Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 43. Marahan


__ADS_3

Siang hari Nindy yang sudah terbangun dari tidurnya langsung mendapatkan telepon dari Louis. Pria itu mengabarkan bahwa dirinya harus kembali ke Jakarta saat itu juga karena ada kepentingan yang mendesak di perusahaan.


๐Ÿ“ฑ"Nin bagaimana kabar ayahmu? Maaf ya Nin aku tidak bisa menemani mu sekarang di rumah sakit. Lain kali aku akan menjenguk ayahmu setelah kembali ke Jakarta nanti."


๐Ÿ“ฑ"Ya gimana ya Lou aku tidak tahu harus menjabarkan seperti apa kondisi ayah. Yang pasti saat ini ayah mengalami stroke. Iya nggak papa kok Lou kamu kembali saja ke Jakarta karena perusahaan saat ini pasti benar-benar membutuhkan dirimu."


๐Ÿ“ฑ"Terima kasih ya, kamu selalu mengerti diriku."


๐Ÿ“ฑ"Iya."


๐Ÿ“ฑ"Aku tutup teleponnya dulu ya. Kamu kalau mau balik nanti, balik aja sama mama atau minta antar saja sama Pak sopir. Salam buat bunda dan ayah kamu."


๐Ÿ“ฑ"Iya nanti aku sampaikan."


๐Ÿ“ฑ"Oke hati-hati ya selama tidak ada aku jangan keluyuran kemana-mana."


๐Ÿ“ฑ"Iya."


๐Ÿ“ฑ"Kamu kok iya-iya aja sih dari tadi," goda Louis.


๐Ÿ“ฑ"Terus aku harus jawab apa dong? Lagian kamu ngaco aja. Aku disini kan mau menjaga ayah masa mau keluyuran?"


๐Ÿ“ฑ"Kali aja."


๐Ÿ“ฑ"Enggak ah nggak ada waktu buat keluyuran. Kalau bukan mau jaga ayah mending aku balik ke Jakarta aja. Pekerjaanku di sana banyak, lagi sibuk menangani orderan yang semakin bertambah."


๐Ÿ“ฑ"Duh yang semakin rajin? Sudah jadi bos yang sibuk nih kayaknya."


๐Ÿ“ฑ"Apaan sih Lou. sudah-sudah balik sana." Terdengar tawa dari dalam telepon.


๐Ÿ“ฑ"Mana mama?"


๐Ÿ“ฑ"Lagi tidur."


๐Ÿ“ฑ"Oh Ya? sudah ya aku tutup teleponnya. Setelah sampai di Jakarta aku telepon lagi."


๐Ÿ“ฑ"Oke."


Telepon pun ditutup.


"Siapa Nak?" tanya mama Ani yang terbangun dari tidurnya.


"Louis Tante."


"Dimana dia sekarang? Kok belum ke sini juga sih," protes mama Ani.


"Dia harus segera balik Tan, katanya perusahaan membutuhkannya."


"Tapi dari tadi tuh anak keluyuran ke mana saja sampai belum sempat menjenguk ayahmu."


"Pas di lobby rumah sakit tadi dia ketemu temannya dan mereka terlibat pembicaraan serius. Mungkin karena itu louis jadi lupa dengan tujuan awalnya ke rumah sakit ini buat jenguk ayah, dan sekarang malah diminta segera kembali ke kantor."


"Tuh anak memang ada-ada saja. sorry ya Nak Nindy dia tidak jadi menjenguk ayahmu."


"Tidak apa-apa kok Tante."


Tiga hari berlalu Nindy masih saja setia menjaga ayahnya bergantian dengan Farah. Mama Ani pun belum kembali ke Jakarta. Dia lebih memilih menemani Nindy dan Farah di kota ini. Untung saja tuan Zaki mengerti dengan keadaan dan mengizinkannya.


Selama ini Nindy dan Farah ikut mama Ani tinggal di salah satu perumahan yang disediakan oleh pihak perusahaan untuk pemiliknya ketika berkunjung ke kota ini. Mereka bergiliran tinggal di rumah tersebut ketika mereka mendapat giliran tidak menjaga.


"Bun malam ini aku yang jaga ayah karena esok aku harus kembali ke Jakarta. Aku tidak enak meninggalkan karyawanku lama-lama takutnya mereka membutuhkan diriku."


