
Pria itu segera berlari keluar dan segera mencari susu hamil di mini market terdekat.
Setelah mendapatkan susu hamil anak buah Max langsung memberikan susu itu kepada Rena. Rena pun berlalu ke dalam dapur dan membuatkan susu hangat untuk Lisfi.
"Minumlah Nona biar bayinya tidak lapar lagi," ucap Rena sambil menyodorkan gelas berisi susu ke mulut Lisfi.
"Terima kasih Bik, aku mau duduk dulu." Rena pun membantu Lisfi duduk. Max hanya memandang datar pada keduanya.
Setelah Lisfi sudah dalam keadaan duduk ia segera meminum susunya hingga tandas.
"Lahirkan putra untukku maka aku akan membebaskanmu," ucap Max setelah Lisfi menyelesaikan minumnya. Pria itu langsung bangkit dan meninggalkan keduanya.
Lisfi dan Rena saling berpandangan. Mereka bingung harus senang ataukah sedih mendengar perkataan Max. Lisfi bisa saja keluar dari tempat itu, tapi bagaimana dengan nasib anaknya nanti. Apakah ia siap berpisah dengan putranya nanti saat sudah melahirkan? Ia yakin Max tidak akan mengizinkan ia membawa putranya pergi. Max mengatakan lahirkan putra untuknya. Bagaimana kalau anaknya perempuan? Jangan-jangan Max akan kecewa dan membunuh putrinya sendiri mengingat dia adalah orang yang kejam.
"Akh." Lisfi frustasi memikirkan ini semua. Ia menjambak rambutnya sendiri.
"Nona jangan berpikir yang macam-macam dulu, tenangkan diri Nona." Rena bisa menebak arah pikiran Lisfi karena sebenarnya pikirannya pun tidak jauh berbeda.
"Bagaimana jika bayinya perempuan Bik, apakah dia akan...."
"Sst, sudah jangan berpikir seperti itu. Berdoalah agar bayi yang akan kau lahirkan nanti itu laki-laki. Sekalipun dia perempuan saya yakin tuan Max tidak akan tega melenyapkannya anaknya sendiri. Sebenarnya dia sudah lama mendambakan seorang anak, tetapi setiap wanita yang ditidurinya tidak ada satupun yang memberikan dia anak terkecuali dirimu, jadi aku yakin dia tidak akan menyia-nyiakan anaknya nanti."
"Semoga saja Bik aku takut."
Rena memeluk Lisfi. "Jangan takut ada aku disini, berdoalah supaya dengan kehadiran bayi ini sikap Max akan berubah terhadapmu."
"Amin. Terima kasih ya Bik." Rena mengangguk dan mendekap Lisfi.
"Melihatmu aku seperti melihat adikku yang sudah tiada," ucapnya menerawang ke masa lalu dengan mata yang berkaca-kaca.
Semenjak Lisfi hamil sikap Max mulai berubah terhadap wanita itu. Max tidak suka bersikap kasar lagi pada Lisfi karena takut wanita itu akan keguguran. Bahkan kesempatan itu digunakan Rena untuk mengerjai Max.
"Pokoknya selama dia hamil, Tuan tidak boleh menuntut dia melayani Tuan sering-sering kalau tidak mau keguguran."
"Oh begitu ya Ren? Baiklah saranmu akan kulakukan asal bayiku bisa lahir dalam keadaan selamat."
"Bagus Tuan, memang tuan harus sedikit berkorban untuk calon anak Tuan sendiri."
Max mengangguk dan meninggalkan keduanya. Lisfi menatap Rena dengan penuh tanya, sepertinya wanita itu ingin protes tapi tidak berani.
"Kenapa?" tanya Rena paham dengan ekspresi Lisfi.
"Kenapa bibi mengatakan tidak boleh meminta sering-sering, kenapa tidak mengatakan saja tidak boleh menyentuhku sampai aku melahirkan?"
"Tidak masuk akal Nona, bisa-bisa dia curiga dan ujung-ujungnya tidak mau."
Sampai di luar Max justru muntah- muntah melihat salah satu baju anak buahnya kecipratan darah ayam. Mereka terlihat mengisi saat santainya dengan menyabung ayam milik mereka.
__ADS_1
Melihat Max muntah-muntah, anak buahnya melihat dengan heran kemudian menertawakannya.
