Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 26. Pingsan dan Obat Penenang


__ADS_3

"Kenapa sih wanita itu selalu bernasib baik, tidak mendapatkan Pras malah mendapatkan lelaki itu," ucapnya geram. Apalagi melihat motor yang dikendarai Louis bukanlah motor sembarangan. Lisfi bisa menebak kalau pria itu pasti adalah orang kaya.


"Aku harus bisa memisahkan mereka apapun yang terjadi. Bagaimana pun Safa tidak boleh bahagia," ucapnya sambil tersenyum penuh arti sedangkan pemilik warung hanya memandang wanita itu dengan bingung karena mendengar wanita itu menggerutu sendiri tidak jelas.


"Pegangan yang erat!" perintah Louis lagi saat mereka sudah menjauh dari warung tadi.


"Ogah ah," tolak Nindy.


"Cih bukannya kamu tadi yang memeluk erat tubuh saya tanpa ada yang meminta? Kenapa sekarang malah mengendorkan kembali."


"Cih lupa dia, tadi dia kan yang menyeruh ku Pegangan erat?" Nindy bermonolog sendiri.


"Ngomong apa?"


"Nggak ngomong apa-apa kok," bohong Nindy.


"Peluk dong sayang aku kedinginan nih." Louis terus saja menggoda gadis itu membuat Nindy langsung memukul pundak pria tersebut.


"Auw sakit, bukannya dapat kehangatan malah dapat memar nih kayaknya." Masih terus menggoda.


Nindy diam tidak menggubris ocehan Louis karena kepalanya mendadak pusing.


Hening, perjalanan berlanjut tanpa ada yang berbicara lagi. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Nindy yang bingung dengan kepalanya yang tiba-tiba rasanya mau pecah dan Louis yang mengingat kejadian tadi. Dia mencoba menebak-nebak siapa wanita yang telah berani menghina gadis yang sedang duduk di belakangnya kini.


Saat asyik dengan pikiran masing-masing, Nindy malah merasa tidak kuat lagi dengan rasa sakitnya. Ia langsung menekuk Louis kembali kemudian menyandarkan kepalanya pada punggung Louis dan memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian dia pingsan.


Louis yang tidak menyadari bahwa gadis di belakangnya sedang pingsan malah tersenyum nakal. Dia merasa Nindy memang dengan sengaja menyandarkan dirinya di punggung miliknya.


Setengah jam berlalu hingga akhirnya mereka tiba di rumah Louis kembali.


"Nin sudah sampai," ucap Louis sambil mengusap-usap tangan Nindy yang melingkar di pinggangnya.


Tak ada jawaban dari wanita itu membuat Louis menepuk bahu gadis itu meski agak susah tangannya menjangkau ke belakang.


"Apa dia tidur ya?" pikir Louis dalam hati.


Louis langsung menoleh ke belakang dengan susah payah karena punggungnya disandari kepala Nindy, namun tiba-tiba pak satpam menghampiri keduanya dan membantu Louis untuk membangun Nindi.


"Nin bangun Nin!" Pak satpam menepuk bahu Nindy namun wanita tersebut tidak bereaksi.


"Tuan sepertinya Nindy bukan tidur tapi pingsan," ujar pak satpam kemudian.


"Benarkah?" Louis tidak percaya karena ternyata pegangan Nindy tetap erat memeluknya, kalau pingsan pasti sedari tadi sudah lepas pikir Louis.


"Sepertinya iya Tuan."


"Baiklah kalau begitu tolong pegangin agar dia tidak roboh." Pak satpam menurut, dia memegang tubuh Nindy sementara Louis turun dari motor.


Setelah turun dari motor Louis menepuk-nepuk pipi Nindy namun gadis itu tetap tak mau bereaksi.


"Benar kata Bapak dia pingsan," ujar Louis sambil mengangkat kembali tubuh Nindy dan membawanya ke dalam rumah.


Sampai di depan pintu Mira yang kebingungan melihat majikannya menggotong tubuh seorang wanita langsung berlari ke arah Louis.


"Mas Louis dia itu kenapa?" Tanpa melihat gadis dalam gendongan Louis Mira bertanya.


