Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 157. Kabur


__ADS_3

Sudah hampir 2 bulan Annete dipenjara tetapi sampai saat ini Angel dan Wilson tidak pernah menjenguk sekalipun. Annete terlihat duduk meringkuk di dalam tahanan, dagunya bertumpu pada kedua lututnya. Sekejap kemudian menatap nanar ke arah luar matanya terlihat bengkak, akhir-akhir ini dia sering menangis meratapi nasibnya.


Seribu tanya berkecamuk dalam dada. Mengapa Angel dan Wilson tidak pernah menemuinya. Wanita ini berpikir bahwa mereka sudah melupakannya karena menganggap Annete tak berguna.


"Angel pasti kau sudah bosan ya menemani diriku karena setiap aku ada di sisimu aku selalu merepotkanmu."


"Ya Tuhan kenapa aku dilahirkan ke dunia kalau hidupku harus terombang-ambing seperti ini. Kemana kau akan membawa takdirku sedangkan aku hanyalah seorang wanita yang bodoh yang tak kuasa melakukan apa-apa. Kenapa tidak Engkau cabut saja nyawaku sedang aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini." Annete mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Ia sudah mulai merasa putus asa. Terbersit di hatinya ingin bunuh diri saja namun ia ingat pesan ayahnya bahwa seseorang yang bunuh diri rohnya akan melayang-layang di udara tanpa tujuan. Ia mengurungkan niatnya. Annete tidak mau hidupnya terombang-ambing untuk kedua kalinya.


Kemudian dia teringat akan si kembar dan Adel. "Kalian sedang apa?"


Saat mengingat memori tentang kehidupannya bersama mereka tiba-tiba pintu tahanan dibuka.


"Nona Anna ada yang ingin bertemu denganmu." Seorang polisi perempuan membuyarkan lamunan Annete.


"Siapa?"


"Katanya sahabat Anda." Ada senyum dan kelegaan di hati Annete mendengar jawaban polwan tersebut.


"Ayo silahkan keluar, dia sudah menunggunya di ruang kunjungan." Annete mengangguk dan mengikuti langkah wanita itu untuk menemui Angel.


"Angel!" Annete berlari ke arah Angel dan langsung memeluknya karena saking bahagianya.


"Ingat Nona jam besuknya tidak boleh lebih dari tiga puluh menit." Polisi itu mengingatkan dan Angel pun menjawab dengan anggukan.


"Aku pikir kau akan meninggalkanku," ucap Annete pada Angel.


"Tidak akan Net, aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Kita akan tetap jadi sahabat untuk selamanya."


"Tapi kenapa kau tak pernah menjenguk ku?"


"Itu karena sejak kasus mu terjadi penjagaan di bar semakin diperketat. Aku yang ketahuan ada di samping mu waktu itu tidak diperbolehkan keluar begitupun dengan Wilson dia tidak diperkenankan keluar rumah. Hari ini sudah sedikit longgar. Tadi aku sudah diperbolehkan keluar dengan seorang pelanggan. Jadi pas check out dari hotel aku langsung ke sini."


"Kamu kapan berhentinya sih Gel?" Annete merasa kesal melihat Angel begitu asyik dengan profesinya.


"Nggak tahu ya soalnya aku masih menikmatinya."


Cletak...


Annete menggetok kepala Angel. "Dosa tahu!"

__ADS_1


"Iya-iya nanti aku berhenti kalau kamu udah lolos dari kejaran paman Paul."


"Emang dia masih ngincar aku? Aku kan sudah ada di sini?"


"Dia akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Dan sepertinya dia sudah terlanjur marah padamu sehingga tidak akan pernah melepaskan mu. Tapi tenang saja hari ini aku akan cari pengacara untuk membebaskan mu. Setelah ini kau harus pergi jauh Net. Kau tidak boleh berkeliaran di sini lagi."


"Terima kasih ya Gel."


"Sama-sama Net."


"Ini apa Gel?"


"Oh ya aku lupa ini makanan untukmu. Makanan penjara pasti tidak enak ya."


"Nggak apa-apa Gel yang penting kenyang dan terima kasih ya sudah repot-repot bawain makanan juga."


"Iya makan gih dulu mumpung waktu besuknya belum habis, aku sudah lama tidak melihat kamu makan. Kalau kemarin-kemarin makannya kayak kuli bangunan sekarang kayak apa ya? Soalnya kan udah lama nggak makan enak." goda Angel sambil terkekeh. Annete pun ikut tertawa, sedikit melupakan beban hidupnya.


