
Setelah serbuan suara kembang api dan petasan sedikit demi sedikit mereda Annete menarik tangannya yang sedari tadi menutupi telinganya.
"Bagaimana sudah tidak takut lagi?" tanya Adrian yang melihat Annete sudah terlihat lebih tenang.
"Iya Mas lumayan." Adrian mengangguk.
"Maafkan aku ya Mas gara-gara aku Mas harus menghentikan...."
"Ssst, nggak usah minta maaf kan bisa diteruskan sekarang," ucap Adrian sambil mengerlingkan mata.
"Ih Mas Adrian genit juga ternyata aku pikir dari dulu mas Adrian tuh kalem."
"Kalau sama orang lain sih kalem tapi kalau sama istri sendiri mah harus genit dan agresif kalau nggak mana bisa jebolin gawang."
"Issh..."
Tanpa mau mendengar lagi perkataan Annete Adrian langsung mencium kembali wajah Annete dan melahap bibirnya dengan lembut kemudian lama-lama menjadi rakus bahkan Annete sampai terpaksa mendorong tubuh Adrian karena hampir saja kehilangan nafas.
"Ha...ha..ha." Annete tersengal-sengal
"Maaf aku menyerang mu secara mendadak," ucap Adrian. Dia tahu dia salah tapi dia sudah tidak tahan lagi karena saat dalam pelukannya tadi gerakan Annete sempat membuat adik kecilnya terbangun dan sampai saat ini belum mau tidur juga.
"Nggak apa-apa Mas ini bukan salah mu kok aku aja yang kurang berpengalaman."
"Justru itu yang aku cari biar aku bisa jadi pak guru."
"Mas Adri mau beralih profesi?" Annete tidak peka. Otak polosnya belum bisa menangkap perkataan Adrian.
"Iya jadi gurumu di atas ranjang."
"Ih sejak kapan sih Mas Adrian jadi mesum?" protes Annete sambil mengerucutkan bibir hingga membuat Adrian ingin memagut bibir merahnya sekali lagi.
"Sejak jadi suami kamu. An boleh ya aku meminta hak ku sekarang?" Adrian bicara serius rasanya sesuatu di bawah sana sudah ingin meledak saja.
"Lakukanlah Mas sekarang aku sudah menjadi milikmu seutuhnya." Annete berkata dengan santai mencoba menetralisir rasa grogi yang ada padahal dalam hatinya rasa deg-degan dan takut mendominasi. Walau bagaimana pun ini adalah pertama kalinya bagi Annete.
__ADS_1
Adrian tersenyum mendapatkan persetujuan dari sang istri. Dia menadahkan tangannya untuk berdoa kembali dengan sedikit bergetar karena dia pun merasakan hal yang sama dengan Annete meski ini bukanlah pertama kalinya bagi Adrian. Setelah berdoa Adrian langsung membawa istrinya berbaring kembali dan dengan senang hati langsung melakukan tugasnya sebagai seorang suami.
Melihat istrinya meringis Adrian menghentikan aktifitasnya. Dia harus berhati-hati takut tubuh istrinya bret akibat ulahnya. "Kenapa sayang sakit ya? Apa perlu kita berhenti sekarang?"
"Nggak apa-apa Mas sakit-sakit enak kok. Lanjutkan saja!"
"Baiklah aku akan pelan-pelan saja," ucap Adrian.
"Kok pelan sih Mas, kapan nyampeknya kalau seperti ini."
"Ternyata kamu mulai berani ya," ucap Adrian sambil memencet hidung Annete dan Annete hanya tersenyum malu-malu.
"Baiklah sesuai permintaan!" Ucap Adrian sambil mempercepat gerakannya.
Dan malam menjelang pagi ini kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu telah meleburkan rasa menjadi satu dalam detak jantung yang berirama. Dan Annete telah berhasil membawa Adrian terbang tinggi ke nirwana.
"Terima kasih sayang," ucap Adrian lalu mengecup kening sang istri kemudian berbaring di samping Annete sambil memeluknya erat. Adrian tidak mau kehilangan Annete lagi. Dia tidak mau berpisah dengan istrinya kali ini.
