Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 141. Kesempatan Dalam Kesempitan


__ADS_3

Pagi-pagi Annete sudah siap dengan pakaiannya dan tasnya.


"An, benar kamu mau pulang hari ini?" tanya Adrian.


"Iya Dok aku harus menjemput anak-anak sekarang."


"Ya sudah kita makan dulu habis ini aku antar."


Annete hanya mengangguk kemudian menggandeng tangan Adel ke ruang makan. "Yuk Del kita makan!"


Sampai di ruang makan ketika hendak mengambil piring tiba-tiba saja ponsel Adrian berbunyi.


"Halo ada apa?"


"Dokter saya cuma mau mengingatkan pagi ini ada jadwal operasi." Terdengar suara dari balik telepon.


"Oh ya saya lupa, saya akan segera ke sana. An kamu mau ikut aku atau mau naik taksi?"


"Ikut dokter saja."


"Kalau begitu ayo kita berangkat!maaf ya mengganggu makan kamu."


"Tidak apa-apa." Annete berdiri dari duduknya.


"Ayah nggak jadi makan?"


"Ayah makan di rumah sakit saja nanti kamu minta ditemani bibi saja ya!"


"Yaaa...semua pada nggak jadi makan, beneran Tante mau pulang sekarang? Padahal Adel masih pengen bersama Tante."


"Iya kamu baik-baik sama Bibi!"


"Benar Tante nggak mau nginap lagi? Padahal Adel masih pengin tidur sama Tante," ucap Adel lagi dengan mata berkaca-kaca.


Annete mengambil ponselnya dan menghubungi Nathan.


"Ada apa Aunty?" Terdengar suara Nathan dari seberang telepon.


"Kalian kapan pulang?"


"Besok pagi."


"Ya udah besok pagi aunty jemput ke sana."


"Ya Aunty, tapi Aunty ada dimana sih sekarang? Uncle Lexi nyariin tuh katanya Aunty nggak ada di apartemen."


"Biarin deh dia nyariin suruh siapa tega sama Aunty."


"Terus Aunty ada dimana dong?"


"Ada deh pokoknya aunty ada di tempat yang aman jadi kalian tenang saja tidak perlu khawatirin aunty."


"Oke deh kalau begitu kami tutup teleponnya dulu ya Aunty!"


"Oke Nathan."


Annete meletakkan tasnya kembali dan duduk di samping Adel.


"Tante nggak jadi pergi?" tanya Adel bibirnya tersenyum sumringah.


"Nggak jadi mau nemenin Adel aja." Sambil mengusap rambut Adel.


"Gimana An jadi nggak pulang?" tanya Adrian basa-basi padahal dia sudah mendengar jawaban Annete tadi saat ditanya Adel.


"Nggak jadi Dok aku mau temenin Adel saja." Adrian hanya mengulas senyum mendengar jawaban Annete. Sedang Annete mengambil piring dan mengisinya dengan menu pagi itu ingin menyuapi Adel.


"Ayah berangkat dulu ya Del."


"Iya Ayah."


"An aku nitip Adel ya!"


"Iya Dok." Adrian melangkah keluar namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan menoleh kepada keduanya.


"Ayo Adel harus banyak makan biar badannya tidak kurus lagi. Aaa...." Annete menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Adel. Adel tersenyum dan membuka mulutnya menerima suapan dari Annete.


"Terima kasih Tante."


"Iya ayo buka lagi mulutnya." Dan Adel pun menurut.


Adrian yang awalnya ingin cepat-cepat berangkat ke rumah sakit mengulur waktu dan lebih memilih menyaksikan keakraban mereka. Lagi-lagi air mata Adrian menetes karena Adel sekarang bisa mendapatkan perhatian tulus dari seorang wanita walaupun Annete bukan bundanya.


"Adel punya nggak cita-cita atau keinginan Adel yang sangat Adel harapkan?"


"Melihat keadaan Adel yang seperti ini apakah Adel masih berhak bercita-cita Tante?


"Lo Kenapa? Semua orang berhak kok memiliki cita-cita. Terus keinginan besar Adel itu apa?"


"Sebelum Adel meninggal Adel pengin melihat ayah bahagia."


"Huss Adel kok ngomong gitu sih! Adel harus optimis dong Adel bakalan sembuh. Lagipula Tante yakin kebahagiaan ayah Adel ya Adel sendiri."


"Adel cuma merasa bersalah sebab gara-gara Adel bunda ninggalin ayah."


"Itu bukan salah Adel. Emang Adel yang mau punya penyakit begini?"


Adel menggeleng.