Baru saja Annete menyelesaikan makannya tiba-tiba mereka melihat Paul berjalan ke arah kantor polisi.


"Gawat paman Paul ke sini aku bisa mati kalau ketahuan," ujar Angel


"Sembunyi Gel, sembunyi," suruh Annete dan Angel pun menurut dia bersembunyi di balik tembok.


Annete dan Angel mendengarkan pembicaraan Paul dengan polisi dari balik tembok. Ternyata Paul menebus Annete supaya bisa keluar dari tahanan.


"Gel aku mau di sini saja, aku tidak mau kembali ke kandang singa itu," ucap Annete sambil memeluk Angel ketakutan.


"Sabar Net, nanti kita cari solusi bersama. Untuk sementara kamu jangan memberontak dulu. Pura-pura kalem dulu ya Net. Nanti aku mau rembukan dulu sama Wilson bagaimana caranya membebaskan mu dari tempat itu."


"Tapi kalau dia menjual ku lagi bagaimana?"


"Jangan terlalu dipikirkan kami tidak akan membiarkanmu rusak oleh mereka."


"Nona Anna!" panggil polisi tadi.


"Iya Bu, jam besuknya habis ya!"


"Bukan anda sekarang bebas karena ada yang menjamin." Namun sama sekali tidak ada rasa senang dalam diri Annete mendengar kabar itu.

__ADS_1


Annete berjalan keluar dengan gontai, tak ada semangat dalam dirinya.


"Aku sudah menjamin dirimu dan sekarang kamu sudah bebas," ujar Paul sembari berdiri dan berjalan ke arah Annete seperti seorang paman yang senang menyambut keponakannya yang sudah bebas.


"Boleh aku tinggal di sini lebih lama lagi pak polisi?" Annete menatap wajah polisi yang duduk di depannya.


"Hahaha....kamu aneh Nona bukannya senang malah ingin lebih lama tinggal di sini," ujar polisi tersebut sambil tertawa karena merasa lucu.


"Karena kalau saya ikut dengannya bisa saja saya dijual lagi." Annete berucap dengan lantang rupanya dia tidak mendengarkan perkataan Angel tadi.


"Hahaha...lihat pak polisi dia bahkan berkata konyol. Keponakan saya ini memang suka bergurau," ujar Paul dan masih banyak lagi ucapan-ucapan Paul yang membuat polisi geleng-geleng kepala dan mempercayai saja ucapan Paul. Rupanya pria itu pandai mempermainkan kata.


"Ayo pulang!" ajak Paul Annete menggeleng.


"Pulang!" Akhirnya Annete menurut berjalan ke arah mobil sampai di depan pintu mobil dia langsung melarikan diri.


"Kejar dia!" perintah Paul pada anak buahnya.


Angel yang masih berada di dalam kantor polisi harap-harap cemas.


"Ya Tuhan semoga Annete bisa meloloskan diri." Doa Angel dalam hati.


Annete terus saja berlari kencang dan anak buah Paul terus saja mengejarnya. Hingga beberapa jam berlalu Annete merasa kelelahan. Dia bersembunyi di balik kursi panjang yang terbuat dari semen.


Sebelum bersembunyi dia sepertinya melihat sosok Adrian sedang membeli air mineral di sebuah mini market yang jaraknya agak jauh dari tempatnya bersembunyi kini.


"Mas Adri!" Annete berteriak memanggil nama Adrian namun sesaat harus bersembunyi karena anak buah Paul sudah mendekat.


Adrian menoleh tapi sepertinya dia tidak mendengar panggilan Annete. Ia lalu meneruskan langkahnya keluar dari mini market dan kembali mencari keberadaan Annete di tempat yang lain.


Setelah Adrian pergi dan anak- buah Paul pun pergi Annete keluar dari persembunyiannya. Dia membuka matanya lebar-lebar untuk mencari keberadaan Adrian tadi.


"Kok tidak ada ya. Apa sebegitu rindukah diriku padanya sehingga tadi aku berhalusinasi?" Annete mengucek matanya memastikan penglihatannya.


"Tidak ada," gumamnya.


Annete mengusap wajahnya. "Jangan terlalu berharap Net, dia pasti sudah bahagia dengan keluarganya." Annete bermonolog.


"Ah kenapa aku kecewa."

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!๐Ÿ™


__ADS_2