"Pingsan, cepat ambilkan minyak kayu putih," perintahnya pada Mira. Mira pun melakukan yang diperintahkan. Dia langsung berlari dan mencari keberadaan si minyak kayu putih. Setelah menemukannya dia langsung kembali ke dekat Louis yang kini sudah membaringkan tubuh Nindy di kamarnya.


"Mas dia itu Nindy?" Mira kaget melihat yang dibawa majikannya adalah tubuh Nindy.


"Iya Mir tolong ya gantikan bajunya yang basah," ujar Louis sambil membalurkan minyak kayu putih di di bagian pelipis dan leher Nindy. Setelah itu ia memijat bagian antara ibu jari dan jari telunjuk dengan minyak kayu putih juga. Tindakan ini bisa membantu penderita pingsan agar tersadar kembali.

__ADS_1


"Iya Mas."


"Aku mau telepon dokter dulu." Louis keluar dari kamar Nindy untuk memberi kesempatan agar Mira mengganti baju gadis itu.


Sementara Louis menelpon dokter pribadinya, Mira tampak mencari-cari baju Nindy di dalam lemari.


"Kok tidak ada semua sih?" gumamnya namun kemudian dia teringat tadi pagi Nindy telah mengepak semua pakaiannya dan membawanya pergi.


Mira lalu keluar dari kamar tersebut. "Bagaimana sudah selesai?" tanya Louis ketika melihat pembantunya sudah keluar dari kamar Nindy namun Mira menggeleng.


"Loh kok kamu keluar?"


"Anu Mas ... anu ...."


"Anu-anu apa sih Mbak? Ngomong yang jelas dong!"


"Itu loh Mas baju Nindy sudah tidak ada semua."


"Kalau begitu pakai baju kamu saja dulu kalau bisa berikan yang belum pernah kamu pakai."


"Kalau yang baru ada sih Mas tapi harganya kan Mahal Mas, susah payah aku ngumpulin uang untuk membelinya, pakai yang bekas saja ya!"


"Ya ampun perhitungan banget sih, cepetan ambil! Kamu mau Nindy mati kedinginan?"


"Ah iya-iya Mas, maaf." Mira langsung berlari ke kamarnya sendiri untuk mengambil baju barunya. Sesaat kemudian dia sudah ada di kamar Nindy kembali.


Sebelum ia mengganti pakaian Nindy ia memandangi pakaian tersebut dengan sayang. Ia menatap merek terkenal yang melekat di baju tersebut.


Melihat Mira malah terbengong Louis masuk kembali ke dalam kamar. Ia menatap kemana arah mata Mira bersitatap.


"Aku ganti dua kali lipat," ucap Louis langsung setelah dirinya mengerti apa yang dipikirkan Mira.


"Nah gitu kan Mas Louis kalau begini Mira kan jadi tenang."


"Iya-iya. Kalau begitu Mas Louis keluar dulu dan tutup pintunya!"


"Baiklah." Louis berjalan keluar kamar kemudian menutup pintu tersebut.


Sementara Mira berusaha mengganti baju Nindy, dokter pribadi Louis datang dengan diantar pak satpam.


"Siapa yang sakit?" ujar dokter tersebut sambil berjalan ke arah Louis.


"Teman saya Dok, sebentar masih diganti bajunya."


"Kenapa harus ganti baju dulu sih? Kenapa tidak nanti saja sesudah saya periksa."


"Cih kenapa kamu malah ngatur-ngatur saya? Kalau bosen bekerja sama saya ya sudah saya cari dokter yang lain saja."


"Jangan begitu lah Bro, aku kan hanya buru-buru saja," ujar dokter tersebut yang memang pernah bersahabat dengan Louis. "Ya sudah deh aku tunggu," ucapnya kemudian, pasrah.


Beberapa saat kemudian handle pintu tampak diputar dan Mira muncul dari balik pintu. "Sudah Mas," lapornya.


Louis mengangguk pada Mira lalu mengajak dokter tersebut untuk masuk.


"Ayo Dok masuk!" Dokter pun masuk dan memeriksa pernafasan Nindy.


"Kenapa dia pingsan? Apakah dia tenggelam?" tanya dokter tersebut pada Louis sambil tangannya cekatan terus memeriksa. Bukan tanpa alasan dokter tersebut bertanya demikian, tapi itu karena dia melihat baju basah yang dibawa Mira tadi keluar kamar.