"Itu namanya sudah takdir. Walaupun Adel tidak sakit seperti ini kalau takdir ayah dan bunda kalian memang berpisah ya tetap saja mereka akan berpisah. Jadi Adel nggak usah nyalahin diri Adel sendiri. Kalau Adel sayang sama ayah, Adel harus semangat ngejalani hidup biar ayah bahagia."


"Iya Tante."


Terus keinginan Adel yang lain?"


"Apa ya?" Adel nampak berpikir.


"Sebenarnya Adel tuh pengin nonton konsernya artis cilik

__ADS_1


pendatang baru yang kembar itu loh Tante tapi kata ayah nggak boleh takut berdesakan sedangkan kondisi Adel kan kayak gini."


"Artis cilik pendatang baru? Maksud kamu Nathan dan Tristan?"


"Iya-iya benar itu Tante. Selama ini aku cuma bisa lihat di tivi padahal aku pengin lihat mereka di dunia nyata."


"Besok-besok


Tante bawa mereka ke sini."


"Beneran Tante?"


"Iya Tante janji."


"Terima kasih ya Tante." Adel memeluk Annete erat dan Annete pun mengusap-usap punggung Adel.


"Kasihan Adel pasti dia merindukan bundanya. Aku jadi inget sama si kembar yang selalu mengharapkan kehadiran ayahnya. Nasib mereka hampir sama hanya saja nasib Adel lebih menyedihkan karena harus berteman penyakitnya," batin Annete.


Dari luar Adrian tersenyum melihat keakraban keduanya. Kemudian memutuskan meninggalkan mereka berdua ke rumah sakit karena takut terlambat.


Seperginya Adrian Adel benar-benar menikmati momen bersama Annete. Dia bermanja-manja pada Annete dan Annete pun tidak keberatan karena dia memang menyukai anak kecil.


"Nanti malam Tante tidur sama Adel lagi ya!" pinta Adel.


"Oke sayang permintaan dikabulkan," ucap Annete sambil tersenyum. "Oh ya bentar lagi ayah kamu pulang, yuk bantu bibi menyiapkan makan malam." Annete merasa tidak enak kalau hanya diam saja tidak melakukan apapun di rumah orang.


"Oke ayo Tante!" Adel menarik tangan Annete bersemangat. Mereka akhirnya ke dapur membantu bibi yang sedang memasak.


"Jangan Nyonya nanti saya dimarahi oleh Tuan," ucap bibi saat Annete meminta menggantikan dirinya memasak.


"Nggak apa-apa bik, saya sudah biasa kok," kata Annete, si bibi hanya mengangguk dan mempersilahkan Annete menggantinya meskipun agak ragu.


"Oh iya bik panggil aku Annete saja ya jangan Nyonya, aku kan bukan siapa-siapa di sini."


"Eh iya."


Dua hari kemudian Annete memberikan surprise dengan mengajak Nathan dan Tristan di hari ulang tahun Adel. Kebetulan esok hari ketika Annete ingin pulang dari rumah Adrian bibi mengatakan bahwa besok Adel ultah.


๐ŸŒŸ ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ


"Tante! Tante!"


Adel berlari-lari ke arah Annete yang sedang mengunjunginya. Kebetulan si kembar sedang menyusul mamanya bersama Zidane dan mereka mengizinkan Annete tinggal di rumah Adrian sebagai ucapan terima kasihnya untuk Adrian yang telah membantu mereka melakukan tes DNA dengan papanya.


"Terima kasih ya Tante kadonya tapi Adel penasaran deh apa isi kadonya." Adel menenteng kado berukuran besar yang diberikan oleh Annete dan sampai saat itu masih belum dibuka.


"Kalau penasaran kok nggak dibuka sampai sekarang?" tanya Annete.


"Nggak mau, buka sama Tante aja. Kado dari yang lainnya masih belum dibuka juga, temenin yuk Tante."


"Oke ayo!" Annete mengajak Adel ke kamar. Sampai di kamar mereka berdua membuka kado-kado yang diberikan oleh Adrian, si kembar dan bibi-bibi.


"Ayah ada-ada saja dikira aku artis apa disuruh ganta-ganti rambut," protes Adel ketika membuka kado dari Adrian malah berisi wiks. Annete tertawa mendengar celotehan Adel.


"Itu tandanya ayah ingin Adel tampil cantik," ucap Annete dan Adel masih cemberut.


"Biar tambah penasaran Tante." Adel pun ikut terkekeh lalu membuka bungkusan kado tersebut.


"Boneka hello Kitty Tante?"


"Iya, Adel nggak suka ya? Maaf Tante kan nggak tahu kesukaan Adel. Kupikir Adel suka kucing jadi aku belikan boneka ini."


