
"Kamu kenapa sih kok kayaknya benar-benar sembunyi?" tanya Louis curiga.
"Ah nggak, kebetulan aku tadi mengejar kupu-kupu," kilah Nindy.
"Mana ada kupu-kupu di musim kemarau?"
"Ada buktinya tadi aku lihat."
"Hmm, bohong."
"Nggak aku tadi beneran lihat kok, suer deh."
"Iya deh, tapi kenapa tadi balik pas mau antar minuman?"
"Karena ... karena malu, iya malu sama Nyonya."
"Emang kamu pemalu?"
"Iya aslinya aku emang pemalu."
"Kamu pemalu? Nggak percaya gue."
"Terserah kalau tidak percaya," ujar Nindy cemberut.
"Lagian kenapa harus malu? Kan bentar lagi bakal jadi mertua," goda Louis sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Nindy terbelalak lalu mencebik kesal.
"Auh ah nggak lucu bercandanya."
"Ish is siapa yang bercanda? Aku serius malah."
"Itu tadi tamunya, siapa?" Nindy tidak menghiraukan penuturan Louis karena hanya menganggap pria itu bercanda. Dia malah memancing Louis agar membocorkan informasi terbaru kedatangan orang tuanya.
"Oh itu?" Suara Louis terdengar malas.
"Itu tadi teman mama, kebetulan lewat di depan rumah dan kebetulan juga bertemu mama. Jadi Mama ajak deh sekalian mereka kemari." Tidak mungkin bagi Louis untuk jujur tentang perjodohan yang dirancang kedua orang tuanya dengan orang tadi. Kalau tidak Nindy pasti akan balik menertawakannya.
"Oh begitu ya?"
"Iya, emang kamu kenal dengan orang tadi?" Pertanyaan Louis bagaikan menyelidik bagi Nindy.
"Ah nggak kok, kalau kenal ngapain masih tanya sama kamu?"
"Iya juga sih," jawab Louis terkekeh.
"Yuk temani aku makan, perut aku udah lapar nih," ujar Louis sambil mengusap perutnya.
"Kenapa tadi tidak sekalian makan sama Nyonya?"
"Nggak ah, aku mau makan sama kamu aja."
"Manja banget sih," ujar Nindy kesal.
__ADS_1
"Udah ayo!" Louis menarik pergelangan tangan Nindy. Akhirnya Nindy pasrah langsung mengikuti langkah Louis ke meja makan.
"Ayo dimakan!" ajak Louis ketika Nindy hanya memandang makanan yang ada di meja makan.
"Nanti kalau sudah jadi istri saya kamu harus bisa masak yang itu, itu menu favorit saya," ujar Louis terus saja menggoda Nindy sambil menunjuk salah satu makanan yang ada di depannya. Sontak godaan Louis membuat Nindy eneg saja.
"Udah ah aku mau balik ke kamar saja, aku sudah kenyang." Nindy bangkit dari duduknya.
"Eh enak saja, kamu kan ditugaskan untuk menemani saya makan kalau tidak mau segera bayar hutang," ancam Louis membuat Nindy menelan ludah kasar.
"Baiklah." Nindy duduk kembali tapi dia tidak ikut makan hanya menemani Louis saja.
"Tuan besok aku mau kuliah, boleh kan? Tuan tenang saja saya kan masuk agak siang jadi paginya tetap bisa membantu Mbak Mira."
Louis menghentikan aktivitas makannya. "Boleh nanti saya akan menyuruh orang biar bisa menjaga kamu."
"Apa tidak berlebihan Tuan? Dan saya tidak mau hutang saya bertambah lagi."
"Demi keamanan kamu, bisa saja kan Pras datang tiba-tiba dan membuat ulah lagi. Siapa yang akan jagain kamu sementara aku tidak ada di sampingmu?" ucap Louis serius.
"Kamu tenang saja kalau yang ini gratis," ucapnya lagi, kemudian.
Perhatian amat sih.
"Kenapa? Kamu bilang aku perhatian?"
Kok tahu sih nih orang apa yang aku omongan, jangan-jangan punya Indra keenam lagi.
"Jangan suka mencebik kalau tidak mau ku lahap tuh bibir."
Nindy masih saja mencebik membuat Louis gemas dan tanpa sadar dia malah mendekatkan bibirnya ke bibir Nindy.
"Cup." satu kecupan mendarat di bibir Nindy membuat gadis itu kelimpungan karena mendapat serangan mendadak. Dia hanya terbelalak kemudian berkata, "Jahat ah, otak mesum!" Nindy langsung berlari ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar dia menangis sesenggukan, ini kali kedua Louis mencium dirinya tanpa izin. Kemarin-kemarin dia tidak begitu mempermasalahkan ciuman Louis karena sadar itu atas dasar ketidaksengajaan. Namun kali ini Nindy tidak terima dengan perbuatan Louis tersebut.