"Ya Tuhan semoga kali ini kau tidak akan mengambil istriku lagi. Semoga dia membersamai diriku sampai ajal memisahkan kami." Adrian berdoa dalam hati sambil menatap lekat-lekat wajah istrinya. Ada bulir air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya.
"Mas kenapa kamu menangis, apa ada yang salah dengan diriku?" Adrian tidak menjawab dia tetap khusuk memandangi wajah cantik istrinya.
Namun itu terasa aneh bagi Annete mengapa Adrian memandangi dirinya sambil menangis. "Apakah aku tidak mengeluarkan darah seperti perawan pada umumnya?" gumam Annete. Dia pikir Adrian kecewa karena menganggapnya sudah tidak perawan lagi. Ia bergerak melepaskan tubuhnya dari pelukan Adrian untuk memeriksa apakah benar dirinya tidak mengeluarkan darah.
"Kamu mau kemana?" tanya Adrian yang kini tersadar kembali dari lamunannya dan melihat Annete melepaskan diri namun dia tetap memeluk erat tubuh sang istri.
"Mas Adrian kecewa ya?"
"Kecewa kenapa?"
"Karena aku tidak mengeluarkan bercak darah, tapi aku berani bersumpah Mas bahwa aku masih perawan."
Timbul niat di hati Adrian untuk menggoda Annete. "Iya, katakan sebelum aku siapa laki-laki yang pernah tidur dengan mu!"
Jleb.
__ADS_1
Wajah Annete menjadi pucat, hatinya menjadi resah bagaimana bisa Adrian menganggapnya tidak perawan bukankah dia tidak pernah tidur dengan siapapun. Dia memaksa bangun untuk mencari bukti.
Setelah berhasil melepaskan diri dia langsung bangun dan memeriksa sprei yang terhampar di bawahnya. Matanya membulat tatkala melihat bercak darah tercecer di sprei tersebut. Kini hatinya menjadi lega.
"Mas?"
"Kenapa? Kau pikir apa?" tanya Adrian sambil terkekeh. Kemudian ikut duduk di samping Annete.
"Mas Adri ah bikin saya spot jantung aja."
"Suruh siapa kamu mikir macam-macam."
"Iya kan aku bingung kenapa Mas Adri tiba-tiba menangis."
"Itu tangis bahagia sayang," ucap Adrian sambil menarik Annete kembali ke dalam pelukannya.
"Lagi pula haruskah aku marah kalau saja kamu memang sudah tidak perawan? Aku tetap akan menerima mu meski seumpama tuan Max waktu itu berhasil menjual dirimu karena aku yakin kamu wanita baik-baik apalagi statusku juga seorang duda. Akan sangat berlebihan kalau menuntut dapat pasangan yang masih ori. Tapi Alhamdulillah Tuhan malah memberikan aku istri yang sempurna seperti dirimu."
"Aku bahagia bisa mendapatkan mu, dapat utuh lagi. Kamu tahu An sebelum kamu hadir dalam hidupku aku sama sekali tidak ada keinginan untuk menikah. Aku pikir akan menghabiskan sisa hidupku berdua dengan Adel saja. Tapi kau hadir memberi warna dalam hidupku dan membuat ku jatuh cinta kembali. Terima kasih ya An telah hadir dan menerima kami berdua. Aku janji akan mencintaimu seumur hidupku."
Mendengar ucapan Adrian Annete ikut meneteskan air mata. "Iya Mas Makasih juga atas cinta yang begitu besar untukku. Aku pun berjanji tidak akan meninggalkan Mas Adri apapun yang terjadi."
Adrian mengangguk kemudian diam dia lebih suka memainkan helaian anak rambut Annete kemudian menyelipkan di telinganya.
"Kecuali satu," tambah Annete lagi.
Adrian mengerutkan kening. "Apa?"
"Aku tak mau diselingkuhi," jawabnya.
Adrian tersenyum. "Kamu tenanglah aku pernah ada dalam posisi itu dan aku tahu bagaimana rasanya. Jadi aku tidak akan pernah melakukan itu padamu."
"Aku tidak mau kehilanganmu An," lanjutnya sambil mendekap erat tubuh Annete dan menciumi aroma tubuh istrinya yang kini seolah menjadi candu baginya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