"Ya ampun bagaimana kalau kehadiran janin itu justru membuat tuan Max alergi dengan darah?" bisik salah satu orang di telinga yang lainnya.
"Bagus dong berarti kita bebas untuk sementara. Tidak akan ada tugas bunuh-bunuhan lagi."
"Cih bebas, bagaimana kalau kita yang akan dikirim keluar negeri untuk menggantikan dia."
"Tidak mungkin, kita pasti aman." Mereka terkekeh semua.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian menertawakanku?"
"Tidak Tuan kami tidak menertawakan Tuan, kami hanya menertawakan ayam-ayam kami."
"Kalian pikir aku bodoh? Sekarang bersihkan muntahan saya dengan tangan kalian."
"Apa?!" Mereka kaget dan saling pandang. Seolah saling melempar tugas.
"Cepat bersihkan."
Mereka masih saling pandang.
"Hei kalian semua!"
"Baik Tuan."
๐๐๐๐๐
"Mas udah beberapa bulan aku kok belum hamil juga," ucap Nindy saat Adrian dan Annete mengunjungi mereka dengan membawa baby Ayden.
"Sabar sayang masih belum waktunya," ujar Louis sambil menepuk pundak Nindy.
"Lagipula kalau hadir sekarang ayahnya belum siap berbagi," tambah Louis lagi sambil nyengir.
"Ekhem, takut berbagi apa tuh Lou?" goda Adrian.
"Berbagi waktu lah Dri, emang berbagi apaan?"
"Curiga aku, bukan itu yang kamu maksud kan?"
"Terus kalau bukan, kamu pikir apaan?"
"Auh ah terserah kamu lah mau ngomong apa."
"Aku mau puas-puasin dulu," bisik Louis di telinga Adrian.
"Terserah," sahut Adrian acuh.
__ADS_1
"Ngomong apa sih kalian berdua?" tanya Nindy penasaran. Annette hanya geleng-geleng kepala.
"Adrian bilang kalau pengen cepat punya anak harus banter bikinnya. Sehari minimal dua sampai tiga kali buatnya."
Adrian terbelalak mendengar perkataan Louis.
"Iyakah mbak Annete?" tanya Nindy memastikan.
"Mas kok ngomong gitu sih," protes Annete.
"Siapa yang ngomong? tuh orang memang bawaannya memanfaatkan orang lain," ujar Adrian.
"Ayolah Dri jangan begitu, sekali-kali bantu teman kan tidak masalah."
Plak.
Nindy memukul pundak Louis. "Ngomong seenaknya."
"Ayolah sayang kalau mau pukul-pukulan jangan di sini ya. Nanti saja dikamar. Malu dilihat mereka." Mendengar ucapan Louis yang absurd, Nindy jadi malas.
"Kalau menurutku sih kalau pengen punya anak kalian kurangi kesibukan kalian dulu untuk sementara," ujar Annette.
"Nah kalau itu benar," sambung Adrian.
"Itu artinya apakah aku harus berhenti bekerja?" Nindy memandang wajah Louis untuk meminta persetujuan.
Louis mengangguk. "Itu benar mulai sekarang kamu harus berhenti bekerja."
"Tapi urusan kantor?"
"Serahkan pada anak buah kepercayaanmu dan kamu sesekali bisa mengeceknya."
"Baiklah kalau begitu, demi anak kita, aku akan melakukan segalanya."
"Termasuk harus nurut permintaan suami," ucap Louis menimpali sambil terkekeh.
"Kamu kayak nggak pengen punya anak ya Mas," protes Nindy.
"Eh siapa bilang? Aku mau kok tapi aku tidak ingin kamu stres lagi kayak dulu. Makanya aku nyantai saja. Yang penting kita sudah berusaha dan berdoa biar Tuhan yang menentukan."
"Tumben kamu bisa bijak Lou," ujar Adrian sambil tertawa.
"Sudah dari dulu, emang kamu baru tahu ya."
"Sudah jangan berdebat terus. Tuh Tante Ani manggil kita untuk makan siang bareng," ujar Annete.
"Oh ya ayo Mbak." Nindy menarik tangan Annette dan akhirnya mereka makan bersama.
__ADS_1
Bersambung.....