Adel mengangguk. "Aku suka boneka kelinci Tante tapi tidak apa-apa mulai sekarang Adel akan suka sama boneka Hello Kitty," ucapnya tersenyum sambil mendekap erat bonekanya dan sesekali menciuminya."


Tok tok tok.


Sedang asyik berbincang-bincang Adrian datang. "Ayah tumben pulang siang?"


"Kangen sama Adel. Pekerjaan ayah sudah selesai sayang."


"Kangen sama Adel apa sama Tante Annete?" goda Adel. Adel mengerti ayahnya mulai menyukai Annete.


Adrian melirik ke arah Annette yang kini sedang fokus melihat acara di televisi.


"Dua-duanya sayang." Annette masih saja cuek dengan keadaan sekitar rupanya dia sangat menyukai acara televisi tersebut.


"An boleh aku minta tolong?" Annete menoleh.


"Ah iya apa kata dokter tadi? Maaf saya terlalu fokus."


"Bisa minta tolong ikut aku ke acara besok?"


"Acara apa Dok?"


"Acara silaturahmi keluarga para dokter, itu kebiasaan kami setiap tahun berkumpul dengan membawa keluarga masing-masing. Aku tahu Adel tidak akan mau ikut jika hanya berdua denganku." Adrian mengedipkan mata pada Adel dan Adel langsung merespons.


"Iyalah Yah nanti aku sama siapa kalau ayah ngumpul sama para pria? Masa Adel mau jadi buntut Ayah. Ogah ah Adel malu."


"Tapi teman-teman ayah meminta kamu ikut. Katanya mereka ingin bertemu langsung sama kamu dan ingin memberikan hadiah karena Adel sudah menjadi anak yang kuat menghadapi penyakit Adel."


"Adel memang mau hadir?"


"Iya kalau ada temennya Tante."


"Ya sudah kalau begitu nanti tante temani."


"Terima kasih Tante." Reflek Adel langsung memeluk Annete.


"Iya sama-sama sayang," jawab Annete sambil mengelus rambut Adel.


"Ini buat kalian." Adrian menyodorkan paper bag ke arah keduanya."


"Ini apa Yah?" tanya Adel penasaran.


" Itu dres buat kalian, coba buka!"


Adel membuka bungkusan tersebut. Terlihat dua bungkusan baju keluar dari paper bag tersebut.

__ADS_1


"Baju? Tumben Ayah beli baju tanpa ngajak Adel."


"Iya itu untuk dipakai di acara besok malam. Besok ayah ada shift pagi jadi tidak ada waktu untuk mengantar kalian. Dicoba Del mungkin saja tidak muat nanti ayah tukar sama teman ayah."


Adel pun mencoba pakaiannya. "Pas Yah," ucapnya.


"Punyamu An?"


"Nanti aku coba di kamar Dok." Adrian mengangguk "Kalau tidak pas bilang secepatnya ya biar nanti aku ganti yang lain."


"Iya Dok."


"An boleh jangan panggil aku dokter? Aku kan bukan dokter kamu."


"Iya."


"Panggil Mas saja ya!"


"Hmm, baiklah. Dokter tidak mau makan? biar saya siapkan."


"Nggak usah aku sudah makan di rumah sakit tadi. Kalian berdua?"


"Sudah tadi."


"Oh baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu ya, mau mandi, bau," ucap Adrian sambil masuk ke kamarnya.


Malam pun tiba Adel dan Annete masuk ke dalam kamar. "Jangan lupa gaunnya dicoba Tan, biar kalau tidak muat bisa ditukar secepatnya." Adel mengingatkan karena melihat Annete langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang.


"Oh iya Tante hampir lupa, makasih ya sudah mengingatkan." Adel hanya mengangguk sambil melihat Annete yang mencoba bajunya.


"Wah pas Tante dan cantik lagi di tubuh Tante." Adel membayangkan pasti ayahnya akan kaget melihat kecantikan Annete memakai gaun ini besok malam.


"Syukurlah kalau begitu, yuk kita tidur."


Mereka pun terlelap karena hari memang sudah larut malam.


###


"Adel sudah siap?" tanya Adrian yang melihat Adel sudah keluar dari kamarnya.


"Sudah Yah, cantik nggak?"


"Ya cantiklah, anak siapa dulu," ucap Adrian sambil menggendong putrinya.


"Yah turunkan nanti bajunya kusut," protes Adel.


"Nggak akan..."Adrian yang ingin menggotong Adel keluar tiba-tiba jadi terdiam. Ia takjub melihat penampilan Annete yang keluar kamar Adel. Benar-benar cantik dan mempesona membuat bumi seakan berhenti berputar seketika.


Adel yang tersadar lalu memandang wajah ayahnya dan mengikuti arah pandangan sang ayah. "Kenapa Yah cantik yah?" goda Adel.