"Iya Bunda mengerti kamu pulang lah besok dan sekarang lebih baik kamu beristirahat saja biar bunda yang jaga ayahmu."


"Apa tidak sebaiknya ayah dipindah ke rumah sakit Jakarta Bun? biar enak jaganya."


"Nanti bunda mau konsultasi sama dokternya dulu apakah boleh ayahmu dipindah ke rumah sakit lain saat ini. Kamu pulanglah sama Tante Ani dan beristirahatlah biar bunda yang jaga ayah."


"Tidak Bun biarin Safa saja yang menjaga sebab besok sudah tidak bisa menjaga ayah lagi. Bunda pulanglah bersama Tante Ani. Beristirahatlah karena mulai besok bunda akan menjaga ayah seorang diri."


"Kamu tenanglah Tante pasti akan membantu Farah kalau kamu balik sampai ayahmu keluar dari rumah sakit."


"Terima kasih banyak ya Tante sudah mau direpotkan oleh keluarga kami."

__ADS_1


"Iya, kalau begitu kami pulang dulu ya. Ingat kalau ada apa-apa langsung hubungi Tante."


"Baik Tante."


Malam itu Nindy menjaga Ramlan seorang diri. Ketika pak Ramlan sedang tidur Nindy pun ikut tertidur. Celah itu digunakan Lisfi untuk memasukkan foto ke dalam tas Nindy.


"Beres," gumam Lisfi sambil mengusap-usap kedua tangannya setelah itu ia langsung bergegas pergi dari rumah sakit.


Pagi hari Nindy langsung pamit kepada kedua orang tuanya dan juga mama Ani. Mama Ani pun memerintahkan sopirnya untuk mengantarkan Nindy kembali ke Jakarta.


Sampai di Jakarta dia kembali pada kesibukannya. Begitu juga dengan Louis yang sama-sana sibuk membuat mereka seharian itu tidak bertemu. Apalagi sekarang Nindy sudah tidak tinggal di rumah Louis lagi. Dia memilih tinggal di perumahan yang ia beli dengan cara mencicil. Sebenarnya dia sanggup untuk membeli secara cash perumahan itu. Namun, berhubung dia juga punya hutang modal yang juga harus dicicil terhadap Louis dia memilih membayar secara kredit. Ya walaupun Louis sama sekali tidak mengharapkan gadis itu untuk membayar tapi karena gadis itu memaksa, akhirnya Louis menerimanya.


Seperti biasa keesokan hari setelah jam istirahat kantor Louis menjemput Nindy di tempat kerjanya untuk mengajaknya makan siang bersama.


"Saf, si Louis sudah jemput tuh," ujar Kinara. Kinara dan Putri memang sering bantu-bantu di tempat itu kalau mereka tidak ada kuliah.


"Cie-cie yang sudah dijemput sang Arjuna," goda Putri.


"Ya sudah kalian teruskan kerjanya, aku pergi dulu ya."


"Iya-iya asal jangan lupa ya ngaji dibayar utuh," goda Kinara.


Nindy terkekeh. "Bisa diprotes nih aku sama karyawan yang lain kalau sampai kalian yang kerjanya nggak full dapat gaji sama."


"Cih mulai perhitungan ya sekarang sama teman mentang-mentang jadi pengusaha. Pelit," goda Kinara lagi.


"Bisnis guys," ucap Putri sambil menepuk pundak Kinara.


Nindy tidak tersinggung malah ia tertawa mendengar protes kedua sahabatnya.


"Ya udah nanti aku traktir. Kalau ada kesempatan kita shopping bareng kayak dulu lagi."


"Benar nih?"


"Benar dong, tapi tunggu sampai aku ada waktu luang ya."


"Oke siap komandan, terima kasih banyak," kata Kinara sambil mengangkat tangannya seperti orang yang memberikan hormat.


"Cih kalau sudah mendengar kata shopping langsung hijau tuh mata," ucap Nindy sambil mendorong dahi Kinara dengan pelan dan mereka bertiga tertawa bersama.


"Hei sudah kerjanya?" tanya Louis saat Nindy mendekat ke arahnya.


"Belum sih cuma ada yang sudah nge-handle tugasku. Ada salah satu karyawanku yang bisa diandalkan dia bisa ngarahin mereka semua. Jadi aku sedikit bisa tenang kalau harus ninggalin mereka."