"Tenggelam apaan orang cuma kena hujan," protes Louis.


"Saya kira dia tenggelam biar saya kasih nafas buatan," ujar dokter tersebut menggoda Louis.

__ADS_1


"Enak aja, kalau cuma ngasih nafas buatan sih aku jago nggak butuh bantuan mu," ucap Louis kesal membuat dokter itu tertawa.


"Kok tertawa sih bagaimana keadaannya?" tanya Louis panik dan khawatir karena Nindy belum sadar juga.


"Tenanglah keadaannya baik-baik saja kok. Tolong ambilkan air putih!" perintah dokter tersebut.


"Mir ambilkan air minum!" teriak Louis


"Baik Mas," sahut Mira lalu tergopoh-gopoh menghampiri Louis dengan segelas air putih.


Benar saja kata dokter saat itu tiba-tiba Nindy tersasar kembali. Dokter langsung memberikan obat dan air putih pada Nindy.


"Diminum dulu Nona."


Louis membantu Nindy menyandarkan tubuhnya dengan bertumpu pada bantal di sandaran ranjang. Nindy mengangguk dan menerima obat dan air putih dari tangan dokter tersebut lalu meneguknya.


"Sepertinya dia juga sedikit demam, mungkin karena terkena hujan. Biar aku resepkan obat," ujar dokter tersebut.


"Bisa kita bicara di luar?" pinta dokter tersebut pada Louis.


"Oke ayo." Louis mengajak dokter tersebut ke luar kamar dan duduk di ruang tamu.


"Mbak Mira tolong jagain ya!"


"Apa ada yang serius sehingga kamu mengajakku ke luar?"


"Iya, karena saya harus menjelaskan sesuatu dan wanita itu tidak boleh tahu biar tidak menjadi beban."


"Apa itu?"


"Sepertinya wanita tadi mengalami gangguan kecemasan, mungkin karena dia stres atau merasa terancam sehingga membuat dirinya kerap tidak tenang. Untuk itu tolong jaga perasaannya kalau bisa buat dia senantiasa bahagia agar bisa melupakan beban hidupnya. Untuk itu, ini aku juga resepkan obat penenang untuk sementara."


"Tapi sepertinya dia baik-baik saja kok, tidak terlihat gelisah sedikitpun," terang Louis.


"Itu karena dia pandai menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Dia tidak ingin orang lain tahu akan kekhawatirannya."


Louis menarik nafas panjang, "ini pasti karena ulah keluarganya sendiri."


"Apa katamu?" tanya dokter tersebut karena suara Louis terdengar tidak jelas.


"Nggak ada apa-apa," sahut Louis berbohong."Terus bagaimana cara menanganinya? Apakah dia harus mengkonsumsi obat tersebut terus-menerus?"


"Kan saya bilang tadi untuk sementara. Saya sarankan, lebih baik kamu cari pusat permasalahan wanita itu setelah itu bantu dia untuk menyelesaikannya. Saya yakin cara itu lebih efektif daripada harus terus-menerus mengkonsumsi obat-obatan yang bisa saja membuat penggunanya ketagihan."


"Baiklah terima kasih sarannya," ucap Louis sambil menepuk pundak dokter tersebut.


"Sama-sama. Kalau begitu aku permisi dulu ya soalnya ada pasien yang telah menunggu ku. Sukses ya buat kamu."


"Sukses juga buat kamu."


Setelah berbincang-bincang dan pamit akhirnya dokter tersebut langsung beranjak dari duduknya dan berjalan keluar sedangkan Louis langsung menuju kamar Nindy.


Sampai di kamar Nindy dia melihat Nindy yang menangis sambil bersandar di bahu Mira.


"Kamu kenapa Nin?" Gadis itu tidak menjawab tetap menangis sesenggukan.


Karena tidak mendapat jawaban dari Nindy Louis langsung bertanya pada Mira.


"Dia kenapa Mbak Mira?"


"Aku juga nggak tahu Mas dari tadi dia nangis terus dan saat ditanya dia tidak mau menjawab."

__ADS_1


"Ini pasti gara-gara wanita tadi. Saya harus mencari tahu identitas wanita tersebut dan membuatnya hancur. Dia harus merasakan lebih dari yang Nindy rasakan." Louis mengeram dalam hati.


Bersambung....


__ADS_2