"Ayo Mas berangkat, aku sudah siap." Ucapan Annete membuat Adrian tersadar.


"Oh iya ayo." Merekapun melangkah beriringan menuju mobil.


Sampai di depan gedung Adrian memarkirkan mobilnya. Kemudian menggandeng tangan Adel dan Annete masuk ke dalam ruangan.


"Wah Dri istri kamu sudah lama nggak ketemu makin cantik aja," ujar dokter Budi.


"Iya Dri lama di Amerika membuat wajah istrimu sedikit kebule-bulean," ujar dokter Lea.


"Udah gitu keluarga kalian kompak lagi," lanjut dokter Lea karena melihat Adrian, Annete dan Adel pakaiannya yang couple.


Adrian hanya tersenyum menanggapi ucapan kedua sahabatnya. Mereka memang tidak ada yang tahu dengan badai yang menimpa keluarga Adrian. Jadi wajarlah kalau memang mereka menganggap Annete adalah istri Adrian karena wajahnya yang memang mirip, hanya saja wajah Anisa seperti orang Melayu sedang Annete agak kebule-bulean.


Sedangkan Annete jadi bingung namun kemudian dia tersadar bahwa mereka menganggapnya Anisa. Dia memandang wajah Adrian dan Adrian hanya memberi kode dengan anggukan. Tentu saja Annete tidak mengerti apa yang dimaksud Adrian tapi ya sudahlah tidak apa-apa untuk sementara dia akan berperan sebagai Anisa toh besok dia tidak akan bertemu lagi dengan teman-teman Adrian itu.


"Yuk Nis kita ke sana! Di sana banyak istri dokter yang sudah berkumpul," ajak dokter Lea.


"Kita makan-makan!" lanjutnya.


Awalnya Annete ragu-ragu untuk ikut karena diantara mereka tidak ada yang dia kenal namun dia tidak ingin mempermalukan Adrian. Akhirnya ia mengikuti langkah dokter Lea.


"Yuk Del," Annete menarik tangan Adel.


Setelah berkumpul-kumpul, akhirnya Annete tahu bahwa mereka semua orangnya humble, bahkan ada beberapa yang humoris. Tidak peduli mereka menganggap dirinya Anisa ataupun bukan yang penting bagi Annete mereka sangat menyenangkan hingga ia betah berlama-lama mengobrol dengan mereka.


Hingga larut malam barulah mereka pulang itupun karena melihat Adel sudah tertidur di pangkuan Annette.


"Kita pulang saja Yuk!" ajak Adrian pada Annete. Annete pun mengangguk. Adrian lalu mengambil Adel dari pangkuan Adrian dan menggendongnya sedangkan Annete mengambil bingkisan yang diberikan teman- teman Adrian pada Adel kemudian pamit kepada semuanya lalu mengikuti langkah Adrian ke mobil.


Sampai di mobil Adrian menyuruh Annete masuk terlebih dulu kemudian menaruh Adel. Setelah itu dirinya memutar tubuhnya dan masuk ke kursi kemudi lalu melajukan mobilnya membelah jalanan yang kini mulai sepi menuju rumah.


Sampai di tengah perjalanan Annete pun tertidur. Gerakan mobil membuat tubuh Annete tidak sengaja bersandar pada tubuh Adrian.


Adrian memandangi wajah Annete yang kini posisinya bersandar di bahunya. Bibirnya tersenyum Kala melihat wajah Annete yang masih terlihat cantik meski dalam tidurnya. Bibir merah mudanya membuat Adrian tergoda dia tidak sabar ingin segera menciumi wajah mulus dan bibir seksi itu tapi ia tahan namun akhirnya ia menyerah.


'Cup'


'Cup'


Adrian mengecup bibir dan pipi Annete.


"Ayah!" Adel yang terbangun dari tidurnya protes karena melihat kelakuan ayahnya yang mencuri ciuman pada Annete.


"Adel... Ssst!" ucap Adrian sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya. "Jangan berisik nanti tante An bangun!"


"Biarin habisnya Ayah ngambil kesempatan dalam kesempitan sih. Kalau Tante Annete tahu dia pasti marah." Adel cemberut.


"Ya sudah ayah janji tidak akan mengulanginya lagi tapi Adel juga harus janji tidak akan memberitahu Tante An ya!"


"Benar ya Ayah janji kalau tidak Adel yang akan menghukum ayah atau kalau perlu Adel akan kasih tahu Tante Annete saja." Adel masih ngambek.


Adrian menelan salifanya. Bahaya kalau Annete tahu pikirnya. "Iya-iya ayah janji."


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan jejak! Like, Vote, komentar dan hadiahnya.๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2