"Baguslah kalau begitu. Yuk kita makan siang."


"Oke ayo kebetulan aku sudah lapar."


"Aku juga."


Mereka melangkah menuju mobil.


"Ke restoran mana ini?" tanya Louis sebelum mengemudikan mobilnya.


"Ke restoran Jepang aja ya. Aku sudah lama tidak makan sushi."


"Oke." Louis segera melajukan mobilnya ke tempat yang diinginkan oleh Nindy.


"Sudah sampai," ucap Louis setelah mobil terparkir mulus di depan restoran Jepang. Mereka langsung turun dan menuju meja. Sampai di sana mereka langsung memesan menu yang diinginkannya masing-masing.


Saat sedang asyik menyantap makanannya tiba-tiba perut Nindy terasa mulas.


"Kenapa?" tanya Louis ketika melihat wajah Nindy yang meringis.


"Ah nggak cuma sakit perut saja, hehe...." Nindy cengengesan.


"Kalau begitu aku antar ke toilet."


"Eh, eh tidak usah biar aku sendiri saja," tolak Nindy.


"Biar aku antar, aku tidak mau terjadi sesuatu lagi sama kamu." Louis masih trauma dengan kejadian yang menimpa Nindy saat di mall waktu itu.


"Kan Pras sudah tidak ada. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi," ujar Nindy.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, tapi hati-hati ya."


"Iya." Nindy meninggalkan tempat sedangkan Louis melanjutkan makan siangnya.


Setelah menunaikan hajat buang air besar, Nindy mencuci wajah kemudian menghembuskan nafas lega karena sapuan air di wajahnya serasa mengembalikan kesegaran. Dia lalu mengambil make up dari dalam tas untuk memoles wajahnya agar tidak terlihat pucat. Beberapa hari ini dia jarang tidur dan juga jarang melakukan perawatan wajah akibat menjaga ayahnya juga terlalu sibuk dengan pekerjaan.


Saat hendak menarik make up dari dalam tasnya tiba-tiba Nindy dikejutkan dengan selembar kertas yang keluar dari tas tersebut yang kemudian jatuh ke lantai.


"Apa ini?" Nindy berjongkok, meraih kertas yang terjatuh tadi.


"Foto?" Nindy mengernyit lalu memeriksa gambar dalam foto tersebut.


"Seorang wanita?" Nindy kaget melihat wanita tersebut tidak berbusana tapi lebih kaget lagi ketika melihat siapa yang dipeluk wanita dalam foto.


"Lou..is?" Bibir Nindy seakan kelu hanya untuk menyebut nama itu saja. Seketika air mata Nindy berjatuhan. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak ke dalam dada. Kaget bercampur sakit yang ia rasakan kini. Apalagi saat membalik kertas itu dan di belakangnya tertulis bahwa Louis memang suka mempermainkan wanita.


"Aku tidak menyangka kamu seperti itu." Nindy terisak, menangis sendiri dalam kamar mandi. Ia menghidupkan kran air agar tangisnya tidak terdengar dari luar.


"Apa kau juga berniat mempermainkan ku juga Lou?"


"Ya Tuhan kenapa nasibku begini? Apa dosaku Tuhan hingga Engkau selalu mempermainkan ku seperti ini, hiks ... hiks ... hiks." Di dalam ruang yang sepi itu Nindy meratapi diri.


Dia mengingat bagaimana perlakuan keluarganya, sikap Pras terhadapnya lalu mengingat momen pertama dirinya bertemu dengan Louis sampai ketika Louis mencuri ciuman pertama darinya. Hatinya semakin terasa sakit, dia semakin mengeraskan tangisnya. Air mata itu mengalir deras, sederas aliran air kran yang ia hidupkan tadi.


Nindy terduduk lemas tubuhnya ia sandarkan pada dinding kamar mandi. Ia terus saja menangis sampai puas.


Di luar Louis menjadi gelisah tatkala makanan yang disantapnya sudah habis tapi Nindy belum kembali Juga. Dia mulai berpikir macam-macam. Takut-takut hal yang lalu terjadi lagi. Walaupun Pras sudah dipenjara tapi bukankah kejahatan bisa terjadi dimana saja dan oleh siapa saja.


