandiin kamu lah. Kan aku yang tadi bikin kamu kotor ya sekarang tugasku lah membersihkan kamu," ucap Lexi sambil menarik turunkan alisnya menggoda istrinya.


"Om keluar!" ucap Naura sambil mendorong tubuh Lexi.


"Aku mau mandi juga emang tidak boleh?"


"Nggak, nggak boleh."


"Serem amat sih," ucap Lexi melihat ekspresi wajah Naura.


"Habisnya aku kan malu Om," balas Naura sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.


"Ngapain harus malu toh aku sudah melihat semuanya."


Mendengar perkataan Lexi semakin memerah saja rona wajah Naura.


"Sana keluar, abisnya dari semalem pakai handuk terus, nggak punya baju apa!"


"Iya iya aku keluar, galak banget sih kayak anjing," ucap Lexi sambil terkekeh kemudian keluar dari kamar mandi dia memilih menunggu Naura di ranjang.


"Aduh sakit banget sih," ujar Naura sambil mengguyur tubuhnya dengan air.


"Kenapa banyak suami istri yang demen main beginian sih? Nggak sakit apa? Kalau aku dibeginikan tiap malam bisa sekarat nih organ intimku," gumam Naura sambil geleng-geleng kepala karena ngeri.


Bersambung....


Menurut kalian bab ini vulgar nggak ya? Apa perlu dikasih warning (21+ )? Kalau menurut Othor kayaknya nggak hot cuma hangat aja, iya nggak sih?

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, hadiah, vote, rate bintang lima dan favorit tentunya. Terima kasih🙏 Love you all.💓


__ADS_2