"Apakah dia berpikir aku itu hina sehingga seenaknya dia mengambil ciumanku itu?" Nindy berbicara sendiri di sela isak tangisnya.
Sementara Nindy menangis Louis tampak menggedor-gedor pintu.
"Nin buka pintunya! Maafkan aku, aku khilaf." Tak ada jawaban dari dalam karena Nindy masih menangis.
"Nin buka dong, ayolah maafkan aku. Kamu bisa minta apa saja yang kamu inginkan asalkan kamu mau memaafkan aku dan mau membuka pintu kamarmu."
Ceklek. Pintu terbuka. Nindy muncul di balik pintu. Louis langsung bersujud di kaki Nindy dan terus mengucapkan kata maaf.
"Tuan bangunlah!"
Louis bangun. "Maafkan aku," ucapnya sekali lagi.
"Tuan tahu meski aku sudah beberapa tahun pacaran dengan Pras, aku tidak pernah mengizinkan dia untuk mencium diriku, tapi Tuan yang tidak ada status apapun denganku malah dengan begitu mudahnya mencium wajahku. Apakah sehina itu Tuan Louis menilai diriku? Aku wanita gampangan begitu?" ujar Nindy dengan menggebu-gebu karena amarah.
__ADS_1
"Maafkan aku Nin, aku khilaf. Aku tidak pernah menganggap dirimu sehina itu."
"Seharusnya sejak dulu saya sudah pergi dari sini tapi sayang gara-gara Pras membuat diriku kembali ke tempat ini lagi." Nindy menarik nafas panjang.
"Tapi mulai sekarang aku mengambil keputusan, aku harus pergi dari tempat ini. Bukankah tadi tuan mengatakan akan mengabulkan permintaanku? Masalah hutang-hutangku pada Tuan biar ayah yang menyelesaikannya."
"Tunggu dulu maksud kamu, kamu akan kembali ke rumahmu itu?"
"Tidak ada jalan lain, aku harus pulang dan menerima perjodohan yang diinginkan oleh kedua orang tuaku. Mungkin dengan cara itulah aku bisa merebut perhatian kedua orang tuaku lagi sekaligus dapat membantu menyelesaikan hutang-hutangku padamu."
"Nin jangan lakukan itu Nin!"
"Apa hak Tuan melarang ku? Bukankah aku sudah berjanji akan melunasi semua hutang-hutangku?"
Louis terdiam, bibirnya serasa kelu. Mengapa begitu sulit untuk mengatakan aku menyukaimu, mencintaimu dan jangan pernah tinggalkan aku.
"Aaakh!" Louis menjambak rambutnya frustasi. Louis kesal sendiri dia hanya bisa pasrah melihat Nindy mengemas pakaiannya.
Hingga saat Nindy mengucapkan selamat tinggal Louis masih saja terpaku, dia tidak menyangka kalau hal kecil bisa membuat masalah dalam hidupnya.
"Terima kasih Tuan sudah mau menampung ku di sini dan menjadi teman baik selama ini. Terima kasih juga telah menemani ku. Selamat tinggal dan semoga saat kita bertemu kelak kita sudah sama-sama dalam keadaan bahagia."
Nindy keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu rumah.
"Loh-loh ada apa ini?" Mira yang melihat Nindy membawa semua pakaiannya terkejut. Dia hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi pada keduanya karena kedua orang tersebut tidak ada yang mau menjawab pertanyaan darinya.
"Mbak Mira terima kasih ya atas perhatian dan kebaikan yang tulus dari Mbak Mira selama ini. Kalau Nindy ada salah tolong dimaafkan ya Mbak."
"Tunggu-tunggu! Nindy, kamu mau kemana?"
"Pulang ke rumah Mbak tugas saya sudah berakhir di sini," ucap Nindy sambil tersenyum ke arah Mira sedang Mira memandangi wajah Louis seolah mencari jawaban pertanyaannya di sana. Namun sayang Mira tak menemukan jawaban yang dicarinya di sana.
"Terima kasih Mbak Mira semoga kita bisa bertemu lagi meski bukan di tempat ini." Nindy lalu keluar.
"Nin!" panggil Louis.
Nindy menoleh. "Iya Tuan?"
"Maafkan aku."
Nindy mengangguk. "Aku sudah memaafkan Tuan, tapi maaf aku tetap harus pergi." Nindy meneruskan langkahnya.
"Nin!" panggil Louis kembali.
"Kenapa?"
"Rumah ini akan selalu terbuka seandainya kamu mau kembali."
Nindy mengangguk lalu terus melanjutkan langkahnya tanpa mau menoleh ke belakang lagi.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya Readers-ku tersayang!🥰