Ia bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju toilet wanita.


Di dalam toilet Nindy menarik nafas kasar lalu menghembuskan secara kasar pula.


"Aku tidak boleh lemah seperti ini. Aku harus kuat." Nindy mengusap air mata dengan tisu lalu memasukkan kembali foto tersebut dalam tas. Walaupun muak tapi bisa saja foto itu berguna baginya di kemudian hari. Dia kemudian bangkit dan membasuh wajahnya kembali. Setelah itu mengoleskan bedak di wajahnya dengan sedikit tebal agar bekas menangis tadi tidak terlihat oleh Louis.


Setelah dirasa cukup Nindy memutar handle pintu dan membukanya. Di luar pintu toilet terlihat Louis yang sudah menunggu. Louis menarik nafas lega karena melihat Nindy baik-baik saja.


"Kok lama sih?"


Nindy memaksakan senyumannya. "Aku diare jadi pas keluar dari toilet tadi terpaksa balik lagi." Nindy terpaksa berbohong. Di depan Louis dia ingin terlihat baik-baik saja.


"Oh begitu ya. Kita ke rumah sakit saja ya?"


"Tidak usah nanti kalau sudah minum obat bakal sembuh sendiri." Suara Nindy terdengar begitu ketus di telinga Louis membuat pria itu langsung memeriksa wajah gadis di hadapannya.


"Kamu kenapa?" tanya Louis ketika melihat ekspresi wajah Nindy yang aneh. Ekspresi tidak biasa yang seolah dipaksa menjadi biasa.


Nindy tidak menjawab. Dia berlalu dari hadapan Louis. Nindy merutuki dirinya sendiri yang tidak pandai berakting. Semakin dia berusaha untuk menyembunyikan kekesalannya malah akan semakin kelihatan.


"Mau kemana?" tanya Louis lagi ketika Nindy melewati meja mereka."


"Pulang. Antarkan aku pulang!"


"Tapi makanan kamu bahkan separuh pun belum habis."


"Aku sudah kenyang."


"Kamu kenapa sih Nin?" Louis heran kenapa tiba-tiba Nindy jadi seperti itu.


"Antarkan aku kalau tidak aku naik taksi saja."


"Baiklah ayo."


Louis mengerti Nindy merajuk walaupun tidak tahu apa sebabnya. Dia mengangguk lalu memegang tangan Nindy untuk membawanya ke luar restoran tapi sayang Nindy melepaskan pegangan tangan Louis dan berjalan mendahului pria itu.


"Hah." Louis mendesah lalu mengikuti langkah Nindy ke luar restoran. Ia membuka pintu mobil untuk Nindy kemudian memutar tubuhnya dan membuka pintu mobil yang di sebelahnya dan masuk ke dalam. Setelah Nindy masuk ia langsung melajukan mobilnya ke rumah Nindy.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara. Nindy memilih diam dan melihat ke arah samping mobil sedang Louis sesekali melirik ke arah wanita itu. Dalam hatinya bertanya-tanya apakah gerangan yang telah membuat gadis itu berubah secara tiba-tiba. Namun pria itu tidak berani bertanya lagi karena takut membuat mood Nindy semakin hancur dan itu bisa saja akan membuatnya kembali stres. Biarlah untuk sementara dia mengalah dan membiarkan Nindy dalam marahnya. Mungkin dia hanya lelah dan membutuhkan waktu untuk sendiri dulu.


"Sudah sampai, terima kasih," ucap Nindy sambil menutup keras pintu mobil hingga membuat Louis kaget kemudian menggeleng tak percaya.


"Untung cinta kalau nggak pasti sudah ku gigit kamu," ucap Louis setelah Nindy sudah masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Nindy setelah masuk kamar langsung melempar tasnya sembarangan. Setelah itu ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Ia menangis kembali kala mengingat foto tadi. Lelah itulah satu kata yang dia rasakan sekarang. Bukan cuma tubuhnya saja yang lelah tepatnya ia sekarang mengalami lelah fisik dan batin secara bersamaan.

__ADS_1


Nindy mendesah. "Ah aku ingin tidur saja. Aku ingin bermimpi. Barangkali di sana aku bisa menemui kehidupan yang indah." Lalu Nindy memejamkan mata.


Bersambung....


__ADS_2